BULAN UNTUK BINTANG

BULAN UNTUK BINTANG
DUO BAL


__ADS_3

"Hoshi... Hoshi... "


" Ya Hoshi Narita.. Hoshi... "


Bintang mengeliat, sayup-sayup dia mendengar namanya dipanggil. Tapi siapa biasanya tidak ada yang membangunkannya dengan cara seperti itu.


" Ada yang manggil kamu di luar. Coba dilihat gih. " Bulan ikutan terbangun mendengar ada orang yang memanggil nama istrinya.


Bintang beranjak turun dari ranjang diikuti Bulan. Keduanya keluar kamar dan menuruni tangga. Terlihat dimata keduanya ada dua orang pria yang wajahnya mirip sedang menampilkan senyum dengan deretan gigi putih yang terlihat.


" Ya Tuhan kenapa duo Bal pagi-pagi sudah berisik. Kalian menggangguku tidur bersama istriku. " kesal Bintang


" Duo Bal? " Bulan melihat ke arah Bintang.


Bintang mengerti arti tatapan istrinya kini ganti menatap Duo Bal yang ada di hadapannya. Seolah mereka mengerti maksud dari tatapan Bintang Duo Bal langsung memperkenalkan diri.


" Hai adik ipar, perkenalan kan gue Balderin dan ini adik kembar gue Baldewin. " sapa Derin.


" Kamu bisa panggil kami Derin dan Dewik. " gantian Baldewik yang menyapa.


" Hai kak, aku Bulan. " sapa Bulan.


" Ya Tuhan dasar cucu kurang jewer pagi-pagi udah bikin ribut. " oma keluar dari arah dapur langsung mendatangi mereka.


" a.. aa... aaa.. aaa oma. Sakit oma. " pekik dua Bal saat telinganya ditarik oleh oma.


" Rasain. " seloroj Bintang sambil terbahak melihat kakak sepupunya dijewer oleh oma.


" Mereka putra paman Karl dan bibi Maurin sayang. " Bintang memberitahu Bulan.


Nampak Bulan hanya manggut-manggut mendengar perkataan suaminya. Mereka semua nampak membubarkan diri menuju ke ruangan masing-masing.


Bulan dan Bintang kini tiba dikamar mereka hendak membersihkan diri. Terlihat Bulan yang terlebih dulu masuk ke kamar mandi yang ada di dalam walk in closet yang ada di kamar mereka.


Sambil menunggu giliran ke kamar mandi Bintang nampak asyik bermain Handphone. Dia melihat pesan yang ada di grup anggota SEMA.


Ceklek..


Terdengar suara pintu terbuka, Bulan keluar dengan sudah berganti pakaian. Melihat Bulan keluar dari walk in closet Bintang terlihat mengulas senyum. Kini gantian Bintang yang pergi membersihkan diri.


a



Sekitar lima belas menit Bintanh keluar dari pintu walk in closet yang sudah berganti pakaian juga. Keduanya lalu menuruni tangga menuju ke lantai satu. Lebih tepatnya mereka menuju ke ruang makan untuk menikmati sarapan bersama.


Sesampainya di ruang makan nampak seluruh keluarga sudah berkumpul termasuk Dou Bal, kakak sepupu Bintang.


" Hoshi, lo keterlaluan masak kita udah lo langkahin buat nikah. " Derin melayangkan protes pada adik sepupunya.

__ADS_1


" Nunggu kalian gue dah jadi perjaka lumutan tau nggak. Cewek nggak punya deket sama cewek aja nggak. Aneh, kalian suka yang panjang-panjang ya. " timpal Bintang.


" Hus di meja makan kok ngomongnya begitu. " tegur Okaasan.


" Hoshi noh bi, kebiasaan mulut nggak ada remnya. Ngomong nya pasti nggak ketahan. " Dewik ikut mengeluarkan godaan nya.


" Sudah-sudah. Kalian para cucu tengil dilarang ribut. " titah opa.


Ya benar sekali. Ketiga cucu opa itu sudah pada cowok semua ditambah pada tengil semua. Dulu kalau pada kumpul dirumah opa selalu jadi korban ketangilan ketiganya cucu juda istrinya.


Akhirnya sarapan dengan penuh drama pagi hati keluar Hillar itu selesai juga. Bintang mendatangi kedua kakak sepupunya lalu menengadahkan tanganya seperti sedang meminta sesuatu.


" apa? " Derin mengernyitkan dahihya


" My Care. " jawab Bintang.


Bintang sedang menagih janji dari transaksinya kemarin dengan paman Karl. Dia tidak sabar pengen cepet lihat itu mobil incarannya.


" Sabar nanti pas ultah opa baru datang mobilnya. " Dewik menepuk bahu Bintang.


" Lama. " protes Bintang.


" Siniin dulu programnya " ganti Derin yang meminta.


" Ada barang ada uang. Ada mobil baru ada program. " Bintang membuat pantun sendiri.


" Opa... opa... oh opa. " Bintang memanggil opanya


" Pinjam koleksi mobil opa boleh? " Bintang meminta izin utuk boleh meminjam koleksi mobil opanya.


" Mobil yang mana? " opa bertanya lagi.


" Ferrari Berlinetta opa. Boleh? " Bintang memelas.


Hoek... Hoek...


Duk Bal berakting seperti sedang mual saat melihat wajah sepupunya itu memelas. Mana cocok kalo sepupu tengil mereka begitu.


" Boleh, tapi awas jangan sampai lecet. Lecet sedikit aja ganti mobil baru. "


" Oke opa jangan khawatir. " Bintang tersenyum mengejek ke arah Duo Bal.


Bulan nampak berjalan menghampiri sangat suami setelah tadi sejenak berbincang dengan oma. Bulan terheran melihat suaminya yang berdiam diri di teras. Biasanya Bintang menyiapkan mobil dulu.


Bintang tersenyum penuh kemenangan saat melihat Ferrari Berlinetta dikendarai salah seorang supir dan berhenti tepat di depannya.



" Anata, ayo kita berangkat. " Bintang mengulurkan tangan untuk disambut istrinya.

__ADS_1


" Mobil siapa ini? " tanya Bulan saat sudah memasuki mobil.


" Mobil opa. " Bintang nyengir kuda.


Bulan hanya geleng kepala. Seperti apa yang diceritakan Okaasan semalam, Bintang itu paling seneng koleksi mobil dan selalu ganti mobil tiap beberapa bulan sekali. Maklum lah ya Hilang kaya.


Bintang dan Bulan telah memasuki gerbang kampus mereka. Tapi yang aneh jalan yang mereka lewati tidak menuju arah parkiran mahasiswa.


" Ini kenapa jadi lewat sini? Emang nggak parkir mobil" Bulan bertanya.


Bintang hanya diam dan tersenyum sekilas ke arah istrinya lalu fokus lagi pada jalanan. Mobil yang membawa Bulan dan Bintang berbelok menuju belakang gedung D. Berhenti di samping beberapa mobil yang juga terparkir disana.


" Lhoh kok" Bulan tidak melanjutkan ucapannya saat melihat Bintang justru keluar dari mobil.


" Ini parkiran biasanya digunakan dosen dan rektor. Karena langsung di samping gedung kampus kita. Aku sering parkir sini kalau lagi malas berebut parkir sama mahasiswa lain. " terang Bintang


Mereka berjalan berdua ke arah gedung AB karena letaknya kelas mereka ada di gedung tersebut. Memang agak jauh tapi setidaknya parkir nya nggak berebut. Bintang takut mobil opanya lecet dan dia harus mendengar siraman rohani dari opa seharian penuh.


Bulan sampai juga di kelasnya. Saat memasuki kelas terlihat Prabu berdiri di depan memimpin diskusi kelas untuk berpartisipasi dalam kegiatan Anniversary kampus.


" Ayo Bulan yang baru dateng, kasih ide apa buat tema kelas kita. " Prabu iseng bertanya pada Bulan.


Bulan hanya mampu senyum gigi pepsidant saja. Iseng banget si Prabu udah tahu Bulan baru datang malah ditanya, kan nggak sempet mikirin jawabannya.


" Gimana kalau cosplay saja. " Septi mengusulkan.


" Yang lain ya, itu anak jurusan kedokteran udah ada pakai tema itu. " ujar Prabu.


" Kalo pakai tema sport gimana? Jadi kita pakai baju olahraga trus jual juga perlengkapan olahraga. " usul Bulan.


" Boleh juga tuh dicatat secara cewek ketua senat yang usul. " seloroh Prabu.


Bulan hanya mencebik lantaran disinggung soal suaminya yang mahasiswa lainnya tahu pacarnya.


" Ada lagi nggak, soalnya nanti sebelum sore harus dikumpulkan. " Prabu kembali bertanya apakah ada yang punya ide lain.


Ditunggu selama lima menit tidak ada yang mengutarakan ide lagi jadinya disepakati sesuai ide Bulan yaitu tema sport.


Disaat sedang asyik berdiskusi tiba-tiba Pak Max masuk ke dalam kelas. Semua kembali ke tempat masing-masing karena dosen mereka sudah tiba.


" Baik selamat pagi semua. " sapa Pak Max


" Pagi Pak.. " serempak satu kelas.


" Baik hari ini saya mau memperkenalkan pada kalian seseorang yang dulu juga bagian dari kampus kita walau tidak sampai lulus dari kampus ini. Tapi nama mereka cukup terkenal pada masa itu ya. " Jeda Pak Max


" Ayo masuk senior. " Pak Max meminta masuk tamunya.


" Hai semua. Oh Hai Bulan. " sapa tamu tersebut.

__ADS_1


" Duo Bal. " gumam Bulan.


Kira kira apa ya yang Duo Bal lakukan di kelas Bulan. Yang penasaran terus ikuti, baca like dan komen ya. Terima kasih


__ADS_2