BULAN UNTUK BINTANG

BULAN UNTUK BINTANG
SISI BINTANG YANG LAIN


__ADS_3

Bintang masih dengan sabar menenangkan sangat istri yang sedang ketakutan. Bintang mendekap tubuh istrinya mengusap punggung milik Bulan. Berkali-kali dia menhujamkan kecupan di puncak kepala sangat istri.


Bintang benar-benar sudah sangat tidak bisa menahan emosinya. Namun masih ditekan di depan Bulan, takut istrinya itu semakin ketakutan melihatnya yang marah.


Setelah dirasa tubuh Bulan tak lagi bergetar, Bintang menggandeng tangan istrinya mengajak untuk kembali ke taman depan gedung D.


Nampak dari posisi Bintang sekarang, kedua temannya masih setia duduk di sana.


" Kalian tau dimana Deus? " tanya Bintang dengan rahang yang menggeras.


" Gue tadi liat dia ke lapangan basket. " jawab Hydra yang memang tadi berpapasan dengan Deus saat hendak ke taman.


" Gue bisa minta tolong kalian jaga Bulan. " pinta Bintang.


" Lo mau apa Yang? " Orion bertanya, Pasalnya dia sudah melihat temannya itu sudah berubah menjadi devil dengan aura gelap disekitar tubuhnya.


" Gue ada urusan sebentar. " jawab Bintang. " Kamu sama mereka dulu ya, aku cuma sebentar. " Bintang mengusap telapak tangan Bulan yang digengamnya.


Tanpa mendengar jawaban dari istrinya Bintang lansung pergi dari taman. Tangannya sudah mengepal kuat, emosi yang sejak tadi ditekan sudah keluar semuanya.


" Berani lo ganggu istri gue, habis lo. " geram Bintang.


Bulan tidak pernah melihat Bintang yang seperti itu pun merasa khawatir. Biasanya suaminya itu selalu ceria, tapi saat ini terlihat seperti menyeramkan.


" Kita ikut Bintang yuk. Kok gue jadi khawatir. " ajak Bulan.


" Lo nggak usah khawatir deh. Aman pokoknya. " ujar Hydra.


" Bintang itu tahu musti gimana. Dia itu selama masih diajak bicara nggak akan pakai kekerasan. Lo nggak usah khawatir. " Orion menambahkan.


Meskipun kedua sahabat suaminya sudah berkata seperti itu, tapi kekhawatirannya tidak berkurang. Bulan masih ingin melihat keadaan suaminya, takut kalau Bintang berkelahi.


" Terserah kalian mau di sini atau ikut aku nyusul Bintang. "


Bulan langsung berjalan cepat meninggalkan Hydra dan Orion. Kedua sahabat Bintang itu mau tidak mau mengikuti Bulan. Sudah diamanatkan oleh sahabatnya harus menjaga istri dari sahabatnya.


Sayup-sayup terdengar suara Bintang yang sedang marah. Padahal jarak Bulan dan kedua teman suaminya dengan lapangan basket masih jauh.


Bukan lagi berjalan, mereka justru berlari. Kaget seorang Bintang bisa semarah itu. Walaupun Orion dan Hydra sudah pernah melihatnya, tapi sepertinya yang ini berbeda.


" Gue tahu lo dalang dibalik kejadian di bar waktu itu Gue diam buka berarti gue takut atau kalah sama lo. Gue diam karena gue ngrasa nggak penting ngurusi lo. Lo nggak ada apa-apa nya bagi gue. Ngerti lo. " Suara Bintang menggelegar di ruangan itu.

__ADS_1


" Gue nggak ngerti maksud lo apa. " Deus mengelak.


" Yakin lo nggak tahu. " sentak Bintang.


" Gue selama ini diam tapi kali ini nggak bisa, karena yang lo ganggu itu Bulan. " bentak Bintang.


" Gue nggak pernah ya ganggu cewek lo itu. " Deus masih saja tidak mau mengakui.


" Oke, kalau lo tetep nggak mau ngaku. " Bintang nampak mengeluarkan ponsel keluaran terbaru merk S dari dalam saku celananya.


Bintang nampak mengutik sebentar ponsel. Tiba-tiba ada suara seorang wanita dan seorang pria tengah merasakan kenikmatan berdua. Bintang memutar ponselnya menghadap ke arah Deus.


Alis Deus terangkat sebelah, matanya memicing menatap tajam layar ponsel Bintang.


Deus tersentak saat tahu bahwa Bintang sedang memutar video dirinya dengan salah satu dosen yang sedang melakukan penyatuan di kamar mandi kampus.


" Dari mana lo dapet itu. Lo sengaja ngrekam ya. Dasar maniak. " sentak Deus.


" No.. No.. No... Not i'm but you. Lo sendiri yang ngrekam ini kan. Atau lo mau lihat lainnya. Gue punya semua vidoe dengan lo sebagai Bintang utama. " seloroh Bintang.


" Sialan lo. " Deus langsung menarik kerah kemeja Bintang.


Wajah Deus sudah berubah menjadi pucat. Ayahnya adalah salah satu pemegang saham di kampus tempatnya bekerja. Bisa jadi perkedel nanti kalau sampai ayahnya tahu


" Rahasia lo aman ditangan gue, begitu juga sebaliknya. " Bintang menepuk pundak Deus lalu keluar dari ruangan itu.


Bintang terkejut saat melihat istrinya dan kedua temannya ada di luar ruangan itu. Bulan berkacak pinggang menatap tajam suaminya. Sedangkan kedua sahabat Bintang hanya nyengir kuda.


" Jadi kamu sudah tahu siapa orang yang menjebak kita. Kenapa diam aja. " tanya Bulan.


" Kalau aku berbuat menekan dia, video malam itu justru malah tersebar. " jawab Bintang.


Bintang langsung menggandeng tangan Bulan pergi dari sana diikuti kedua sahabat Bintang. Sesampainya di tempat parkir mobil mereka, kedua sahabat Bintang memilih berpamitan pulang. Tinggallah Bulan dan Bintang disana.


" Kok kamu bisa dapat video itu dari mana? " Bulan bertanya.


" Aku kan hacker. Gampang kalau masalah itu. " jawab Bintang santai.


" Ih nyebelin banget songongnya keluar. " cibir Bulan.


" Eh ya mumpung masih di sini. Aku mau nanya kamu bisa kasih aku black card itu lantaran dikasih keluarga kamu di Jepang.? " Bulan sudah ingin menanyakan perihal ini sejak beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


Malam itu Bintang memberikan sebuah balck card dan dua kartu debit pada Bulan. Bintang bilang itu untuk nafkah secara lahir Bulan sebagai istrinya. Sontak saja Bulan dibuat kaget, suaminya cuma mahasiswa kok bisa punya hal semacam itu.


" Dari aku sendiri lah. Emang suami kamu siapa kok sampai keluarga aku yang ngasih kamu itu. " jawab Bintang.


" Tapi darimana. Kan kamu cuma mahasiswa tengil. " ejek Bulan.


" Wah parah kami masak suami sendiri dibilang begitu. " Bintang geleng kepala.


Mobil Bintang pun kini mulai melaju di jalanan kota Jakarta. Bulan tak melihat ke jalan karena fokus bermain ponsel nya. Menanyakan perihal diskusi timnya tadi.


Selamat tiga puluh menit mobil yang dikendarai Bintang menyusuri jalanan ibukota. Kemudian tepat berhenti di baseman sebuah kantor. Bulan melihat ke kanan dan kiri dia merasa asing dengan tempat itu.


" Ini dimana? Katanya mau pulang. " Bulan dibuat binggung.


Bintang tak menjawab, dirinya turun dari mobil lalu berputar ke arah pintu tempat istrinya duduk lalu membukakannya.


" Ayo. Kamu akan lihat suami tengilmu ini akan memberimu kejutan. " seloroh Bintang.


Bintang terus berjalan bergandengan dengan Bulan menuju ke lift tak jauh dari sana. Setibanya di dalam lift Bintang nampak memencet lantai paling atas dari tempat itu.


" Ini di mana sih? " tanya Bulan


" Kami dari tadi tanya terus sih. Ini di HN group." jawab Bintang


" What HN group? " pekik Bulan. Bintang tidak menanggapi hal itu. Cukup nanti istri akan melihat sendiri, daripada dia menjelaskan.


Bulan terkejut setengah mati, Bulan tahu HN grup adalah perusahan IT nomor satu di Asia. Tapi bagaimana bisa suaminya itu masuk ke perusahaan itu. Begitu kiranya pikiran Bulan.


Ting...


Pintu lift terbuka saat mereka berdua sudah sampai di lantai 58 gedung HN group. Nampak seluruh pegawai yang ada di lantai itu menatap Bulan dan Bintang penuh keheranan.


Di ujung lantai 58 terdapat sebuah ruangan yang cukup nampak terlihat besar dari luar. Seorang laki-laki tengah berdiri di depan pintu itu langsung membukanya saat Bintang dan Bulan sudah mendekat.


" Selamat siang Tuan Muda. " sapa seorang pria yang usianya sudah diatas kepala empat.


" Baik paman. Terima kasih sudah mengantikan ku selama beberapa hari ini. " Bintang langsung menghempaskan pantatnya di sofa mewah dalam ruangan itu.


Bulan masih terdiam, dia terlalu shock dengan yang baru saja dilihat dan didengarnya. Saat mata coklat indahnya itu menatap sekeliling, tepat di meja kerja tak jauh dari sofa terlihat sebuah tulisan.


CEO HN GROUP HOSHI NARITA.

__ADS_1


__ADS_2