
Kini keluarga Hilla, keluarga Narita dan Keluarga Narendra tengah berkumpul untuk menyambut Tuan besar Hillar, Markus Hillar bersama sangat istri.
Di ruang tamu masing-masing dari mereka sudah memegang bunga untuk ditabur saat Markus dan istrinya, Hinata lewat.
Bulan berdiri di samping Bintang keduanya saling tersenyum. Bagi Bulan ini adalah pengalaman pertamanya merayakan ultah keluarga dengan semewah ini walau hanya keluarga yang di undang.
Mobil yang ditumpangi opa dan oma sudah memasuki halaman mansion utama. Opa dan oma turun dari mobil, bergandengan tangan memasuki mansion utama.
" Happy Birthday opa. " teriak semua serempak.
Opa kaget setengah mati saat membuka pintu langsung disambut keluarga besarnya. Untung opa nggak punya penyakit jantung, coba kalau ada penyakit jantung sudah jantungan opa.
" Selamat ulang tahun daddy. " Karl dan Fuyami memeluk tubuh renta daddy mereka.
Dari arah dalam mansion nampak kedua menantu keluarga Hillar membawa nampan dengan Schwarzwalder Kirschtorte yang merupakan kue khas Jerman.
" Selamat ulang tahun daddy. " Takami dan Maurin mendekat.
Opa langsung meniup lilin yang bertulis angka 67 setelah memanjatkan doa terlebih dahulu. Opa memotong kue lalu memberikannya pada istri dan kedua anaknya. Bagi opa ketiga orang itu adalah nomer satu dalam hati dan hidupnya.
Riuh suara tepuk tangan seluruh keluarga yang hadir. Mereka tak henti-hentinya bertepuk tangan. Opa mengangkat tangan kanannya dengan maksud meminta semuanya untuk tenang.
" Cucu menantuku, Bulan. Kemari sayang. " panggil opa. Bulan mendekati opa setelah melirik Bintang dan diangguki oleh Bintang.
" Ulang tahunku di tahun ini benar-benar yang paling special karena adanya Bulan yang masuk menjadi anggota keluarga Hillar dan Narita. " Opa menjeda sejenak. Menatap mata Bulan dengan intens, " Opa tahu awal kamu dan Hoshi cucu opa adalah sebuah kecelakaan. Tapi pinta opa jangan pernah ada kata perpisahan sampai maut menjemput kalian. " pesan opa
Bulan menitikkan air mata saat opa memeluk tubuhnya. Di keluarga inilah Bulan merasa sangat dicintai dan disayangi. Baik oleh suami, mertua, opa dan oma juga panan, bibi, dan kakak sepupu.
Bintang mendekat, lalu mengusap punggung Bulan. Tahu suaminya yang mengusap punggungnya Bulan langsing memeluk suaminya.
" Terima kasih. " ucap Bulan.
Bintang mengangguk walau dia tidak tahu Bulan berterima kasih untuk apa.
" O.. o.. o Stop drama keluarganya, sekarang ayo kita makan. Kami berdua sudah lapar. " celetuk Duo Bal yang langsung mendapat tatapan tajam dari paman Karl
" Daddy, terharu dan menangis tak akan membuat kita kenyang. So, lets go. " Dewin mengayunkan tangannya mengajak semua keluarga untuk segera menyantap hidangan yang disediakan.
Keluar Hillar hanya geleng kepala melihat tingkat duo Bal. Mereka berdua itu tidak pernah bisa diajak serius.
Taman belakang sudah di hiasi dengan Lentera bulat yang digantung yang nantinya akan menyala sat gelap Sudah ada juga beberapa meja dan kursi makan. Tak jauh dari sana ada meja panjang dan besar yang sudah dihiasi bermacam macam hidangan dari Indonesian foof, japanese food, waestern food dan masakan khas Jerman.
Opa dan oma mempersilahkan keluarga Narendra untuk mencicipi hidangan itu.
" Mari bapak dan ibu jangan sungkan kalau di rumah kami. Silahkan dicicipi. " oma mempersilahakn ayah dan bunda Bulan untuk mengambil hidangan.
__ADS_1
Bulan tampak binggung dengan banyaknya makanan yang dihidangkan di depannya itu.
" Em.. apa kau tau itu masakan apa? " tanya Bulan menunjuk masakan yang dia maksud.
" Oh... itu rosemary chicken with sauteed Vegeta bles. Cobalah enak kok. " jawab Bintang.
" Kalau enak kenapa kau tak mengambilnya malah mengambil sushi. " protes Bulan
" Itu memang enak tapi aku lebih suka makan sushi daripada itu. Apalagi ada Futomaki dan chirasi. " terang Bintang
Bulan dibuat binggung. Akhirnya dia mengambil chicken cordon bleu dan bienenstich sebagai makanan penutup.
Semua kini telah duduk di kursi masing-masing menikmati hidangan pilihan mereka. Bintang nampak sangat lahap memakan makanan pilihannya. Entah kenapa Bulan jadi sangat ingin memakan makanan suaminya.
" Boleh aku cicipi itu chirasinya. apa enak? " Bulan menatap suaminya penuh harap
" Ehm... ehmmm. ehmmmm. " gumam Bulan sambil mengunyah makanan itu.
" Enak? " tanya Bintang.
" Enak, boleh tukar? " Bulan bertanya balik.
" Aku ambilkan. " Belum juga Bintang beranjak sudah dihentikan oleh Bulan.
" Aku ingin ini bukan yang di sana. " Bulan langsung saja merampas chirasi milik Bintang.
Bintang melongo melihat tingkah Bulan, tidak biasanya istrinya seperti itu.
Semua yang hadir di pesta ulang tahun opa nampak sedang menikmati hidangan yang tersedia dengan nikmat. Sampai muncul suara tak jauh dari mereka membuat semua tamu melihat ke arah lain.
" Tes... tes... one, two and three" ceketuk Derik
" Good night ladies and gentlemen. Kami pada malam ini akan menyanyikan lagu khusus untuk opa dan semua yang hadir malam ini. " Dewin menghirup nafas dalam sebelum melanjutkan.
" Sebelum itu mari kita panggil vokalis kita yang tampan dan dermawan. Hoshi Narita. " Dewin menirukan cara bicara host terkenal.
Bintang menepuk pelan jidatnya, dirinya dibuat malu dengan tingkah sepupunya yang somplak itu. Karena semua terus meneriaki nama Bintang akhirnya dengan amat sangat terpaksa dirinya berjalan ke panggung yang tidak layak itu.
" Lo pada gilanya, gue ngapain diajak kegilaan kalian. " bisik Bintang.
__ADS_1
" Ya elah sok jaim lo mentang-mentang ada mertua. Perasaan lo lebih parah deh gilanya. " Derik tak Terima di bilang gila.
" Trus gue suruh nyanyi apa? " tanya Bintang
" Terserah elu lah, masak gitu aja nanya kita. Lo nyanyi lagu apa aja kita bisa ngiringin. " ponggah Derik.
Bintang nampak terdiam sebentar memikirkan lagu apa yang akan dibawakannya sampai dia punye ide untuk mengerjakan balik sepupunya itu. Bintang nampak bersenandung sebentar kemudian mulai bernyanyi.
*Happy birthday opa
Happy birthday opa
Happy birthday, Happy birthday
Happy birthday to you
One more candle to light
On your birthday cake
Hope your wishes all come true
Now lets celebrate*.
Bintang langsung bertepuk tangan sekeras kerasnya. Dia juga tertawa terbahak melihat ekspresi kesal dari Dui Bal. Semua yang hadir di sana pun tidak dapat lagi menahan tawa saat Derik dan Dewin melempar Bintang dengan alas kaki. Untung hanya kena punggung bukan kepala.
Opa juga nampak sangat terhibur dengan tingkah ketiga cucunya. Ojichan pun dibuat heran, Bintang cucunya bisa bersikap seperti itu. Benar-benar sangat menghibur.
" Dek, abang mau nanya. Hoshi itu siapa dek? " tanya Yanuar berbisik di telinga Bulan.
" Suamiku, nama Japan nya ka Hoshi. " jawab Bulan biasa.
Nampak Yanuar menaikkan kedua sudut bibirnya.
" Suami.. Wow.. Wow.. sejak kapan mengaku itu suami adek, perasaan kemarin-kemarin nggak gitu dech. " goda Yanuar.
Mendengar itu Bulan jadi malu, dia merutuki mulutnya yang ceplas ceplos sampai bisa dijadikan bahan abangnya untuk menggoda dirinya.
" Eh dek. " ucapan Yanuar langsung dipotong Bula.
" Apalagi. " ketusnya
" Abang kok kayak pernah liat itu kakak sepupu Bintang ya tapi di mana. " Yanuar mengingat kembali kapan dirinya pernah ketemu duo Bal
Bila cuek saja, malas menanggapi abangnya karena terlanjur ngambek digoda abangnya tadi.
Terima kasih untuk pembaca yang setia mengikuti Bulan untuk Bintang. Terus dukung ya biar Bulan untuk Bintang lebih banyak lagi peminatnya.
Terima kasih, saranghae
__ADS_1