BULAN UNTUK BINTANG

BULAN UNTUK BINTANG
bab 114


__ADS_3

Bulan terus saja mengingat apa yang dikatakan oleh Daisuke pagi tadi. Sedikit pun dia tidak mengira bahwa penyebab kematian dari nenek Bintang adalah karena masalah yang tidak jauh dari penyebabnya lumpuh. Beruntung Bulan masih hidup dan hanya kakinya saja yang lumpuh. Tidak terbayang bagaimana Bintang jika sampai Bulan mengalami apa yang neneknya alami.


Bulan teringat ucapan Daisuke tadi tentang suaminya, " Sungguh aku bangga pada mu dan juga Hoshi-kun, kalian mampu menyikapi masalah ini dengan baik sehingga hasil akhirnya tidak seburuk yang dulu aku dan Takumi alami. "


Karena ucapan itu, Bulan begitu bersyukur melebihi apa yang dia syukuri kemarin. Dia yang awalnya merasa sedikit tidak adil di dalam hidupnya karena harus mengalami kejadian itu hingga lumpuh. Namun setelah mendengar semua cerita Daisuke, dia jadi berpikir bahwa beruntungnya dia karena hanya lumpuh dan tidak dilecehkan.


" Ternyata ada wanita yang mengalami lebih buruk dari kisah ku. Seharusnya aku bersyukur dan bukan malah terus-terusan mempertanyakan nasib ku. " batin Bulan. Dia sedang berbaring di ranjang kamar milik Bintang di kediaman utama.


Sesuai permintaan dari orang tua dan kakek dari Bintang, mereka memilih tinggal di kediaman utama daripada kediaman mereka yang dekat dengan danau buatan itu. Toh di kediaman utama banyak sekali taman bunga yang sangat indah, sehingga Bulan juga merasa nyaman di kediaman utama. Putra-putranya juga ada yang membantu menjaga, jadi dia merasa tenang.


Tanpa sadar Bulan tertidur, mungkin karena efek obat yang dia minum sesudah makan siang tadi sehingga dia mengantuk. Bintang pun pulang di siang hari pun Bulan tidak menyadari saking lelapnya tidur. Bintang segera membersihkan dirinya sebelum akhirnya ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Keduanya sama-sama tidur siang.


" Bagaimana hari ini chichi? Apa menyenangkan punya teman mengobrol sekarang? " tanya Takumi. Dia dan Daisuke sedang menikmati sore hari di belakang rumah.


" Menantu mu itu menyenangkan diajak beraktifitas." jawab Daisuke seadanya.


" Kenapa wajahnya muram begitu kalau menyenangkan? " goda Takumi.


" Melihatnya membuatku berandai-andai, jika saja Hinata bisa seperi Bulan, dan aku bisa seperti Hoshi, bisakah sekarang kami menikmati masa tua bersama. " gumam Daisuke.


" Chichi....... "

__ADS_1


Takumi bisa merasakan bagaimana sedihnya sang ayah saat ini. Dulu, Daisuke sampai mengurung diri di dalam kamar selama satu bulan karena Hinata bunuh diri. Takumi adalah saksi hidup bagaimana penderitaan sang ayah saat itu. Tidak ada yang mampu Takumi lakukan untuk bisa menghibur sang ayah. Dan karena inilah, di usia Takumi yang masih sangat muda, dia menjadi wakil CEO untuk menggantikan ayahnya mengurus perusahaan.


Dari dalam rumah, Fuyami mendengarkan pembicaraan antara anak dan ayah itu. Fuyami juga ikut sedih melihat bagaimana ayah mertuanya kembali bersedih mengingat kejadian puluhan tahun yang lalu. Saat itu, Fuyami baru menjalin hubungan dengan Takumi karena Fuyami merupakan mahasiswi junior Takumi di kampus. Fuyami yang menyukai kimono, akhirnya mengambil kuliah designer di Universitas terbaik di Tokyo.


Fuyami ingat saat itu, kakak seniornya itu mampu menggetarkan hatinya hingga Fuyami jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Takumi. Namun beberapa hati setelah itu, Fuyami melihat seniornya itu bersedih hingga matanya bengkak karena banyak menangis. Setelah itu, Fuyami tidak lagi berjumpa dengan seniornya itu di kampus.


" Sedang membicarakan apa? Kalian terlihat sangat serius." tanya Fuyami ikut bergabung.Kedatangannya sedikit mengalihkan kesedihan Daisuke dan Takumi.


" Kami sedang membicarakan pagi chichi dengan menantu kita, sayang." jawab Takumi dengan tersenyum. Sebisa mungkin dia tidak ingin istrinya ini tahu kesedihannya.


" Lalu bagaimana? Apa chichi cocok berbincang dengan Bulan?" tanya Fuyami semangat.


" Tentu saja. Hoshi-kun saja cocok dengan Bulan, berarti chichi pasti cocok. Kan Hoshi-kun dan chichi sifatnya sama." jawab Takumi sedikit mengejek sang ayah.


" Kenapa harus iri, tidak ada yang bisa membuat ku iri. Chichi tahu itu." elak Takumi.


" Lihatlah, istri mu menertawakan mu." Daisuke menunjuk ke arah menantunya dengan dagunya. Memang sejak pembahasan tentang suaminya yang iri dengan sang ayah lantaran putranya itu lebih mirip dengan kakek dibanding ayahnya, Fuyami sudah berusaha menahan tawanya. Tapi pecah juga mendengar jawaban suaminya yang penuh kebohongan itu.


" Kau itu berada di pihak siapa sayang?" tanya Taku,i, matanya memicing tajam menatap sang istri.


" Tentu saja aku berada di pihak..... putra kita." ujar Fuyami langsung ngibrit masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Daisuke tertawa melihat tingkah putra dan menantunya itu. Sejak pertama kali Takumi membawa Fuyami ke rumah dan memperkenalkan pada Daisuke bahwa Fuyami adalah calonnya, Daisuke melihat tingkah meraka berdua tidak ada yang berubah. Tetap penh dengan cinta dan sayang. Belum lagi fuyami itu pandai sekali mencairkan suasana dan membuat orang tertawa dengan tingkahnya. Beruntung Bulan mendapatkan ibu mertua sebaik Fuyami.


Malam tiba, semua anggota keluarga Narita yang ada di Kyoto berkumpul untuk makan malam bersama. Bulan dan Bintang juga ikut bergabung karena memang mereka berdua sudah sangat lapar saat ini. Bintang mengambilkan makan untuk Bulan, meski itu sebenarnya merupakan tugas dari Bulan, tapi Bintang tetap melakukan itu dengan senang hati. Selama ini Bulan selalu melayaninya dengan sangat baik, sekarang gantian dia yang merawat sang istri.


" Apa segini sudah cukup? tanya Bintang pada Bulan dengan memperlihatkan piring makan yang sudah berisi nasi dan lauk.


" Sudah, jangan banyak-banyak. Nanti kalau tidak habis itu namanya mubajir." ujar Buan Kedua tangannya menerima piring yang ulurkan leh Bintang.


" Terima kasih.' ucap Bulan.


" Sama-sama sayang ku." balas Bintang.


Takumi, Fuyami dan Daisuke merotasikan kedua mata mereka jengah. Anak dan cucu laki-laki merka ini semakin hari semakin parah bucinnya. Bukan mereka bertiga terganggu, tapi Bintang ini tidak pernah bersikap seperti ini selama tinggal di kediaman Narita. Daripada terganggu mereka lebih kurang terbiasa dalam melihat Bintang bucin pada Bulan.


" Lihat itu cucu chichi, sangat mirip dengan chichi." sarkas Takumi mengolok sang ayah.


" Cih, aku tidak seperti itu. Jika masalah ini dia lebih mirip dengan mu. Coba kau berkaca saat bersama Fuyami, kau dan putra mu mirip." balas Daisuke tidak mau kalah.


" Kenapa jadi mirip aku sih. Kan kata chichi, itu si Hoshi-kun mirip sama chichi. Berarti bucinnya sama lah." elak Takumi.


" Sekali lagi aku sarankan, kau bercermin lah.!!" ujar Daisuke yang langsung bisa membungkam mulut putranya itu. Fuyami yang ada di sebelah Takumi secara tidak langsung bisa mendengarkan perdebatan suami dan mertuanya itu, hanya bisa tertawa dalam hati.

__ADS_1


Fuyami bahagia, momen seperti saat ini sangat dia impikan sejak Bintang pindah ke Indonesia. Dia bisa berkumpul bersama keluarganya, adalah mimpinya sejak saat itu.Meski bagi orang lain hal itu tidak lah sulit, tapi bagi Fuyami itu sangat sulit. Apalagi dulu putranya terlibat masalah dengan kelompok mafia. Namun kini, jika boleh dia ingin selamanya bisa dalam suasana keluarga seperti ini.


__ADS_2