BULAN UNTUK BINTANG

BULAN UNTUK BINTANG
Main ke Rumah Senior


__ADS_3

Hari ini Bulan dan teman satu timnya sudah membuat janji akan mengadakan diskusi tentang apa saja yang akan dihadirkan di kedai kopi saat giliran mereka berjaga.


Niat awal bertemu di cafe, Bulan justru meminta ketemu ditempat lain. Bulan sudah sharelok dengan teman satu timnya.


Di sini lah mereka berada pada akhirnya, rumah Bintang. Teman Bulan dibuat takjub dengan dekorasi rumah Bintang. Nggak nyangka senior mereka sangat mapan.


" Lan, kok di sini sih janjiannya. Emang senior nggak marah ma kita? " Tanya Mimi teman satu tim Bulan.


" Nggak tenang aja. Orang dia juga yang nyuruh kita kumpul di sini. " jawab Bulan santai. Mana mungkin suaminya itu berani marah padanya. Hehehe


" Ini diminum ya minumannya, cemilannya juga dimakan kalian nggak usah sungkan. " ujar Bintang kalau mengantarkan minuman dan beberapa cemilan untuk tamu.


" Terima kasih senior. " kompak mereka.


Tim Bulan ini terdiri dari lima perempuan dan 3 Laki-laki. Maklum jumlah murid perempuan lebih banyak, jadi dalam Masing-masing tim banyak perempuannya.


Sesuai kesepakatan, Bima sebagai ketua memulai diskusi mereka siang menjelang sore hari ini. Bima termasuk mahasiswa yang sopan, emang sih nakal juga cuma nakal yang wajar.


" Ada ide kira-kira kita tambahin apa di kedai. " tanya Bima.


" Biasanya yang sering gue lihat pas nongkrong di kedai kopi tuh, ada nasi bungkus, mie sama nasi goreng, gorengan sama kacang goreng. " kata Wisnu.


" Ada juga yang jual aneka kue. " Septi menambahkan.


" Kita musti milih nggak mungkin kan semuanya ada di sana. Bajet kita nggak banyak. " terang Bima.


" Boleh kasih ide? " tanya Bintang.


" Wah jelas boleh dong Seniornya, secara kalau senior yang mimpin pasti langsung juara. " celetuk Akbar.


" Dari pada kalian iuran uang mending kalian sumbang aja tuh makanan. Misal nih ya Bulan bagian kue, trus ada yang bagian gorengan ada yang bagian nasi bungkus. Kan entar untungnya kalian dapat lansung tuh. " cetus Bintang.


" Eh bener tuh ide senior. Kita gitu aja jadi kan semua bisa ada. " Septi menambahkan.


Bima bertanya terlebih dahulu kesanggupan teman satu timnya itu hingga terbagi sudah bagian masing-masing.


Bulan dan Mimi bagian kue, Septi dan Bima bagian gorengan, July dan Akbar bagian nasi bungkus dan mie, yang terakhir Wisnu kebagian kacang goreng atau cemilan ringan lainnya.

__ADS_1


Bulan pengen bikin kue bolu dan donat, lain Mimi pengen bikin cake coklat seperti brownis. Septi dan Bima juga bagi tugas gorengan apa aja untuk mereka. Setelah sepakat semuanya, mereka mulai minimal dan makan cemilan sambil nonton TV yang sejak tadi dinyalakan Bintang.


Bintang memang ikut berkumpul, tapi dia duduk di sofa belakang Bulan sambil nonton TV. Dia sekali-sekali juga menyimak arah pembicaraan Bulan dan temannya.


" Oh ya senior, denger-denger nggak ikut ngurus stan ya" celetuk Wisnu.


" Udah capek, gantian lah yang lain. Lagian dulu-dulu nggak ada pacar jadi cuek, kan lain sekarang. Ada pacar masak dianggurin. " Bintang menaik turunkan alisnya menatap wajah Bulan.


Mendengar celotehan Bintang, Bulan dan teman-temannya tergelak. Siapa yang nggak tahu kalau Bintang itu pinter banget kalau disuruh bikin guyonan.


Kini diruang keluarga rumah Bintang hanya tersisa sepasang suami istri itu. Teman Bulan semua sudah pulang, langit sudah sore jadi nggak baik kalo malam baru sampai rumah.


Bintang berbaring di sofa dengan paha Bulan menjadi bantalannya. Mereka sadang menyaksikan film Jepang berjudul Orange.


Bintang memang menyukai menonton film ini, pengen juga Bulan melihat jadi mengajak sangat istri menonton. Bulan sudah terisak kala ******* film tersebut muncul. Benar-benar menyakitkan kehilangan orang yang mereka cintai, baik itu kekasih atau teman.


" Kok.... cerita... nya.... sedih... gini... sih.... " ucap Bulan sesenggukan.


" Tapi bagus kan. " ujar Bintang. " Kamu ngapain nangis segala, sampai segitunya kalau nonton. " ledek Bintang.


" Tapi kan udah dia perbaiki di dunia paralel kan sayang. "


" Hish... nonton sama kulkas enam belas pintu mana ngerti perasaan orang. " kesal Bulan.


Suaminya itu memang ramah dan suka usil sama siapa saja yang memang dia pengen kerjain, tapi sebenarnya sifatnya itu sangat dingin. Dia nggak pernah mau tahu tentang kehidupan orang lain, juga nggak mau ikut mikir kalau orang lain ada masalah.


" Nggak baik ya ngledek suami gitu. " tegur Bintang.


" Habisnya nyebelin. " kesal Bulan.


Sudah lelah mereka menonton film, kini saatnya mereka berdua membuat menu untuk makan malam. Pilihan jatuh kepada ayam katsu karo dan sosis pedas saus barbeque.




yang baca pas belum makan pasti langsung perutnya demi. 😁😁😁

__ADS_1


Mereka berdua saling membantu memasak hidangan untuk makan malam ini. Bintang nampak cekatan mengeksekusi bahan yang sudah Bulan cuci.


Tak butuh waktu lama, tiga puluh menit tepat dua menu untuk makan malam itu selesai di masak. Bulan dan Bintang sudah duduk di kursi meja makan untuk menikmati makan malam mereka.


Sesudah makan malam, keduanya kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Lalu berbaring di ranjang king size di kamar utama.


" Kami nggak takut hamil kota udah nglakuin itu semalam dan dulu.? " tanya Bintang. Perlu dibicarakan tentang masalah momongan karena ono adalah masalah sensitif. Fatal akibatnya jika tidak dibicarakan secara terbuka dengan baik.


" Siap. Kata bunda nggak boleh nunda momongan, takut nanti pas kita pengen malah nggak bisa cepet dikasih. Kalau bisa hamil berarti harus bersyukur, banyak wanita yang kurang beruntung tidak bisa hamil. " jawab Bulan.


" Good Girl. Aku suka jawaban kamu. " Bintang mengecup sekilas bibir merah cherry milik Bulan.


" Bibir dikondisikan ya, jangan mau sosor aja. " seloroh Bulan.


Bintang langsung tergelak, nggak nyangka sang istri sudah bisa diajak bercanda. Sebelumnya Bulan itu tipe gadis yang lurus mempeng tanpa batu sandungan. Jadi agak susah jika kalau diajak bercanda takut tersinggung.


" Eh ya, sampai lupa mau nanya. Ini tentang keluarga bibimu yang pertama, nikah sama orang Korea kah? " tanya Bulan. Dia sudah penasaran semenjak bertemu keluarha Narita, tapi baru sempet bertanya.


" Iya, paman orang Korea Selatan. Mereka sekeluarga tinggal di Seoul. " jawab Bintang.


" Enaknya bisa tinggal di Korea Selatan. " ujar Bulan.


" Pengen. Alasannya apa? "


" Kan di sana banyak cogan dan cewek cantik. "


Bintang tergelak, istrinya ini memang polos sekali. Pengen lihat cogan aja ngapain jauh-jaih ke Korea, padahal suami sendiri aja dah ganteng.


" Di depan kamu ini ada cogan low, ngapain musti jauh-jauh ke sana. " Bintang bangga.


" Ish PD. " ledek Bulan.


" Besok kita ke dokter mata deh. " ajak Bintang.


" Ngapain? " Bulan heran.


" Periksa mata kamu, kayaknya ada masalah tubuh Masak suami ganteng aja nggak bisa nampak. " seloroh Bintang.

__ADS_1


__ADS_2