
Hati sudah semakin sore, matahari kini masih setia menemani namun tak sepanas siang tadi. Kedai kopi milik kelas Bulan masih saja ramai didatangi pengunjung. Tidak hanya dari kalangan orang dewasa, ada juga beberapa mahasiswa dan siswa yang ikut nongkrong bareng di kedai kopi itu.
Bulan dan timnya sampai kewalahan melayani para pelanggan. Untung saja Bintang setia membantu Bulan meski hanya dari belakang. Bintang memang membantu tapi hanya di belakang panggung.
Dirinya benar-benar free hari ini karena sudah sepakat dengan Orion. Bintang pun juga sudah mengirimkan bukti yang diminta Orion pada Melisa dan Hydra. Jadi tinggallah dirinya berada di sini, membantu sang istri.
" Huft... Senior Terima kasih sudah dibantu urusan yang ada di belakang sini. Kalau nggak ada senior sudah pasti kami akan kewalahan. " ujar Bima. Dirinya memilih duduk di depan Bintang. Hari uang melelahkan baginya itu sejenak lengah. Jadi hal itu dimanfaatkan oleh tim Bulan untuk beristirahat.
Bintang yang merasa kasian melihat istrinya yang kelelahan, pergi sebentar untuk membeli makanan dan minuman segar. Sepuluh menit, Bintang kembali membawa sembilan nento box serta minumannya. Kemudian dia membagikan bento box itu pada semua anggota tim Bulan.
Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Bulan langsung memakan bento box yang berisikan nasi, salad dan potongan chicken katsu itu hingga tandas tak bersisa.
Setelah dikiranya kenyang, tim yang diketuai Bima itu kembali melayani pelanggan yang sudah mulai berdatangan. Bintang hanya diam dan melihat Bulan bergerak aktif ke sana kemari menurutnya itu sangat lucu.
Tak lama, Orion datang bersama Hydra. Mereka bertiga akhirnya memesan coffee latte dan beberapa kue untuk menemani mereka mengobrol bersama.
Hydra datang mengucapkan Terima kasih pada Bintang yang telah membantunya menjelaskan kesalahpahaman antara dirinya dan Melisa. Berkat video yang dikirimkan Bintang, Melisa tunangannya tidak salah paham lagi
" Thanks bro. Gue udah baikkan sama Melisa. " ucap Hydra tulus.
" It,s ok. " balas Bintang tersenyum.
" Lo nggak mau ngucapin thanks ke gue. Kalah bukan karena gue Bintang nggak akan bantu kalian. " sewot Orion.
" Thanks bro " Hydra langsung memeluk tubuh Orion.
" Eh lepasin gue, apa kata cewek nanti ngira kita ini gay. " Orion memberontak dalam pelukan Hydra
__ADS_1
Bukannya melepaskan, Hydra makin mengeratkan pelukannya. Bintang tergelak melihat tingkah anek temannya.
Pukul sembilan malam tepar, bazar ditutup. Besok bazar sudah tidak digelar dan berganti lomba bakat, lalu malamnya akan ada pesta dansa. Hal yang paling ditunggu tunggu para mahasiswa dan mahasiswi di kampus itu.
Persiapan pesta dansa sudah sembilan pulih sembilan persen tinggal menunggu beberapa hal yang akan melengkapi pesta dansa nanti. Seluruh mahasiswa begitu antusias dengan pesta ini. Mereka sudah berlomba-lomba memilih pakaian yang akan mereka gunakan,, mereka juga gencar mencari pasangan agar bisa berpasangan saat pesta dansa digelar.
Teman sekelas Bulan juga begitu antusias, bahkan ada yang sampai rela uang saku bulanannya dipakai untuk membeli dress. Dengan tema casual, pesta dansa akan digelar. Pesta dansa pertama kali yang diadakan di kampus xx.
Bulan sudah terlelap di ranjang king size di kamar utama. Dia begitu lelah setelah seharian ini melayani pelanggan. Kedai kopinya benar-benar mendapat banyak pelanggan hari ini. Sudah bisa dipastikan tim mereka mendapat untung paling banyak diantara tim lain di kelas mereka.
Bintang yang baru saja keluar dari kamar mandi tersenyum melihat Bulan yang tertidur dengan sedikit menganga mulutnya. Tenang saja tetap cantik meski begitu.
Bintang pun langsung menyusul sang istri terbang ke alam mimpi. Bintang meraih tubuh istrinya untuk masuk ke dalam pelukannya. Bintang pun tak lama langsung terlelap.
Tengah malam, Bintang terbangun karena tidak merasakan keberadaan Bulan di sampingnya. Bintang turun ke lantai satu. Saat tiba diujung tangga Bintang mendengar jika ada seseorang yang menggunakan dapur miliknya. Bintang turun ke lantai satu, dia mendengar ada suara berisik di dapur, dan dia pun mendatangi dapur.
Bintang bisa melihat sang istri tengah menyantap hidangan yang baru saja dimasak nya. Bintang pun mendekat dan langsung duduk di samping Bulan.
" Heem. " Bulan hanya berdehem.
Bintang tak lagi bicara, dirinya langsung mengambil beberapa bahan di lemari pendingin. Bintang langsung mengeksekusi bahan-bahan tersebut agar bisa menjadi hidangan yang lezat.
" Ini jika kau masih lapar. " Bintang nampak menyodorkan piring yang berisi hidangan yang dia masak tadi. Air liur Bulan berasa seperti menetes saat melihat hidangan yang di depannya begitu menggoda selera makannya. Tanpa banyak bicara Bulan langsung menyantap hidangan yang dimasa oleh suaminya itu.
Beef steak dengan black paper pun tandas juga oleh Bulan. Nafsu makannya benar- benar sangat banyak. Belum lagi mood yang berubah ubah, tapi Bintang selalu sabar menuruti semua keinginan sang istri.
" Masih lapar? " tanya Bintang. Dia berdiri mengambil piring makan Bulan yang sudah kosong.
__ADS_1
" Aku sudah kenyang, Terima kasih. Maaf sudah membuatmu bangun. " jawab Bulan.
" Jangan langsung tidur, nanti perutmu begah. Dipakai santai dulu aja. " ujar Bintang.
" Oh ya.. Untuk pakaian yang kita pakai saat pesta dansa apakah sudah kau ambil? " tanya Bulan. Pasalnya besok malam acara pesta dansa sudah digelar tapi pakaian untuk mereka berdua belum ada.
" Besok sepulang dari kampus kita ambil sama-sama ya. " jawab Bintang dengan mengajak Bulan untuk mengambil pakaian pesta mereka besok. Bulan tersenyum dan mengangguk.
Mereka berdua berbincang sebentar, sebelum pada akhirnya ketika jam sudah menunjukkan pukul. tiga dini hari menghentikan perbincangan mereka. Bulan dan Bintang kembali ke kamar untuk tidur sebentar.
Bulan dan Bintang kini sudah berada di dalam mobil untuk pergi ke kampus. Tidak ada hal penting yang harus mereka lakukan sebenarnya, tapi karena harus ada absen jadi mereka berangkat saja ke kampus.
Bulan dan Bintang berpisah di area parkir, mereka berdua kemudian pergi ke tempat tujuan masing-masing setelah nantinya setelah jam makan siang mereka akan pergi ke butik untuk mengambil pakaian mereka berdua.
Di dalam kelas nampak Septi, July, Mimi dan Ruri sudah menunggu kedatangan Bulan. Mereka berempat ingin mengabarkan bahwa tim mereka menjadi juara dan akan mendapat hadiah dari Bi Mega.
Seluruh kelas pun bersepakat bahwa keuntungan yang didapat akan disumbangkan ke pihak yang lebih membutuhkan. Ada beberapa anak yang ikut menyumbang termasuk Bulan. Bintang juga tak akan marah jika uang yang diberikan padanya digunakan untuk beramal.
" Lo banyak duit dari mana Lan? " tanya July berbisik.
" Dari suami. " jawab Bulan tersenyum menggoda.
" Ehmmmm... Yang udah bucin. " ledek. Septi.
" Nggak apa-apa orang sama suami sendiri bicinnya. " bisik Bulan pelan sambil tersenyum.
Hai readers, saya ingin mengucapkan Terima kasih ya buat yang sudah memberi dukungan, saran dan kritik buat author agar bisa lebih maju lagi.
Maaf mungkin ada banyak sekali typo, tapi author berusaha untuk mengurangi hal itu.
__ADS_1
Jangan lupa terus dukungan Bulan untuk Bintang ya