BULAN UNTUK BINTANG

BULAN UNTUK BINTANG
bab 23


__ADS_3

" Lo nggak akan bisa menghentikan rasa suka gue ke elo. Jadi jangan paksa gue buat diem aja semantara lo deket cewek lain. " sentak Melisa.


" Gue nggak suka sama lo Mel. Sampai berapa kali gue bilang biar elo ngerti. Sampai mati pun gue nggak akan berpisah dengan Bulan. Mau elo suka nggak suka. " ujar Bintang pelan tapi penuh penekanan.


Kedua orang berbeda jenis itu tidak menyadari bahwasanya di belakang pintu kelas nampak seorang gadis mendengar percakapan mereka.


Gadis itu diam tak berani mengeluarkan suara. Dirinya dapat dengan jelas mendengar percakapan mereka lantaran suara kedua orang yang berada di kelas itu sangat kencang.


" Gue nggak peduli, selamanya lo cuma pantes buat gue Yang. " kekeh Melisa.


" Melisa. " suara Bintang menggelegar di ruang itu," ini peringatan terakhir gue, sekali lagi gue lihat Bulan nangis karena elo. Gue nggak akan tinggal diam. " sentak Bintang.


" Tang, lo masih di sini aja. Lo nggak ketemu sama Bulan, tadi dia ke sini lho. " Suara Hydra memecah keheningan antara Bintang dan Melisa.


" Maksud lo apa? " tanya Bintang.


" Bulan tadi gue lihat jalan ke arah sini. Gue kira dia nyari lo. Dah lo coba cari Bulan gih, takutnya dia salah paham. " ujar Hydra.


Bulan tidak menjawab, tapi langsung bergegas pergi dari sana. Saat ini dia takut Bulan terluka saat melihat dia dan Melisa tadi. Apalagi sekarang ini suasana hatinya sangat sensitive.


" Mel, lo sampai kapan mau berbuat nekat kayak gini. Asal lo tahu kalaupun lo bisa membuat Bintang dan Bulan renggang tapi lo nggak akan bisa misahin mereka. " terang Hydra. Dirinya sudah geram dibuat oleh Melisa yang keras kepala itu.


" Ini buka urusan lo Dra. " ketus Melisa.


" Bukan urusan gue lo bilang. Lo sadar lo sekarang ini ngomong dengan siapa Melisa. " hardik Hydra.


Sebenarnya tanpa ada yang tahu Hydra dan Melisa itu sudah bertunangan. Bahkan yang merenggut mahkota Melisa itu juga Hydra. Tapi karena kesalahan pahaman Melisa jadi menjauh dari Hydra dan berusaha mendekati Bintang yang notabene pernah dia suka dulu hanya untuk membuat Hydra sakit hati.


Bintang berjalan dengan langkah cepat menyusuri lorong-lorong gedung B. Dia terlihat gusar dan tidak tenang.


" Shujin.. Kau bisa jatuh jika berjalan seperti itu. " tegur Bulan dengan berteriak. Dirinya tadi hendak ke kelas Bintang dengan membawa minuman segar justru melihat Bintang yang berjalan tergesa di lorong.

__ADS_1


" Yomesan... " Bintang langsung berhamburan ke pelukan Bulan.


" Yomesan??? siapa itu? " tanya Bulan binggung.


" Panggilan sayang untuk istriku yang paling cantik imut dan baik hati ini. " Bintang menggombal.


" Ish... Bisa aja kami ngegombal kayak gitu. " Bulan tersipu malu.


" Kami darimana? Tadi Hydra bilang kamu datang ke kelas aku ya. Kamu pasti melihat aku dan Melisa. Dengar ya, aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Aku juga tidak pernah menanggapinya. Jadi aku mohon kamu jangan marah ya. " cerca Bintang. Bulan hanya bisa melongo melihat suaminya yang bicara seperti kereta api ekspress.


" Kamu ngomongnya pelan-pelan napa, udah kayak kereta api aja. Aku tadi memang lihat kamu di kelas sama cewek, tapi aku nggak marah kok. Aku malah sengaja beliin kamu minuman takut tenggorokan kamu kering teriak-teriak seperti tadi. " Bulan nyenggir kuda.


Huuuffftttt


Bintang menghela nafas panjang, dirinya sekarang bisa tenang istrinya tidak salah paham dan juga tidak marah. Keduanya berjalan bersama menuju ke lapangan tempat diadakannya pertunjukkan band itu. Bulan ingin berpamitan pada kedua temannya.


Bulan dan Bintang sepakat pulang karena keduanya kelelahan.


Empat puluh lima menit tepat, mobil Bintang sudah terparkir rapi di garasi. Keduanya langsung bebersih dan langsung menuju ke dapur.


Bulan meminta Bintang memasakkan omelet mie yang ditambahi sayur, sosis, bakso, dan daging. Di tambah dengan Sais tomat tapi harus Bintang juga yang membuatnya.


Terbiasa berkutik di dapur, membuat Bintang tidak terlalu kesulitan membuat hidangan yang diinginkan istrinya. Dirinya juga menambahkan beberapa hidangan tambah siapa tahu saja istri itu mau.


Tiga puluh lima menit empat macam hidangan sudah tertata rapi di depan Bulan. Ada omelet mi, capjay orak arik, garkic prawn pasta, dan bola-bola tahu.




__ADS_1



Bulan langsung menelan ludah dengan kasar, bahkan air liur nya nampak menetes kalau menatap penuh harap hidangan yang dimasak oleh suaminya. Tanpa basa basi, Bulan langsung memakan omelet mi, lalu dilanjut dengan capjay orak arik dengan sedikit nasi.


Bintang diam saja melihat istrinya makan dengan lahap. Dia justru bangga bisa membuat istrinya itu kenyang dengan masakan yang diolahnya.


" Makan pelan-pelan dong nanti tersedak. " tegur Bintang. Dirinya mengusap pelan ujung bibir Bulan yang kotor karena makan yang terburu-buru.


" Habis masakan kamu enak banget. " puji Bulan


Makan malam pun selesai dengan Bulan yang lebih banyak menghabiskan hidangan itu daripada Bintang. Sebagai rasa bersalah Bulan mencuci piring dan alat masak yang kotor dipakai Bintang. Awalnya Bintang menolak saat Bulan menawarkan mencuci piring tapi pada akhirnya lebih Bintang memilih mengalah setelah melihat mata Bulan yang sudah berkaca-kaca.


Bulan berbaring di atas ranjang dengan berbantalan lengan Bintang. Keduanya kini bersiap untuk tidur. Kegiatan di kampus membuat tubuh mereka berdua terasa remuk.


Bintang bahkan sudah menguap beberapa kali saking ngantuknya. Bulan masih memandang langit-langit kamar, dirinya terganggu oleh sesuatu yang terjadi di kampus tadi.


" Hoah.... Yomesan ayo tidur. Kamu pasti capek kan. " Bintang merengkuh Bulan dalam pelukan nya kemudian terlelap.


Bulan yang masih belum bisa berkunjung ke alam mimpi lebih memilih untuk memperhatikan wajah suaminya yang sedang terlelap.


" Kamu tahu, aku nggak peduli orang ngomong apa soal aku. Aku lebih peduli padamu. " gumam Bulan masih memandang lekat wajah suaminya.


Hari-hari Bulan kini dipenuhi dengan kebahagiaan. Tak pernah dia sangka seniornya di kampus yang terlihat usil dan cuek justru bisa menjadi lembut dan mengayomi setelah menjadi suaminya.


" Bagaimana aku tidak jatuh cinta jika dirimu saja terlihat sangat tampan. Kau juga begitu menyayangiku. Asal kau tahu tanpa ku sadari aku sudah menyayangimu. " gumam Bulan lirih laku terlelap.



Resign kamar Bulan dan Bintang yang dirubah beberapa hari yang lalu. Bulan ingin mengubah tata ruang karena bosan dengan uang dulu.


Cat dinding berwarna abu gelap dengan lantai marmer berwarna putih, barang-barang yang ada di kamar itu juga mengikuti warna dinding dan lantai.

__ADS_1


Bulan dan Bintang terlelap saling memeluk memberi kehangatan. Keduanya mulai saling menerima, saling menyayangi dan pada akhirnya nanti saling mencintai.


__ADS_2