BULAN UNTUK BINTANG

BULAN UNTUK BINTANG
bab 109


__ADS_3

Dari kaca yang ada di pintu ruangan rawat Bulan di bangsal VVIP, Bintang dapat melihat interaksi antara istri dan anak-anaknya. Hatinya sungguh tenang melihat senyum bahagia kini telah menghiasi wajah istrinya. Selama dua bulan ini, Bulan sungguh sangat jarang sekali tersenyum, kalaupun dia tersenyum itu hanya dia paksakan hanya untuk menjaga perasaan Bintang saja. Dan ini adalah senyum indah pertamanya setelah tragedi itu terjadi.


Bintang memilih pergi ke ruangan dokter Budi untuk menanyakan kondisi Bulan saat ini. Bintang juga akan berkonsultasi tentang kepindahan Bulan ke Kyoto. Beruntung sekali dokter Budi baru saja selesai melakukan praktek dan baru saja kembali ke ruangannya sebelum Bintang datang.


" Selamat pagi dok." sapa Bintang. Dia langsung mengambil tempat duduk di depan dokter Budi.


" Selamat pagi tuan Hoshi, ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter Budi.


" Saya ingin membicarakan tentang rencana kami memindahkan istri saya ke Jepang. Apakah kondisinya sekarang bisa untuk melakukan perjalanan jauh?" tanya Bintang to the point. Tidak ada gunanya juga dia basa basi dengan dokter yang merawat istrinya ini.


" Kita lakukan tes dulu ya tuan, stelah tes keluar maka saya bisa memberikan jawaban untuk pertanyaan anda. Mohon maaf jika lancang, tapi apa alasan anda memindahkan pasien ke Kyoto, tuan?" dokter Budi bertanya karena sedikit penasaran.


" Saya berasal dari Kyoto dok, dan menurut saya mungkin lingkungan rumah kami di sana cocok untuk istri saya melakukan proses penyembuhan, baik itu fisik maupun mentalnya. Saya yakin istri saya keadaan mentalnya tidak baik-baik saja, apa lagi kami kehilangan calon anak kami." jawab Bintang dengan raut wajah yang terlihat begitu sedih. Bagaimana pun juga jelas dia merasa saat kehilangan saat mengetahui bahwa Bulan hamil dan harus keguguran dan itu semua karena kelalaiannya. Andai pun jika dia harus memilih memang dia tetap akan memilih keselamatan Bulan, karena dia tidak akan bisa hidup tanpa wanita yang sangat dia cintai itu.


" Saya mendukung keputusan anda tuan jika memang itu untuk kebaikan pasien. Dan saya sarankan pada anda untuk berobat di dokter yang menjadi panutan saya di Jepang. Sebentar, saya akan mengambilkan kontak beliau. " ujar dokter Budi yang berjalan menuju ke lemari kaca yang ada di ruangannya.


" Apa dokter yang ada maksud ada di Jepang, dok? " tanya Bintang yang melihat secercah harapan untuk terapi Bulan.


" Dia adalah seorang profesor tuan, beliau mengajar di universitas swasta yang juga ada rumah sakitnya di sana. Beliau berasa di Tokyo. " jawab dokter Budi.

__ADS_1


Setelah perbincangan tentang dokter yang sudah bergelar Profesor tersebut, Bintang pamit meninggalkan ruangan dokter Budi untuk kembali ke ruangan rawat Bulan. Terlihat Bulan sudah tertidur dengan ketiga putranya di ranjang besar yang sudah dipesan khusus oleh Takumi pada pihak rumah sakit.


Bintang mengambil duduk di sofa yang ada di seberang ranjang. Bintang nampak asyik bermain ponsel pintar miliknya, seperti sedang mengirimkan pesan pada seseorang entah siapa. Tak lama muncul Fuyami dari kamar mandi, melihat putranya nampak serius, wanita itu pun tersenyum.


" Hoshi-kun.... " panggil Fuyami.


" Okaasan. " Bintang kaget, sejak kapan ini ibunya ada di depannya.


" Kamu melamun apa? Sampai segitu kagetnya lihat." ledek Fuyami.


" Nggak melamun kok, cuma lagi serius aja ini hubungan orang-orang Narita yang ada di Jepang. Mau mencari dokter yang akan merawat Bulan di sana, Okaasan." jawab Bintang tidak terima dituduh melamun.


" Sudah dapat dokter buat Bulan? Cepet banget?" tanya Fuyami. Pindah saja belum tapi sudah dapat dokter untuk merawat Bulan.


' jawab Bintang.


" Tadi bunda kamu sudah ngomong sama Bulan soal kepindahan kalian, dan Bulan setuju saja asalkan kamu dan triplet ada di dekat dia. Ojiichan juga pasti seneng karena kediaman Narita jadi rame lagi."


Bintang bisa bernafas lega saat mendengar bahwa sang istri mau diajak pindah ke Kyoto. Sekarang yang harus dilakukan adalah tes pada Bulan, baru bisa melakukan persiapan kepindahan mereka. Setelah kepindahan Bintang keluarga kecilnya ini kembali ke Jepang, maka sudah secara otomatis Bintang akan kembali bekerja di Narita group bersama dengan Takumi.

__ADS_1


Jika Daisuke sekarang masih menjadi CEO di Narita group, maka Takumi, yang merupakan putra tunggalnya menjabat sebagai wakil CEO, sedangkan Bintang merupakan direktur bagian perencanaan dan pengembangan. Sedang keluarga yang lain merupakan pemegang saham di Narita group.


Fuyami pamit untuk mencari keberadaan So Hyang dan juga bunda Dessy yang katanya tadi akan makan siang di kantin rumah sakit. Ketiga wanita ini berencana untuk ke mall yang ada di depan rumah sakit untuk membeli beberapa kebutuhan Bulan dan Bintang yang disampaikan oleh Bintang tadi sudah habis. Bintang sengaja meminta tolong pada ketiga dara itu karen malas sekali dia meninggalkan Bulan dan triplet di rumah sakit.


Karena kelelahan yang mendera tubuhnya, Bintang sampai ketiduran di sofa secara tidak sadar. Bahkan ponselnya jatuh ke lantai karena terlepas dari genggaman Bintang. Pria tampan dengan sejuta pesona ini masuk ke alam mimpi dengan damai.


" Kenapa coba nggak tidur di ranjang?" gumam Bulan. Dia terbangun karena memang sudah banyak tidur, dan dia sangat terkejut melihat suaminya itu tertidur di sofa, padahal ranjang yang di tiduri Bulan masih sangat cukup jika dipakai tidur mereka berlima.


" Mana ya ponsel ku?" Bulan nampak celingak celinguk mencari keberadaan ponselnya. Beruntung dia melihat ponsel itu berada di dekatnya, jika berada jauh dari jangkauan tangannya, dia khawatir tidak akan bisa mengambilnya. Bulan menekan nomor ponsel seseorang untuk dihubunginya, selang beberapa detik ponsel Bintang yang jatuh ke lantai berdering. Bintang langsung melompat bangun mendengar getaran yang sangat keras itu. Bulan tergelak tertahan melihat tingkah lucu suaminya, Bintang langsung menghampiri Bulan dan mencubit pipi sang istri itu karena gemas dan kesal.


" Sayang aku kaget banget lho." tegur Bintang. Sungguh dia memang sangat terkejut dari. Jantungnya masih berdetak sangat kencang saat ini.


" Habisnya kenapa tidur di sofa? ranjang ini muat lho sayang?" tanya Bulan protes.


" Aku nggak sengaja sayang tidur di sofa, aku itu ketiduran." jawab Bintang. Tangannya sibuk mengucek matanya karen kantuk yang masih menderanya.


" Tidur lagi sini gih!!" ajak Bulan menepuk pelan sisi ranjang yang ada di belakanganya. Bulan tahu suaminya itu masih sangat mengantuk, jadi dia menawarkan Bintang untuk tidur di sisinya.


" Sayang udah denger dari bunda kan? Kalau kita akan pindah ke Kyoto." ujar Bintang mengambil tiduran di samping sang istri.

__ADS_1


" Udah, terus kata bunda kamu tadi ketemu dokter. Apa kata dokter sayang?" Bulan sedikit khawatir kalau dokter tidak mengizinkan.


" Musti di tes dulu sayang, baru nanti dokter kasih keputusan. Kamu nggak perlu khawatir, kita pasti bisa pindah ke Kyoto, dan dokter untuk kam di sana juga sudah ada. Percayakan semuanya padaku."


__ADS_2