BULAN UNTUK BINTANG

BULAN UNTUK BINTANG
bab 107


__ADS_3

Sedikit demi sedikit, kedua mata wanita yang begitu cantik meski wajahnya masih sangat pucat pun terbuka. Mata menatap ke sekeliling, semuanya serba putih. Ingatannya kembali kepada beberapa waktu yang lalu, dia memberanikan diri melompat dari mobil pria yang menculiknya dan berujung doa berakhir di rumah sakit.


Air mata wanita ini pun akhirnya jatuh juga, setelah dia mengingat bahwa dia telah kehilangan calon anak perempuannya. Rasa bersalah dan penyesalan langsung merasuki relung hatinya. Dia berandai, seandainya dia tidak melompat, mungkin calon anak perempuannya itu tidak akan meninggalkannya.


" Sayang kamu sudah sadar? " Fuyami langsung terbangun dari tidurnya saat mendengar isakan pelan dari menantunya.


" Bulan, jangan nangis ya sayang. Otousan panggilkan dokter dulu ya!" Fuyami terlihat panik saat menekan tombol di dekat ranjang Bulan.


" Tunggu sebentar ya. Nanti kamu bilang dokter yang sakit yang mana." Fuyami mengusap puncak kepala Bulan.


Tak lama tiga dokter dan empat suster datang memeriksa Bulan. Ketiga dokter itu sampai bingung ketika pemeriksaan selesai dan Bulan masih menangis. Padahal menurut pemeriksaan dokter tidak ada keluhan yang berat maupun bagian yang sakit pada tubuh Bulan. Dokter sampai mengecek ulang dan bertanya pada Bulan.


" Nyonya, bagian mana yang anda rasa sakit sekali?" tanya dokter Budi.


" Tidak ada dok. Hiks... Dokter, saya lumpuhkan?" tanya Bulan. Fuyami sangat terkejut mendengar kata-kata dari menantunya, padahal dokter belum mengatakan apapun.


" Benaar nyonya. Mohon maaf saya harus mengatakan hal ini. Anda mengalami kelumpuhan permanen pada keda kaki anda. Beruntungnya, tidak ada kelainan lain yang terjadi berbarengan dengan kelumpuhan anda." terang dokter itu. Cara bicaranya sangat serius sekali.

__ADS_1


" Apa ada kemungkinan saya bisa berjalan lagi dok?" tanya Bulan. Jawabannya Bulan sudah bisa menebaknya sendiri, tapi dia ingin secara langsung dokter ini yang mengatakannya.


" Maaf nyonya, kecil kemungkinan presentase anda bisa kembali normal, hanya saja dengan terapi dan juga pengobatan yang terbaik, maka saya pastikan anda akan bisa melakukan kegiatan meski anda sedang lumpuh. Ini membantu anda mandiri dengan kondisi anda saat ini nyonya."


Sakit, itu yang dirasakan oleh Bulan. Tapi ada yang lebih sakit lagi dibandingkan kabar kelumpuhannya. Kabar kedua yang disampikan dokter bahwa dia keguguran dalam peristiwa itu. Kandungannya saat itu menginjak usia empat minggu. Tidak adanya ngidam seperti kehamilan pertamanya membuatnya tidak sadar mengenai kandungannya.


Mimpinya benar, anak yang mengaku pergi demi keselamatannya itu memang benar putrinya. Putri yang begitu Bintang harapkan selama ini. Bintang ingin Bulan hamil sekali lagi, siapa tahu anak mereka nanti akan perempuan. Bintang juga ingin ada anak perempuan yang akan bermanja-manja dengannya dan ketiga kakaknya.Tapi semua harapan itu hanya angan belaka sekarang. Dengan kelumpuhannya juga akan sangat bahaya jika sampai ada anak dalam kandungannya. Dan lagi, apakah Bintang akan bisa menerima tentang kelumpuhannya.


" Hoshi mana otousan?" tanya Bulan yang menyadari bahwa sejak tadi hingga dokter barusan pergi meninggalkan ruangan rawatnya, hidung dari suaminya itu tidak nampak sama sekali.


" Bulan ingin ketemu Hoshi, otuosan. Apa dia nggak iingin tahu kondisi aku? Apa dia nggak ingin aku lagi setelah aku lumpuh otousan?' tanya Bulan sedikit ngelantur bagi Fuyami.


Tidak ingin anak menantunya itu berpikiran yang tidak-tidak. Dia izin keluar untuk memanggilkan putranya. Saat Fuyami keluar dari ruang rawat menantunya, dia melihat putranya sedang berbincang dengan dokter yang baru saja memeriksa Bulan. Fuyami pun meminta Bintang untuk masuk ke dalam ruangan rawat Bulan.Fuyami juga menceritakan tentang pertanyaan Bulan tadi yang dia pikir itu ketakutan Bulan untuk ditinggalkan oleh Bintang.


Srrrreeeekkkk


Pintu geser itu terbuka, Bintang langsung setengah berlari memeluk tubuh istrinya. " Bagaimana bisa kamu meragukan aku sayang? Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan mu? Aku cinta sama kamu, hidup ku itu kamu, aku nggak masuk karena aku bingung harus ngejelasin gimana soak kondisi kamu saat ini.Ini salah aku sayang, kalau saja aku tahu itu hotel milik dia, andai aku teliti, andai aku nggak ceroboh, ini semua nggak akan terjadi sama kamu." ujar Bintang panjang sekali ditengah tangisannya. Bulan memeluk tubuh Bintang dengan sangat erat sekali.

__ADS_1


" Sayang, anak kita..... anak kita pergi sayang....maafin aku... aku nggak jaga anak kita dengan baik. Aku salah sayang.... sudah lompat dan anak kita pergi untuk selamanya, putri kita pergi sayang." Bulan menangis histeris sekali. Siapa saja yang mendengar jeritan tangis dari Bulan, pasti hatinya akan tersayat. Bintang pun juga begitu.


" Iya sayang, nggak apa-apa. Kamu nggak salah, ini salah aku yang jadi ayah buruk untuk dia. Jangan down ya, masih ada triplet yang butuh kamu. Sayang, i love you so much." jar Bintang yang langsung ******* bibir merah cherry milik sang istri.


Setelah haru biru yang terjadi tadi, kini Bulan lebih tenang. Dia berbaring dalam pelukan sang suami di ranjang sempit milik pasien. Masih terisak, Bulan bercerita tentang mimpinya bertemu dengan anak perempuan dalam mimpinya. Anak perempuan itu mengaku bahwa dia adalah putri mereka, dan pergi demi keselamatan mommy nya. Meski sangat sedih, Bintang berusaha ikhlas dan tenang agar sang istri tidak tertekan jika dia juga sedih.


Bintang mengusap punggung sang istri, hingga istrinya ini tertidur. Bintang menatap wajah istrinya yang sangat pucat itu. Bintang sadar ke depannya dia harus kuat secara mental dan fisik untuk bisa mendorong dan menyemangati Bulan agar bisa menerima kondisi fisiknya saat ini. PR Bintang untuk ke depannya memang berat, apalagi jika Bulan terus merasa minder dengan kondisinya. Tapi cinta bisa membuat keajaiban ,dan Bintang percaya itu. Meski tidak bisa kembali normal, setidaknya Bulan mau menerima kondisinya.


" Mereka tidur sayang, biar nanti saja kita jenguk ya. Kasian juga Hoshi semalaman nggak tidur. Dan bisa kamu minta pihak rumah sakit untuk mengganti ranjangnya agar lebih besar." ujar Fuyami dengen senyum jahilnya.


" Kamu bisa saja, tapi perlu dicoba sayang." ujar Takumi setuju untu meminta penggantian ranjang pasien di kamar menantunya ini.


" Sayang tentang pelakunya bagaimana?" tanya Fuyami. Dia memang mendengar bahwa putranya ingin keluarga itu hancur, tapi apakah benar secara kepala keluarga itu adalah teman sekaligus klien bisnis dari ayah mertuanya.


" Sudah diurus sayang. Dan semua seperti apa yang Hoshi katakan. Keluarga Fokker sudah lenyap dari muka bumi ini. Bisnis mereka dan semua usaha keluarga itu sudah Hoshi hancurkan tida tersisa. Masih lebih baik daripada Hoshi membunuh mereka semua, dia hanya membunuh mata pencaharian dari keluarga itu." terang Takumi. Menurutnya, putranya ini benar-benar tahu cara memberikan pelajaran pada orang yang mengusik keluarganya.


" Semoga saja semua masalah ini berakhir sampai di sini. Aku ingin kehidupan keluarga Hoshi dan Bulan akan bahagia setelah ini, meski awalnya akan membutuhkan banyak perjuangan."

__ADS_1


__ADS_2