
Zafir menarik tangan Mediz menuju ke atas panggung setelah mendapat panggilan oleh teman laki lakinya tadi.
Mereka berdua naik dengan perasaan dan pikiran masing masing. Mediz yg mlongo dan kaget dengan gerakan cepat Zafir hanya mengikuti dosen itu dengan tatapan kosong. Fikiranya entah kemana.
Dan setelah berada diatas panggung dan Zafir mengahadapnya gadis itu baru tersadar dari fikiran kosongnya. Dengan perasaan kalut dia menatap Zafir dengan tatapan bingung dan... cemas?
Ya gadis itu cemas bila dimasukkan ke urusan orang lain terlalu dalam. Dia kapok dengan hal itu. Dengan hati bergetar menunggu apa yg akan dilakukan dosen yg begitu sempurna dimata kaum hawa itu melakukan tindakan selanjutnya. Mediz begitu was was. Dan bertambah was was ketika teman Zafir yg memanggilnya untuk naik ke panggung itu memegangi sebuah kotak beludru berwarna merah.
Dan level ke was wasan Mediz makin meningkat ketika pemuda itu membuka kotak itu. Terdapat dua cincin yg indah disana.
Oh tidak Mediz tahu apa yg akan terjadi selanjutnya. Dia mau lari. Di mau menelankan dirinya. Dia mau bersembunyi. Apapun itu asal tidak dihadapkan dalam situasi sekarang ini. Tapi jika dia lari kejadiannya akan betambah kacau dan tak akan terkendali. Dia harus bagaimana. Dia tidak mau menambah malu keluarga dosennya itu.
Saat Mediz yg sedang berkecamuk dengan fikirannya sendiri. Perlahan tapi pasti Zafir sudah menyematkan cincin emas dengan mata berlian yg begitu cantik. Begitu sangat indah dijari manis Mediz. Tangan Mediz sudah sangat dingin. Kenapa dari sekian tamu wanita yg hadir Zafir harus menariknya. Apakah karna dia yg memberitahu bahwa Sarah tidak akan bisa datang jadi dia yg harus bertanggung jawab. Oh itu mustahil. Bahkan Mediz tidak punya hubungan apapun dengan Sarah. Tanggung jawab bullshit fikirnya.
Tidak ada respon dari Mediz membuat Zafir sedikit mengeratkan genggamannya pada Mediz agar gadis itu peka. Bahwa sekarang saatnya gilirannya menyematkan cincin itu pada jari manis Zafir.
Mediz yg mendapatkan kode serta tatapan yg begitu sulit diartikan dari pria dihadapannya memasang wajah melas. Seperti mengatakan 'saya tidak bisa'. Tapi begitu mendapat tatapan yg sangat sendu namun tersirat rasa kecewa,sedih, gundah , galau atau entah apapun itu Mediz menjadi iba.
Dengan ragu Mediz mengambil cincin dan mencoba menyematkan ke jari manis Zafir. Setelah berhasil. Riuh tepuk tangan membuyarkan tatapan sendu keduanya. Dan tanpa diduga Zafir mengangkat tangan Mediz lalu mengecupnya dengan sangat lembut. Dan membuat jantung Mediz berdetaak tak karuan.
Apa yg dilakukan dosennya. Kenapa dia malah meramaikan suasana. Ini sungguh diluar dugaan. Jika tahu akan seperti ini jadinya dia bakalan tidak datang dan lebih memilih menonton tv. Meskipun acaranya membosankan tak akan jadi masalah.
__ADS_1
Setelah beberapa saat tadi mengalami shock terapi akhirnya Mediz bisa menguasai dirinya sekarang. Ya walaupundia harus setia menemani 'tunangannya' menyapa para tamu tamunya. Lebih tepatnya tamu kolega dari orang tua Zafir.
Mediz jadi berfikir lagi. Jika saja pertunangan ini batal dengan tidak adanya pendamping perempuan pasti benar benar akan membuat malu keluarga ini. Dan pasti akan membuat trauma tersendiri untuk keluarga ini bahwa mereka tidak akan pernah mengadakan pesta apapun lagi dirumahnya.
Dan suara khas dari seorang laki laki membuyarkan Mediz dari lamunan lamunannya.
"Kamu capek?" Tanya Zafir sambil berbisik dekat telinga Mediz yg membuatnya sedikit bergidik geli.
"Jangan dekat dekat pak. Kuping saya masih normal" jawabnya sambil mendiri pundak dosennya.
"Kamu capek?" Ulang Zafir lagi.
"Iya. Kaki saya pegel. Mana hari ini pake high heels. "
Mereka berdua duduk di sofa pojok yg memang disediakan disana. Sambil menyesapi minuman jeruk dingin yg dibawakan Zafir tadi.
Ah seger banget. Gumam Mediz.
Sambil duduk Mediz sambil memijit betisnya yg terasa mau lepas dari tempatnya. Dia berjanji tidak akan memakai sepatu behak itu. Bodo amat dengan hak sepatu itu. Sepatu itu pokoknya ga ada hak di kakinya. Titik.
"Pegel banget ya. Sini aku pijitin" Zafir langsung bersmpuh dibawah kaki Mediz siap untuk memijatnya.
__ADS_1
"Eh eh eh pak jangan ga usah " cegahnya sambil melepaskan tangan Zafir dari kakinya.
"Gapapa inikan juga gara gara aku kamu jadi berdiri lama dan menamani menyapa banyak tamu" jelasnya yg mulai memijat kaki Mediz dengan sangat telaten.
Ya ampun nih dosen sempurna banget. Udah ganteng, mapan, anak orang kaya, perhatian, pinter mijit lagi. Apa kabar gue yg biasa ini. Hmm Sarah kok ga eman ya ninggalin tunangannya iki demi cowok kaya kemarin itu. Batin Mediz sambil terus memandangi Zafir yg masih memijit kakinya.
"Ehem ganggu nih kemesraan pasangan serasi malam ini" sebuah suara mengalihkan keduanya dan mengangkat kepala mereka mencari sumber suara.
"Paman Andre. Ga ganggu kok " sapa Zafir pada pamannya.
Mediz mencoba berdiri namun dicegah oleh paman Andre.
"Duduk aja dulu capek banget gitu" ucap paman Andre tenang.
"Paman cuma mau kenalan aja sama tunanganmu sebelum paman pergi" sambungnya lagi.
"Oh saya Mediza Mahardika paman" Ucap Mediz yg mendapat tatapan lembut dari paman Andre sambil mengulurkan tangannya kepada paman Andre.
"Saya Andre pamannya Zafir dari mamanya" balas Paman Andre sambil menerima uluran tangan Mediz.
"Tunggu. Kamu keluarga Mahardika? " tanya paman Andre setelah beberapa saat teringat sesuatu.
__ADS_1
"I iya paman" jawab Mediz kikuk. Apa pama Andre kenal dengan keluarganya. Mati gue. Batin Mediz.