BULAN UNTUK BINTANG

BULAN UNTUK BINTANG
bab 73


__ADS_3

Setelah dirasa dirinya tenang, Bulan mulai meninggalkan kampus. Dia sudah rindu pada ketiga putranya jadi hari ini khusus dia pulang awal. Judul skripsi buatan Bintang untuknya sudah di acc oleh dosen pembimbingnya jadi tidak ada alasan dia untuk berlama-lama di kampus.


Bulan melakukan mobil mini coopernya dengan kecepatan sedang. Dia ingin mampir di warung yang menjual bubur ayam, kebetulan ketiga putranya itu pecinta bubur ayam. Kata mereka sedap, sehingga Bulan dan Bintang sering sekali membelikan triplet bubur ayam di sini.


" Mang, saya pesan lima belas bubur ayam ya. " ujar Bulan pada penjual bubur ayam.


" Beres mbak. Tunggu sebentar ya, tapi ini tumben beli banyak pisan. " tanya mang Ibnu penjual bubur ayam.


" Beliin semua yang ada di rumah mang. " jawab Bulan.


Sambil menunggu dia memainkan ponselnya, hanya sekedar untuk melihat-lihat media sosialnya. Hiburan tersendiri jika kadang melihat story atau reels pengikutnya yang lucu. Dengan melakukan hal ini dapat membuat Bulan menjadi tenang lagi, melupakan emosinya.


" Eh mbak, suaminya kok nggak ikut? " tanya mang Ibnu memecah keheningan di antara keduanya.


" Kerja lah mang. Kalau nggak kerja gimana mau memenuhi saya dan so triplet. " jawab Bulan.


" Iya juga ya mbak. Ini sambal sama kuahnya mamang pisah ya mbak. "


" Iya mang. Biar nanti kalau dimakan entar-entar masih bisa. "


Memberi dua pecahan jangan ratusan ribuan, Bulan jiga menolak kembalian dari mang Ibnu, dia pun bergegas pulang. Sudah mendekati waktu makan siang triplet jadi Bulan harus datang tepat waktu agar bubur ayam yang dia beli tidak mubazir. Dengan kecepatan yang masih sedang, Bulan menuju ke rumahnya.

__ADS_1


" Ehm.... Gegara judul di acc sama pak Anthony, Hari-hari ku jadi bahagia sekali. Rasanya seperti pelangi yang muncul setalah hujan. Hehehehe. " Bulan berceloteh ria sendiri di dalam mobil miliknya.


" Aku harus mulai mengerjakan skripsi ku tentunya dengan bantuan dari suamiku. Aish,, senangnya punya suami jenius, jadi aku tak perlu capek-capek mikir. " gumamnya. Senyum di bibir Bulan tidak surut sedari tadi membeli bubur ayam.


Setibanya di rumah, Bulan begitu terkejut saat melihat mobil milik suaminya sudah terparkir rapi di garasi. Tidak biasanya Bintang pulang cepat tapi tak memberi kabar padanya. Ketika Bulan memasuki rumahnya, nampak suaminya tengah bermain bersama dengan ketiga putra mereka. Nampak sangat bahagia, tertawa bersama dan juga melakukan apapun bersama-sama.


" Shujin kenapa kamu sudah pulang?" tanya Bulan. Dia memilih duduk di samping suaminya melihat ketiga putra mereka asyik dengan mainan baru yang Bintang berikan tadi saat dia pulang.


" Selesai rapat tadi aku langsung pulang, entah mengapa aku seperti memiliki firasat bahwa istriku akan membutuhkan bantuan ku." jawab Bintang.


" Bagaimana kamu bisa memiliki firasat yang sangat tepat. Aku butuh bantuan mu karena judul yang kau usulkan semalam disetujui oleh dosen pembimbing ku."


" Benarkah?" Bintang nampak sangat terkejut. " cepat sekali dosen itu menyetujui judul dariku? Apa benar aku ini sangat jenius sehingga dosen menyebalkan itu juga suka judul dariku?" monolog Bintang dalam hati.


" Nggak gitu sayang, aku cuma kaget aja judulku asal lho padahal semalam." Bintang nyengir kuda.


Jam makan siang tiba, Bulan pun mengajak suami dan ketiga putranya untuk menyantap makan siang bersama. Dengan menu bubur ayam dari mang Ibnu yang sudah terkenal kelezatannya.


Semuanya yang berada di meja makan nampak lahap memakan bubur ayam yang tadi dibelikan oleh Bulan. Untung saja Bulan membeli lebih sehingga ketika suaminya ingin nambah, masih ada bubur ayamnya. Bulan tahu suaminya itu tidak akan bisa hanya makan satu porsi bubur, pasti akan lebih dari itu.


Malam harinya ketika triplet sudah tidur semua setelah Bintang nina bobokan, Bintang langsung menuju ke ruang belajar Bulan. Dia akan membimbing Bulan untuk membuat skripsi sesuai dengan judul yang Bintang ucapkan asal semalam. Orang jenius, sekali ngasal juga begitu berarti untuk orang-orang dengan kecerdasan tidak seberapa Hal semacam ini sangat mudah untuk Bintang. pada dasarnya dia yang jenius ditambah sangat menyukai membaca jelas pasti bisa memahami pelajaran yang ada di jurusan istrinya.

__ADS_1


Bulan mengambil psikologi kantor dalam artian jurusan ini nantinya akan mengantarkan mahasiswanya menjadi karyawan yang bekerja dibidang SDM/humas.Sedangkan bagi seorang Bintang yang sudah berkecimpung di dunia bisnis bahkan ketika usianya masih sangat muda jelas memahami beberapa hal tentang apa yang sedang dipikirkan Bulan saat ini.


" Shujin..." sentak Bulan saat suaminya itu justru tengah memancing hasratnya. Bintang sedari tadi tidak dia menyentuh setiap bagian dari tubuh Bulan.


" Apa sayang.." ujar Bintang santai. Dia tidak tahu saja jika setiap gerakannya begitu meresahkan bagi Bulan.


" Ini tangannya diem aja, nggak usah kepo gitu." tegur Bulan.


" kepo gimana sih sayang, orang aku ini lagi bantu kamu bikin skripsi." ngeles Bintang.


" Ih diajak bicara suka nggak jelas deh." kesal Bulan. Suaminya itu nggak ada seriusnya sama sekali jika sudah berdua dengannya.


" kembali ke laptop sayang. Besok aku ada jadwal meeting pagi, jadi musti tidur awal aku nya." ujar Bintang. Dia kembali serius membimbing istrinya agar skripsinya bisa cepat selesai dan bisa segera kembali ke Jepang.


Bintang mendapatkan kabar beberapa hari yang lalu dari otousannya yang ada di Jepang. Cerita yang diucapkan oleh otousan adalah bahwa orang-orang lebih mendukung Bintang dibanding dengan dirinya yang sekarang menjabat sebagai CEO. Para dewan direksi dan pemegang saham begitu menantikan era Bintang memimpin perusahaan keluarga Narita. Bintang menyimpan rapat-rapat pembicaraannya dengan sang ayah dari istrinya. Bukan karena tidak jujur dengan Bulan, tapi dia tak ingin Bulan stress lantaran skripsinya yang tidak lancar karena dipersulit oleh dosen pembimbingnya.


Seandainya itu dosen menolak judul yang diusulkan olehnya, sudah bisa dipastikan dia akan mendatangi dosen pembimbing istrinya itu. Jika kali ini bukan hanya karena kesejahteraannya yang terancam tapi juga demi keluarga besarnya.


" Yah kitanya capek ngomong dari a sampai ke z malah dianya molor." Bintang lemas seketika karena apa yang dia terangkan ternyata sama sekali tak didengar oleh sang istri karena istrinya tengah mengarungi alam mimpi.


" Tahu kamu tidur tidur gini mendingan aku juga tidur sayang, seneng banget nyiksa suami mana bibirku sampai ndower kamunya malah seperti aku dongengin sebelum tidur." gerutu Bintang sambil mengangkat tubuh sang istri untuk dibawanya ke ranjang.

__ADS_1


Tak lupa sebelum tidur Bintang mengecek ke kamar ketiga putranya yang terhubung pintu di dalam kamar utama. Bintang melihat ketiga putranya sangat lelap tidurnya. Bintang turun ke dapur untuk menghangatkan ASI yang sudah Bulan masukkan ke dalam lemari pendingin khusus.


" Good night boy."


__ADS_2