BULAN UNTUK BINTANG

BULAN UNTUK BINTANG
bab 97


__ADS_3

Masih di taman, Bintang memeluk tubuh Bulan, mengusap punggung sangat istri yang masih terisak. Sungguh hati Bintang sangat sakit seperti dihujam ribuan pisau, mendengar sang istri menangis seperti ini. Dalam hati dia bersumpah akan menghadapi Anthony langsung agar masalah ini segera selesai.


Bintang terpaksa menghubungi otousan yang ada di Kyoto untuk memberikan peringatan pada keluarga Fokker. Sudah ditekan oleh Joaquin tapi masih saja keturunan keluarga itu berulah. Bintang awalnya enggan untuk meminta bantuan dari tetua keluarga Narita, karena takut akan menjadi beban untuk sang ojiichan. Usia Daisuke sudah tidak muda lagi, pasti tidak bisa menerima berita menghebohkan seperti cucu menantunya dikejar-kejar oleh cucu dari teman bisnisnya.


" Jangan menangis lagi sayang, hati aku hancur dengar kamu nangis begini. Pliiiissss jangan nangis ya. " ujar Bintang menjauhkan Bulan dari pelukannya untuk menghapus linangan air mata di pipi Bulan.


" Kamu nggak salah sayang, sungguh aku tidak pernah menyalahkan mu. Aku tahu kamu tidak salah jadi jangan merasa kamu yang paling bersalah. Oke... " Bintang mengecup dahi Bulan. Berusaha menenangkan kekalutan di hati sang istri.


" Hem... Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu mi menghadapinya? " tanya Bulan setelah dirinya berhasil menguasai emosinya.


" Berada di samping ku dan triplet, percaya pada ku dan jangan sekalipun kamu meragukan aku. Kota sudah tinggal bersama selama ini, bisakah kamu lebih dulu percaya padaku dibandingkan percaya omongan apa pun yang akan Anthony sampai kan pada mu? "


" Baik... Selamanya aku hanya akan percaya jika itu adalah kamu yang bicara. Bukan orang lain. " ujar Bulan tulus sambil menatap mata milik Bintang yang selalu membuatnya merasakan nyaman dan aman secara bersamaan.


Bintang kemudian mengajak Bulan untuk kembali ke rumah mereka. Langit sudah gelap, tak ingin jika triplet menangis mencari daddy dan mommy nya. meskipun Bulan dan Bintang yakin ketiga putra mereka sudah menangis sekarang ini karena terlalu lama ditinggalkan oleh Bulan dan Bintang.


Dengan langkah kaki yang sedikit cepat, Bulan dan Bintang memasuki rumah mereka. Betapa terkejutnya orang tua triplet itu saat melihat ada oma dan opa di rumah mereka. Opa menatap tajam ke arah Bintang seolah meminta penjelasan. Bintang yakin, tadi mbok Warni pasti yang menelfon opa dan omanya untuk datang.


" Kita bicara di ruang kerja aku bisa opa?" tanya Bintang yang ingin segera menjelaskan permasalahan yang sebenarnya.


" Oke." jawab opa yang langsung memimpin jalan menuju ke ruang kerja Bintang yang ada di lantai dua.


Bulan segera meraih tubuh Daigo, dan duduk di samping oma. Meskipun oma tidak bertanya apa-apa padanya, tapi Bulan yakin oma pasti penasaran. Hanya saja tidak ingin terlihat ikut campur rumah tangga cucunya terlalu dalam. Bulan pun bingung harus menjelaskan bagaimana duduk permasalahan yang sedang mendera rumah tangganya.

__ADS_1


" Sayang, kamu nggak apa-apa kan? Oma takut kalau Bintang menyakiti kamu." tanya oma hati-hati, takut menyinggung perasaan Bulan.


" Bulan baik oma. Tadi hanya salah paham, jadi oma tidak perlu khawatir. Lagipula oma paling tahu kan bagaimana Bintang itu bersikap dengan wanita." ujar Bulan menjawab pertanyaan ari omanya. Memang benar dia baik-baik saja, semuanya hanya salah paham.


Kedua wanita beda generasi itu lalu membawa triplet ke kamar mereka. Sudah waktunya triplet mengungsi ke kamar untuk persiapan tidur. Sambil menunggui triplet yang berbaring di box mereka masing-masing, oma dan Bulan berbincang ringan seputar kehidupan hari-hari mereka.


Di dalam ruang kerja Bintang nampak situasinya begitu mencekam. Bintang sendiri tidak gentar sama sekali mendapat tatapan yang mengintimidasinya dari sang opa. Lain jika orang lain yang tidak mengenal markus Hillar, pasti sudah pingsan duluan.


Bintang dengan santainya duduk di kurdi kerjanya, sedangkan opa duduk di kursi yang ada di depan Bintang yang terpisah meja dengan kursi kerja Bintang. Lama keduanya saling tatap tanpa ada seorang pun yang mengeluarkan unek-unek mereka. Bintang masih ingin mendengar sejauh mana sang opa tahu tentang masalah antara dirinya dan Bulan.


Huft...


Opa Markus menghela nafas, lalu memutuskan tatapannya dengan Bintang. Dia tahu tidak ada gunanya melakukan hal itu pada cucunya ini. Bintang adalah tipe pria yang akan maju dan tak akan gentar jika dia merasa dirinya benar.


" Aku hanya ingin tahu opa sejauh mana tahu tentang masalah kami. " jawab Bintang terlihat sangat santai.


" Tahu bahwa kalian tadi memiliki masalah hingga Bulan menangis dan keluar dari rumah. Hish kau itu benar-benar anak nakal. " opa Markus berjalan mendekat ke arah cucunya itu.


" Ahhha.... aaargghhhh... Opa sakit! " pekik Bintang saat telinganya dijewer keras oleh opanya.


" Tahu rasa kau, berani membuat cuci menantu kesayangan ku menangis. " geram opa masih belum melepas tangannya dari telinganya Bintang.


" Aduh... aduh... opa... lepas dulu.... aduh sakit opa. " ujar Bintang merengek seperti anak kecil yang tidak di belikan permen.

__ADS_1


" Opa nggak tahu masalahnya jangan asal main kekerasan dong. " protes Bintang saat opa sudah melepaskan telinganya dan kembali duduk di kursi.


" Benar atau tidak yang jelas Bulan menangis. " ujar opa kekeh.


Huft....


Ganti sekarang Bintang yang menghela nafasnya bingung. Dia tidak tahu harus bercerita dari mana, karena takut sang istri jadi serba salah di depan seluruh keluarganya. Tapi jika tidak diceritakan, Bintang yakin bukan hanya telinganya yang menjadi sasaran opa.


" Begini opa sebelum aku bercerita tentang masalah yang sebenarnya opa harus janji dulu jangan pernah mengungkitnya di depan Bulan. Istri ku itu bisa menangis lagi karena merasa bersalah. " ujar Bintang meminta opanya untuk berjanji.


" Oke opa janji. " opa Markus langsung saja menyetujui, dia sudah kepalang penasaran tapi cucunya ini malah berputar-putar.


" Jadi begini opa ceritanya....... "


Bintang bercerita dari awal masalah ini sampai pada akhirnya saat Bulan menangis tadi. Bintang juga mengatakan tentang hasil penyelidikannya juga permintaan bantuan pada Joaquin de Niels pun dia ceritakan juga. Tidak ada satupun yang Bintang tutupi termasuk jati diri Anthony yang merupakan cucu dari rekan bisnis Daisuke.


Bintang juga mengatakan bahwa dirinya tidak ingin sampai apa yang dilakukannya ini mempengaruhi bisnis keluarganya. Tapi karena pergerakan dari Anthony yang semakin meresahkan, dia terpaksa menghubungi otousannya di Kyoto sana untuk memperingati keluarga Fokker tentang pergerakan anggota keluarganya.


Bintang bercerita beberapa langkahnya untuk menghadapi Anthony, tapi setelah melihat Bulan menangis karena merasa bersalah, dirinya akan segera menjalankan rencana akhirnya.


" Kenapa kau tidak mengatakan pada ku sejak awal? " tanya opa yang heran juga cucunya ini tidak biasanya tertutup padanya.


" Aku tidak ingin kalian mendapatkan masalah. Orang ini gila opa, pada Bulan itu hanya obsesi karena pernah gagal. dengan mantan istrinya dulu hanya karena mereka mirip. Aku tidak bisa membiarkan ada orang yang berani menyakiti Bulan disaat aku masih hidup. "

__ADS_1


__ADS_2