Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Please Don't Leave Me


__ADS_3

"Katakan Tuan, apa yang ingin Anda ketahui tentang istriku?" Rangga bicara tanpa menatap Baskara, dia fokus menyelipkan rambut Cinta ke belakang telinga gadis itu, lalu mengecup pipinya lagi.


Dia ini kenapa sih? Kenapa jadi sok romantis begini?


"Jadi, Nona ini istrimu, begitu?" tanya Baskara santai.


"Menurut Anda?" Rangga memicingkan mata ke arah Baskara.


"Oke baiklah, tadinya saya hanya ingin berkenalan dengannya. Melihat istri Anda hanya sendirian sedari tadi, aku pikir dia belum mempunyai ikatan." Baskara menyunggingkan sudut bibirnya sebelum beranjak meninggalkan Rangga dan Cinta.


"Apa maksudmu melakukan semua ini?" Cinta menggeliat agar Rangga melepaskan dekapan tangannya.


"Melakukan apa?" Rangga berpura-pura polos.


"Kamu memelukku, menyatakan aku istrimu? Kenapa? Apa kamu sudah mengingat semua?"



Rangga menarik bibirnya ke dalam. "Itu ... itu, aku hanya ingin menolongmu dari pria tadi. Bukankah dia tadi bersikap tidak sopan padamu."


"Oh ya? Kamu yakin hanya itu alasanmu?" Cinta melayangkan tatapan penuh selidik ke arah Rangga.


"Hei, aku sudah menolongmu, harusnya kamu berterimakasih bukannya mencurigaiku."


Cinta hanya menghela napas panjang. "Entah kenapa, aku merasa kamu sedang mengerjaiku."


Mata Rangga sontak membulat mendengar ucapan Cinta. "Mengerjai apa?" Masih dengan tampang bodohnya.


"Sudahlah, mungkin aku yang terlalu berharap." Cinta menunduk lesu tetapi, beberapa detik berikutnya dia kembali menatap Rangga. "Boleh kita bicara?"


"Mau bicara apa?"


"Tapi tidak di sini?"

__ADS_1


"Di mana?" Rangga mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Musik dansa mulai mengalun dengan indah. "Semua tempat penuh." Netranya menyapu kerumunan tamu yang satu persatu mulai bangkit untuk mengajak berdansa pasangan mereka masing-masing. "Atau kamu mau berdansa?" tanyanya setengah bergurau yang dijawab gelengan oleh Cinta.



"Baiklah, kamu ingin kita bicara di mana?" Kembali ke mode serius.



...****************...


Cinta membawa Rangga ke rooftop. Semilir angin malam yang dingin berhembus hingga menusuk kulit. Cinta mengusap-ngusap lengannya sendiri sembari terus melangkah mendekati tembok pembatas. Dia masih fokus memandang keindahan langit malam, saat dirinya dikejutkan oleh sesuatu yang hangat menutupi punggungnya.


"Di sini dingin." Rangga mengalungkan jasnya di punggung Cinta.


"Terima kasih," ucap Cinta yang tersenyum tipis pada Rangga.


"Sama-sama. Sekarang katakan, apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" Rangga menyandarkan punggungnya pada tembok pembatas, sehingga kini dirinya dan Cinta berdiri saling berhadapan. Kedua tangannya sudah menyilang di depan dada.


"Bisakah kamu ceritakan apa yang terjadi padamu selama lima tahun ini?" Manik hazel itu menyorot lekat ke manik teduh milik Rangga. Membuat Rangga mengalihkan pandangannya karena tidak sanggup beratatapan dengan mata Cinta. "Aku ingin tau soal kecelakaan yang menimpamu."


"Tidak Kak, itu tidak benar. Aku sangat peduli padamu. Aku tidak tau kalau kamu mengalami kecelakaan tragis itu."


"Kamu tidak tau karena kamu tidak mau tau. Kamu melarang semua orang membicarakan kabar tentangku." Nada Rangga mulai terdengar emosi.


"Maafkan aku Kak, waktu itu aku sangat marah padamu. Aku kecewa karena kamu lebih mementingkan Agnes daripada diriku. Padahal kamu tau aku saat itu mengandung anakmu. Kamu membohongiku. Kamu bilang lembur di kantor tapi kenyataannya kamu berada di apartemen Agnes." Cinta tak kalah emosi.


"Kamu harusnya mendengar penjelasanku. Kamu memutuskan sesuatu tanpa mau mendengar penjelasanku lebih dulu. Aku tidak bohong. Aku memang lembur awalnya sampai Agnes mendapat telpon kalau Angga mengalami anfal. Aku hanya ingin menyelamatkan nyawa anak Agnes waktu itu gak lebih."


"Lalu kenapa kamu tidak jujur tentang hal itu?"


"Aku sudah berniat jujur padamu, aku akan menceritakannya tetapi bukan di malam itu. Jika aku bilang langsung yang sebenarnya malam itu, apa kamu yakin kamu akan mengijinkanku pergi? Hah?"


Ucapan terakhir Rangga mampu membuat Cinta tercekat. Dia mengatupkan kembali bibirnya yang sudah terbuka. Rangga benar, belum tentu dia mengijinkan Rangga membantu Agnes. Rasa cemburunya saat itu sudah mengalahkan naluri kemanusiaannya.

__ADS_1


"Kamu meragukan cintaku, Cinta. Kamu bilang hubungan itu harus dilandasi kejujuran dan kepercayaan. Tapi, kamu sendiri yang sudah tidak percaya padaku. Kamu pergi begitu saja dengan membawa Sunny. Kamu memisahkanku dari putriku tanpa kamu pikirkan bagaimana perasaanku," ucap Rangga dengan berapi-api. Dia meluapkan emosinya yang selama 5 tahun ini terpendam.


Hati Cinta seketika mencelos, dadanya bergemuruh hebat setelah mendengar ucapan Rangga. Pipinya memerah seiring butiran bening yang luruh membasahi pipinya.


"Kamu tidak ada di saat aku benar-benar membutuhkanmu. Kalau bukan karena tekadku yang kuat untuk bertemu dengan putriku, mungkin aku tidak akan berdiri di sini sekarang. Enam bulan aku koma. Enam bulan, Cinta." Rangga memekik sembari mengguncang bahu Cinta saking kesalnya.


"Aku sudah kehilangan semangat untuk hidup, sampai akhirnya, Ibu Diana datang dan menceritakan tentang Sunny. Detik itu juga aku merasa seperti mendapat kekuatan untuk melawan masa-masa kritisku." Rangga mendesah kesal. Dia melepaskan cengkraman tangannya di kedua bahu Cinta lalu melangkah mundur sembari memijit pangkal hidungnya.


Lama Cinta terdiam menatap Rangga yang sedang menunduk menyusut sudut matanya. Seluruh tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan. Sampai setelah beberapa lama mereka terdiam dalam keheningan, akhirnya Cinta memberanikan diri mendekati suaminya. Kemudian, tangannya tergerak ke atas untuk menangkup kedua rahang kokoh milik Rangga.


"Kak, maafkan aku," ucapnya dengan bibir bergetar.


Rangga mengangkat wajahnya dan melihat wajah Cinta yang sudah berlinang air mata.


"Aku sudah bersikap kekanakan waktu itu," ucapnya sesegukan.


"Sudahlah, lupakan." Menjauhkan tangan Cinta dari wajahnya.


"Kamu tidak mau memaafkanku?" Manik hazel itu terlihat memelas dan itu membuat Rangga senang. Memang itulah yang Rangga harapkan.


"Maaf aku butuh waktu," sahut Rangga datar. Tatapannya dingin tetapi, tanpa sepengetahuan Cinta, batin Rangga tengah tertawa geli melihat ekspresi Cinta yang terlihat lucu dengan wajah memelasnya.


Dengan gaya cool Rangga berniat meninggalkan Cinta tetapi, dengan cepat Cinta merentangkan tangannya untuk menghalangi langkah Rangga. Secepatnya Cinta melingkarkan tangannya di pinggang Rangga lalu mendekapnya erat. Membenamkan wajahnya di dada bidang milik Rangga dan menghirup aroma maskulin tubuh suaminya yang sangat dia rindukan.


"Aku merindukanmu Kak," ucapnya tanpa ragu, "aku sangat merindukanmu, please don't leave me!"


...****************...


Next ya👇



*

__ADS_1



__ADS_2