
Malam harinya, di kediaman keluarga Narendra acara syukuran enam bulan umur Moiz Narendra berlangsung dengan lancar tanpa kendala sama sek;ali. Keluarga besar berkumpul bersama untuk merayakan hal ini.
Bintang memberikan hadiah yang tidak pernah orang lain sangka pada keponakannya yang masih berumur enam bulan itu. HN Group nantinya akan dipimpin oleh Moiz ketika anak itu dewasa. Bintang tetaplah pemiliknya tapi yang nantinya akan memimpin perusahaan itu adalah Moiz.
" HN Grup sudah aku berikan pada Moiz, dan kau sebagai ayahnya mulai sekarang wajib untuk mempersiapkan semua yan nantinya akan dimiliki oleh putramu. Jangan banyak bertingkah seperti kemarin-kemarin, seharusnya abang bersyukur punya ipar sepertiku." sarkas Bintang.
" Bilang saja kau menyuruhku untuk mengurus perusahaan milikmu itu." balas Yanuar yang sudah tahu akal bulus dari suami adiknya itu.
" Terserah kau saja menganggapnya apa, tapi aku ingin menaikkan derajat mu dengan meminta mu mengurus perusahaanku. kau tahu istrimu itu adalah pemilik hotel four season yang ada di daerah Asia Tenggara ini."
Glek
Yanuar menelan sallivanya kasar, tak pernah dia pikir bahwa sang istri itu adalah seseorang yang memiliki jabatan dan kekuasaan yang besar apalagi ini ada;ah hotel four season yang sangat terkenal itu. Herannya itu kenapa sang istri tak pernah mengatakan tentang hal itu.
Yanuar kini harus terpaksa menerima tugas dari adik ipar sablengnya itu memimpin HN Group. Yanuar tak ingin dianggap menumpang hidup enak pada sang istri.
Keesokan harinya Bintang dan Bulan mulai melanjutkan aktifitas mereka seperti biasanya. Bintang harus kembali bekerja di peusahaan miliknya dangan tugas baru mengajari sang kakak ipar untuk bisa menjalankan sebuah perusahaan.
Bulan pun kembali berkutat dengan skripsinya. Ada rasa malas yang menyeruak masuk ke tubuhnya karena harus bertemu dengan dosen pembimbingnya yang baru ini dia ketahui bahwa sang dosen itu ganjen juga. Kalau bukan mengejar target wisuda sebelum triplet berumur satu tahun maka lebih baik dia tunda saja skripsinya.
" Kamu kenapa pagi-pagi udah nggak semangat gitu?" tanya Bintang. Sekarang ini Bulan sedang membantu memakaikan dasi untuk Bintang.
" Aku malas ketemu dosen sayang. Lama-lama itu orang bukan cuma menyebalkan tapi jadi super menyebalkan." jawab Bulan setengah mengadu.
" Cuekin aja sayang." saran Bintang.
__ADS_1
" Udah, tapi masih aja keganjenan. Emangnya itu orang nggak tahu apa siapa aku ini." celetuk Bulan.
" Tahu dong, nyonya muda Narita."
" Ish.... kok jadi kamu yang nyaut." protes Bintang.
" Perlu aku ke kampus kamu sambil baya bukket bunga besar dan ada tulisannya untuk istriku tercinta gitu."
" Ihhhhh Kok makin gitu sih."
Keduanya tergelak bersama, Bulan memang tidak pernah bisa menampilkan ekspresi seperti sedih, kesal, cemberut atau ekspresi buruk lainnya. Sang suami itu selalu sukses membuat dia tertawa. Bulan yang awalnya ragu pada rumah tangga mereka menjadi begitu bahagia menjalani pernikahannya bersama Bintang.
Bulan mengantar Bintang sampai ke depan pintu utama. Mencium tangan Bintang, lalu Bintang akan mencium kening dan mengecup sekilas bibir merah cherry milik Bulan. Merka saling melambaikan tangan dan tersenyum bahagia, sebagai semangat untuk hari mereka ini.
Mobil yang dikendarai Bulan sudah terparkir tapi di parkiran kampus. Dia segera keluarga dengan membawa tas yang berisi laptop dan juga beberapa berkas yang menunjang skripsinya. Berkas itu adalah tulisan tangan dari Bintang yang digunakan agar Bulan bisa mengembangkan kata-kata tersebut menjadi skripsi.
" Selamat pagi pak. " sapa Bulan saat memasuki ruangan milik dosen pembimbing nya.
" Selamat pagi Bulan. Mari silahkan kita duduk dan segera kita mulai. Saya ada jadwal mengajar nanti jam sepuluh. " ujar Anthony.
Bulan terdiam sebentar, kemudian dia melihat jam tangan miliknya. Jam tangan mewah yang sengaja Bintang pesan khusus couple dengannya. Hanya ada satu yang diproduksi, hanya milik Bulan dan Bintang. Kado yang Bintang berikan beberapa hari yang lalu.
Jam tangan mewah milik Bulan nampak terlihat jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan pagi. Dalam hati Bulan bersorak gembira karena tidak lama dia bersama dengan dosen menyebalkan itu hari ini. Dengan rasa yang sangat senang juga moodnya baik itu justru berbeda dengan pemikiran Anthony. Dosen itu mengira Bulan senang karena dia mau meluangkan waktu untuk mereka berdua.
" Baiklah kalau begitu kita mulai. " seru Anthony memulai pembimbingan kali ini.
__ADS_1
Bulan nampak sangat serius mendiskusikan perihal skripsinya ini. Bulan sama sekali tak canggung dan mencoba menyingkirkan untuk sementara waktu kekesalannya pada Anthony. Semakin cepat selesai makan semakin cepat pula dia bisa segera menjauh dari dosennya yang menyebabkan itu.
Ditengah keseriusan mereka, Tiba-tiba saja pintu ruangan Anthony diketuk oleh seseorang dari luarnya. Anthony nampak tidak suka sama sekali jika waktunya berduaan dengan Bulan diganggu oleh mahasiswa atau dosen lainnya.
" Bulan, apa kau masih lama? Kita punya acara. di rumah okaasan. " tanya Bintang. Dia yang menunggu tidak dibukakannya pintu ruangan itu langsung saja membukanya. Bodo amat dengan kesopanan, toh dia sudah bukan mahasiswa yang kuliah di sana.
" Okaasan. Apa otousan datang dari Kyoto? " tanya Bulan heran, tapi meski begitu dia membereskan peralatannya. Ini adalah sebuah kesempatan baik untuk melarikan diri dari Anthony.
" Okaasan merindukan Triplet. " jawab Bintang santai.
" Maaf tuan Fokker, tapi kami berdua ada urusan keluarga yang penting. Saya akan membawa Bulan pergi sekarang juga. " pamit Bintang.
Bintang kemudian menggandeng tangan Bulan keluar dari ruangan dosen pembimbing skripsi istrinya itu. Tadi di kantor, dia sama sekali tidak bisa fokus bekerja karena memikirkan bagaimana Bulan di kampus.
Masih terus menggandeng tangan Bulan, bintang membawa Bulan ke tempat parkir mobilnya. Lebih baik Bintang mengajak Bulan ke perusahannya atau pulang ke rumah berkumpul bersama triplet.
" Eh ini mau kemana? Bukannya kita akan ke rumah okaasan ya?' tanya bulan bingung saat menyadari mobil yang dikendarai bintang mengarah ke tempat lain.
" Pulang atau ikut aku ke kantor?" tanya Bintang sedikit terdengar ketus.
" kantor ada kalau boleh, aku ingin menyelesaikan tulisan ku dulu sebelum pulang ke rumah. Takutnya jika dikerjakan di rumah nggak akan kelar." jawaban Bulan. Dia berusaha bersabar dengan sikap menyebalkan sang suami setelah ini.
Tak menanggapi jawaban Bulan, mobil sport yang dikendarai Bintang melaju ke jalanan yang mengarah ke perusahaan miliknya. Tidak ada lagi perbincangan di dalam mobil itu. keduanya sama-sama diam, malas untuk saling bertanya.
Bintang merasa bahwa Anthony sedang mengibarkan bendera perang padanya. Bintang akan dengan senang hati menyambut tantangan dari Anthony itu. Bagaimanapun Bulan adalah istri sahnya secara hukum dan negara. Anthony tak akan semudah itu memisahkan mereka berdua.
__ADS_1