
Dua insan berbeda jenis itu sekarang sedang duduk disalah satu restoran di mall.
Zafir menghela nafas. "Menurutmu saya harus bagaimana? " tanyanya kepada Mediz yg sekarang duduk didepannya.
Mediz yg tahu maksud dari pertanyaan dosennya itu juga menghela nafas. Dia sedikit tahu tentang rasanya dikhianati. Jadi dia sedikit paham apa yg sedang dirasakan dosen tampannya itu.
"Terus terang saja pak" sarannya.
"Terus terang?"
"Iya. Katakan pada Sarah jika anda melihatnya tadi" terang Mediz.
"Apa itu harus? Jika nanti dia tidak memilih saya malah memilih lelaki itu bagaimana?"
"Berarti bapak harus merelakannya. Setidaknya tahu sekarang daripada nanti sudah menikah. Akan lebih rumit masalahnya" nasehat Mediz.
Zafir memandang Mediz yg mengeluarkan kata kata penyejuk untuknya. Dia heran bagaimana gadis yg jarang masuk mata kuliahnya itu bisa mengatakan kata kata itu. Pantas saja banyak anak anak kampus selalu curhat dengannya. Itu yg dia dengar dari dosen dosen yg sudah lama mengajar Mediz.
Zafir menghela nafas lelah. "Tapi undangannya sudah tersebar. Acara tinggal tiga hari lagi."
"Bapak mau mempertaruhkan kegalauan bapak?" Tanya Mediz.
"Maksud kamu?"
"Jika bapak masih meneruskan acara pertunangan bapak dan berharap Sarah datang diacara tersebut. Iyakan? " Mediz memberi jeda. "Tapi jika dia tidak datang bukankah akan sangat memalukan? Mempelai wanita tidak ada saat acara pertunangan" terangnya lagi.
"Tapi acaranya tidak dapat diundur ataupun ditunda. "
__ADS_1
"Jika bapak mau mengambil resiko kurasa tidak masalah"
"Saya tidak mau ikut campur terlalu jauh sebenarnya. Karna saya bukan tipe orang yg bisa ikut dan mau campur tangan dengan masalah orang lain"
Hening beberapa saat diantara keduanya. Mereka diam dengan pikiran masing masing yg entah apa itu. *bukan entah apa yg merasukimu.
"Kamu akan datang? Sarah bilang kamu diundangnya " tanya Zafir.
"Mungkin" jawab Mediz ragu
******
"Mediza!" Seru seseorang dari arah belakang Mediz yg sedang berjalan menuju kelasnya.
"Ada apa? " tanya Mediz yg mendapati salah satu teman kelasnya menghampirinya dengan terengah engah.
Mediz menghela nafas. "Mau apa katanya?"
"Ga tahu" temannya mengedikkan bahu. "Sekarang katanya" imbuhnya lagi.
"Ya udah. Thanks ya" ucap Mediz. Lalu Mediz berjalan menuju ruangan Zafir diujung gedung.
Mediz yg sudah menjadi langganan masuk keluar diruangan Zafir sangat hafal letak ruangannya. Bahkan jika disuruh merem untuk menuju ruangan Zafir Mediz pasti bisa.
"Kenapa ruangannya jauh banget sih. Capek gue" gerutu Mediz.
Tok tok tok
__ADS_1
"Masuk"
"Bapak memanggil saya?" Tanya Mediz setelah masuk keruangannya Zafir.
"Duduk" perintah Zafir tanpa menjawab pertanyaan Mediz.
1 menit 2 menit 5 menit 10 menit. Hening. Ok cukup nunggunya. "Bapak mau apa memanggil saya ?" Geram Mediz karna hanya diam diri sedari tadi tidak ada kata kata yg keluar dari dosennya itu.
"Datanglah ke acara manti malam " ucap Zafir setelah beberapa lama berdiam diri.
"Iya saya akan usahakan pak. Terima kasih karna sudah mengundang saya" ucapnya tulus.
"Apa sarah masuk kuliah hari ini?" Tanya Zafir tiba tiba.
Mediz menautkan alisnya. Dia bingung kenapa dosennya tanya kepadanya. Dia kan calon tunangannya.
"Saya tidak tahu pak. Karna saya juga beda fakultas dengannya. Saya rasa bapak juga tahu itu" terang Mediz.
"Dari kemarin dia susah dihubungi. "
Sebenarnya Mediz benar benar tidak mau ikut campur masalah orang lain. Apalagi dosennya.
"Bapak belum mengatakan jika bapak tahu?" Tanya Mediz.
Zafir menggeleng lemah. Sebenarnya dia takut akan membuat malu keluarganya nanti malam jika benar Sarah tidak akan datang.
"Kuatkan hati bapak dan bersabarlah. Saya rasa Sarah tidak akan senekat itu untuk kabur dengan lelaki lain. Karna saya lihat Sarah juga respect sama bapak. Apalagi ini menyangkut dua keluarga besar " mediz mencoba menengkan dosennya itu.
__ADS_1
"Iya" jawab Zafir lemah.