
Sepuluh jari seorang wanita terus menari di atas keyboard untuk menulis ribuan kata yang bisa membawanya menuju ke kesuksesan beberapa tahun yang akan datang. Wanita ini adalah Bulan Narita, istri dari pewaris kerajaan bisnis keluarga Narita, Hoshi Narita.
Meski di depannya saat ini ada seorang dosen yang terus bertanya tentang hal-hal yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan skripsinya, tapi Bulan terus berusaha untuk konsentrasi pada laptopnya dan berusaha untuk menahan emosinya dengan membentak dosen pembimbingnya itu.
" Kepo banget nih dosen. " batin Bulan geram. Rasanya ingin sekali membentak sang dosen karena terus bertanya hal yang bersifat pribadi.
" Kalau saya datang ke acara keluarga kamu apa boleh? " tanya Anthony yang sukses membuat kesepuluh jari Bulan berhenti menari.
" Mau ngapain bapak datang? Keluarga saya juga bukan. " jawaban Bulan yang terkesan mengolok dosen ganteng di depannya itu.
" Saya kan dosen kamu Lan. " ujar Anthony masih berusaha untuk bisa datang ke acara keluarga salah satu mahasiswi didikannya yang sukses membuat dia tertarik.
" Jangankan dosen pak, teman sekampus dan sekelas saya saja tidak ada yang datang. Jadi intinya ini acara keluarga pak. " tegas Bulan.
" Baiklah bapak tidak akan datang. " ucap Anthony pada akhirnya.
" Coba gitu daritadi. "
Masih berkutat di depan laptop, Bulan berusaha kembali berkonsentrasi walaupun ingin sekali dia mencolok mata dosennya itu. Tadi mulutnya yang kurang kerjaan sekarang ganti matanya. Bulan berulang kali berdecak kesal tapi sepertinya Anthony tidak merasa sama sekali.
Tak berselang lama, ponsel Bulan bergetar sepertinya ada pesan masuk ke ponsel miliknya. Segera saja dibukanya dan ternyata itu adalah pesan dari sang suami yang mengatakan bahwa sudah berada di parkiran kampus untuk menjemput Bulan.
" Pak maaf, saya sudah dijemput jadi saya pulang dulu ya. " pamit Bulan segera membereskan semua barang-barangnya dan segera meninggalkan ruangan aa sebelum dosen itu mengatakan sepatah kata apapun.
Anthony kemudian mengikuti Bulan, alasannya dia merasa khawatir pada Bulan jadi dia ingin melihat mahasiswinya itu sampai masuk ke mobil jemputannya.
Bintang masih tetap berada di dalam mobil sedang memangku Daigo yang asyik bermain setir mobil. Dia menatap ke arah luar jendela mobilnya untuk menemukan sosok istrinya.
__ADS_1
Menunggu sekitar lima menit, tapi Bulan masih juga belum menampakkan batang hidungnya. Merasa cemas, Bintang keluar dengan menggendong Daigo. Para mahasiswa dan mahasiswi yang melihat hal itu langsung saja me dekat ke arah Bintang. Mereka semua penasaran pada sosok yang sedang digendong oleh senior mereka.
" Wah senior, apakah ini putra senior? " tanya seseorang mahasiswi tingkat 4.Gadis itu menatap Daigo dengan wajah gemas.
" Ehmmm... ini yang paling tua diantara triplet. Namanya Dai. " jawab Bintang. Daigo sama sekali tidak merasa terganggu saat melihat dirinya dikerubungi wanita dan pria. Aura ketampanannya sudah bisa menarik perhatian orang-orang meski masih kecil.
" Hai Dai, pasti jemput mommy ya. " gadis lain mencoba untuk mengajak Daigo berinteraksi.
" Iya kak... " Bintang bersuara menirukan suara anak kecil.
" Senior, yang dua anak senior yang lain dimana? " tanya mahasiswi yang lain.
" Lagi bogan di dalam mobil. " ujar Bintang menunjuk dengan dagunya.
" Bogan. " beo mahasiswa yang mengelilingi Bintang.
" Bobo ganteng. " seru Bintang menjawab pertanyaan dibenak mahasiswa di sekitarnya.
Bulan melihat dari kejauhan anak dan suaminya sedang dikerubungi oleh mahasiswa berbagai macam tingkat. Bulan tahu pasti banyak mahasiswa yang juga rindu pada senior sekaligus suaminya itu. Senior mereka yang sangat pandai membuat hati junior mereka klepek-klepek dengan celotehannya yang pasti bikin semua sakit perut karena banyak tertawa.
" Shujin... " seru Bulan. Para mahasiswa yang berada di sekitar Bintang langsung memberi jalan pada Bulan, pawang dari senior ganteng mereka.
" Wah senior, anaknya ganteng banget kayak bapaknya. " celetuk seorang mahasiswi tingkat 3.
" Terima kasih. Eh kalau nggak salah kamu satu fakultas dengan suami aku kan. " ujar Bulan saat menyadari siapa yang tengah memuji anaknya.
" Benar senior. " sahut mahasiswi itu.
__ADS_1
Kerumunan di sekitar Bulan dan Bintang sudah mencuri perhatian dari seorang Anthony yang sedari tadi mengikuti Bulan. Dalam benak Anthony, dia berpikir bahwa yang sedang menggendong anak kecil itu adalah abang Bulan dan anak kecil itu adalah Moiz.
Anthony senyum-senyum sendiri melihat Bulan yang mulai menggendong anak kecil itu. Entah mengapa hatinya merasa senang saat melihat hal itu.
" Kok aku merasa kamu sudah pantas jadi ibu ya Bulan. " gumam Anthony ( emang udah jadi ibu-ibu pak)
" Aku jadi tertarik sama kamu. " Anthony tersenyum manis seperti ABG labil yang sedang jatuh cinta. " ( nggak ngaca pak sama umur) 😂😂😂
" Bapak nggak apa-apa? Saya lihat dari tadi bapak senyum-senyum sendiri? " tanya mahasiswa anak didik Anthony yang kebetulan sedari tadi memperhatikan gerak gerik dari dosennya itu.
" Nggak... " jawab Anthony sewot lalu pergi begitu saja dari sana. Merusak suasana saja mahasiswa itu.
Bulan dan Bintang sudah mulai meninggalkan pelataran kampus untuk segera menuju ke kediaman keluarga Narendra yang jaraknya dari kampus lumayan dekat. Hari ini Bulan dan Bintang berniat membantu para ibu-ibu dan bapak-bapak komplek yang mempersiapkan syukuran untuk Moiz.
Bintang tadi pagi sudah mengantar dua sapi yang dia hadiahkan untuk Moiz melalui orang suruhannya. Besok pagi, dua sapi itu akan disembelih untuk dimasak sebagai hidangan untuk acara malam harinya.
Bintang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk seluruh anggota keluarganya. Baginya uang itu bisa dicari tapi momen bersama keluarga itu jarang bisa terjadi karena kesibukkan masing-masing.
" Wah kok rame banget ya. " Bulan berdecak tidak percaya saat melihat banyaknya bapak-bapak dan ibu-ibu yang membantu acara di rumah orang tuanya.
" Kayaknya ini orang satu kompleks pada datang semua nih. " ujar Bintang. Rumah keluarga Narendra berada di kawasan komplek perumahan yang cukup padat.
" Iya nih, makin seru nantinya. " ujar Bulan semangat.
Bintang melajukan mobilnya sedikit lebih jauh dari rumah mertuanya karena di depan rumah itu sudah disulap menjadi dapur umum. Sekitar jarak tiga rumah dari rumah keluarga Narendra, disitulah Bintang memarkirkan mobilnya.
Kedatangannya sudah disambut oleh Yanuar dan juga So Hee. Yanuar yang sedang menggendong Moiz berjalan mendekati mobil Bintang yang terparkir sedikit jauh dari rumahnya.
__ADS_1
" Eh Tang, kamu gila ya. Masak ngantar sapi nggak dikasih rumputnya trus itu sapi mau makan apa. Besok baru disembelih nya. " Yanuar langsung mencak-mencak.
Dia terpaksa harus mencari rumput tadi pagi karena sapi yang dikirim oleh Bintang kelaparan. Jelas Yanuar sangat kesal, masak cowok ganteng sejuta umat sepertinya harus mencari rumput. Apa kata dunia ini melihatnya....