
Bunda Dessy langsung pingsan sesaat setelah mendengar kabar yang disampaikan mengenai kondisi dari Bulan, putri tunggalnya. Ayah Febri dengan sigap menangkap tubuh sang istri yang hampir saja membentur lantai. Yanuar segera menggendong tubuh sang ibunda untuk mendapatkan perawatan dari dokter di rumah sakit ini.
Berulang kali, Fuyami mengecup puncak kepala anaknya yang sedang menangis histeris itu. Takumi pun membisikkan kata-kata yang bisa menguatkan Bintang. Syukur, Bintang mulai tenang saat Takumi menyebut triplet. Triplet butuh daddy nya saat ini, jadi sebisa mungkin Bintang harus bisa menguasai dirinya agar tidak membuat ketiga bayinya menangis dan sampai sakit, karena perasaan bayi menyatu dengan perasaan dari orang tuanya.
" Hoshi, kamu harus kuat. Ingat triplet!!" ujar Takumi memberikan semangat pada putranya. Jujur hati Takumi dan Fuyami sangat sakit melihat putra mereka seterpuruk ini untuk pertama kalinya dalam hidup putranya.
" Hoshi...!" panggil Takumi untuk menyadarkan putranya.
" Iya otousan, Aku masih punya triplet untuk dijaga. Aku akan kuat, tapi....tapi.... bagaimana aku menyampaikan perihal kondisi Bulan padanya hiks...hiks..." ujar Bintang ditengah isakannya.
" Sabar sayang, Bulan wanita yang kuat, pasti dia bisa menerima ini semua." ujar Fuyami. Dia sendiri juga bingung harus mengatakan apa pada menantu kesayangannya itu. Jelas wanita mana yang tidak hancur divonis lumpuh permanen pada kedua kakinya. Seorang pria saja ada yang tidak bis menerima ha itu, apa lagi ini adalah seorang wanita.
Bintang melihat dari sebuah kaca yang bisa melihat dengan jelas istrinya yang terbaring lemah dengan berbagai macam alat yang terpasang di tubuhnya. Bintang meminta izin pada suster jaga agar dapat diizinkan untuk menemani sangat istri di dalam. Suster itu pun memberikan izin dengan syarat Bintang harus mengganti pakaiannya dengan pakaian steril. Bintang hanya mengangguk sebagai jawabannya.
Kini Bintang sudah duduk di kursi tepat di samping pembaringan sang istri. Tangan Bintang menggenggam dengan erat tangan Bulan seakan tidak ingin berpisah. Air matanya pun mengalir tanpa disuruh membasahi pipinya dan tangan yang bertaut itu.
" Sayang, ini aku, suami mu. Maaf aku tidak mampu berbuat apa-apa di saat kau sedang mengalami kesakitan yang luar biasa ini. Andai bisa bertukar, biarkan aku saja yang sakit dan tergeletak di ranjang pasien menggantikan mu. " ujar Bintang. Dia terus mengatakan segala yang dia rasa meski dia tahu tidak akan mendapatkan balasan dari Bulan.
__ADS_1
" Bangunlah sayang, triplet di rumah begitu merindukan mu. Mereka pasti akan rewel jika tidak bisa bersama dengan mommy nya. Kau tahu terkadang aku sangat kesal, mereka itu juga anak ku tapi selalu saja ingin dengan mu. Tanpa aku juga mereka tidak akan jadi, tapi seolah mereka lupa jasa ku sayang. " keluh Bintang dengan masih mengucurkan air mata yang begitu deras. Berulang kali dia mengambil nafas dalam, untuk menguatkan hatinya agar bisa mengajak sang istri berbicara.
Mulut Bintang terus berucap, bahkan hal-hal tak penting pun dia bicarakan. Dia menceritakan tentang dirinya saat masih kecil, dan membandingkan masa kecilnya dan triplet. Dia juga mengucap berjuta cinta pada sang istri agar mau kembali sadar dan bisa melanjutkan kisah cinta mereka.
Bintang juga meminta maaf dengan deraian air mata yang semakin deras. Dia mengatakan penyesalan yang mendalam pada Bulan atas apa yang terjadi pada Bulan dan semua yang kini menjadi kondisi Bulan. Meski tidak mengatakan dengan jelas apa maksud dengan kondisi Bulan, karena tidak ingin membuat Bulan yang tidak sadar itu sampai collapse.
Bulan terduduk di sebuah kursi yang mirip dengan kursi roda. Dia pun heran dengan kondisinya saat ini yang tidak bisa menggerakkan kedua kakinya dan malah duduk di kursi roda. Bulan melihat ke sekeliling, yang ada hanyalah hamparan banyaknya bunga yang bermekaran dengan sangat indah sekali. Hatinya damai berada di tempat itu.
Bulan mendorong kursi rodanya mengelilingi tempat itu untuk mencari keberadaan suami dan ketiga putranya. Namun hingga dia kembali ke tempat semula dia berada, satu pun orang tidak dia temui dan lihat. Alis Bulan bersatu menyerukan keheranannya.
" Kemana semua orang? Kenapa sepi sekali? " gumam Bulan bertanya pada dirinya sendiri.
Dia kembali mengedarkan pandangannya menatap semua sudut yang ada di taman bunga itu. Hingga dia melihat sosok anak perempuan sedang bermain dengan kelinci di tengah taman bunga itu. Bulan sedikit heran kenapa tadi dia tidak melihat anak itu, namun sekarang justru nampak bermain di sana.
Bulan kembali menggerakkan kursi rodanya menuju ke tempat anak perempuan itu bermain bersama kelinci putihnya. Bulan sedikit terkesiap saat melihat wajah anak itu yang sangat mirip dengan Kaien putra kembarnya yang kedua. Tapi dilihat dari usianya, jelas masih lebih tua anak perempuan ini.
" Hai sayang, kenapa kau sendirian di sini? " tanya Bulan saat dia sudah berada di belakang anak perempuan itu.
__ADS_1
" Aku sedang bermain dengan kelinci ini. Kelinci ini adalah pemberian daddy dan mommy ku. " ujar anak perempuan itu. Mata Bulan melihat ke arah kelinci putih itu, mirip dengan kelinci yang dipelihara oleh Ryuzaki, tapi Bulan tahu bahwa banyak kelinci berjenis sama dengan milik anaknya, jadi dia tidak terlalu ambil pusing.
" Lalu dimana mommy dan daddy mu? " tanya Bulan. Matanya menelisik menatap ke sembarang arah tapi di sana hanya ada dirinya dan anak perempuan yang kira-kira berusia lebih dari lima tahun.
" Mommy dan daddy ku berada di tempat yang jauh dari ku. Aku sengaja pergi meninggalkan mereka agar kehidupan mereka menjadi lebih baik. Aku sangat ingin bersama mereka, tapi jika aku bertahan di sana maka mommy ku akan pergi meninggalkan daddy dan ketiga kakak laki-laki ku. Mommy ku saat ini sedang sakit, tapi aku harus mengucapkan salam perpisahan padanya. Agar dia bisa mengikhlaskan kepergian ku. " jawab anak perempuan itu dengan tersenyum menatap mata Bulan.
Jantung Bulan berdetak begitu cepat saat matang beradu dengan mata anak perempuan yang ada di depannya itu. Mata anak perempuan itu adalah mata Bintang. Bulan sangat yakin akan hal itu, entah kenapa sekarang dadanya begitu sesak dan air matanya mengalir tanpa permisi.
Bulan memeluk tubuh anak perempuan itu, tangisannya menjadi saat mendapatkan perasaan yang familiar pada diri anak ini. Bulan seakan tidak rela melepaskan pelukan itu, seperti dia merasa bahwa dia akan kehilangan anak itu.
" Mommy, maafkan aku harus pergi. Aku tidak ingin mommy kesakitan dan menderita karena ku. Yakinlah aku menyayangimu dan juga daddy. Aku tahu kalian begitu ingin kehadiran ku di dunia ini, namun aku memang harus pergi agar kau hidup mom. " anak perempuan itu mengusap punggung Bulan yang bergetar.
" Kau anak ku? " tanya Bulan.
" Yes, i'm your daughter. Tapi aku harus pergi mom, tidak bisa bersama kalian di sana. Tapi aku mencintai mommy dan daddy selamanya. Sampai bertemu lagi di surga mom. "
...**********...
__ADS_1
πππ Hari ini aku lagi rajin jadi up dua bab langsung di sini. Aku lihat banyak yang like dan support karya aku ini jadi karena tidak terlalu banyak kegiatan aku hari ini sengaja banget up dua bab. Semoga semuanya seneng ya karena aku lagi rajinππ₯°π₯°π₯°π₯°