
Suasana di ruang keluarga masih terasa mencekam. Bintang masih bersungut-sungut di salah satu sudut membuang muka ke arah lain, agar tak melihat duo bal. Sedangkan duo Bal sendiri sekarang ini terdiam memikirkan apa yang mereka dengar sari setiap kata-kata yang Bintang ucapkan. Meski ego mereka menentang ucapan Bintang, tapi sungguh mereka tahu bahwa apa yang diucapkan Bintang adalah benar adanya.
Dewin berjalan menuju ke arah Derik yang berada tak jauh dengannya. Tangan Dewin terkepal kuat, hatinya sudah mantap ingin menyelesaikan semua masalah di antara mereka berdua. Dua puluh sembilan tahun mereka bersama sudah seperti tutup dengan botol, kemana-mana selalu bersama. Tapi semuanya berubah karena Cyrille.
Bugh.. Bugh...
" Elo harus ngrasain sakit karena sudah membuat gue dan Cyrille pada akhirnya merasakan sakit yang luar biasa. " Bugh... Bugh... Dewin terus memukul Derik.
" Hoshi...... Hoshi lerai mereka.... " teriak oma dan tante Maurin bersama-sama. Meski begitu Bintang tetap bergeming, enggan untuk menghentikan perkelahian di antara kedua kakak sepupunya.
" Hentikan Dewin, kau bisa membunuh saudara mu sendiri!! " teriak Karl, yang merupakan ayah dari kedua pria yang tengah berkelahi itu.
" Karena elo.... Semua berawal elo.... Andai lo nggak minta buat elo yang tanggung jawab, maka Cyrille tak akan bunuh diri. Sakit Rik... Hati gue sakit.... " sentak Dewin. Tangannya terus menghajar Derik yang diam tak membalas. Dia tahu dia salah, karena itu dia diam tak membalas setiap pukulan yang diarahkan Dewin padanya.
Bugh... Bugh....
Dengan dua pukulan saja Derik dan Dewin tersungkur di lantai. Kebayang sudah betapa kuatnya seseorang yang memukul mereka. Tentu saja itu adalah perbuatan Bintang, siapa yang bisa sekuat itu menghadapi duo bal selain dirinya.
" Kalian bodoh... " hanya itu yang dikatakan Bintang, hendak pergi tapi kata-kata Dewin menyakitkan telinganya.
__ADS_1
" Kenapa lo hentiin gue, bukankah elo juga yang ingin gue cari perhitungan sama Derik? " tanya Dewint tersulut emosinya.
" Terserah elo ngomong apa, males gue sama kalian. Sama-sama bodohnya.... " Bintang meninggalkan ruangan itu, namun baru beberapa langkah dia berbalik melihat ke arah kakak sepupunya itu
" Kalau gue bilang kalian bodoh itu benar, sebegitu besarlah rasa saling membenci kalian sampai mengalahkan rasa persaudaraan kalian. Baru satu tahun kalian kenal Cyrille tapi kalian terpecah belah. Sedangkan kebersamaan kalian selama dua puluh delapan tahun itu kemana? Gue kecewa betul lihat kalian kek gini, emangnya kalian nggak kasian lihat orang tua dan keluarga kalian hampir gila karena memikirkan kalian. Ego diturunkan bang, kalian itu saudara. " setelah berkata seperti itu Bintang keluar dari mansion. Dia ingin mendinginkan kepalanya di luar. Duduk di teras, sambil melihat Bintang yang ada di langit.
" huft.... Lelahnya, tenggorokan ku juga kering. Sialan mereka berdua itu, sudah besar kenapa seperti anak kecil saja. " gumam Bintang. Dia terus menggerutu sejak tadi karena kesal dengan saudara sepupunya.
" Eh... kalau dipikir-pikir, sepertinya sepupuku itu suka sekali membuat masalah. Si Han, yang satu hamil di luar nikah dan yang satunya lagi terlibat skandal dengan rumah tangga orang. Yang ini, sepupu laki-laki ku, jadi gila karena satu wanita. Oh Tuhan, malang sekali nasib ku, semua harus aku yang menyelesaikan. "
Jika ada orang yang melihat Bintang seperti ini, sudah pasti dianggap gila. Untung saja tadi sebelum dia duduk di teras dia sudah meminta ketiga ambulance itu pergi. Jika tidak, pasti harga dirinya akan jatuh, pewaris keluarga Narita ternyata memiliki gangguan jiwa. 😁😁😁😁
Sedang enak-enaknya bersantai dan ngedumel sendiri, duo bal datang menghampiri Bintang. Yang dihampiri langsung pasang kuda-kuda, karena doa harus siap sedia, bisa saja ini dua orang sedang ingin balas dendam padanya karena sudah dipukul tadinya.
" Duduk gih, kita bicara! " pinta Derik.
" Ogah, sana kalian pergi. Males gue sama pria dewasa model anak TK begini. " sarkasnya.
" Huft..... Duduk dulu Hoshi, kita ngomong baik-baik. Janji deh nggak akan bikin elo tambah emosi. " ganti Dewin yang meminta.
__ADS_1
" Males gue... " hampir saja kaki Bintang melangkah dia terhenti karena mendengar Dewin berucap sesuatu yang begitu mengusik hati kecilnya.
" Elo nggak mau dengerin kita lagi ngomong lagi? Segitu marahnya elo sama kita? Wajar dong kita bersikap seperti ini, coba lo jadi kita. Elo pasti tahu gimana rasanya jadi kami. " ucap Dewin.
" Justru kalau ini terjadi sama gue tidak akan gue biarkan Cyrille sampai bunuh diri. Tahu nggak kesalahan kalian? Tahu nggak alasan Cyrille lebih milih mati? " tanya Bintang sedikit kasar.
Bintang pun akhirnya menceritakan semuanya, semua yang dia ketahui tentang Cyrille. Bintang tak sanggup lagi jika harus membuat kedua sepupunya itu berpikir tentang penyebab, karena yang mereka tahu hanya akibatnya.
Alasan sebenarnya kenapa Cyrille bunuh diri adalah karena cintanya pada Dewin. Cyrille merasa mengkhianati Dewin dan berakhir menikahi saudara kembar Dewin sendiri. Keputusan dia memilih mati karena ingin tetap menjadikan Dewin sebagai pria yang paling dia cintai di dunia ini.
" Bukan karena kalian dia memilih jalan itu, tapi karena cinta yang hanya ingin dia berikan pada lo Win. Dia tidak bisa berbohong jika hatinya mulai jatuh dalam pesona Derik yang dia pikir itu adalah lo. Karena itu, sebelum dia lebih banyak berkhianat pada lo, dia memilih jalan yang memang ekstrem ini. "
Bintang kini sudah berada di dalam kamarnya, bersama sangat istri tercinta yang sudah tidur saat Bintang masuk ke kamar ini. Bintang tadi mengantar si kembar sampai depan pintu utama, karena si kembar yang sudah berbaikan itu harus segera kembali ke Munich dan menyelesaikan semua masalah yang sudah mereka buat.
Bintang bersyukur pada akhirnya, setelah Bintang menjelaskan semuanya dari sudut pandang Cyrille, lalu si kembar mulai membuka hati dan pikiran mereka. Kalau ditanya dari mana Bintang tahu tentang apa yang Cyrille rasa sebel meninggal, tentu saja itu hanya sisi rasionalnya saja yang bicara.
Ada di tempat kejadian saja tidak, bagaimana bisa Bintang kenal. Semua itu adalah hasil pemikirannya, maklum otak jenius cara pikirnya bisa melebihi ekspetasi orang. Tapi syukurlah pada akhirnya apa yang dia ucapkan bisa memperbaiki hubungan Derik dan Dewin.
" Semoga tak akan ada masalah lagi di keluarga besar ini. Capek juga jika semua masalah harus aku yang turun tangan. Memangnya mereka pikir aku ini apa dan siapa, sampai semuanya harus aku yang menyelesaikannya... " monolog Bintang.
__ADS_1
Mulut dan hatinya tak sejalan, di mulut dia ngedumel, tapi nyatanya dia juga masih ikut turun tangan jika ada masalah pada anggota keluarganya.
Menjadi garda terdepan, demi menjaga seluruh anggota keluarganya makan Bintang akan menjadi senjata yang akan menghadang bahaya untuk keluarganya.