
Hari yang ditunggu tunggu oleh keluarga Hillar datang juga. Markus Hillar hari ini akan merayakan ulang tahunnya yang ke 67. Keluarga besar semua hadir untuk merayakan ulang tahun opa.
Sejak pagi tadi seluruh penghuni dan pelayan di mansion utama sudah disibukkan dengan persiapan pesta nanti malam. Mulai dari finishing dekorasi juga masakan yang akan dihidangkan.
Bulan dan Bintang baru saja turun ke bawah. Rencana mereka akan ikut membantu, Bulan membantu di belakang sedangkan Bintang akan membantu mempersiapkan hidangan.
" Eh pengantin baru jam segini baru turun. Berapa ronde semalam? " Derik menggoda
" Ronde apaan. Emang tinju. " seloroh Bintang.
Bulan hanya diam saja lantaran malu, semalam mereka tidak juga tidur lantaran membicarakan masalah ranjang. Walaupun tidak melakukannya tapi ledekan Derik jadi mengingatkannya dengan pembicaraan itu
" Ihhh nggak ngaku. Tuh lihat Bulan aja udah merona kayak kepiting rebus. " Dewin menunjuk Bulan.
Bintang langsung menenggok ke samping. Dia tergelak melihat ekspresi malu-malu dari Bulan. Bulan yang ditertawakan langsung mencubit lengan Bintang.
" Aw... aw... aw... sakit ini. Kok di cubit sih. " Bintang mengelus lengannya.
" Bodo. " ketus Bulan lalu pergi menuju ke halaman belakang.
" Eh dia nya ngambek. Lo pada nih resek amat. " ujar Bintang.
Derik dan Dewin tertawa karena pagi-pagi sudah bisa menggoda Bintang.
Mereka bertiga berjalan menuju ke dapur. Bintang akan membantu memasak sedangkan Dui Bal membantu pelayang mempersiapkan peralatan makan untuk nanti malam.
Jangan ditanya kenapa mereka malah membantu didapur, jawabannya karena di halaman belakang sedang finishing dekor dan duit Bal itu nilai keseniannya buruk. Jadi mereka menolak deh. " Enggak ah entar kita bantu malah berantakan. " ujar si duo Bal semalam.
Keluarga Hillar dan keluarga Narita saling membantu untuk menyempurnakan pesta ultah opa Markus. Sepupu Bintang sudah siap membantu di belakang. Keempatnya mendatangi Bulan.
" Onesan.. " keempatnya serempak memanggil Bulan.
" Ya?! " jawab Bulan.
" Kami bisa bantu apa ya kak? " tanya Sohee
" Bantu merangkai bunga lalu meletakkan nya di meja bisa? " Bulan memberi interuksi
" Ok. "
Keempatnya berlalu ke beberapa meja yang berbeda. Masing-masing satu meja lalu mereka mulai merangkai bunga-bunga itu.
Para tetua kedua keluarga sekarang ini sedang ikut membantu di dapur bagi yang wanita dan yang pria mereka mempersiapkan kado spesial buat tuan besar Hillar. Rencana mereka memberi kado yang istimewa dan di simpan di sebuah ruangan rahasia.
Untuk Tuan Hillar sendiri sejak semalam sudah menginap di hotel bersama oma. Mereka akan di jemput supir ketika semua sudah siap.
__ADS_1
Matahari sudah naik ke atas, sinarnya begitu menyegat kulit para gadis yang sibuk membantu di halaman belakang
" Anata, ayo makan siang dulu. " Bintang berteriak memanggil istrinya.
Bukan hanya Bulan yang melihat ke arah Bintang tapi keempat sepupu Bintang pun iya. Mereka berlima berjalan bersama memasuki rumah untuk menyantap makan siang bersama.
" Nisan, kenapa yang dipanggil cuma kak Bulan. Kenapa kita enggak. " protes Eiko
" Suka-suka dong. " Bintang menjulurkan lidahnya
Makan siang pun di mulai dengan berbagai m3nu sudah tertata rapi di meja. Sedang asyiknya menyantap makan siang dari arah pintu depan nampak ada suara orang yang datang.
" Tuan, nyonya ini ada keluarga Narendra di ruang tamu. " salah seorang pelayan datang memberitahu perihal kedatangan keluarga besan
" Bintang, Bulan dan kedua orang tua Bintang menghentikan makan siang mereka guna menyambut keluarga Narendra.
" Selamat datang besan. Mati ikut makan siang bersama. " Okaasan lansung menawari makan siang.
" Terima kasih jeng, kami sudah makan siang di rumah. Silahkan dilanjutkan biar kami menunggu di sini saja. " Bunda menolak halus.
" Kamu makan dulu sana biar aku yang temenin keluarga kamu. " ujar Bintang.
Bulan pun pamit pada keluarganya untuk melanjutkan makan siangnya. Kini hanya ada Bintang dan keluarga Narendra saja di ruang tamu. Pelayan datang membawakan minuman dan cemilan untuk keluarga besan.
" Betul tuh, kalian nggak barentem atau kayak yang di novel- novel yang sering Bulan baca, nikah kontrak. " Yanuar menambahkan.
" Enggak lah bang kalo nikah kontrak. Kami sepakat saling menerima dan menjalani ini semua dengan ikhlas. Jadi ayah, bunda dan abang tidak perlu khawatir. Saya akan selalu menyayangi dan menjaga Bulan. " terang Bintang.
" Bagus kalau begitu ayah bunda jadi tenang. Semoga aja kita cepet dapet cucu ya Bun. " ujar ayah.
Bintang tersenyum kikuk. " cucu dari mana, orang buatnya aja nggak pernah cuma sekali doang dulu. " batin Bintang.
" Ayah bunda sama abang ke dalam yuk. Keluarga pada ngumpul semua. " ajak Bintang.
Dapat keluarga Narendra lihat sudah banyak sekali orang yang duduk di ruang keluarga. Ada beberapa yang tidak mereka kenali ada juga yang mereka sudah kenal.
" Perkenalkan bapak dan ibu saya Kakek Hoshi dari Jepang. Maaf kami keluarga yang di Jepang tidak bisa datang saat acara pernikahan putri bapak dan ibu dengan cucu saya. " Ojichan mempersilahkan keluar Narenda untuk duduk bersama.
" Kami mengerti tuan, saat itu semua serba mendadak. " ayah Febri berujar.
" Suatu musibah membawa berkah. Hoshi cucu kami ini dijebak seseorang tapi malah mendapat istri yang cantik dan baik seperti Bulan. Bukankaj kota harus bersyukur dengan musibah dan berkah yang datang bersamaan ini. " ujar ojichan.
Semua orang tertawa, apa yang di katakan kakaek Bintang memang benar adanya. Musibah membawa berkah, jika itu bukan Bulan pastinya Bintang akan berpikir dia kali untuk bertanggung jawab. Berhubung itu Bulan, junior yang telah menarik perhatian nya sejak awal membuat Bintang tidak menolak menikahi Bulan.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Semua mulai bersiap untuk menyambut kehadiran opa dan oma. Bulan dan Bintang masuk ke dalam kamar mereka, bergantian untuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Bintang lebih dulu masuk ke kamar mandi jadi Bulan menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.
Lima belas menit Bintang keluar dengan hanya memakai handuk yang menutupi darah pinggang g ke bawah. Bulan merona melihat tubuh suaminya.
Secepat kilat Bulan masuk ke kamar mandi karena tidak sanggup melihat suaminya yang bertelanjang dada. Bintang bersiap memakai kemeja berwarna hitam lengan panjang dengan bawahan senada warna hitam juga. Terlihat sangat tampan dengan setelan seperti itu.
Bulan keluar dari kamar mandi. Dia terkejut saat melihat suaminya tengah berdiri di depan kaca besar sedang mengancingkan kancing pada lengan bawah bajunya.
Bintang dapat melihat Bulan yang sedang termenung di depan pintu kamar mandi melihat dirinya. Bintang berbalik berjalan sangat pelan mendekati Bulan.
Bulan yang merasa gugup menggengam erat handuk yang menutupi tubuhnya agar tidak terjatuh. Kini Bintang sudah ada di depan Bulan. Bintang mendekatkan wajahnya ke wajah Bulan. Hal itu membuat Bulan langsung memejamkan matanya.
" Cepat ganti bajumu, aku menunggumu. " bisik Bintang di telinga Bulan.
Tubuh Bulan langsung meremang kalau Bintang juga mencium bagian belakang telinga Bulan. Ada yang aneh dengan tubuhnya. Bulan merasa tubuhnya memanas. Bulan menengadahkan wajahnya melihat Bintang.
Bintang lansung meyambar bibir warna Chery milik Bulan. Bintang tidak sanggup lagi menahan untuk tidak menyentuh Bulan. Bibit keduanya kini telah bersentuhan. Mereka saling membalas, terbawa suasana Bulan mengalungkan tangannya ke lehar Bintang. Terus saling beradu saliva tanpa Bulan sadari handuk yang melilit tubuhnya jatuh ke bawah.
Dirasa pasokan udara sudah menulis Bintang menghentikan ciuman panas mereka. Mata Bintang membulat sempurna saat melihat istrinya tidak lagi ada kain yang melindungi tubuhnya. Bintang berusaha menahan gejolak dalam dirinya yang ingin menguasai tubuh Bulan.
" Apa kau ingin menggodaku. " bisik Bintang di telinga Bulan.
Bulan tidak mengerti maksud suaminya itu mengikuti arah pandangan suaminya.
" Arggghhhhh. " Bulan langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Bintang tergelak melihat kepolosan istrinya itu. Bintang berjalan mendekati pintu kamar mandi
" Anata, aku menunggumu diluar cepat ganti bajumu. " Bintang setengah berteriak.
Bulan masih diam di dalam kamar mandi. Dia mendekatkan telinganya pada daun pintu untuk mendengarkan suara di luar sana apakah suaminya itu sudah meninggalkan walk in closet atau belum.
Dirasa sepi Bulan mulai membuka pintu kamar mandi, melihat ke kanan dan kiri dia tidak menemukan sosok suaminya. Bulan berjalan keluar meraih sebuah gaun yang tadi sudah disiapkan nya lalu memakainya.
Gaun berwarna hitam dengan corak bunga, berlengan pendek menjadi pilihan Bulan agar bisa senada dengan pakaian suaminya.
Bulan duduk di meja rias dan mulai bertempur dengan senjata bagi kaum wanita. Bulan merias senatural mungkin wajahnya agar tidak berlebihan.
Di rasa sudah siap dia berjalan keluar dari walk in closet. Bintang suaminya itu tengah duduk di sofa kamar mereka bermain ponsel. Bintang menoleh ke arah Bulan, dirinya terpesona dengan penampilan Bulan. Bintang berdiri mendekati Bulan
" Istriku memang luar biasa cantik. Nanti malam kita mulai misi membuat cucu untuk para kakek dan nenek ya. " bisik Bintang.
__ADS_1