BULAN UNTUK BINTANG

BULAN UNTUK BINTANG
bab 104


__ADS_3

Diantara kepanikan dan ketakutan yang mendera Bulan' terbersit di pikirannya untuk melakukan tindakan ekstrim. Namun menurut perhitungannya dia sudah memantapkan hatinya untuk melakukan hal itu, daripada dia harus pergi bersama dengan yang terobsesi dengannya ini. Bulan juga memikirkan ketiga putranya dan suaminya ika sampai dia berhasil dibawa pergi oleh Anthony.


Memanfaatkan kelengahan dari anthony, segera saja Bulan membuka kunci mobil dan langsung membuka pintu mobil itu kemudian melompat keluar dari mobil yang sedang melaju kencang itu.


" Aaarrrgggahhhh..." teriak Bulan saat tubuhnya menghantam jalanan dengan sangat keras.


Pandangan matanya tertuju ke mobil yang dikendarai oleh suaminya ditengah-tengah sisa kesadarannya. Buan melihat Bintang turun dari mobil dan langsung berlari kencang menghampirinya. Kemudian semua terasa gelap dan dia tidak sadarkan diri.


Mobil yang dikendarai oleh Anthony sempat berhenti sejenak di dekat tempat terjatuhnya Bulan. Namun saat melihat mobil yang dikendarai oleh anak buah Bintang masih mengejarnya, Anthony kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Bintan langsung berlari dengan sangat kencang saat melihat tubuh sang istri tergeletak di jalanan. Apalagi semakin dia dekat dengan tubuh Bulan, semakin dia dapat melihat banyaknya darah yang mengalir keluar dari tubuh sang istri.


Bintang langsung memeluk tubuh tidak berdaya Bulan. Dirinya menangis merang melihat tubuh wanita yang dicintainya berlumuran banyak darah. Apalagi saat tidak sengaja matanya menatap ke arah paha dalam istrinya yang mengeluarkan banyak darah.


" Bulan....Bulan sadar, aku mohon..... Jangan tinggalkan aku... Aku mohon Bulan...... Aaaarrrrhhhh." teriakan Bintang menggema di jalanan menuju ke bandara itu.


" Hoshi, bawa Bulan naik ke mobil cepat!!" sentak Derik menyadarkan adik sepupunya yang tengah kalut itu.


Dewin turun dari mobil langsung menuju ke kursi kemudi. Dia yang akan mengemudikan mobil ini, sedangkan derik membantu Bintang menaikkan tubuh Bulan ke mobil. Begitu pintu di kursi penumpang ditutup, Dewin langsung melajukan mobil itu dengan kecepatan 200km/jam.


Beruntung tidak jauh dari sana, sekitar 10km ada sebuah rumah sakit swasta. Dewin langsung memasuki kawasan rumah sakit itu dan menghentikan mobil yang dia kendarai tepat di depan ruangan IGD.

__ADS_1


Bintang turun menggendong tubuh Bulan langsung memasuki ruangan IGD ini.


" Cepat selamatkan istri saya!!!Dokter suster selamatkan istri saya." Bintang berteriak begitu kencang di dalam ruangan IGD itu. Langsung saja semua suster dan dokter jaga mendatangi Bintang dengan membawa brankar.


" Selamatkan istri ku, ku mohon selamatkan istri ku dok." Bintang memelas dengan menarik tangan dokter yang akan menangani Bulan.


" Saya akan melakukan sebaik mungkin tuan, mohon tunggu di luar terlebih dahulu, saya akan segera memeriksa kondisi istri anda." ujar dokter jaga itu mempersilahkan keluarnya anggota keluarga pasien.


" Kita keluar Hoshi, birkan dokter bekerja." Dewin menyeret tubuh adik sepupunya itu keluar dari IGD.


Bintang terus mondar-mandir di depan pintu ruang IGD yang tertutup rapat. Hati dan pikirannya saat ini sangat kacau. Muncul banak praduga saat melihat darah dari paha dalam Bulan tadi. Satu doanya semoga apa yang ada dipikirannya tidak benar, karena itu akan sangat melukai Bulan dan juga dirinya.


Keluarga besarnya datang pun Bintang sama sekali tidak memperdulikan. Dewin dan derik lah yang menjadi pendongeng pada anggota keluarga mereka. Bertanya pada Bintang pun dirasa percuma karena hanya akan mendapatkan amukan dari pria itu.


" Tuan, saya ingin mengatakan bahwa saya memerlukan tanda tangan dari anda sebagai suami pasien untuk kami tenaga medis bisa melakukan upaya penyelamatan pada istri anda. Istri anda keguguran dan mengeluarkan banyak sekali darah, belum lagi bagian kepala dan tulang belakang pasien."


Deg...deg..deg...deg...


Jantung Bintang berdetak kencang. Istrinya benar hamil, dan teah keguguran.Bintang saat ini telah kehilangan bah hatinya yang memang sedang dia nantikan kehadirannya itu. Tubuhnya limbung setelah membubuhkan tanda tangan di berkas yang diberikan leh pihak rumah sakit. Beruntung otusan langsung menyambar tubuh putranya sebelum terjatuh ke lantai.


Suara ponsel berdering menggema di koridor rumah sakit ini. Suara ponsel yang berasal dari ponsel yang ada di saku celana bahan Bintang. Tanpa melihat siapa yang meneleponnya, Bintang langsung saja berteriak.

__ADS_1


" HANCURKAN DIA...HANCURKAN SEMUA YANG DIA MILIKI DAN KELUARGANYA. KALIAN PUNYA WAKTU 24 JAM. SEGERA BUAT HIDUP BAJI***** ITU MENDERITA!!!!!" raung Bintang. Ponsel ditangannya langsung dia lempar dan mengenai dinding hingga hancur menjadi berkeping-keping.


Semua keluarga yang ada di sana langsung terdiam dan menatap iba pada bintang. Kehilangan anak dan sekarang istrinya tengah berjuang melawan maut. Kedua orang tua Bulan menangis daam diam meratapi peristiwa yang dialami oleh putri tersayang mereka.


Beberapa tenaga medis terlihat keluar masuk dari ruangan tempat Bulan mendapatkan perawatan. Jantung Bintang terus berdetak cepat karena ketakutan yang hinggap di pikiran dan hatinya. Lampu yamg ada di luar ruangan IGD itu belum mati tapi seorang suster keluar dari ruangan itu.


" Maaf, siapa suami dari pasian? Saya harap suami dari pasien ikut dengan saya ke dalam." tanya dan titah suster itu bersamaan. Tanpa banyak bicara Bintang mengikuti suster itu untuk masuk ke dalam.


" Tuan tolong bantu kami dengan memberikan semangat paa istri anda. Sekarang ini kondisi istri anda sangat drop,tekanan darahnya rendah dan keinginan pasian untuk hidup dan bangun sangat sedikit." jelas suster tadi.


Bintang masih diam, tidak berucap barang satu kata pun. Namun hatinya sangat sakit dan dadanya begitu sesak mendengar kondisi terkini diri istrinya. Mungkinkah sang istri tahu bahwa mereka kehilangan buah hati mereka, sehingga tidak ingin hidup, memilih untuk selamanya tidur dan tidak akan bangun lagi.


Bintang mengenakan pakaian khusus dan sudah disterilkan saat memasuki ruang operasi Bulan. Dengan langkah gontai, Bintang berusaha untuk menggapai pinggiran ranjang yanng dibaringi oleh istrinya. Wajah Bulan nampak sangat pucat, Bintang juga melihat banyaknya kasa yang terkena darah dari sang istri. Air matanya langsung mengalir tanpa diminta. Bintang sesenggukan di samping sang istri yang terbaring tidak berdaya. Hendak mengucapkan kata-kata penyemangat pun tenggorokannya terasa tercekat.


Bintang mengambil nafas sebanyak-banyaknya kemudian dia hembuskan lagi, begitu selama beberapa waktu. Dirasa sudah tidak lagi sesak di dada. Bintang mendekatkan bibirnya di telinga Bulan.


" Yomesan, aku disini menemani mu berjuang. Anak-anak kita menunggu mu di rumah sayang, jadi aku mohon kamu harus kuat. " ujar Bintang disela tangisannya.


" Aku nggak bisa hidup tanpa kamu sayang, hiks.....hiks.... jadi aku... mohon.....berjuanglah untuk hidup. Triplet membutuhkan mu sayang. Tegakah kau meninggalkan kami?" ujarnya lagi.


" Aku mencintai mu....sangaty mencintai mu... hiks....hiks....hiks.... Aku mohon berjuanglah.'

__ADS_1


Tidak lagi Bintang mampu berucap. Tangisannya telah membuatnya tidak bisa lagi mengucapkan kata-kata penyemangat untuk sang istri. Bintang hanya mencium kening Bulan sangat lama dan berucap, " Aku mencintai mu...."


__ADS_2