BULAN UNTUK BINTANG

BULAN UNTUK BINTANG
bab 66


__ADS_3

Tubuh So Hee menegang ditempat saat secara tiba-tiba suaminya masuk ke kamar rawat inap Bulan bersama dengan orang tuanya. So Hee takut jika Yanuar mendengar apa yang baru saja diucapkan Bintang.


Bintang memang selalu memberikan uang jajan kepada keempat adik sepupunya bahkan sampai sebesar ini. Tak tanggung-tanggung dalam satu bulan bisa sampai beberapa ribu dolar. Sudah terbiasa Bintang melakukan hal ini semenjak kecil akhirnya sampai dewasa berlanjut.


" Hai bang... " Bulan melambaikan tangan pada kakaknya.


" Hai sayang.... " Yanuar mendekat langsung mengecup kening Bulan.


" Ayah sama bunda juga dateng ya. " sapa Bulan lagi saat melihat ayah dan bundanya berdiri di samping Yanuar.


" Iya sayang, kemarin kan bunda belum sempet lihat cucu-cucu bunda karena ayah musti pulang ada urusan penting. Jadi deh bunda datang dan ini hadiah buat kamu dan baby kamu. " ujar bunda Dessy memberikan sebuah tas belanja yang entah isinya apa.


Ayah dan bunda Bulan pun menggendong anak. Bintang yang sedang ditimang oleh So Hee dan So Hyang. Bunda sangat senang sekali bisa mendapat cucu yang tampan-tampan.


" Bintang nama anak kalian siapa? " tanya ayah Febri.


" Yang sama Bulan ini Daigo, yang digendong bunda itu Kaien dan yang sama ayah Ryuzaki. " ujar Bintang.


" Di panggil Dai,Kai, dan Ryu bunda. " Bulan ikut menimpali.


" Pasti namanya artinya keren ya. " ujar Bunda yang tidak paham arti nama-nama dari cucunya.


Semuanya nampak menatap ayah dan bunda yang bergantian menggendong ketiga cucunya. Bulan sangat senang sekali kelahiran putranya disambut antusias oleh seluruh keluarga. Ketiga putranya juga begitu disayangi oleh seluruh keluarga. Bulan bisa tenang karena semua ujian berat sudah berlalu berganti kesenangan.


Yanuar yang melihat istrinya lengah langsung duduk di samping sang istri. Dia tadi sebenarnya sempat mendengar percakapan mereka semua yang tadi berada di kamar ini. Beruntung hal itu tak didengar kedua orang tuanya atau akan terjadi kesalahpahaman..


" Kamu masih sering ya dikasih uang sama Hoshi? " tanya Yanuar yang bicara sambil berbisik di telinga istrinya.

__ADS_1


So Hee tersentak kaget, " maaf. " hanya satu akta itu yang mampu keluar dari mulut So Hee.


" Kenapa? Bukannya aku tiap bulan selalu kasih kamu uang. " tanya Yanuar.


" Oppa yang nggak mau menghentikannya. Katanya rejekinya seluruh saudaranya harus bisa merasakan. Oppa memang sifatnya begitu, selalu menyayangi kami semua sebagai saudara tanpa syarat sedikitpun. Aku sudah sempat menolak tapi tetap. saja itu jawaban oppa. " terang So Hee yang tak mau terjadi kesalahpahaman antara suami dan kakak laki-laki nya.


" Memang dikasih berapa setiap bulan? "


" Oppa selalu kasih ke kami berempat 10% dari keuntungan yang didapatkan perusahaan tiap bulan. Ojii-chan, paman dan bibi lalu kami berempat selalu mendapat bagian segitu tiap bulan. "


" Tak aku sangka seperti itu sifat kakak sepupu mu. "


" Dia selalu mengutamakan keluarga dibanding dirinya sendiri. Pernah juga dia sampai koma karena dipukul penculik yang menculik Aiko dan Nara saat masih kecil dulu. " ujar So Hee mengusap air matanya. Jika sudah membicarakan Hoshi Narita, maka hanya akan ada tangisan yang kelaur dari mata So Hee.


Sikap Bintang yang selalu mengutamakan keluarganya kerap kalo membuat pria itu terluka dan menderita, tapi tak sekalipun pria itu mengeluh. Bintang selalu mengatakan, selama keluargaku baik-baik saja mala aku pun begitu.


" Jangan nangis dong. Cerita kebaikan kakaknya kok nangis. " Yanuar mengusap pipi So Hee yang basah.


" Nangis bahagia, karena jika bukan dia yang menjadi oppa kami pasti tidak akan bisa merasakan ini. " ujar So Hee tersenyum manis.


" Karena hal inilah kami lebih takut padanya dibanding kedua orang tua kami, karena cara dia menyayangi kami adalah tulis tanpa syarat kami takut kesalahan kami akan membuat dia kecewa. "


Tanpa diketahui oleh So Hee, Bintang dari jauh sana tersenyum tipis, sangat tipis sekali sehingga tak ada yang melihatnya. Dia merasa bangga saat kebaikan hatinya dihargai oleh semua adik sepupunya.


Bintang selalu ikhlas ketika memberi mereka semua uang hasil dari keuntungan perusahaannya. Bintang takut jika sampai ke empat sepupunya yang notabene perempuan akan terjebak pada kehidupan yang salah bila mereka tak mendapat uang jajan yang cukup. Bintang tak ingin hal itu terjadi, karena dia menyayangi saudaranya.


" Kalian akan tinggal di mana nantinya? Apa langsung ke rumah pribadi kalian? " tanya bunda Dessy.

__ADS_1


" Kami ke rumah orang tua Bintang bun, kan ojiichan ada di sana. Rumah mereka juga banyak kamar kosong, jadi nanti kami bisa bebas di sana. " jawab Bulan.


" Tidak perlu khawatir bun, semua sudah orang tuaku siapkan. " Bintang menambahkan.


" Bagus kalo begitu, bunda sama ayah ke sana setiap saat nggak apa-apa ya. " pinta Bunda Dessy.


" Nginep juga nggak boleh kok bun, kan kamarnya banyak. " ujar Bintang.


Keluarga Narendra dan kedua sepupu Bintang sudah pulang ke rumah mereka. Sekarang hanya tinggal Bulan dan Bintang saja di dalam kamar rawat inap VVIP itu. Bintang kembali berkutat bersama laptopnya sedangkan Bulan sudah kembali nk!terlelap, mungkin tubuhnya terasa lelah setelah melewati malam yang panjang semalam.


Bintang harus segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa melewati waktu dengan ketiga putranya juga istrinya. Beberapa berkas dalam sekejap berhasil Bintang selesaikan. Tinggal dia berkas lagi dan itu adalah laporan tentang pembuatan game terbaru yang dibuat oleh perusahaannya.


Game ini sudah siap untuk dipublikasikan, dan rencananya akhir bulan ini akan dilaksanakan. Tiba-tiba saja Bintang mendapat ide untuk memperkenalkan keluarga kecilnya itu di saat peluncuran game terbaru dari perusahaannya.


Bintang mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan kepada asisten pribadinya itu untuk mempersiapkan semua seperti yang dia inginkan. Semua akan segera tahu nyonya muda Narita dan juga pangeran kerajaan bisnis Narita.


" Sip... Semua beres. Tinggal mempersiapkan saja untuk. akhir bulan ini. Semoga saja bisa membuat Bulan senang. " gumam Bintang.


Kembali lagi ke laptop, Bintang menyelesaikan membaca laporan itu dan segera saja menutup laptopnya kalau semua pekerjaannya selesai. Bintang beralih menuju ke box ketiga anaknya, rasanya aneh saja sekarang ini dia sudah memiliki anak, tiga pula.


Bintang mengambil ponselnya yang ada di saku celana bagian belakang, lalu mengarahkan kamera ponselnya tepat ke arah ketiga anaknya. Satu per satu Bintang memotret ketiga anaknya yang sejak kapan sudah mulai fotogenik.


" Anak Bintang memang tak salah jika sudah gila kamera sejak kecil. " ujar okaasan. Tadi okaasan masuk saat Bintang asyik memotret buah hatinya. Dan Okaasan melihat itu semua dari belakang punggung Bintang.


" Okaasan, anda membuat aku jantungan. " ujar Bintang mengelus dadanya. Untung dia tidak punya riwayat penyakit jantung sehingga tak perlu bersusah payah pingsan karena serangan jantung.


" Nak, aku sudah siapkan semua yang dibutuhkan kalian. Semua sesuai dengan keinginan mu. Apa kau ingin melihatnya? "

__ADS_1


__ADS_2