Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
CCTV


__ADS_3

Anin dan Ocha asik membicarakan iklan mereka, mereka tidak menyangka ternyata iklan mereka selesai dengan sangat cepat. Perusahaan Dharm corf memang tidak diragukan, pantas perusahaan itu mendapat rating tinggi dan menjadi perusahaan no satu di bidangnya.


Ocha banyak berceloteh, namun tatapan Anin beralih pada meja yang tadi Bastian dan wanita itu duduki. Anin menghela nafas nya perlahan,


"Ya Tuhan... Berikan aku petunjuk, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Batin Anin, Anin hendak mengalihkan pandangan nya. Namun, tidak sengaja ia melihat ke atas ada cctv.


Anin berpikir, mungkin ia bisa melihat dari cctv itu siapa wanita yang bersama Bastian tadi. Namun, Anin ragu, ia tidak tau apakah cctv didalam cafe bisa terarah ke luar. Anin kembali putus asa, ia menghela nafas nya lagi.


Ocha mendengar helaan nafas Anin yang terasa begitu berat, sebenarnya dari tadi Ocha memperhatikan sikap Anin yang terlihat khawatir kadang Anin seperti tengah berpikir bahkan terlihat cemas.


"Nin, Lo kenapa sih?" Tanya Ocha, saat Anin terus melihat ke atas.


Anin tersentak, "em... Gak papa!" Jawab Anin, namun tatapan nya kembali melihat ke arah titik-titik cctv itu dipasang.


Tatapan Ocha mengikuti arah pandang Anin. Ocha menyerngit, "Lo liat apaan sih Nin?"


Itupun tak pelak dari pandangan Derald, ia mengikuti melihat kearah yang dilihat kedua wanita itu.


"Anin liat apa? Apa ke arah cctv itu? Tapi kenapa?" Batin Derald menebak-nebak.


"Huhf.." Sepertinya Anin memang harus menceritakan apa yang sedang ia pikirkan, rasanya memang sulit menyembunyikan ini semua.


Semakin Anin menutupi dan memendam semuanya sendiri, semakin berat beban yang menghimpit hatinya. Mungkin dengan Anin cerita pada Ocha itu akan memudahkan nya mencari jalan keluar dan mungkin Ocha memiliki saran yang baik untuknya.


"Cha..." Seru Anin.


"Ya," sahut Ocha masih melihat-lihat ke atas.


"Ocha!" Panggil Anin lagi.


"Apa?" kini tatapan nya terarah pada Anin.


"Lo liat ke atas mulu, gue mau ngomong..." kesal Anin.


"Yaudah ngomong aja. Lagian Lo liatin apaan sih tadi? Perasaan gak ada yang aneh dan gak ada yang menarik juga di atas," timpal Ocha kebingungan.


"Gue liat cctv itu" tunjuk Anin pada salah satu cctv yang ada disudut cafe yang mengarah ke arah pintu masuk.


"Cctv?" Ocha menatap ke arah tunjuk Anin, "tapi kenapa?"


"Tadi sebenarnya gue..." Anin menceritakan semua kejadian tadi pada Ocha, Ocha mendengarkan dengan seksama ia juga membelalak saat mendengar Bastian bohong pada Anin.


"Lo yakin itu cewe? Lo gak salah liat kan?" Tanya Ocha.


"Gue yakin Cha, gak mungkin gue salah liat!" Jawab Anin serius.


Ocha jadi teringat dulu ia juga pernah melihat Bastian tengah bersama perempuan, namun Ocha tidak melihat perempuan itu karena membelakanginya.


"Terus apa hubungan nya sama cctv itu?"


"Gue mau cari tau Cha, siapa perempuan itu? Kenapa Bastian sampe bohongin gue?" Sahut Anin yakin.


"Maksud Lo?" Ocha menyerngit bingung.


"Gue mau cek rekaman cctv nya!" jawab Anin yakin.

__ADS_1


Anin melihat ke sekeliling dan tak jauh dari meja nya ada waiters yang berjalan ke arahnya setelah menyimpan pesanan pelanggan.


Anin beranjak, "Mbak!" Panggil Anin.


Kini Anin berada tepat dihadapan pelayan cafe itu, "ada yang bisa saya bantu?" Ucapnya ramah.


"Em, maaf saya mau tanya apa cafe ini memasang cctv di luar juga?" Tanya Anin ragu.


"Oh, iya Kak. Cafe ini terpasang beberapa cctv termasuk di luar cafe juga. Apa ada barang Kakak yang hilang?" Jelasnya sopan.


"Oh enggak. Gak ada yang hilang, cuma... Apa saya boleh cek cctv di luar sana?" Tunjuk Anin ke arah luar.


"Untuk itu Kakak harus izin langsung sama bos saya" ucapnya tersenyum manis.


"Dimana saya bisa bertemu bos kamu?" Tanya Anin.


"Em,, itu Mas Billy beliau pemilik cafe ini" menunjuk meja yang ditempati ketiga pria tampan yang salah satunya adalah Derald.


Anin hendak berbalik melihat ke arah yang ditunjuk pelayan itu, Derald yang menyadari itu segera mengalihkan pandangan nya dari Anin.


Anin menyerngit ia melihat ke arah Ocha begitu pun Ocha kini mereka berdua saling pandang.


"Em,, makasih ya!" Ucap Anin dan diangguki pelayan tersebut.


Ocha merapatkan tubuhnya pada Anin, "Gimana? Lo mau nyamperin mereka?" Tanya Ocha.


Anin melirik Ocha, "Hm" Anin menyambar tas dan ponselnya kemudian pergi, mendekati meja Derald. Ocha mengekor dari belakang, "Nin tunggu!"


Anin menghentikan langkahnya, "Kamu Billy?" Tanya Anin datar, dengan tatapan terarah pada pria yang duduk disamping Derald.


"Bisa kita bicara sebentar?" Ucap Anin.


"Bisa. Silahkan!" Sahut Billy tersenyum senang.


"Gak disini!" ujar Anin cepat. Lalu, melihat Derald dan Nichol.


Billy melirik Derald, kemudian Derald mengangguk pelan.


"Oke, kita ke ruangan ku saja" saran Billy dan diangguki Anin.


"Sumpah demi apapun, beruang kutub ini emang gak pernah sedikitpun ngelirik gue. Apa dia gak tertarik sama gue?" Batin Ocha menggerutu, mendelik tajam kearah Nichol.


Ocha memperhatikan Nichol yang masih setia dengan ekspresi datarnya bahkan tatapan Nichol tidak pernah teralihkan, sekalinya teralihkan hanya melihat Anin tidak meliriknya sama sekali.


"Cha. Ayo!" Suara Anin menyadarkan Ocha.


"Ah, i- iya" mengikuti langkah Anin.


Billy membuka pintu ruangan nya lebar, ia masuk diikuti Anin dan Ocha di belakangnya. Anin mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan Billy.


"Silahkan duduk" ucap Billy.


Anin dan Ocha mengangguk kecil, mereka duduk disofa secara bersampingan.


"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?" Ucap Billy tenang.

__ADS_1


Anin dan Ocha saling melempar pandang, "Apa ada kesalahan dalam pelayanan kami atau ada masalah sama makanan nya?" Tanya Billy lagi.


"Oh, enggak kok bukan itu. Aku hanya ingin meminta izin mu" jawab Anin cepat.


"Izin?" Ulang Billy.


"Ya. Apakah aku boleh lihat cctv yang ada didepan cafe ini?" Pinta Anin.


"Apa ada masalah? Kalian kehilangan sesuatu?" Tanya Billy serius.


"Em, tidak! Kami tidak kehilangan apapun" balas Anin cepat, "tolong izinkan aku melihat nya, ini sangat penting. Aku akan membayarnya jika kau mau?" Pinta Anin penuh harap.


Billy tersenyum smirk, "tapi sayang nya aku tidak membutuhkan uang mu!" tolak Billy halus.


Anin tersentak, "Ma-maaf! Bukan maksud ku..."


"Santai saja. Ayo akan ku perlihatkan" ucap Billy santai, kemudian mengambil laptop nya.


Anin dan Ocha terkejut, saling pandang. Namun, tak pelak itu membuat Anin senang.


Terlihat Billy tengah mengotak-atik laptopnya, "Rekaman jam berapa yang ingin kamu lihat?" Tanya Billy.


Anin melihat jam tangan nya, "sekitar, jam 11.30" Billy mengangguk mengerti.


Anin dan Ocha menunggu dengan sabar. Walau jujur jantung Anin saat ini berdetak tak tenang.


"Ini silahkan!" Billy memutar laptopnya kearah kedua gadis dihadapan nya.


"Apa ini, kenapa seperti ini?" Pekik Ocha.


"Sepertinya ada masalah, sebentar!" Billy kembali mengecek rekaman nya kembali.


'Derrtt' Anin mengangkat ponselnya.


"Mama?" Gumam Anin melihat layar ponsel nya.


"Cha bentar ya nyokap gue nelpon" Ocha mengangguk pelan, Anin beranjak keluar hendak menjawab telpon.


Tepat disaat itu rekaman nya kembali normal, Billy memutar rekaman itu dan memperlihatkan pada Ocha.


Mata Ocha terlihat memicing ia melihat vidio itu dengan seksama, "Itu bener Bastian" pikir Ocha. Pandangan nya beralih pada gadis di hadapan Bastian yang sangat mirip dengan seseorang yang ia kenal.


"Mas, tolong di zoom yang bagian ini!" Pinta Ocha, jantung nya berdetak lebih cepat. Ocha berharap itu bukan dia.


"Apa ini cukup jelas?" Ujar Billy.


Ocha terkejut bukan main ia sampai menutup mulutnya, matanya terus menatap layar laptop tanpa teralihkan sedikitpun.


...****************...


Next episode...


Jangan lupa like dan komentarnya. TerimakasihšŸ¤—


BSCā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2