
Keesokan harinya, Bulan menjalani serangkaian tes bersama dengan dokter Budi. Hasil dari tes inilah nantinya yang akan menentukan bisakah Bulan pindah ke Kyoto atau tidak. Dari Bulan maupun Bintang tentu saja sangat berharap akan hasil tes ini bisa baik. Karena dengan itu mereka bisa segera pindah ke Kyoto. Bintang tidak sabar ingin memperlihatkan sesuatu yang sudah dia siapkan di kediaman mereka yang ada di kediaman Narita.
Bulan begitu gugup pagi menjelang siang ini, detak jantungnya begitu cepat. Dia cukup tertekan dengan tes ini karena takut bahwa hasilnya tidak sesuai harapan dia dan suami, serta keluarga besar. Meski begitu, Bintang tidak ada hentinya menyemangati agar tidak gugup dalam menjalani tes kesehatan nya kali ini.
" Sayang, nanti kita makan es krim kesukaan kami di depan rumah sakit kalau kamu bisa melewati semua tes ini. " bujuk Bintang.
" Kok es krim? Emangnya nggak ada yang lainnya ya selain es krim. Apa gitu, helikopter kek, pesawat pribadi kek. " ujar Bulan menggoda.
" Kan udah ada sayang di Kyoto sana, helikopter kamu dan pesawat pribadi keluarga kita. " ujar Bintang nyengir kuda. Apa yang dia sebutkan itu buka pribadi miliknya, tapi milik keluarga Narita. Jadi bisa dikatakan itu milik semua anggota keluarga Narita.
" Pamer kok yang bukan milik pribadinya. " ledek Bulan. Keduanya langsung tertawa bersama, Bintang tersenyum bangga karena berhasil membuat suasana hati dari Bulan bisa sedikit rileks.
Dokter Budi menghampiri Bulan untuk diajak masuk ke ruangan yang akan menjadi tempat Bulan melakukan serangkaian tes hari ini. Dokter Budi tersenyum saat melihat pasiennya ini begitu gugup. Padahal tes ini sama saja dengan tes yang biasa dijalani pasien yang ingin mengetahui kesehatan bagian dalamnya termasuk tulang.
Dua orang suster datang menghampiri Bulan dan dokter Budi. Kemudian salah satu suster itu mengambil alih kemudi kursi roda Bulan untuk dibawanya masuk ke ruangan yang akan digunakan untuk tes.
__ADS_1
Di luar, dengan sabar Bintang menunggu selesainya pemeriksaan yang dijalani sang istri. Dia menunggu di depan ruangan yang tadi dimasuki oleh Bulan dan dokter Budi. Tak hentinya Bintang berdoa semoga semuanya berjalan dengan lancar dan dia bisa membawa istrinya untuk pindah ke Kyoto. Di Sana semua yang berhubungan dengan pengobatan Bulan sudah disiapkan dengan baik oleh orang-orang Bintang. Hanya tinggal menunggu kedatangan tuan dan nyonya muda saja.
Sudah dua jam lamanya Bulan berada di ruangan yang ada di depan tempat duduk Bintang. Selama itu pula Bintang sama sekali tidak meninggalkan kursi tempatnya duduk. Dia tidak ingin jika sang istri keluar namun tidak bisa menemukan keberadaannya. Bintang sudah seperti ini sejak Bulan mengalami peristiwa yang terjadi karena penculikan yang dilakukan oleh mantan dosennya. Bintang selalu berada di samping Bulan dalam keadaan dan situasi apapun. Bahkan untuk ke kamar mandi saja, Bintang harus menunggu ada orang dari keluarga yang menunggui Bulan.
Bintang seperti paranoid dengan apa yang menimpa Bulan. Sungguh dalam hatinya begitu tidak tenang jika membiarkan Buan sendirian kemana saja Bulan pergi. Dia pasti akan menemani dan memastikan bahwa sang istri dalam keadaan aman.
Tepat saat dua jam lima belas menit, Bulan keluar dari ruangan pemerikasaan itu bersama dengan dokter Budi. Bintang langsung menyambut kedatangan keduanya dan menyambut kursi roda Bulan dari tangan dokter Budi. Jika dalam keadaan biasa sudah dipastikan bahwa BIntang akan cemburu pada dokter Budi, karena sangat dekat dengan sang istri. Tapi karena situasi saat ini sangat berbeda, maka Bintang masih bisa mentolerir hal tersebut.
" Yomesan, " sapa Bintang.
" Sayang besok, dokter Budi akan menyampaikan hasil dari tes tadi." Bulan menginformasikan apa yang dokternya tadi katakan.
" Besok aku akan menemuinya. Apa sangat banyak sekali tesnya sayang?" tanya Bintang. Mereka berbincang di sepanjang koridor menuju ke ruang rawat Bulan.
" Tidak banyak, hanya saja sangat menguras tenang. Apalagi aku sekaran ini memang gampang banget capek sayang." jawab Bulan. Kondisi yang dialaminya saat ini memang sangat berpengaruh sekali pada perubahan yang terjadi pada tubuh Bulan, Salah satunya adalah gampang lelah.
__ADS_1
" Nanti kamu langsung tidur aja begitu sampai di kamar kamu." Bintang membelokkan kursi roda Bulan menuju ke kamar rawat Bulan. Tak lama mereka sampai di ruangan khusus pasien VVIP dan Bulan salah satunya.
Bintang membantu Bulan untuk berbaring di ranjang. Kemudian dia menyimpan kursi roda yang tadi dipakai Bulan ke pojok ruangan agar tidak menyita tempat. Bintang kembali duduk di pinggiran ranjang, mengusap pelan rambut Bulan agar istri cantiknya ini cepat terlelap.
" Cantiknya Hoshi Narita, cepet tidur ya." gumam Bintang sambil mencium kening istrinya. Samar-samar Bulan mendengar gumaman suaminya, namun karena dia sangat lelah dia hanya bisa membalasnya dengan tersenyum.
Bintang memilih membaringkan tubuhnya di samping sang istri dengan jarak yang cukup agak jauh. Bintang tidak ingin Bulan merasa tidak leluasa saat tidur jika dia terlalu dekat. Bulan yang sekarang tidak bisa balik memeluknya untuk tidur saling berpelukan, jadi Bulan meminta untuk Bintang memberikan jarak pada tidur mereka.
Keduanya sama-sama terbang ke alam mimpi, meski mimpi mereka jelas berbeda. Bulan bermimpi entang kejadian dengan Anthony saat penculikan, sedangkan Bintang memimpikan menggendong bayi perempuan. Impian yang Bintang sadar tidak akan pernah terwujud untuk selamanya.
Tentang calon anak mereka yang telah gugur, Bintang secara khusus memberikan nama anak itu dengan nama Clyne Narita. Tidak ada artian khusus pada nama itu, tapi Clyne adalah nama marga dari seorang pejuang wanita salam serial kartun Jepang yang sangat disukai oleh Bintang saat dia masih kecil. Bintang ingin Clyne di dunia yang berbeda dengannya, bisa berjuang untuk hidupnya sendiri.
Bintang langsung tersadar saat mendengar gumaman Bulan ketika tidur. Bintang yakin Bulan kembali memimpikan hari kelam itu lagi. Karena ini sudah sering terjadi. Hampir disetiap tidurnya, Bulan selalu memimpikan hari itu. Hari yang telah merenggut calon anaknya dan juga merenggut sebagian hidup Bulan. Bintang mengusap dahi Bulan yang berkerut, lalu membisikkan kata-kata cinta dan yang bisa menguatkan Bulan.
" Yomesan, aku disini. Aku ada di samping mu dan tidak akan meninggalkan mu barang sedetik saja. Jangan takut ya, akku dan triplet akan selalu bersama mu. Kami semua menyayangi mu, dengan segala kondisi mu saat ini. Aku akan selalu mencintai mu, hingga akhir hayat ku hanya kamu satu-satunya wanita dalam hidup ku. Jadi aku mohon, bertahan dan berjuanglah untuk ku." setelah mendengar bisikan dari Bintang, dahi Bulan yang tadinya berkerut kini kembali seperti biasa. Bintang pun melanjutkan tidurnya dengan harapan akan bisa memimpikan putri kecilnya lagi.
__ADS_1