BULAN UNTUK BINTANG

BULAN UNTUK BINTANG
bab 111


__ADS_3

Keesokan harinya, di lorong rumah sakit swasta tempat Bulan dirawat, terlihat kedua orang tua Bulan menyusuri lorong menuju ke ruang rawat inap sang putri tercinta. Subuh tadi, Bintang menelepon dan meminta mereka datang ke rumah sakit untuk menjaga Bulan karena hati ini menantu mereka itu memiliki agenda yang cukup padat. Tentu dengan senang hati kedua orang tua Bulan memenuhi permintaan sang menantu.


Dan di sinilah sekarang, pintu ruangan Bulan dibuka, dan muncul lah kedua orang tuanya. Mereka membawa beberapa makanan dan cemilan untuk Bulan. Juga membawa beberapa buah-buahan kesukaan Bulan. Tak lupa bengkoang yang sangat baik untuk tulang.


" Cantiknya bunda selamat pagi. " sapa bunda Dessy langsung memeluk dan mencium pipi Bulan.


" Pagi bun, ayah. Karena kalian sudah datang, aku permisi langsung pergi sekarang ya. " bukan Bulan yang membalas sapaan dari orang tuanya, melainkan Bintang yang membalasnya.


" Kamu yang tenang aja ya, Bulan aman sama kami. " ujar ayah Febri. Bintang mengangguk kemudian sungkem kepada kedua mertuanya dan berpamitan pergi.


" Suami kamu memangnya ada kerjaan ya, kok buru-buru amat. " tanya bunda Dessy.


" Suami aku mau nyiapin keperluan dan semua surat-surat dan bisa untuk Bulan dan anak-anak terbang besok bunda. " jawab Bulan.


" Kalian terbang mau kemana? " tanya ayah Febri. Kedua tangannya sedang mengupas apel untuk nanti diberikan pada sang putri.


" Ke Kyoto ayah. Tes Bulan semuanya baik, jadi dokter Budi menyampaikan kalau aku sudah bisa pindah ke Kyoto. " ujar Bulan. Kedua orang tuanya langsung terkejut, apel yang dikupas oleh ayah Febri sampai terjatuh ke lantai.


" Besok Lan? Kok mendadak begini? " protes bunda. Pasalnya pembicaraan tentang kepindahan Bulan baru beberapa hati yang lalu dan besok sudah pindah saja putrinya ini.

__ADS_1


" Bintang udah siapin semuanya dari jauh hari mom, kan awalnya memang kita mau pindah nunggu anak-anak deket satu tahun. " ujar Bulan beralasan.


" Nggak gitu sayang, kenapa besok sudah berangkat. Kenapa nggak nunggu seminggu lagi aja sayang? Bunda kan belum ada persiapan. " bunda Dessy langsung menangis.


" Maaf bunda, tapi dokter yang di sana sudah ada dan jadwal temunya tiga hari lagi. Jadi Bulan besok harus berangkat, lagi pula Bulan kepengen banget segera ke Kyoto. Hati Bulan nggak tenang disini, ayah, bunda. " ujar Bulan. Kedua orang tuanya meski terkejut namun juga paham bahwa peristiwa yang dialami oleh putrinya ini tidaklah sederhana dan pasti meninggalkan trauma yang hanya Bulan yang tahu seberapa parah.


Meski berat, tapi kedua orang tua Bulan harus iklhas, semuanya demi kebaikan putri kesayangan mereka ini. Lagipula jika rindu mereka juga masih bisa bertemu, Jepang-Indonesia tidaklah terlalu jauh jika dibandingkan ke Eropa atau Amerika.


Bunda Dessy ingin selama sehari ini, Bulan bisa bersama dengannya. Dia ingin menemani putrinya ini sebelum putrinya ikut Bintang ke Kyoto. Bintang sebenarnya mengatur agar kedua orang tua Bulan menemani hari ini, adalah untuk membuat kenangan sebelum berpisah. Bintang paham betul bagaimana perasaan kedua orang tuan Bulan. Apalagi ini anak perempuannya, yang pastinya akan sangat berat untuk berpisah.


Tidak ingin adanya air mata dihari ini, Bulan pin mengajak kedua orang tuanya berkeliling rumah sakit. Dan berhenti di taman yang ada di rumah sakit tersebut. Mereka bercengkrama dengan diiringi canda dan tawa. Ingin hari ini menjadi hari yang bahagia agar besok bisa membawa kenangan untuk pergi.


" Kamu pengen apa dek sebagai kenang-kenangan dari abang? " tanya Yanuar.


" Emangnya apa aja yang adek minta, abang bakal. kabulin? " Bulan menggoda.


" Tentu aja, kamu lupa abang sekarang CEO. Mau minta mobil, atau perhiasan mahal? Abang minta asisten abang beliin. " ujar Yanuar terlihat sombong.


" Mau apa beli mobil bang, kan adek mau ke Kyoto. Kalau boleh adek minta, sih adek minta itu jam tangan kesayangan abang. Jam tangan yang dulu kita tukeran itu lho bang. " pinta Bulan.

__ADS_1


Dulunya mereka berdua, Yanuar dan Bulan pernah membeli sepasang jam tangan yang mahal karena itu limited edition. Dan sebagai cara mereka mengingat satu sama lain, keduanya bertukar jam tangan itu. Yang wanita dibawa Yanuar dan yang laki-laki dibawa oleh Bulan. Sekarang Bulan ingin meminta jam tangan perempuan yang dibawa oleh Yanuar itu.


" Kok itu dek, kan untuk kenang-kenangan, kenapa sekarang adek minta? " protes Yanuar.


" Ya kan tadi abang bilang aku boleh minta apa aja. " ujar Bulan menggoda Yanuar.


" Ck! Ganti pokoknya dek. Aku pengen kenang-kenangan yang lain dari adek. Aku nggak akan ngasih itu jam tangan kalau adek nggak kasih gantinya. " Yanuar bersikeras tidak mau memberikan jam tangan itu.


" Udah diganti kok bang. Kan aku udah kasih ke abang saham aku di HN group. " ujar Bulan.


Ketika Bulan dan Bintang menikah, secara diam-diam Bintang mentransfer beberapa persen sahamnya di HN group untuk Bulan. Awal pernikahan mereka, Bulan tidak tahu siapa Bintang yang sebenarnya. Jadi secara sengaja Bintang mentransfer sahamnya untuk sang istri.


Bulan baru tahu saat diadakannya rapat pemegang saham yang membahas tentang posisi dari Bintang yang akan digantikan oleh Yanuar. Dari situ Bulan tahu dia memiliki saham sebesar 10 % di HN group. Lalu beberapa bulan yang lalu, secara khusus Bulan meminta pada Bintang untuk menjadikan Yanuar sebagai pemilik saham 10 % miliknya itu. Bintang pun setuju, karena memang masih banyak saham yang dimiliki oleh Bulan di semua perusahaan yang akan dikelola Bintang suatu hari nanti.


" Dek, kok kamu nggak pernah ngomong sama abang tentang masalah saham itu?" Yanuar bertanya dengan mimik yang sangat terkejut.


" Sengaja. Sebenarnya aku pengen ngomong ketika aku sudah ada di Kyoto dan pas ultah triplet. Tapi karena aku dan suami aku sepakat tidak akan merayakan ultah triplet dengan mewah, jadi aku putuskan untuk mengatakan sekarang." jawab Bulan. Mendengar apa yang dikatakan oleh sang adik, hati Yanuar tiba-tiba menghangat dan terluka bersamaan. Kehangatan dari ketulusan yang diberikan oleh adiknya, terluka karena adiknya akan menjalani hidup yang sulit setelah ini.


" Terima kasih dek." gumam Yanuar tidak terlalu jelas karena sedang menangis.

__ADS_1


" Abang udah dong jangan nangis, malu itu sama Moiz. Lihat tuh anak abang sampai begitunya lihat papanya nangis." ledek Bula yang langsung mengundang gelak tawa keluarganya.


__ADS_2