
Tiga hari berlalu, hari ini merupakan hari dimana Bulan akan keluar dari rumah sakit. Kondisinya dan juga ketiga putranya sudah membaik karena itu pihak rumah sakit mengizinkan Bulan dan putra-putranya pulang.
Delapan mobil mewah berjejer rapi di depan pintu utama rumah sakit. Mobil ini akan menjemput tuan muda dan nyonya muda mereka untuk meninggalkan rumah sakit dengan pengawalan yang ketat. Satu mobil untuk Bulan dan Bintang, satu mobil untuk Fuyami dan juga ketiga cucunya. Di mobil yang lainnya ada Takumi dan juga keluarga Narendra, sisanya adalah mobil yang bertugas untuk mengawal mereka agar selamat sampai kediaman Takumi dan Fuyami yang ada di Jakarta.
Sungguh suatu kebetulan saat Bulan melahirkan Takumi dan Fuyami belum resmi kembali ke Jepang. Keduanya akhirnya bisa menyaksikan ketiga cucu mereka lahir dan juga ikut menunggui menantu mereka melahirkan.
Rencana mereka berdua untuk kembali ke Jepang terpaksa dirubah, dimana hanya Takumi yang kembali sedangkan Fuyami akan tinggal. Fuyami ingin membantu Bulan merawat ketiga putranya karena bunda Dessy juga sedang menjaga So Jee yang kehamilannya sudah berumur hampir empat bulan.
Jati diri Bintang belumlah tercium oleh pihak media sehingga berita tentang Bulan yang melahirkan sama sekali tak menarik perhatian media masa. Hal ini cukup membuat keluarga Bintang lega karena tak perlu memusingkan pengawalan ketat di rumah mereka nantinya. Tapi sesuai rencana akhir bulan ini, Bintang akan memperkenalkan dirinya sendiri dan juga keluarga kecilnya.
Tak butuh waktu lama, mobil yang membawa Bulan dan Bintang berserta keluarga dan ketiga putra mereka sampai di kediaman mewah milik pasangan Takumi dan Fuyami. Rumah yang terlihat sangat asri dan nyaman, juga sangat cocok untuk ketiga putra Bintang tumbuh.
" Selamat datang di rumah obasan cucuku. " seru Fuyami saat semua sudah masuk ke rumah mewah miliknya.
" Selamat datang cicitku. " Daisuke menyambut kedatangan cicitnya. Beruntungnya dia di usia senja seperti saat ini masih diperbolehkan untuk bisa melihat cicitnya lahir ke dunia ini.
" Ojiisan semangat sekali... " Bintang menggoda Daisuke, " Dulu selalu aku yang disayang, tapi sekarang aku sudah terbuang. "
" Hush... Kamu itu tetap cucuku yang paling aku sayang, mengertilah ojiisan mu ini bahagia karena mendapat tiga cicit. " ujar Daisuke.
" Kita masuk dulu yuk, chi chi ayo ajak cicitnya untuk duduk dong. " ujar Fuyami. Rasanya tak nyaman saja mereka berbincang masih di pintu rumah.
__ADS_1
Semuanya yang datang mengambil tempat di ruang keluarga. Ada yang duduk di atas, ada juga yang duduk di bawah. Yang muda mengalah pada yang lebih tua, seperti yang selalu diajarkan sejak dini oleh orang tua mereka.
Daisuke tak henti-hentinya tersenyum dan mengucap syukur atas kehadiran tiga cicitnya di keluarganya. Saking senangnya ketiga cicitnya itu langsung diberikan masing-masing satu hotel yang masih miliknya.
" Wah cicit Sultan lahir dapat hotel, nanti kalau setiap ulang tahun bisa jadi bilioner di usia ke sepuluh tahun. " celetuk So Hyang.
" Iri ngomong lah. " seloroh Bintang.
" Yang iri juga siapa, aku kan cuma ngomong kenyataan, biasa aja lah oppa. "
" Bedalah kamu sama anak-anak ku. Kamu kan baru dapat hotel pas usia tujuh belas tahun, nah anak ku baru juga lahir langsung dihadiahi hotel sama ojiisan. " ledek Bintang. Keduanya ini selalu saja adu mulut setiap kali bertemu.
" Kalian ini sama-sama punya hotel masing-masing satu kok masih saja ribut sih. " ujar Fuyami menengahi putra dan keponakannya itu.
" Lihatlah sayang, cicit kita benar-benar tampan seperti yang selalu kau inginkan dulu. " batin Daisuke mengenang mendiang istrinya.
Takumi memperhatikan sikap ayahnya, sudut bibirnya terangkat melihat kebahagiaan ayahnya di usia yang sudah tak lagi muda. Apalagi setelah kematian ibu Takumi, Daisuke lebih banyak mengurung diri dan selalu menampilkan dirinya yang kuat padahal di dalam hatinya sangatlah rapuh.
Siapa yang tahan jika ditinggal pergi oleh pasangan hidup apalagi saat itu kondisi ibu Takumi meninggalkan karena bunuh diri. Ibu Takumi yang pernah mengalami pelecehan seksual menjadi terkena penyakit mental yang akhirnya berujung bunuh diri. Daisuke selalu menyalahkan dirinya sendiri sejak saat itu.
" Oh ya... Tentang rencana selamatan untuk putra Bintang dan Bulan jadi diadakan besok lusa? " tanya oma ketua para wanita kedua keluarga.
__ADS_1
" Eh... Jangan oma... Aku punya rencana akhir bulan nanti saat peluncuran game terbaru di perusahaan ku, aku juga akan memperkenalkan Bulan dan juga ketiga putraku pada publik. Barulah setelah itu terserah mau adain acara selamatan sampai seminggu penuh juga boleh. " ujar Bintang menentang rencana dari para wanita.
" Kenapa harus nunggu akhir bulan sih? Aku kan sudah terlanjur pulang ke Jepang. " protes Takumi.
" Kan tinggal ke sini lagi Love. Aku saja ada di sini kenapa kamu terkesan enggan untuk datang ke sini? Apa jangan-jangan kamu punya simpanan di sana yang membuat kamu enggan kemari? " Fuyami memincingkan matanya menatap tajam wajah suaminya.
" Ya Tuhan, kamu bicara apa sih Love. Kami tahu sendiri di sana banyak kerjaan. " elak Takumi.
" Kan bisa bisa curi beberapa hari. Kamu iku kurang akal banget sih. "
" Oke... Oke... Aku akan datang satu hati sebelum acara itu. " ujar Takumi menyanggupi. Dirinya malas berdebat dengan istrinya yang pastinya akan memakan waktu berjam-jam.
Semuanya kembali tertawa, orang tua Bintang tak pernah berubah sejak dulu masih sangat muda dan itu disadarkan oleh Daisuke. Keduanya yang saling mencintai ketika pertama kali bertemu membawa mereka mengarungi mahligai cinta mereka hingga dua puluh lima tahun lamanya.
Seluruh keluarga yang berkumpul pun mendengarkan rencana yang sudah dibuat Bintang. Mereka menghargai itu karena memang ide Bintang sangat bagus. Keluarga ini selalu bisa menghargai pendapat dari seluruh anggota keluarganya karena itu tak pernah ada pertikaian di antar mereka semua. Bagi mereka dulu, sekarang dan selamanya mereka adalah keluarga jadi jangan ada negative thingking uang merusak kekompakan keluarga.
" Apa duduk mu kurang nyaman? " tanya Yanuar. Sedari tadi dia memperhatikan istrinya itu terus bergerak tak nyaman.
" Aku pingin rebahan. " jawab So Hee.
" Kita izin ke kamar aja ya. Biar kamu bisa baring diranjang. Aku khawatir nanti perut kami kram kalau dipaksa tak nyaman seperti ini. " ujar Yanuar. Dia langsung bangkit dan berpamitan untuk masuk ke kamar mereka yang sudah di siapkan oleh Fuyami.
__ADS_1
" Woi pengantin baru.... Jangan terlalu giat ingat kandungan masih rentan. " teriak Bintang.