BULAN UNTUK BINTANG

BULAN UNTUK BINTANG
bab 78


__ADS_3

Bulan dan Bintang sudah sampai di kediaman keluarga Narendra. Kedatangan mereka disambut oleh Yanuar dan So Hee sebagai tuan rumah acara besok sore. Begitu Bintang keluar dari mobil, Yanuar sudah mengomel tidak jelas yang juga malas ditanggapi Bintang. Membuang waktu saja meladeni pria di depannya yang sudah berubah jadi mulut emak-emak.


Bintang dan Bulan berlalu begitu saja tidak menganggap setiap kata yang dilontarkan dari mulut Yanuar. So Hee yang melihat tingkah konyol suami dan kakak sepupunya itu nampak menahan tawanya agar tak mengecewakan sang suami.


" Abang itu lagi ngomel masalah apa sih sayang? " tanya Bulan saat keduanya sudah berada di dalam rumah, tepatnya di ruang makan karena Bulan dan Bintang lapar.


" Mana aku tahu sayang, abang kamu itu udah kaya emak-emak kompleks saja, kalau ngomong usah kayak kompor meleduk nggak jelas. " jawab Bintang terlihat malas.


" Ih.... Kamu kok jadi gitu sama abang. "


" Habisnya abang kamu rese sayang. Udah di suruh gantiin akhirnya di perusahaan, ehhh malah ngomong katanya bantu So Hee ngurus Moiz. Bukannya udah ada pengasuh sama bunda Dessy. Lebay itu low, bikin kesel. " celoteh Bintang panjang tak tentu arah.


Bulan nyengir kuda mendengar perkataan dari suaminya yang memang benar adanya. Abangnya itu banyak sekali alasannya untuk menggantikan Bintang di kantor. Padahal maksud Bintang baik ingin mengajari dulu abang supaya nantinya nggak keteteran saat ditinggal Bintang kembali ke Jepang.


Dasarnya Yanuar saja yang memang enggan melakukan apa yang diminta Bintang. Dia belum siap jika harus menangani perusahaan Bintang, takut jika membuat perusahaan itu mengalami masalah. Yanuar sama sekali tidak paham tentang bisnis di bidang game dan juga perangkat, dia hanya tahu soal mobil dan juga mobil.


" Mana Bintang? " tanya Yanuar yang ikut masuk ke rumah. Dia bertanya pada siapa saja yang ada di ruang tamu yang tahu keberadaan adik ipar sekaligus kakak sepupu istrinya itu.


" Tadi jalan ke ruang makan Mas. " sahut seorang ibu-ibu yang tinggal di komplek perumahan ini.

__ADS_1


Yanuar tersenyum, langsung bergegas ke ruang makan untuk kembali melanjutkan omelannya yang belum selesai tadi. So Hee dengan sabar mengikuti Yanuar ke mana saja suaminya itu pergi dengan menggendong Moiz.


Yanuar langsung terpaku di tempat kalau melihat adik ipar lucknut nya itu dengan santainya makan siang tanpa sedikit pun merasa bersalah padanya yang sudah berubah menjadi peternak sapi pagi tadi Bisa-bisanya si Bintang itu makan tanpa peduli kiri kanan.


" Hoshi Narita, kau... kau.... benar... benar..... " ucapan Yanuar terhenti saat melihat salah satu tangan Bintang terangkat ke arahnya dengan maksud menghentikan Yanuar untuk berucap tak masuk akal padanya.


" Diam... " satu kata yang keluar dari mulut Bintang langsung meledakkan emosi dari Yanuar. Untung So Hee langsung memanggil nama suaminya itu untuk mengingatkan bahwa lawannya adalah kakak sepupunya yang memiliki kuasa penuh pada keluarganya. Yanuar langsung mingkem diam seribu bahasa.


" Oppa, sabar ya. Nanti kita atau lebih tepatnya aku bakal dapat masalah lo. Apa lagi besok keluarga ku datang. Bisa- bisa aku kena imbasnya nanti. " bisik So Hee di telinga Yanuar.


Dengan perasaan yang masih kesal pada Bintang, Yanuar dengan terpaksa mendudukkan pantatnya di kursi makan yang ada di depan Bintang. Dia menatap tajam adik iparnya itu, berusaha untuk mengintimidasi, akan tetapi sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapan Yanuar. Bintang gitu loh dilawan.!!!


" Abang itu kenapa sih, kita dateng-dateng langsung diomeli? Kurang kerjaan banget deh. " tanya Bulan merasa sebal juga dengan tingkah abangnya.


" Emang kenapa sih bang? " tanya Bulan lagi.


" Dia kirim sapi dia tapi nggak dikasih makannya dek. Abang kan jadi ngarit tadi pagi mau ditaruh di mana muka abang dek. Malu... " terang Yanuar merasa kesal sekali.


" Aku kan udah kasih sapi cuma-cuma lo bang. Tinggal kasih makan aja apa susahnya sih, kecuali abang yang beli abang yang cari makan. Ish sudah dikasih kagak ada Terima kasihnya malah ngomel sepanjang rel kereta api. " sewot Bintang. Dia langsung berlalu menuju ke kamar tempat anak-anaknya istirahat siang.

__ADS_1


Yanuar ini bikin kepalanya tambah pening aja, belum masalah Anthony Fokker, ini dengan entengnya Yanuar ngajak perang. Nggak tahu saja dia adik iparnya ini sudah bertanduk lima meter karena kesal dengan dosen pembimbing Bulan yang ganjen itu.


Bintang mempersilahkan ketiga pengasuh triplet untuk makan siang di bawah, dia akan menggantikan menjaga ketiga putranya yang sedang terlelap itu. Bintang mendekat ke arah ranjang besar dan ikut berbaring di sisi kiri dari ranjang itu, Bulan pun yang sudah dari tadi ikut ke kamar triplet mengambil sisi kanan untuk berbaring. Mereka berlima pun ikut terlelap.


Tok... tok... tok... tok....


Entah sudah jam berapa tapi Bulan akhirnya terbangun saat mendengar pintu kamarnya diketuk oleh seseorang dari luar. Bulan beringsut bangun lalu membuka pintu kamarnya.


So Hee adalah seseorang yang mengetik pintu kamar Bulan. So Hee mengatakan agar Bulan dan Bintang turun ke bawah karena makan malam sudah siap. Bulan terperanjat mendengar kata makan malam. Sudah berapa lama dia tertidur.


Sesudah mengatakan pada So Hee bahwa dia dan Bintang akan turun setelah bebersih, Bulan segera berbalik ke arah ranjang. Triplet ternyata sudah tidak berada di ranjang, mungkin para pengasuhnya tadi mengambil mereka untuk dimandikan.


" Shujin, ayo bangun.. Ini sudah malam sayang. " Bulan menggoyang-goyang lengan suaminya. Sejenak Bintang mulai menggeliat saat mendengar suara istrinya membangunkan dirinya.


" Eehhhggghhhhh. " Bintang menarik tangannya ke atas, merenggangkan tubuhnya sebelum akhirnya bangun dan masuk ke kamar mandi.


Bulan merapikan tempat tidur yang sedikit berantakan sambil menunggu suaminya itu selesai mandi dan gantian dengannya. Bulan mengambilkan pakaian ganti milik Bintang yang sengaja disimpan di rumah ini agar memudahkan mereka berdua jika menginap. Pakaian Bulan juga ada di setiap kediaman dari keluarga Bintang yang ada di Jakarta.


Sepuluh menit berlalu, Bintang keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit di area pinggulnya, menutupi belalai gajah besar miliknya. Bulan segera saja berlari ke kamar mandi karena takut tergoda imannya saat melihat tubuh suaminya yang terlihat 100x lebih seksi dari biasanya.

__ADS_1


Bintang tersenyum geli melihat tingkat sangat istri mirip ABG labil saja. Bintang segera memakai bajunya yang sudah disiapkan sang istri tercinta. Bintang juga ganti menyiapkan pakaian untuk sang istri seperti apa yang dilakukan oleh istrinya tadi.


Cinta itu sederhana jika kita tidak membuatnya menjadi rumit. Asal bisa bersama saat susah dan suka, saat saling mendukung dan juga saling mencintai, sebuah hubungan yang berlandaskan cinta akan bisa langgeng dan penuh dengan suka cita.


__ADS_2