Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Ada yang aneh


__ADS_3

Selesai makan malam Anin duduk bersama kedua orang tuanya di ruang tengah seraya menonton TV.


"Mah Anin udah pilih desain undangan yang Anin suka" ucap Anin.


"O yah? Yang mana coba Mama liat" pinta nya.


Anin menunjukan foto desain undangan pernikahan kepada kedua orang tuanya.


"Bagus gak?" Tanya Anin dan diangguki keduanya.


"Bagus sayang, udah di konfirmasi?" Ujar Mama Alin.


"Belum. Anin minta persetujuan Mama dulu" tersenyum manis.


"Harusnya kamu langsung konfirmasi aja biar langsung di cetak. Lagian gambar yang mereka kirim ke kamu itu udah Mama pilih, Mama cuma minta kamu pilih salah satunya aja yang kamu suka" jelas Mama Alin.


"Yaudah Anin chat dulu ya" diangguki Mama Alin.


Setelah selesai berbincang perihal kartu undangan dan siapa saja tamu yang akan di undang. Anin menyerahkan soal tamu undangan kepada orang tuanya, karna Anin sudah menyiapkan undangan online untuk teman-teman nya.


Anin pamit ke kamar nya. Kini Anin sudah berada dikamar nya, kemudian Anin menghubungi sahabatnya Ocha.


"Hallo Nin?" Sapa Ocha di sebrang telfon.


"Cha, besok Lo keruangan gue dulu ya" balas Anin semangat.


"Kenapa emang?" Tanya Ocha mengerutkan keningnya.


"Ada yang mau gue tunjukin ke Lo" sahut Anin.


"Hm oke, nanti gue ke ruangan Lo."


"Oya, kalian ngapain aja tadi di apartemen?" Tanya Anin lagi.


"Oh em- itu, gak ngapa-ngapain kita cuma ngobrol biasa doang, terus makan, abis itu gue langsung balik" jelas Ocha sedikit ragu.


Ocha takut Anin merasakan jika Ocha saat ini tengah gugup. Anin sangat peka ia bisa tau jika ada sesuatu yang Ocha sembunyikan hanya dari cara bicara.


"Cha ada apa?" Tanya Anin curiga.


Tepat dugaan Ocha, Anin mencurigainya.


"Gue-- gue gak papa!" jawab Ocha lugas.


Anin menyerngit," beneran gak papa?" Tanya Anin lagi.


"Em Nin, udah dulu ya Nyokap manggil gue" berusaha menghindar.


"Tapi--"


'Tut' padahal Anin belum selesai bicara namun, Ocha sudah lebih dulu memutus panggilan nya.


"Gak sopan!" Rutuk Anin, "tapi kenapa aku ngerasa ada yang aneh-- ahh sudah lah" Anin menggelengkan kepalanya menghalau pikiran buruk tentang sahabat nya.


Anin menyimpan ponsel di atas tempat tidur, kemudian ia menuju walk in closed hendak membersihkan wajahnya sebelum tidur.


Setelah selesai, Anin memakai crem malam nya kemudian kembali dan merebahkan tubuhnya dikasur saat Anin hendak menutup matanya terdengar ponselnya berdering. Anin bangun mengambil ponselnya yang sudah ia pindahkan di atas nakas.

__ADS_1


"Bastian?" Gumam Anin.


Anin menggeser tombol hijau kemudian menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya.


"Hallo?" Sapa Anin.


"Hallo sayang. Kamu udah tidur?"


"Em belum" jawab Anin singkat.


"Vidio call ya?"


"Hm" mengangguk kepalanya.


Kini sudah berubah menjadi panggilan vidio, Anin tersenyum ke arah kamera


"Kenapa belum tidur?" Tanya Bastian.


"Em, tadi sih udah mau tidur eh kamu nelpon" jawab Anin apa ada nya.


"Aku ganggu kamu dong?" denga. raut wajah menyesal.


"Gak papa, lagian aku belum ngantuk juga" menunjukan deretan giginya yang putih.


"Maaf ya aku jarang ngehubungin kamu akhir-akhir ini, aku sibuk banget. Banyak kerjaan yang harus aku selesaikan sebelum pernikahan kita"


"Iya.. Aku ngerti kok" tersenyum manis.


"Besok kamu sibuk gak?"


"Em,, belum tau sih Dilla belum kirim agenda ku besok. Kenapa emang?" jawab Anin.


"Papi kamu udah pulang? Kapan? Kok gak ngasih tau aku?" Tanya Anin beruntun.


Bastian terkekeh kecil, "2 hari yang lalu, pas kamu lagi di puncak"


"Kenapa gak ngasih tau aku?" Mengerucutkan bibirnya.


"Iya maaf! Jadi gimana, bisa?" Tanya nya lagi.


"Liat nanti aja ya. Tapi aku bakal usahain atur jadwalnya lagi kalo emang sibuk" ujar Anin tersenyum simpul.


"Yaudah ini udah malam, kamu tidur ya. Aku tutup telpon nya" kata Bastian, Anin mengangguk kecil.


"Good night, my Queen..." Tersenyum tampan.


Bastian hendak menutup panggilannya, "Bas?" Seru Anin cepat.


"Hm" menatap Anin penuh cinta.


Anin terdiam sejenak, " I miss you" ucap Anin.


Bastian tersenyum lebar, " I miss you too.." jawab Bastian.


Setelah mendapat jawaban dari Bastian, Anin tersenyum kaku kemudian ia segera menutup telpon nya.


Entah kenapa setiap melihat wajah Bastian, Anin merasa ada yang aneh dalam dirinya jantung nya berdetak kencang namun ada rasa khawatir dan resah. Entahlah, Anin juga tidak tau.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


Pagi hari di kantor. 'Klek' tampak Ocha masuk dari balik pintu ruang kerja Anin. Anin mengedarkan pandangan nya menatap Ocha yang tengah berdiri didekat pintu.


Ocha nampak ragu, namun ia berusaha bersikap senormal mungkin ia tidak mau Anin merasa curiga lagi padanya.


"Ada apa Nin?" Ucap Ocha riang.


Anin menatap Ocha serius, ia ingin mencari tau apa yang terjadi pada sahabatnya. Namun, melihat Ocha tampak seperti biasa Anin berusaha menghilangkan kecurigaan nya. Mungkin emang hanya perasaan nya saja, pikir Anin.


"Nin, ko bengong?" Ucap Ocha lagi.


"Ah ee-- gak papa. Cha gue udah dapet desain undangan buat pernikahan gue, coba Lo liat menurut Lo bagus gak?" Menunjukan ponsel nya pada Ocha.


Ocha memperhatikan dengan seksama, " ini sih bagus banget Nin" balas Ocha tersenyum.


"Beneran?" Dan, diangguki Ocha.


"Lo, orang pertama yang gue kasih liat loh selain nyokap bokap gue. Hehe" ucap Anin, terlihat raut bahagia diwajahnya.


Berbeda dengan Ocha berubah sedih, "segitu penting nya gue buat Lo Nin, tapi gue malah menyimpan rahasia ini dari Lo. Huhf.. kalo tau bakal jadi gini, nyesel gue tau tentang kehamilan Vina" batin Ocha, menundukan kepalanya.


Sebelum nya Ocha belum pernah merasakan hal seperti ini, ia selalu bahagia saat bersama Anin. Ocha jadi teringat saat ia memiliki masalah dengan Mama nya, dan Anin lah yang selalu menyemangati hingga membantu menyelesaikan semua permasalahan nya.


Namun, sekarang hanya berada di satu ruangan dan berdua dengan Anin rasa nya ada yang aneh bahkan Ocha tidak mampu walau hanya sekedar bertatapan dengan Anin.


"Nin, gue pergi dulu ya kerjaan gue banyak banget sekarang" kata Ocha, diangguki Anin seraya tersenyum.


Ocha masuk keruangan nya, namun bukan bekerja justru Ocha terlihat gelisah. Ocha belum pernah seperti ini,entah kenapa menyimpan rahasia dari Anin sungguh membuatnya cemas bahkan semalam ia tidak bisa tidur hanya memikirkan bagaimana pertemuan nya dengan Anin hari ini. Rasanya Ocha tengah memikul beban yang sangat berat di banding permasalahan nya dengan Mama nya dulu.


'Derrtt' dering ponsel mengalihkan perhatian nya, Ocha segera mengangkat panggilan nya saat melihat nama Vinara.


"Hallo, kenapa Vin?" Ujar Ocha mengangkat telpon nya.


"Gue ganggu gak Cha?"


"Enggak kok. Ada apa?"


"Emm,, nanti siang Lo sibuk gak?"


"Kalo siang sih gue selalu senggang. Kenapa?"


"Hari ini jadwal gue cek kandungan, Lo mau gak nemenin gue ketemu dokter siang ini?"


Ocha bergeming terlihat jika ia tengah berpikir, "oke, gue temenin Lo. Apa gue harus jemput Lo?"


"Gak usah Cha kita ketemu di rumah sakit aja. Gue bawa mobil kok, lagian Lo kan harus balik kerja"


"Em, oke!"


Ditempat lain, setelah menutup telponnya Vina nampak tersenyum puas. Entah apa yang ia pikirkan, sepertinya Vinara memiliki rencana.


...****************...


Author cuma mau mengingatkan jangan lupa like komen, vote and tabur mawarnya.... Karna itu sangat berharga buat Author yang masih amatiran ini😁


Terimakasih 🤗

__ADS_1


BSC❤️


__ADS_2