BULAN UNTUK BINTANG

BULAN UNTUK BINTANG
bab 87


__ADS_3

Bulan dan Bintang malam ini akan kembali menginap di mansion utama Hillar. Duo bal datang ke Indonesia setelah paksaan dari opa dan oma. Oma bahkan mengancam bunuh diri jika cucu kembarnya itu tidak mau datang ke Indonesia.


Bintang di sini diminta oleh keluarga Hillar untuk menjembatani hubungan kedua kakak sepupunya ini agar bisa kembali baik seperti dulu lagi.


Hubungan antara saudara kembar biasa akan lebih kuat ikatan batinnya dibandingkan dengan saudara yang bukan kembar. Mereka bisa merasakan sakit, susah, sedih dah kegembiraan yang saudaranya sendiri rasakan. Namun untuk duo bal ini sedikit istimewa karena mereka mencintai gadis yang sama, dan karena kesalahpahaman akhirnya gadis yang mereka cintai itu bunuh diri.


Berulang kali Bintang menghela nafasnya saat sedang berbaring bersama dengan Bulan di kamar mereka yang ada di mansion Hillar. Bintang bingung sendiri bagaimana menjembatani kakak sepupunya itu. Bintang yang paling tahu apa yang dirasakan oleh Dewan, karena dia yang membantu pria itu untuk melarikan diri dari rumah.


" Kamu itu kenapa sih? Dari tadi low kamu itu terus-terusan gusar begitu? " akhirnya Bulan bertanya karena terlalu jengah dengan situasi mereka berdua saat ini.


" Bingung. Haishhh ini mah tugas berat sayang. " jawab Bintang yang merengek seperti anak kecil.


" Iya sih situasinya emang nggak biasa saat ini. Mereka berdua sepertinya sama-sama menyesal karena telah menghilangkan nyawa seseorang meski bukan dengan tangan mereka sendiri. Menurutmu apa hubungan keduanya bisa seperti dulu lagi? "


" Sulit sayang, ibarat gelas kalau sudah pecah dan dibentuk kembali, pasti tetap tidak bisa menghilangkan retakan yang ada di gelas itu. Aku rasa mereka berdua seperti itu, aku sendiri cukup bingung harus membahas apa dulu jika berhadapan dengan mereka berdua. "


Bintang kembali menghela nafas gusar, dia terjebak dalam sebuah hubungan persaudaraan yang sudah hancur karena sama-sama memendam dendam dan penyesalan pada diri kedua sepupunya itu. Bulan sendiri tak banyak bisa membantu, meski dia adalah mahasiswa psikologi, tapi bukan psikologi manusia yang dia pelajari. Hanya tahu sekedar dasarnya saja.


Malam ini keduanya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Berulang kali Bintang dan Bulan bangun, lalu turun ke bawah untuk ke dapur. Entah mengambil minuman, atau mengambil cemilan. Pokoknya keduanya sama-sama gelisah malam ini.


Besok duk bal dan kedua orang tua mereka akan sampai di mansion utama Hillar. Besok juga suasana di dalam mansion ini pasti tegang dan juga tak nyaman. Berada di tengah-tengah orang yang sedang bermusuhan selalu membuat orang itu canggung.

__ADS_1


Paginya Bulan dan Bintang turun ke lantai satu dengan wajah yang sangat berantakan. Sama-sama tak bisa tidur, membuat wajah mereka tak bersemangat sama sekali. Hal itu tentunya tak luput dari pandangan oma mereka.


" Kalian ini kusut sekali seperti baju nggak pernah digosok. Apa ada masalah? " tanya oma.


" Nggak oma, cuma koita kurang tidur semalam. Banyak pikiran. " jawab Bintang. Dia mendudukkan pantatnya di kursi makan, mereka akan sarapan bersama.


" Triplet perasaan nggak rewel deh, terus yang bikin kalian nggak bisa tidur apa? " tanya oma lagi. Heran saja oma melihat cucu dan cucu menantunya pagi-pagi sudah kusut begini, biasanya juga ceria.


" Mikirin cucu oma yang tiga jam tiga puluh dua menit lagi akan tiba di mansion ini. " jawab Bintang malas, dia langsung memasukkan croissant ke dalam mulutnya.


Oma menghela nafas, rupanya bukan hanya dia saja yang kepikiran tentang masalah cucunya yang lain lagi. Tapi mau bagaimana lagi, mereka harus berusaha mendamaikan si kembar. Oma tak ingin disisa hidupnya harus melihat keluarganya terpecah belah. Oma ingin ketika dia dipanggil diakhir hayatnya, keluarganya akan selalu rukun dan damai.


Opa Markus datang bergabung dengan ketiga orang yang sudah lebih dulu berada di meja makan. Opa baru saja turun dari ruang kerjanya, memeriksa beberapa email tentang perusahaan yang masuk ke dalam email miliknya. Perusahaan opa di Munich, sedang ditinggalkan pemimpinnya, dan pemimpinnya itu masih berada di dalam pesawat terbang, jadi orang kepercayaannya opa yang ada di Munich, mengirimkan laporan pada opa semalam.


" Mereka kurang tidur sayang. " oma yang menjawab.


" Ooooooohhhhh.... " opa berOh ria.


Sarapan kembali berlanjut dengan suasana hening. Tidak ada suara sendok dan garpu yang berdenting ketika bertemu dengan piring. Mereka hanya tinggal memasukkan croissant dengan isi daging dan sayur ke salam mulut mereka.


Tepat tiga jam tiga puluh dua menit dari Bintang dan Bulan sarapan, keluarga yang mereka tunggu sudah datang. Saat keluarga dari Munich, Jerman itu datang, suasana mencekam langsung mengisi ruang keluarga di mansion utama Hillar. Wajah duo bal sama-sama tidak menyenangkan untuk dipandang.

__ADS_1


" Bang Dewin, bisa kita bicara sebentar? " ajak Bintang. Dan hanya dijawab anggukan oleh Dewin.


Keduanya berjalan ke halaman belakang, Bintang tak mau menunggu sampai nanti malam, sudah tak sanggup lagi jika dia harus kurang tidur. Karena itu dia langsung mengajak Dewin bicara.


" Elo kalau mau nyuruh gue baikan sama dia gue nggak mau. " ujar Dewin to the point sesaat setelah bokongnya menempel di kursi yang terbuat dari kayu dengan ukuran indah yang ada di halaman belakang.


" Gue malas kali ngurusi kalian, tapi karena oma dan opa yang suruh bisa apa gue. " ujar Bintang sarkas.


" Trus ngapain lo ngajak gue ke sini? " tanya Dewin.


" Mau nagih utang low lah bang! Lo lupa punya utang gue pas lo pergi dari rumah. " keduanya tergelak saat itu juga. Sengaja Bintang ingin membuat suasana hati sepupunya itu membaik dulu agar pembicaraan mereka bisa berjalan dengan baik dan tidak ada emosi di dalam pembicaraan itu.


" Gue tahu lo mau ngomong apa, tapi sebelum itu lo mau nggak dengerin gue? " tanya Dewin. Padangan matanya yang teduh itu menatap mata Bintang yang tajam.


" Untuk itu gue di sini. Lo bisa ngomong apapun ke gue. Tapi jangan lupa bayar utang lo. " Dewin terkekeh mendengar adik sepupunya itu masih saja ingat dengan utangnya.


" Gue sakit, Hoshi. Sakit bangat di sini. " Dewin menunjuk dadanya.


" Tiap lihat wajah gue dicermin, gue emosi. Pengen banget gue hancurin wajah ini, karena ini awal petaka dimulai. Andai saja gue nggak kembar, dia nggak akan meninggal. " Dewin terisak. Bintang tahu gimana perasaan Dewin yang sebenarnya saat itu hingga kini.


" Dia datang bersama dengan Derik, menikah dengan Derik dan kemudian dia bunuh diri. Semua salah gue Hoshi. Kalau saja gue nggak jatuh cinta, kalau saja dia nggak tahu kalau yang sudah merenggut mahkotanya saudara kembar gue sendiri dan bukan gue. Sakit hati gue Hoshi. " tangisan Dewin pecah.

__ADS_1


Tanpa Dewin sadari, Derik sedang berdiri di balik tembok yang memisahkan bagian dalam mansion dengan bagian luar. Derik ikut menangis saat mendengar adik kembarnya menangis seperti saat ini. Berulang kali dia meminta maaf, tapi Dewin selalu pergi tanpa berucap apapun. Kini Derik tahu sesakit apa hati adik kembarnya sampai tak mampu mengucap kata maaf untuknya.


__ADS_2