BULAN UNTUK BINTANG

BULAN UNTUK BINTANG
bab 112


__ADS_3

Kini suasana di landasan bandar Soetta yang khusus untuk pesawat pribadi, sudah dipenuhi oleh keluarga Bulan dan Bintang yang akan mengantarkan kedua anggota keluarganya itu yang akan terbang ke Kyoto. Suasananya saat ini sungguh penuh dengan keharuan dan air mata. Kebanyakan para wanitalah yang menangis, sedangkan para pria kini berbincang tak jauh dari mereka, nampak pembicaraan mereka kali ini sungguh serius.


Bulan memeluk secara bergantian semua keluarganya. Sungguh berat berpisah, tap demi dia dan anak-anaknya, maka pindah ke asal suaminya adalah pilihan yang sangat tepat. Sehingga meski perpisahan ini sangat berat, semuanya tetap akan merelakan kepindahan keluarga kecil Bulan ini.


" Kalau kangen sama bunda, telfon ya sayang. Sering-seringlah pokoknya kamu komunikasi sama bunda, biar bunda nggak terlalu kangen ya." ujar bunda Dessy memeluk putri tercintanya.


" Iya bunda, pasti aku akan selalu kasih kabar sama bunda dan ayah. Baik-baik disini ya bun, jaga kesehatan selalu. " ujat Bulan. Dirinya menepuk pelan punggung bundanya yang bergetar.


" Kalau rindunya udah nggak bisa ditahan, langsung ngomong adek ya b, nanti biar suami adek minta orangnya buat jemput ayah dan bunda di sini untuk ke Kyoto." ujar Bulan menambahkan.


" Yomesan, ayah Febri ingin biar sama kamu. Juga ada opa disana." ujar Bintang.


Bulan pun berpamitan pada bundanya untuk menuju ke tempat ayahnya berdiri, bersama opa Markus dan juga abangnya. Bersama ayah dan abangnya, Bulan yang tadinya mencoba tegar dihadapan bundanya. Kini semua pertahanannya seakan runtuh seketika saat bersama dua pria pertama dalam hidupnya.


Bulan terus menangis di dalam pelukan sang ayah. Pelukan yang pasti akan sangat Bua rindukan selama tinggal di Kyoto. Tapi sekali lagi ini demi keluarga kecilnya, maka Buan harus rela berpisah dengan keluarganya. Toh nantinya Bulan juga akan pindah ke Kyoto, meski peristiwa naas itu tidak terjadi padanya.


" Dek jangan nangis dong. Nanti abang nggak umpetin kamu disini biar itu suami mu cari-cari. " ujar Yanuar menggoda.


" Ih abang jangan gitu dong. Putri kesayangan ayah jangan digodain mulu nanti ngambek ayah yang berabe. " protes ayah Febri bercanda.

__ADS_1


" Dia juga putri kesayangan abang, ayah. Bukan cuma ayah aja. " Yanuar balik protes.


" Kamu itu punyanya putra nggak ada putri. Lupa kami sama Moiz. " ayah dan Yanuar mulai drama King mereka. Bulan hanya bisa tersenyum saja melihat tingkah abang dan ayahnya.


" Jangan berantem deh, entar Bulan pergi nggak mau ke sini lagi lho. " ujar Bulan ganti menggoda.


" Jangan dong dek... Jangan dong sayang. " ayah Febri dan Yanuar menolak secara bersamaan.


" Makanya jangan ada acara drama King lagi ya, adek takut nanti adek nggak bisa pindah dengan tenang karena terus mikirin ayah sama abang. " obrolan singkat mereka pun akhirnya diwarnai berbagai macam petuah dan nasehat untuk Bulan dari ayah dan abangnya. Mereka selalu menginginkan Bulan sehat dalam kondisi apapun dan yang penting Bulan bahagia atas hidupnya. Ayah Febri berkata bahwa Bulan harus berbesar hati menerima kondisi dia yang sekarang.


" Dek, Tuhan sayang sama kamu makanya kami jadi beda dari yang lain. Tuhan lebih sayang sama umatnya yang kekurangan dari pada kelebihan karena Tuhan akan mencurahkan kasih dan sayangnya pada mereka yang kekurangan. Adek nggak boleh minder, dan selalu rendah hati bukan rendah diri. Denger kan apa yang ayah bilang ke adek? " Febri berujar nasehat untuk mengiringi kepindahan dari sang putri.


" Kami pergi ya. " pamit Bintang.


" Hoshi, ingat jaga Bulan untuk kami semuanya. " pesan opa Markus.


" Dengan semua nyawa dan hidup Hoshi opa. " Bintang berjanji.


Setelah perpisahan yang mengharu biru itu selesai, Bulan dengan didorong oleh Bintang baik ke pesawat pribadi milik Narita. Sudah ada dua pramugari dan pilot pesawat pribadi itu menyambut Tuan dan Nyonya muda Narita di dalam kabin pesawat.

__ADS_1


Melambai untuk yang terakhir kalinya, pada akhirnya pintu pesawat di depan Bulan dan Bintang tertutup. Keduanya mengambil tempat di kursi, dan bersiap untuk lepas landas. Bintang dengan telaten membantu Bulan berpikir dah dari kursi roda ke kursi yang ada di pesawat, lalu memasangkan sabuk pengaman untuk sang istri.


" Terima kasih. " ujar Bulan tersenyum menatap wajahnya suaminya.


" Sama-sama sayang. Apapun untuk kamu. " balas Bintang yang sukses membuat Bulan bersemu merah.


Rasa syukur Bulan begitu besar karena telah menikah dengan seorang pria sebaik Bintang. Semuanya pada pria itu adalah hal yang sangat baik. Perhatian, penuh kasih sayang, dan selalu bisa menjadikan Bulan sebagai Ratu di keluarga kecil mereka. Bintang bahkan selalu mendahulukan kenyamanan dari istrinya ini sebelum dia memperhatikan ketiga putranya.


Setiap wanita di dunia pasti bermimpi memiliki suami yang peka dan pengertian, karena seorang wanita lebih suka memendam semuanya dalam hati. Wanita juga lebih lembut sehingga selalu membutuhkan seorang pria untuk menjaga dan melindunginya. Dan itu semua Bulan dapatkan ketika menikahi Bintang.


Terlebih dengan kondisinya saat ini, satu kali pun Bintang tidak pernah merasakan iilfeel pada Bulan. Padahal Bulan tidak lagi bisa membahagiakan Bintang secara lahir dan batin. Namun Bintang selalu mengatakan, bahwa dia lebih memilih Bulan hidup dengan segala kekurangan dan juga kelebihannya dibandingkan jika Bulan pergi meninggalkannya untuk selamanya


Tak terasa karena sibuk dengan pikirannya, Bulan tertidur di samping Bintang. Kepalanya bersandar dipundak Bintang. Melihat sang istri yang terlelap Bintang mengusap pelan pipi Bulan. " Kau tahu kau adalah hidup ku. Aku lebih baik mati daripada kehilangan mu. " gumam Bintang.


Bintang jadi teringat tentang ojiichan dan obachan nya yang ada di Kyoto. Pernah sekali Takumi bercerita pada dirinya tentang sang nenek yang memilih mengakhiri hidupnya sendiri karena telah dilecehkan dan diperkosa oleh sahabat dari kakek Bintang sendiri.


Ketika Bintang melihat Bulan melompat dari mobil yang dikemudikan oleh Anthony saat itu, ingatannya kembali pada cerita dari sang ayah tentang neneknya. Bintang sangat ketakutan, tak sanggup jika benar bahwa istrinya akan meninggalkannya. Berjalan menuju tubuh Bulan yang bersimbah darah dan tergeletak di jalanan, tubuh Bintang bergetar kuat sekali. Beberapa kali dia limbung saat itu, namun tetap akhirnya bisa sampai di samping tubuh sang istri.


" Jika saja saat itu kau pergi meninggalkan aku untuk selamanya, maka aku pasti akan memilih menyusul mu. Hidup ojiicah tanpa obachan saja begitu menderita, aku tidak sanggup jika harus sama seperti ojiichan. Hidup tanpa wanita yang aku cintai. "

__ADS_1


" Aku mencintai mu dengan segenap jiwa dan ragaku. Karenanya banggalah pada dirimu karena telah berhasil menaklukkan diri ku. Jangan berkecil hati karena segala kekurangan mu. Karena bagi ku kekurangan mu adalah indah dimata ku. " batin Bintang menatap wajah ayu di sampingnya.


__ADS_2