BULAN UNTUK BINTANG

BULAN UNTUK BINTANG
bab 40


__ADS_3

Sebelum masuk ke cerita ini author meminta maaf jika banyak typo ya. Bab 37 juga sampai ada dua, author usahakan semakin banyak episodenya semakin sedikit typo nya. Terima kasih sudah mau u tuk mengikuti dan membaca cerita Bulan untuk Bintang. Semoga kedepannya karya author ini bisa lebih banyak peminatnya.


***********


Hari sudah semakin siang tapi tidak untuk dua insan yang sedang dimabuk asmara ini. Bulan dan Bintang masih bersembunyi di bawah selimut tebal. Bintang yang biasanya bangun awal karena morning sickness Bulan pagi ini memilih untuk tidur lagi setelah mual dan muntah Bulan mereda. Bulan yang melihat suaminya kembali masuk ke selimut memilih untuk kembali tidur karena baginya berada dalam pelukan Bintang bisa meredakan morning sickness yang dialaminya.


" Buk, aden sama non Bulan kok belum turun ya ini sudah jam sepuluh lo buk. " ujar Tutuk dengan medok nya.


" Iyo yo, coba kamu ketuk pintune gih! " ujar mbok Warni. Nggak biasanya tuannya itu belum turun biasanya juga jam lima pagi sudah bertengger di meja dapur.


Tok... Tok... Tok...


" Aden... Non.... "


Tok... Tok.....


" Aden.... Non... bangun!!! "


sepuluh menit kemudian.


Tok.... Tok....


" Aden.... Non.... ini sudah siang. "


Tok.... Tok....


" Aden.... Non...... " teriak Titik dengan kencang tapi sama sekali pintu tak terbuka.


Titik pun memilih turun karena tenggorokannya sudah kering dari tadi teriak tapi yang diteriaki tidak mendengar.


" Wes mboh di gugah angel pisan wong loro kuwi. " gumam Titik yang sudah terlanjur kesal.

__ADS_1


( sudahlah dibangunin susah bener itu dua orang.)


" Tik, mana di aden sama Non Bulan? " tanya mbok Warni yang melihat Tutik datang sendirian ke dapur.


" Tak ketuk pintune sampai tanganku sakit mbok, eh... nggak bangun-bangun. " kesal Tutik


" Tumben benar ya, apa sakit di aden atau Non Bulan ya. " gumam mbok Warni. Daripada pusing akhirnya mbok Warni memilih menyelesaikan pekerjaannya.


Suasana di kamar Bintang masih tenang, Bulan yang baru saja terbangun melihat ke arah suaminya yang masih tidur pulas di sampingnya. Jari ramping milik Bulan menyentuh wajah sangat suami. Dari bibir, hidung, mata kemudian ke dahi. Sampai di dahi Bulan nampak terdiam. Akhirnya dengan telapak tangannya Bulan menyentuh dahi suaminya.


" Demam. " gumam Bulan. Beberapa detik kemudian dia melompat turun dan berlari ke arah pintu.


" Yomesan jangan lari. " sentak suara bariton milik suaminya menggema di dalam kamar. Bintang sudah bangun semenjak Tutik mengetuk pintu kamarnya tadi, tapi tubuhnya seakan tak bisa diajak kompromi. Akhirnya Bintang memilih membiarkan saja Tutik di luar, toh bila lelah juga akan pergi sendiri.


" Kamu mau kemana pakai lari gitu? " tanya Bintang yang menggubah posisi tubuhnya yang semula berbaring menjadi bersandar.


" Kamu demam, aku mau panggil si mbok. " jawab Bulan. Dia menunduk saat tahu suaminya tengah menatap tajam dirinya. Suaminya pasti marah karena dia berlari.


Bibir merah cherry Bulan langsung manyun setelah diledek suaminya. Dia kan panik mana bisa mikir kalau sudah dalam mode seperti itu.


" Jangan manyun-manyun itu bibir, nanti aku sambar trus jadi lima ronde, tepar kamu. " Bintang malah menaik turunkan alisnya.


" Ish.... Dasar mesum. Sakit aja masih bisa mesum kamu. " Kesal Bulan.


Bintang pun meminta istrinya itu untuk duduk di sampingnya. Bulan pun akhirnya menurut setelah menolak dan diancam Bintang kalau tidur sendiri. Bintang mengambil ponselnya dalam nakas lalu nampak menghubungi seseorang.


" Ke rumah gue sekarang!! Dua puluh menit lo belum sampai saya goodbye dengan lisensi dokter mu itu. " ujar Bintang dengan suara yang dingin.


" Kamu nelfon dokter kok kayak mau ngajak perang aja sih. " ledek Bulan. Bulan belum tahu saja sisi lain dari sifat Bintang itu seperti apa.


Bintang hanya tersenyum lalu meletakkan kepalanya dipundak Bulan. Sejujurnya dia sangat lemah sekarang, badannya dipakai gerak juga sudah tapi tetap dia simpan sendiri kondisinya karena Bulan sedang hamil. Bintang tidak mau istrinya uang tengah hamil itu kelelahan karena merawatnya. Dia juga tidak suka disentuh sembarangan orang, makanya tadi saat Bulan hendak memanggil mbok Warni Bintang menolak dengan cara yang halus.

__ADS_1


Bintang adalah tipe orang yang bila sakit maka akan memilih tidur seharian di kamar dan tidak melakukan aktifitas apapun. Setelah keluar keringat dia juga baru beranjak keluar karena lapar. Jika masih belum ada keringat sedikit aja dia juga belum merasa lapar.


Tapi untuk kali ini Bintang harus mengubah kebiasaanya karena tak mau istrinya khawatir dan tetap harus cepat sehat agar bisa merawat istrinya yang tengah hamil. Maka dari itu dia memanggil dokter.


Tida puluh menit sudah Bintang menunggu tapi dokter yang ditelfon nya tadi tak juga datang. Dalam hati Bintang sudah berjanji akan membuat pelajaran dengan dokter yang dipanggil nya itu. Bisa-bisanya menyuruh seorang keturunan Narita menunggu.


Tok... Tok....


Terdengar suara pintu diketuk dari luar, Bulan beranjak turun untuk membukakan pintu. Bulan mempersilahkan mbok Warni yang membawa seorang pria yang usianya tak jauh beda dari abangnya. Bulan yakin pria itu adalah dokter yang dihubungi oleh suaminya tadi.


" Wah Hoshi Narita bisa sakit juga rupanya. " ledek pria tadi.


" Elo telat sebelas menit. " seringai mengerikan muncul di wajah Bintang. Namun sedetik kemudian berubah saat melihat sangat istri mendekat.


" Idih lo ngancam gue. Nggak gue obatin lo. " sewot pria itu


" Maxim Hirano memangnya kau berani padaku. " gumam lirih Bintang yang hanya bisa didengar oleh Maxim saja. Pria yang adalah seorang dokter itu.


" Tentu saja tidak tuan muda. " jawab Maxim. Tangannya begitu terampil memeriksa detak jantung dan kondisi Bintang yang lainnya.


" Kelelahan dan banyak pikiran. Tidak menyangka kau bisa banyak pikiran juga. " ucap Maxim setelah selesai memeriksa Bintang.


" Gue manusia biasa wajar lah. " sanggah Bintang.


Sebelum Bintang ingin mengajak bicara Maxim tentang masalah pribadi, Bintang menyuruh Bulan untuk keluar sebentar membawakan sarapan untuknya. Bulan yang untuk pertama kali bisa melayani suaminya sudah pasti sangat senang dan langsung turun ke dapur hendak membuat bubur.


" Ngapain lo nyuruh bini lo turun? Lo belum cerita siapa diri lo yang sebenarnya? " tanya Maxim.


" Secara garis besar dia tahu gue udah dua kali cerita tapi untuk detail permasalahan nya belum gue kasih tahu. Dia hamil gue nggak mau nanggung resiko bini dan anak gue sampai ada apa-apa. " Bintang menjelaskan.


" Berarti Bulan nggak tahu kalau elo king of the dark world? " tanya Maxim lagi. Bintang hanya menggeleng saja. Dia belum siap untuk memberi tahu kan rumitnya hidup yang dia jalani pada Bulan. Andai dia bisa seperti perannya yang sekarang hanya mahasiswa biasa, namun kenyataannya itu hanya peran yang dia lakoni. Bukan the real Hoshi Narita. Takut Bulan tidak bisa menerima dan takut bisa tahu kegelapan yang selama ini disembunyikan Bintang dari orang di sekitarnya. Hanya ojichan dan opanya saja yang tahu tentang hal ini.

__ADS_1


Bila suatu hari dia jujur apakah Bulan akan menerimanya. Karena keturunan Narita harus mewarisi apa yang dimiliki oleh keluarga Narita dan Bintang yang menjadi pewarisnya. The king of the dark world adalah sisi hitam dari dunia Bintang.


__ADS_2