
"nak dimana intan?" tanya mama nita pada anaknya yang terlihat tak bersemangat saat pulang kerumah
"dirumah orang tuanya ma, mamanya sedang sakit" ucap wily terasa aneh
biasanya ia menyebut mertuanya dengan sebutan yang sama dengan orang tuanya
"ohhh,, kenapa kamu ngga menginap juga" ucap mama nita lagi
"wily banyak pekerjaan ma, wily kekamar dulu ya ma" wily belum mau menceritakan nasib rumah tangganya pada mamanya
ia juga masih tak percaya sepecat inikah ia menjadis seorang duda, ada senyum palsu diwajahnya menyiratkan betapa perih hatinya saat ini
wanita yang ia cintai saat ini begitu saja ia lepaskan
wily membaringkan tubuhnya diranjang miliknya. ia meneteskan air matanya yang memang seharusnya keuar dari tadi namun ia tahan
.
.
.
.
"sekarang kamu bisa lakukan apapun yang kamu mau, kami tak akan melarangnya" ucap mama herlina pada intan yang masih menangis dipelukan papanya setelah wily pergi
"jangan ditangisi, keputusan sudah kamu buat. meski papa sayangkan karena wily adalah menantu terbaik papa" ucap pak aji mengusap punggung intan dan melepaskan pelukannya
"istirahtlah, mama juga butuh istirahat sekarang" ucap papa aji
"maafkan intan, ma. pa" intan menghapus air matanya dan keluar kamar mama dan papanya
__ADS_1
.
.
.
"dek kamu kenapa? kok wily pulang" tanya zahra melihat mata intan sembab
"ngga apa-apa kak, aku kekamar dulu ya" intan berlari dan masuk kekamarnya
didalam kamar ia memandangi seisi ruangan dan membayangkan kamarnya bersama wily. namun tersirat senyum senang dan lega dihatinya
pikirannya labil kadang dia merasa mulai menyukai wily, tapi hatinya tak bisa berbohong hatinya masih kosong setelah ditinggalkan oleh pemiliknya sebelumnya
"dek kakak boleh masuk" ucap indra mengetuk pintu kamar intan
"masuk aja kak, ngga dikunci" ucap intan yang merebahkan tubuhnya dikasur empuk yang cukup lama ia tinggalkan
"kata zahra kamu habis nangis, kamu kenapa? berantem dengan wily" tanya indra penasaran
"apa!!!! kalian bodoh ya" ucap indra kesal dan mengambil ponsel
"jangan hubungi mas wily lagi kak, biarkan dia bahagia dan aku juga yang memutuskan berpisah kak. ini adalah yang terbaik untuk kami" ucap intan lagi melarang kakaknya untuk menghubungi wily
"kamu sadar ngga sih intan, kamu mau cari yang seperti apa lagi?" indra tak mengerti dengan jalan pikiran adiknya
"ini hidupku kak, tolong jangn ikut campur dan mama papa juga tak marah sepertimu" jawab intan kesal pada kakaknya yang memarahinya
"terserah kau saja, jangan menyesal jika wily menemukan bahagianya tanpamu" ucap indra yang membela wily bukannya adiknya
ia tahu intan masih belum cukup dewasa pemikirannya, tapi ia tak menyangka adiknya mengambil keputusan bo*doh
__ADS_1
"kenapa dia yang marah, aku yang jalanin" intan menggerutu
.
.
.
"ma wily kekantor dulu" ucap wily berpamitan pada mamanya dan tak sarapan lebih dulu
"wil" mama nita memanggil namun anaknya sudah keburu menancapkan gas mobilnya
"wen, kakakmu kenapa? kok pulang dari liburan begitu?" tanya mama nita pada wendi
"ngga tahu ma, kemarin pas pulang baik-baik aja kok, malahan mesra banget" jawab wendi yang sedang mengunyah roti
"wendi juga berangkat dulu ma, nanti wendi tanyakan pada intan kenapa dengan kak wily" ucap wendi juga berpamitan
.
.
.
"pagi pak, hari ini jadwal meeting padet detealh ditunda satu minggu" ucap tyo masuk keruangan wily sambil membawa berkas yang harus wily tanda tangani
"kita lembur hari ini, dan jangan biarkan satu orangpun pulang cepat kecuali ada urusan urgent" perintah wily pada asistennya
"baik pak" tyo meninggalkan ruangan wily dan menyampaikan perintah bosnya yang sepertinya sedang ada masalah
ia kembali menjadi orang yang galak dan juga sangat tempramen jika urusan cintanya bermasalah
__ADS_1
"yahhh,, bos yang galau kita deh jadi kena imbasnya lagi" ucap salahs eorang karyawan yang menggerutu
sejak menikah wily menjadi orang yang sedikit berbeda, kini kembali ke setelan pabrik lagi