
'Klek'
Suara pintu terbuka, seketika pandangan Alin beralih ke arah pintu.
"Kak Anin...."
Anin terkejut sekaligus senang, melihat gadis imut itu ada disini. Anin memasukkan kembali flashdisk itu kedalam kotak lalu menutupnya kemudian ia menyimpan kembali kotak itu ke dalam laci.
"Citra?" Seru Anin.
Citra berlari kearah nya, "Kak Anin apa kabar? Gimana keadaan Kakak sekarang? Maafin Citra ya, Citra baru bisa jengukin Kak Anin! Soalnya Citra harus sekolah dan Citra harus Les juga, jadi gak ada waktu buat ke sini deh" cerocos Citra cemberut.
Anin tersenyum melihat gadis ceria didepan nya ini, "Gak papa. Lagian Kakak udah baik-baik aja sekarang" ucap Anin lembut.
"Kak boleh gak Citra peluk Kak Anin?" Menatap Anin penuh harap.
"Boleh dong!" Anin merentangkan tangannya.
Dengan cepat Citra memeluk Anin, "Citra kangen banget sama Kak Anin, Citra juga khawatir banget pas Mommy bilang Kak Anin pingsan dan dirawat dirumah sakit..." ucap Citra lirih.
Anin mengelus-elus rambut Citra sayang. Beginilah Anin, jika sudah dekat dengan nya dan Anin menyukai orang itu, ia akan menyayangi orang itu dengan tulus.
"Ekhem!"
Suara bariton seseorang mengalihkan perhatian keduanya, Anin dan Citra melihat ke arah sumber suara.
"Kak Derald, kemana dulu sih lama banget?" Gerutu Citra.
Derald mengayunkan kakinya mendekati ranjang Anin, "Kan tadi kamu minta Kakak buat beli ini!" Mengangkat parsel buah yang ia bawa.
Citra memutar bola mata nya, rasanya ia malu jika harus berdebat dengan Derald di depan Anin.
"Tu--tunggu! Kakak?" Ucap Anin bingung menatap Citra dan Derald bergantian.
"Iya. Kak Derald itu Kakak aku, emang Kak Anin belum tau?" Ujar Citra, di jawab gelengan oleh Anin.
"Aku kira Mommy udah ngasih tau Kak Anin" kata Citra lagi.
"Mommy? Haa.. Tante Tamara itu Mommy kamu juga?" Anin menggelengkan kepalanya, "Maksudku kalian adik kakak? Em,, sodara kandung?" Ujar Anin lagi dengan raut wajah tak percaya.
Ia melihat Derald yang hanya diam seraya melihat ke arah nya.
"Hm, aku dan Citra itu saudara kandung. Kamu paham sekarang?" Ujar Derald, Anin yang masih terkejut hanya mampu menganggukan kepalanya berkali-kali.
__ADS_1
Kenapa dunia ini sempit sekali, pikir Anin.
Derald tersenyum tipis, melihat eksfresi wajah Anin yang baginya sangat lucu itu.
"Ini penuh banget aku simpan dimana?" Tanya Derald melihat meja samping Anin yang sudah penuh dengan buah dan makanan lain nya.
"Oh, em kamu simpan di meja sana aja" menunjuk kearah sofa, Derald mengangguk patuh.
"Kak Anin walaupun lagi sakit tetep aja cantik ya" celetuk Citra.
"Bisa aja kamu..." Ucap Anin mengacak rambut Citra.
Lain halnya dengan Derald, ia tersenyum mendengar perkataan Citra yang menurutnya memang benar. Setelah menyimpan buah nya, Derald kembali bergabung bersama kedua wanita yang tengah bercanda itu.
"Gimana keadaan kamu sekarang?" Tanya Derald.
"Sudah jauh lebih baik" jawab Anin tersenyum tipis.
Derald mengangguk. Ya, Anin sekarang memang sudah terlihat sehat, wajahnya tidak sepucat saat pertama ia membawa nya ke rumah sakit. Bahkan kondisinya sekarang sudah lebih baik, tidak seperti waktu itu, sangat memprihatinkan.
"Makasih ya, kamu udah nolongin aku. Entah, harus dengan cara apa aku membalas semua kebaikan kamu? Rasanya, kata terimakasih saja tidak cukup!" Ujar Anin tulus.
"Sudahlah tidak perlu dipikirkan, lagi pula saat itu aku gak sengaja lewat, liat kamu lagi di seret sama dua orang cowok. Aku gak mungkin ngebiarin itu! Lagi pula yang terpenting sekarang kamu aman dan baik-baik aja" terang Derald.
Seketika Derald terpaku Melihat senyuman Anin. Ia menatap Anin tanpa mengalihkannya sedikit pun. Senyuman itulah yang selalu muncul di ingatan Derald bahkan saat ia menutup mata.
Derald tidak tau harus dengan cara apa ia melupakan perasaannya pada Anin, sedangkan bayangan gadis ini selalu muncul dihadapan nya.
Derald terus memperhatikan Anin yang kini tengah tertawa riang bersama adiknya.
"Kak, mau Citra kupasin buah gak?" Tanya Citra antusias.
"Kakak sebenarnya mau buah, tapi gak usah di kupasin juga. Kak Anin bisa sendiri kok" sahut Anin.
Entah kenapa semua orang ingin melayani nya padahal dirinya baik-baik saja dan bisa melakukan nya sendiri. Kebiasaan Anin yang mandiri, membuat nya menjadi wanita yang kuat dan tak pernah manja. Termasuk kepada kedua orang tuanya, walaupun ia perempuan dan anak satu-satunya.
"Kak Anin mau apa?" Tanya Citra lagi seraya melihat ke keranjang buah.
Citra sama sekali tak mendengar kata-kata yang Anin ucapkan, ia tetep kekeuh dengan keinginan nya. Entahlah kenapa gadis ini begitu menyayangi nya? Anin tersenyum smirk.
"Nanas..." Ucap Anin.
"Hah!" Mata Citra seketika membulat, ia melihat ke keranjang buah memang ada satu nanas disana, "Tapi Citra gak bisa kalo ngupas nanas" ucapnya mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Hahaha... Kak Anin becanda" Mencubit pipi Citra gemas.
"Aww... Sakit!" Citra mengusap-usap pipinya yang terasa panas. Derald ikut tertawa melihat kelakuan keduanya.
Anin malah terus tertawa tanpa dosa. Rasanya kehadiran Citra membuat mood nya kembali membaik, Anin dapat melupakan masalah nya sejenak.
Anin mengambil jeruk sendiri, baru juga Anin hendak membukanya. Tapi Citra sudah merebutnya.
"Kalo ini Citra bisa..." Langsung mengupas kulit jeruk itu antusias.
"Citra gak usah! Sini balikin, biar Kak Anin aja. Kak Anin bisa kupas sendiri..."
Anin berusaha merebut jeruk ditangan Citra, Citra menjauhkan jeruk itu dari jangkauan Anin hingga ia berdiri. Anin yang tidak siap dengan posisinya yang miring, seketika tubuhnya tidak seimbang dan...
"Aaaaaa..." Pekik Anin.
Derald berlari, dan berhasil menangkap tubuh Anin, hingga kini posisi mereka sangat intim. Derald tersentak kala Anin memeluk nya, entah sadar atau tidak. Anin menenggelamkan wajah nya di dada Derald, Derald pun dapat merasakan helaan nafas Anin begitu cepat.
Anin terkejut, hampir saja ia jatuh tersungkur dilantai. Jika, Derald tak menangkapnya tepat waktu. Kesadaran Anin mulai kembali, perlahan ia mengangkat wajahnya. Tangan nya yang ia kalungkan di leher Derald perlahan melonggar, kini kedua tangan Anin menopang di pundak Derald. Mata mereka beradu, wajah mereka begitu dekat hingga Anin dapat merasakan hembusan nafas Derald.
Tangan Derald masih melingkar di punggung Anin, dengan posisi mereka yang sangat dekat Derald melihat kedua manik indah itu dengan sangat dalam. Kedipan mata Anin seolah menghipnotis dirinya, jantung Derald berpacu tak beraturan darah ditubuh nya seolah mengalir sangat deras.
"Bolehkah, aku menghancurkan prinsip ku? Untuk kali ini saja, rasanya aku tidak bisa melepas mu Anindira. Bolehkah, aku ingin egois? Aku ingin kamu menjadi milik ku, rasanya tidak rela melepasmu untuk pria lain. Tuhan... Bisakah aku merubah takdirmu, aku sangat mencintainya. Aku ingin namaku yang terukir dihatinya, bukan orang lain. Haruskah, aku menjadi penjahat? Rasanya aku ingin merebutmu darinya. Entah kenapa sangat sulit bagiku menghapus semua memori tentang mu, dan sepertinya memang tidak bisa!"
"Kak Anin! Kakak gak papa kan?" Ucap Citra cemas.
Ucapan Citra menyadarkan keduanya, Anin segera memutus tatapan matanya. Derald membantunya duduk kembali, ada rasa canggung diantara mereka berdua. Anin merapikan sedikit rambutnya,
"Kak, Kak Anin gak papa kan? Maafin Citra ya!" Tanya Citra lagi.
"Iya... Kak Anin gak papa kok," tersenyum manis pada Citra.
"ANIN!!"
Tatapan ketiga nya beralih pada sumber suara, seketika senyuman dibibir Anin lenyap begitu saja. Begitupun dengan Derald, kini ekspresi wajah nya berubah datar.
...****************...
Wah-wah, siapa tuh?😱
Author gak akan lupa buat ngingetin kalian, Like dan komen nya. Oke!
Love sekebon buat para reader yang udah dukung cerita ku, ikutin terus sampai tamat ya🤗
__ADS_1