BULAN UNTUK BINTANG

BULAN UNTUK BINTANG
bab 46


__ADS_3

Satu minggu sebelum pernikahan Yanuar dan So Hee, keluarga Hillar, Narita dan Narendra sangat disibukkan dengan persiapan pernikahan. Rencana mereka akan berangkat besok agar di sana bisa mempersiapkan dengan matang, lagipula perjalanan Indonesia-Jepang sekitar 7 jam 25 menit.


Bintang bahkan sudah mengajukan cuti ke kampus selama dua minggu. Bulan tak perlu bingung karena dia bisa tetap mengikuti pelajaran karena via video. Tak perlu membawa pakaian karena di sana sudah disiapkan oleh Bintang. Bulan hanya perlu membawa tas kecil yang berisi kartu Identitas pasport dan bisa.


" Shujin ini benar tak perlu membawa apapun? " tanya Bulan sekali lagi hanya untuk memastikan.


" Yomesan, sudah berapa kali kau bertanya jawabannya akan tetap sama seperti tadi. " jawab Bintang yang sudah jengah dengan tingkah sang istri.


" Aku kan hanya memastikan, jika sampai tak ada baju bagaimana. " ujar Bulan cemberut.


" Suamimu ini adalah orang yang kaya raya, bagaimana mungkin kita tak ada baju. Kau terlalu meremehkan diriku. " ujar Bintang bangga.


Bulan hanya tersenyum kecut, dia lupa kalau suaminya itu seorang keturunan keluarga kaya raya di Jepang. Jangankan baju, pulau pun Bintang memberikannya untuk Bulan. Begitulah orang kaya, tak perlu mencemaskan hal yang sepele.


Malam ini mereka akan berkumpul di mansion utama Hillar. Dari sana nanti mereka akan berangkat ke bandara. Mereka akan menggunakan dua pesawat pribadi milik keluarga Narita dan Bintang. Pesawat pribadi keluarga Hillar akan menjemput keluarga yang ada di Munich.


Bintang dan Bulan sudah selesai dengan persiapan mereka, langsung menuju ke mansion utama karena keluarga yang lainnya sudah berada di sana. Malam ini mereka akan mengadakan pesta tak lajang karena yang mengikuti pesta tersebut semuanya sudah memiliki pasangan.


Jam lima sore Bulan dan Bintang tiba di mansion utama. Mereka melihat semua keluarga berkumpul di halaman belakang. Mendekor sederhana taman belakang untuk memperindah pesta malam ini. Kue, dan hidangan utama sekarang ini sedang dibuat oleh chef mansion utama. Pelayan yang lain mendekor taman belakang.


Bintang langsung mengajak Bulan untuk masuk ke dalam kamar pribadi Bintang yang ada di mansion itu. Bintang ingin Bulan istirahat terlebih dahulu karena seharian bersiap hal yang penting hingga membuat istrinya itu kelelahan. Meski hanya dua jam itu cukup daripada satu menit pun tidak.


Malam harinya semua sudah berkumpul di halaman belakang. Mereka duduk dengan menggelar karpet agar bisa duduk di bawah dan para orang tua akan duduk di kursi dari rotan dengan bantalan di bagian dudukan nya. Tak jauh dari tempat itu ada kursi dan meja yang diperuntukkan untuk makan dan sebuah meja panjang untuk meletakkan hidangan yang menjadi santapan untuk pesta ini.


__ADS_1


Bintang mempersilahkan Bulan untuk duduk di atas kursi karena sedang hamil. Usia tiga bulan kehamilan Bulan sudah terlihat besar karena bayi yang dia kandung berjumlah tiga. Bintang merasa tak tega jika membiarkan Bulan duduk di bawah karena pasti tak nyaman.


Bintang mengambilkan beberapa kue dan juga hidangan untuk Bulan. Bahkan piring yang berisi nasi dan lauk untuk Bulan sampai piringnya sendiri tak kelihatan karena terlalu banyak makanan di atas piring tersebut.


" Bintang, kamu kasih makan adik aku kok kayak orang nggak makan satu minggu. Tuh piringnya sampai nggak nampak. " ledek Yanuar.


" Abang. " sentak Bulan. Bintang yang diledek dia yang tak Terima. Pasalnya dia yang memakan semua yang dipersiapkan Bintang.


" Eh kok kamu yang marah. " ujar Yanuar semakin menggoda adiknya.


" Itu kan buat aku jelas lah aku marah. Keponakan kamu ada tiga ya jelas porsi makanku banyak. Aku makan untuk empat orang. " Bulan sewot. Bibir merah cherry nya sampai mengerucut.


Yanuar tergelak, rasanya kerinduan akan menggoda adik tersayang nya itu bisa dilampiaskan. Semenjak Bulan menikah dengan Bintang, Yanuar merasa kesepian di rumah, tak ada yang digoda dan diajak berantem.


" Udah sayang jangan marah-marah. Nanti anak kita yang ada di kandungan kamu ketakutan lho. " ujar Bintang mengelus pundak sang istri.


" Nggak usah khawatir nanti aku suruh So Hee yang bales dia. Biar tahu rasa disuruh tidur di luar padahal udah ada istri. " bisik Bintang.


Bulan pun langsung kembali ceria. Dia langsung menyantap habis makanan yang diambilkan oleh Bintang tadi. Dari piring yang berisi nasi dan lauk sampai piring yang berisi kue dalam lima belas menit langsung tandas.


Yanuar dan kedua orang tua Bulan sampai geleng kepala melihat putri mereka seperti orang yang kelaparan. Lain dengan Bintang yang tersenyum puas karena Bulan menghabiskan makanan yang diambilkan nya tadi.


" Lihat saja, sebentar lagi badan mu akan melar. " Yanuar tertawa terbahak. Lucu rasanya membayangkan Bulan berbadan bulat.


" Abang.... " rengek Bulan yang sudah hampir menangis. Bintang langsung menatap tajam Yanuar. Kakak iparnya itu hampir saja membuatnya harus merayu Bulan semalaman.

__ADS_1


Semenjak Bulan hamil jika sampai ada yang membuatnya menangis pasti akan betah sampai malam hari. Bintang harus ekstra sabar merayu Bulan agar mau kembali tenang. Bintang yang tak mau kembali mengalami hal itu langsung mengajak. Bulan pergi ke tempat keluarga Hillar berkumpul.


" Kamu apain cucu menantu oma. " Oma menarik telinga Bintang saat melihat cucu menantunya itu menangis.


" Oma sakit..... Aku nggak salah oma. " ujar Bintang memegang telinganya agar tak lepas ditarik kasar oleh oma


" Bukan suami aku yang salah oma tapi abang yang ledekin Bulan gendut kalau banyak makan. " ujar Bulan mengadu sambil sesenggukan.p0p


Oma langsung mendatangi Yanuar lalu menjewer telinganya. Yanuar langsung mengaduh kesakitan karena tarikan dari oma cukup keras.


" Kenapa kau membuat Bulan menangis? calon istrimu sekarang juga sedang hamil, lihat saja nanti pasti So Hee juga akan gemuk. " ujar oma.


" Tapi tidak akan segemuk Bulan oma. " ujar Yanuar langsung mendapat pelototan dari oma.


Malas menanggapi, oma kembali ke tempat di mana suaminya berada. Bicara dengan makhluk seperti Bintang hanya akan membuat emosi saja. Lebih baik duduk diam dan hanya menyaksikan saja.


Bintang tergelak melihat omanya kembali ke tempat duduknya dengan wajah yang ditekuk. Bintang yakin oma pasti kalah bicara dengan kakak iparnya. Bisa dilihat Yanuar juga tengah tertawa di seberang sana.


Opa terdiam melihat keluarganya, dari anak kemudian cucu dan sebentar lagi akan ada cicit jua. Betapa lengkap sudah kebahagiaannya sekarang ini, bila cicit nya sudah lahir jika Tuhan berkehendak mengambil nyawanya maka dirinya siap.


Bintang melihat gelagat aneh di wajah opa nya pun mendekat. Bintang langsung duduk dan menggenggam tangan opa, Bintang tersenyum seolah menguatkan opanya.


" Tenang saja opa tak akan aku biarkan malaikat maut menjemput opa sebelum semua cucu opa memiliki cicit.. "


********

__ADS_1


Mungkin untuk beberapa hari ini author tidak bisa up sebanyak hari kemarin ya. Tapi author pastikan akan up setiap harinya. Author sedang kedatangan mertua jadi agak sibuk sedikit๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2