
Sudah dua bulan ini Bulan dirawat di rumah sakit. Dua kali operasi dan terus nya rehabilitasi dia lakukan, dalam kurun waktu dua bulan ini. Kondisinya semakin membaik, terutama mentalnya. Semuanya sudah kembali seperti dulu lagi, meski ada kalanya dia merasa minder dengan kondisinya yang sangat berbanding terbalik dengan kondisi suaminya. Bulan takut, bibit-bibit pelakor akan berkembang jika melihat kondisinya saat ini. Meski begitu Bulan percaya bahwa dalam hidup Bintang hanya akan ada namanya.
Agenda hari ini adalah bertemunya Bulan dan triplet. Selama dua bulan ini, meski triplet rewel tapi karena adanya otousan, bunda dan juga So Hyang yang sengaja secara khusus datang dari Seoul ketika mendengar kondisi kakak iparnya. Berkat ketiga wanita inilah, triplet selama dua bulan ini masih ada yang merawat dan memperhatikan, menggantikan sementara posisi mommy bagi mereka, meski memang tidak bisa tergantikan.
" Kamu siap? " tanya Bintang. Dia tersenyum sendiri saat melihat ekspresi sangat istri yang mirip dengan mahasiswa yang akan ikut sidang skripsi. Padahal hanya bertemu anak-anak mereka, tapi Bulan segugup itu.
" Sayang, kita hanya bertemu dengan triplet. Kenapa kamu sampai gugup begini. Lagi pula mereka bertiga juga belum paham dengan kondisi kamu saat ini. Jadi biasa saja ya, jangan gugup begini. " ujar Bintang menenangkan istrinya.
" Iya, tapi entah mengapa rasanya aku gugup sekali, padahal mereka kan anak kita ya. " canda Bulan yang nampak terlihat canggung.
" Biasa saja ya, kalau kamu gugup nanti anak-anak rewel lho. " Bintang mengingatkan, karena batin istri dan ketiga putra mereka memiliki ikatan yang sangat kuat.
" Hm... "
Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Kurang satu jam lagi, Bulan akan bertemu dengan anak-anaknya. Rasa gugup memang ada, bagaimana pun dia akan tampil di depan anaknya dengan kondisi yang berbeda dibandingkan beberapa bulan yang lalu. Meski benar apa yang Bintang katakan, bahwa putra mereka belum lah tahu tentang kondisi Bulan saat ini karena masih kecil, tapi tetap saja dia gugup. Dia sudah tidak sempurna lagi mulai sekarang hingga akhir hayatnya.
Bagi Bulan saat ini, satu jam sudah seperti satu tahun. Rasanya menunggu satu jam itu lama sekali, entah karena gugup atau memang satu jam itu lama. Bintang yang melihat itu merasa geli juga iba diwaktu yang sama. Melihat istrinya seperti ini sama seperti ketika mereka melakukan malam pertama setelah mereka menikah dua tahun yang lalu.
" Sayang, tenanglah. Kurang lima menit lagi triplet akan datang. " Bintang mengambil duduk di samping ranjang tempat Bulan setengah berbaring saat ini.
__ADS_1
" Iya. Huft... huft... huft... " Bulan mengambil nafas dalam lalu mengeluarkan lagi untuk bisa menetralisir debaran jantungnya yang tidak bisa dikondisikan ini.
" Hehehehehe... Kamu lucu banget deh kalau gini. " Bintang mencubit gemas kedua pipi istrinya. Pipi yang kini tirus karena sakit yang dirasakan sangat istri adalah sakit yang menggerogoti mental dan jga fisiknya. Siapa yang tidak kecewa dan hancur hatinya menyadari bahwa selama sisa hidupnya akan menjadi disabilitas seperti Bulan saat ini.
" Lucu apanya coba. Ih... Kamu kok malah ngeledekin aku sih. Jahatnya.... " rengek Bulan.
" Hahahahahahaha...... " Bintang tergelak sangat keras. Berkat Bintang inilah lima menit itu berlalu dengan sangat cepat. Pintu ruangan rawat inap Bulan dibuka dari luar. Muncul bunda Dessy dengan menggendong Ryuzaki.
" Mommy.... " ujar bunda Dessy.
" Ryu, anak mommy. " Bulan langsung menangis melihat putranya. Dan setelah bunda Dessy masuk, gantian otousan yang menggendong Daigo, dan terakhir So Hyang gang menggendong Kai.
" Mommy.... " seru triplet langsung memberontak dari gendongan pengganti mommy mereka.
Bulan tak kuasa membendung air matanya. Kini air mata itu mengalir denan sangat deras seperti hujan badai. Bulan memeluk ketiga putranya dengan sangat erat, disusul Bintang yang memeluk keluarga kecilnya. Siapa saja yang melihat ini pasti akan sangat terharu. Begitu jga dengan ketiga wanita yang telah berjasa mengasuh triplet selama Bulan dan perawatan di rumah sakit. Sudah beberapa kali ketiga wanita itu mengeluarkan ingus mereka di sapu tangan yang mereka bawa.
" Anak mommy nggak nakal kan?" tanya Bulan.
" Dak. Ai anak aik." ujar Kaien menjawab pertanyaan mommy nya.
__ADS_1
" Good, itu baru mommy's boys." Bulan menghadiahi ketiga anaknya dengan ciuman yang hangat di kening.
Saat sedang asyiknya melihat interaksi dari istrinya dan ketiga putranya, bunda Dessy tiba-tiba meminta waktu untuk bicara sebentar di luar. Bintang pun berpamitan pada Bulan dan langsung mengikuti bunda Dessy yang ternyata sudah duduk di bangku di depan kamar rawat inap Bulan.
" Bunda?' panggil Bintang. Dia sudah berdiri cukup lama di samping bunda dari istrinya itu namun bunda Dessy seperti sedang memikirkan sesuatu.
" Ah ya, Bintang... Bunda mau bicara sesuatu. Ayo duduk dulu." ajak Bunda yang mengambil duduk di samping menantunya itu.
" Nak, kalau boleh bunda minta, tolong kamu bawa Bulan secepatnya ke Kyoto. Siapa tahu di sana mentalnya bisa segera sembuh. " ujar bunda Dessy dengan kepala yang tertunduk.
" Bunda nggak apa-apa kalau aku bawa Bulan ke Kyoto secepatnya?' tanya Bintang. Memisahkan seorang anak dengan orang tua pun harus dengan pemikiran yang matang, agar tidak melukai kedua belah pihak.
" Iya... Bunda dan ayah sudah membicarakan masalah ini, dan kami sepakat mengizinkan dan mengikhlaskan kamu bawa Bulan ke Kyoto. Tempat tinggal kamu di sana bisa menjadi tempat healing terbaik untuk Bulan. Bunda nggak mau Bulan melanjutkan hidup dengan dipenuhi ketakutan dan juga luka hati yang mendalam. Bisa kamu menjaga putri bunda nak?" ujar Bunda menjelaskan keinginan dan keputusannya.
" Bintang akan urus semuanya bunda, dan jika ayah dan bunda rindu Bulan dan triplet, tinggal ngomong sama aku. Nanti aku suruh orang buat jemput bunda dan ayah bawa ke kyoto. Bintang diskusi dulu sama dokter yang pegang Bulan, kapan terbaiknya Bulan bisa dibawa terbang ke Kyoto." ujar Bintang menyetujui keinginan kedua mertuanya.
Rumah keluarga Narita di Kyoto memang merupakan tempat yang baik untuk healing. Tempat itu sengaja dibangun seperti itu karena dulunya istri dari Daisuke juga mengalami masalah mental yang jauh lebih parah dari Bulan. Sehingga Daisuke membuat kediaman yang indah seperti di surga, agar istrinya bisa menyembuhkan luka di hatinya, meski pada akhirnya istrinya itu meninggal.
Sudah sejak beberapa hari yang lalu, Bintang kepikiran untuk membawa Bulan segera ke Kyoto. Tapi yang jadi penghalang keputusan Bintang adalah keluarga dari Bulan. Bisakah kedua orang tua Bulan ikhlas putri mereka tinggal di tempat yang sangat jauh dari mereka.
__ADS_1
Kini, Bintang bisa lega saat mendengar dengan telinganya sendiri bahwa kedua orang tua Bulan menyetujui pemikirannya itu. Sekarang tinggal konsultasi dengan dokter Budi untuk menanyakan kapan kondisi Bulan siap dibawa untuk terbang jauh.