
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, tepat jam 3 sore Pak Made menyusul Rangga dan Cinta ke hotel yang ternyata sudah menunggu di lobby.
"Maaf Tuan, lama menunggu?" tanyanya sungkan.
"Tidak Pak, kami juga baru berada di sini. Bagaimana Pak, kita bisa berangkat sekarang?"
"Bisa Tuan, mari silakan masuk ke mobil." Pak Made sudah membukakan pintu untuk Rangga dan Cinta. Kemudian, mereka pun memulai perjalanan.
Setelah melewati waktu 30 menit, dan Cinta yang mengeluh pantatnya sakit juga mual karena tubuhnya berguncang terus selama perjalanan akibat jalan rusak dan berlobang, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, Pantai Kelingking.
Cinta dan Rangga segera menyapukan sunblock ke tubuh mereka. Tidak lupa juga Cinta memakai kacamata hitam dan topi super besarnya. Hari memang sudah sore tapi, matahari masih memancarkan sinarnya yang menyengat.
"Inilah yang dinamakan bukit Pantai Kelingking Tuan dan Nona," kata Pak Made setelah mereka turun dari mobil.
"Wow, amazing! Tempat apa ini, Pak? Di sini begitu indah." Mata Cinta tidak berkedip menatap pemandangan di depan matanya kini. Mereka sedang berdiri di atas tebing yang menghadap langsung ke Samudera Hindia. Tebing dengan pantai yang berbentuk jari kelingking dengan pemandangan laut yang berwarna biru dan suara besar ombak yang berderu-deru di kejauhan. Cinta memejamkan mata menikmati angin sepoi-sepoi bertiup menyapu tubuhnya. Segar sekali.
"Jadi, ini pantai yang populer di instagram itu ya, Pak. Akhirnya saya bisa melihatnya secara langsung. Di sini benar-benar indah. Pemandangan alamnya asri."
"Betul Tuan, tahun ini Pantai Kelingking dinobatkan sebagai Pantai Instagramable di dunia." Pak Made tersenyum dengan bangga.
"Lalu, bagaimana caranya turun ke pantainya, Pak?"
"Owh itu Nona, kita harus menuruni anak tangga itu untuk menuju pantai." Menunjuk anak tangga yang terbuat dari kayu. "Mari ikuti saya." Pak Made berjalan lebih dulu menuruni anak tangga. "Hati-hati Tuan dan Nona, jalannya agak curam dan licin."
__ADS_1
"Iya, terima kasih, Pak." Rangga berjalan lebih dulu dengan menggandeng tangan Cinta.
"Tuan dan Nona datang ke tempat ini di musim yang tepat. Antara musim hujan dan musim kemarau," ujar Pak Made sembari terus menuruni anak tangga.
"Maksudnya, Pak?"
"Iya, kalau Tuan datang di musim kemarau, di sini sangat panas. Pemandangannya juga gersang tidak sehijau ini. Tapi, kalau Tuan datang di musim hujan, jalan di sini sangat licin, biasanya dilarang untuk turun ke pantai. Jadi, paling tepat itu pas antara musim hujan dan musim kemarau seperti sekarang ini."
Rangga dan Cinta hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Pak Made. Setelah menuruni ratusan anak tangga, akhirnya mereka sampai di pantainya.
"Hah, lumayan juga ya Pak capeknya," ucap Rangga dengan napas ngos-ngosan, "kamu capek, Sayang?" Rangga mengusap rambut Cinta yang juga terlihat ngos-ngosan. Kemudian, Rangga mengeluarkan tiga botol minuman dari dalam tas ranselnya, lalu membaginya pada Pak Made dan Cinta.
"Sama-sama, Pak. Sweetheart, kamu minum dulu." Menyerahkan botol minuman yang sudah dia bukakan tutupnya pada Cinta.
"Makasih, Kak." Meneguk minumannya sebentar. "Lihat Kak, dari sini pantainya lebih terlihat indah." Mata Cinta berbinar menatap pantai yang airnya berwarna biru jernih dengan hamparan pasir putih yang bersih. Benar-benar membuat sejuk mata yang memandang.
"Iya Sayang, aku harus berterima kasih banyak pada ayah karena menghadiahkan ini untuk kita. Di sini pemandangannya benar-benar indah, nyaman, asri, dan eksotis."
"Oya Pak, selain pantai di sini ada tempat apa lagi?"
__ADS_1
"Di dekat sini masih ada pantai-pantai lain yang tidak kalah indah dari ini, Nona. Selain itu, ada tempat diving namanya Manta Point. Apa Tuan dan Nona ingin melihat pantai lainnya apa menyelam dulu? Di sini ada ikan pari Manta dan juga ikan Mola-mola yang hanya bisa ditemukan di sini."
Rangga dan Cinta tampak saling pandang. "Bagaimana, kamu ingin mengunjungi pantai lainnya apa menyelam?"
"Kita diving aja deh dulu Kak, besok baru ke pantai lainnya. Bisa begitu, 'kan Pak Made, ya?"
"Tentu Nona, lagipula memang Manta Point lebih dekat daripada pantai yang lainnya dari sini."
"Apa kita harus naik ke atas lagi?" Cinta sudah cemas membayangkan dirinya harus mendaki bukit Kelingking tadi.
"Tidak Nona, kita cukup berjalan kaki dari sini. Tempatnya di sebelah sana, dekat kok, Nona." Senyum Pak Made mengembang setelah melihat raut kelegaan di wajah Cinta.
"Baiklah, ayo Pak, kita berangkat." Rangga menautkan jari-jarinya dengan jari-jari Cinta. Kemudian, mengayunkan langkah bersama, mengekori Pak Made yang sudah berjalan di depan mereka.
Sepanjang jalan menuju Manta Point, Pak Made menuntun mereka sembari menceritakan tentang asal usul terbentuknya Pantai Kelingking.
...****************...
Aku udah up 2bab lho jangan lupa tinggalkan jempol kalian ya guys😉
Tetep follow Cinta sama Rangga ya readers, akan ada banyak keseruan mereka selama di Bali lho🤭 kita traveling online berjamaah di sini😁
Next👇
__ADS_1