
Hari mulai gelap saat mobil Seno melaju mengantar Cinta dan Cika menuju tempat yang katanya ada Rangga di sana. Itu yang Seno ketahui dari pesan yang didapatnya dari orang suruhannya.
Bukan ke kantor milik ayah Cinta yang menjadi tempat kerja Rangga biasanya, melainkan sebuah bangunan bertingkat di dekat pantai. Cinta mengetahui tempat itu dekat dengan pantai karena sebelum memasuki area gedung, dia sempat membaca penunjuk arah yang bertuliskan 'pantai 500 meter'.
Cinta masih memandang bangunan itu dari dalam mobil Seno. Hotel? Bukan. Penginapan? Bukan juga. Mungkin tidak semewah gedung yang ditempatinya tetapi, Cinta yakin bangunan yang menjulang tinggi di hadapannya kini adalah apartemen. Namun, yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, apartemen siapa?
"Kamu mau masuk apa tunggu di sini?" Suara bariton Seno membuyarkan lamunan Cinta.
"Memang kita mau mencari siapa di sini, Kak?" tanya Cinta dengan polosnya.
Seno tertawa pelan, "Suamimu, siapa lagi? Bukankah kamu ingin membuktikan kebenaran pesan suamimu tadi?"
Cinta tersadar akan kebodohannya sekarang. Entah ke mana pikirannya sampai dia tidak fokus pada tujuannya. Cika yang sedari tadi duduk diam di kursi penumpang mencondongkan tubuhnya ke depan untuk merangkul bahu Cinta.
"Kata orang suruhanku mereka baru masuk ke dalam, biasanya mereka akan keluar setelah sepuluh menit." Seno kembali memberi penjelasan pada Cinta yang hanya dijawab anggukan oleh Cinta.
"Mereka?" Cika bertambah heran.
"Hm, mereka." Seno menjawab singkat dengan senyum yang sulit diartikan. Menimbulkan banyak pertanyaan baru di benak Cinta dan Cika tentang siapa 'mereka' yang dimaksud Seno.
Sepuluh menit berlalu. Namun, 'mereka' yang dibilang Seno belum juga terlihat keluar dari dalam gedung itu. Bahkan dia tidak melihat siapa pun yang keluar dari gedung.
"Sabar." Seno tersenyum tipis ke arah Cinta. Dia menyadari kegelisahan Cinta. Dia melihat gadis itu beberapa kali terdengar mendengus kesal dan menggigit jarinya sedari tadi.
"Kak Cinta yakin akan melanjutkan ini?" tanya Cika. Dia mengkhawatirkan keadaan Cinta, terlebih lagi anak yang sedang dalam kandungan Cinta.
__ADS_1
"Aku yakin Cik, aku sudah memikirkan ini berhari-hari. Aku ingin menuntaskan rasa penasaranku."
"Aku hanya memikirkan kehamilanmu Kak," ucap Cika lembut yang dibalas senyum tipis oleh Cinta. Senyum terpaksa tentunya karena Cika yakin hati Cinta sedang menangis hebat saat ini.
Sebenarnya ada baiknya juga jika Cinta mengetahui kebenarannya. Dengan begitu, dia tidak perlu over thinking yang bisa berdampak lebih buruk pada keadaannya juga janin yang sedang dikandungnya.
"Pertunjukkan dimulai," celetuk Seno yang membuat Cinta dan Cika menoleh ke arahnya, lalu dengan bersamaan mengikuti arah pandangan Seno. Pria itu menyunggingkan sudut bibirnya, matanya menyorot tajam, rahangnya mengeras, dan tangannya terkepal kuat di atas kemudi begitu melihat pemandangan yang terpampang jelas di depan matanya kini.
Sementara itu,
Cinta merasa jantungnya berhenti berdetak saat itu juga. Napasnya terasa sesak. Butiran bening kembali jatuh setetes demi setetes hingga seterusnya mengalir semakin deras. Dia tidak sanggup berkata apa-apa lagi untuk sesaat, hanya isak tangis yang terdengar dari bibirnya.
Cika yang sama terkejutnya dengan Cinta ikut meneteskan air mata. Namun, di sisi lain dia mengepalkan tangannya geram. Dia sangat membenci kelakuan 'mereka' yang dimaksud Seno. Dua orang yang baru keluar dari dalam gedung yang dia sangat kenal sosok prianya. Mereka berdua tertawa lepas seperti tidak mempunyai beban.
"Tidak usah Kak," jawab Cinta. Dia meraih ponselnya dari dalam tasnya dan terlihat ingin menghubungi seseorang.
"Kamu di mana?" ucapnya santai saat panggilannya sudah tersambung.
"....."
"Di kantor?" Cinta tersenyum miris, mencoba menahan tangisnya saat mendengar jawaban orang yang di teleponnya. Jawaban yang tidak sesuai dengan apa yang terlihat jelas di depan matanya kini.
"....."
__ADS_1
"Ah tidak, aku tidak ingin makan apa pun. Aku menelpon karena aku merindukanmu." Cika dan Seno menatap Cinta heran, bagaimana Cinta masih bisa berbicara setenang itu setelah apa yang terlihat di hadapannya kini.
"....."
"Haa iya, cepatlah pulang! Karena aku tidak tau sampai di mana batas kesabaranku untuk tetap merindukanmu."
Cinta menutup telepon dan setelah itu barulah tangisnya pecah. Cinta sesegukan. Bahunya berguncang, dan Cika sedang mengusap bahu itu, mencoba untuk menenangkan Cinta.
"Sabar Kak, apa ...." Belum selesai Cika mengucapkan kalimatnya, dia sudah kembali dikejutkan oleh kelakuan kedua target mereka. Sungguh tidak diduga sama sekali. Apa yang dua orang itu lakukan benar-benar di luar pemikiran Cika maupun Seno, apalagi Cinta.
Mata Cika membola saking tak percaya dengan apa yang dilihatnya sedangkan Seno mengepalkan tangannya kuat sembari memicingkan mata.
"Kak Cinta ijinkan aku turun dan melabrak mereka?" geram Cika dari balik punggung Cinta dan sudah bersiap menarik knop mobil saat Cinta menghentikannya.
"Tidak usah Cik," jawabnya di sela isak tangisnya. Cinta memejamkan matanya, menahan luapan api kemarahan yang sudah meletup-letup sedari tadi. Tidak. Tidak untuk sekarang!
"Tapi Kak,"
"Kak Seno, antar aku pergi dari tempat ini." Cinta menatap Seno dengan wajah berlinang air mata dan sorot mata penuh permohonan.
Seno menghela napas kasar. Sama seperti Cinta, dia pun sedang menahan amarah yang sama. Namun, bedanya dengan Cinta, Seno sudah tidak memiliki hak atas orang yang membuatnya marah saat ini.
Seno mengangguk, menyanggupi permintaan Cinta. Kemudian menyalakan mesin, dan melajukan mobil untuk meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
...****************...