BULAN UNTUK BINTANG

BULAN UNTUK BINTANG
bab 79


__ADS_3

Bintang menggeliat dari tidur nyenyak nya, bukan suara butung berkicau yang didengarnya tapi suara beo ibu-ibu kompleks bersorak riang saat melihat penyembelihan dua sapi untuk acara nanti malam. Bintang mengucek kedua matanya agar tidak lagi lengket seperti kena lem. Sejujurnya saja dia masih mengantuk karena semalam dia bekerja sampai jam dua dini hari, sekarang baru jam tujuh pagi, Bintang hanya tidur selama lima jam saja.


Dia bergegas turun dari ranjangnya menuju ke kamar mandi yang sudah ada di dalam kamar milik istrinya dulu saat masih gadis. Kalau sekarang sudah jangan ditanya statusnya, sudah bukan seorang gadis tapi momcan ( mommy cantik).


" Shujin, bajunya aku letakin di atas ranjang ya. " teriak Bulan dari depan pintu kamar mandi. Dia bangun lebih awal dan membantu di bawah membuat sarapan bersama karena pukul lima pagi tadi keluarga Han dan keluarga Narita datang. Hanya Daisuke yang absen karena kondisi kesehatannya kurang fit. Dia hanya mengirim pesan saja juga hadiah..


" Iya... " teriak Bintang dari dalam kamar mandi.


Bulan pun kembali turun untuk membantu para pengasuh triplet untuk menyuapi si kembar sarapan mereka. Bulan bikin bubur ayam untuk triplet dan juga suaminya. Berbeda dari yang lain yang makan croissant isi daging dan sayuran.


Bulan membantu menyuapi Daigo jadi pengasuhnya bisa makan. Kemudian berlanjut seperti itu bergantian agar tidak ada yang telat makan. Bulan tak ingin pengasuhnya sakit karena dia pasti akan kerepotan mengurus triplet.


" Wah... Wah... Hoshi kenapa kamu paling lambat turunnya. " tegur Yumiko bibi keduanya.


" Masih ngantuk aku imo, semalam tidur jam dua. " jawab Bintang yang masih terlihat malas. Dia mengambil duduk di samping sang istri.


" Anak-anak kami aja sampai sudah selesai makan, kamu baru turun. Sudah mandi belum? " Yumiko menggoda keponakannya itu.


" Sudah ganteng gini masih ditanya mandi belum. Imo gimana sih. " Bintang pura-pura ngambek.


Acara sarapan bagi yang belum itupun berlanjut. Setelah kenyang makan, Bintang dan Bulan berjalan keluar melihat orang-orang menyembelih sapi. Di sana sudah ada Yanuar dan ayah Febri yang membantu bapak-bapak komplek juga tiga penjaga yang biasa menyembelih hewan untuk kurban.


Yanuar menatap sengit ke arah Bintang, enak sekali adik iparnya itu tidak ikut membantu menyembelih sapi malah matahari meninggi baru bangun. Ingin sekali Yanuar melempar kotoran sapi ke arah Bintang biar mandi lagi.


" Ish, enak banget itu orang kerjaannya cuma lihat-lihat doang bantu kagak. " gerutu Yanuar.

__ADS_1


" Kamu itu kenapa sih bang? " tanya ayah Febri yang mulai jengah mendengar anak sulungnya itu terus menggerutu tak jelas siapa yang jadi bahan gerutunya.


" Kesel aja ayah. Itu mantu ayah satu kok nggak bantu malah udah ganteng aja. Coba lihat aku? Buku-buku mandi, kencing aja belom. " Yanuar akhirnya menggeluarkan unek-unek nya.


" Kamu nggak boleh gitu dong, ini kan acara anak kamu, cucu ayah wajar lah kita turun tangan. " ayah Febri mencoba menjelaskan pada Yanuar.


" Kan keponakan dia juga ayah. "


" Ssssttttttt. Nggak usah begitu. Kamu nggak ikhlas nih bikin acara buat Moiz. "


" Ikhlas lah ayah, kan Moiz putra aku yah. "


" Nah itu tahu... " cep... Yanuar langsung bungkam.


Dari pintu rumah kediaman Narendra, Bintang bisa melihat bahwa kakak iparnya itu sedang misuh-misuh karena Bintang tak membantu sama sekali. Tujuan Bintang tak membantu adalah agar Yanuar itu tahu rasanya tidak dibantu orang terdekat kita itu bagaimana. Bintang saja sampai kesal tapi cuma bisa diam saat Yanuar berkali-kali belum juga mengambil alih kepemimpinan di HN group.


" Rasain, emang enak nggak dibantu. " Bintang cekikikan dalam hati.


" Ih... banyak gitu yang bantu nyembelih. " ujar Bintang.


" Iya. Habis sapinya segede gitu. Harga berapa sayang? " tanya Bulan.


" Ada dech... Masih terjangkau kantong aku sayang. " jawab Bintang yang memang tidak ingin dikira sombong saat orang tahu harga sapi itu.


" Berapa? Ngomong nggak... " ancem Bulan. Jika sudah begini mau tak mau Bintang harus mengajarkan yang sebenarnya atau kalau tidak dia akan kena sangsi tidak bisa mendapatkan nikmat dunia lagi

__ADS_1


" Satunya seratus sepuluh juta sayang. Itu dua sapi memang jenis sapi yang besar bisa sampai ton-tonan. Sengaja pilih itu biar puas aja ntar yang menikmati hidangan sapinya. " jawab Bintang.


Bintang memilih sapi dengan jenis yang memang bisa beratnya mencapai ton. Apa sih yang nggak buat Moiz, keponakan pertamanya. Tapi Bintang diam-diam jika ditanya soal harga, takut dikira sombong. Dia hanya akan menjawab harga masih bisa diajak kompromi padahal nawar aja nggak boleh sama yang jual.


" Hoshi oppa... " panggil So Hee.


" Ada apa? " tanya Bintang saat So Hee berjalan mendekatinya dengan mimik wajah yang terlihat serius.


" Itu, Lee Ryeon ssi ingin bicara empat mata sama oppa. " jawab So Hee.


" Oke... Yomesan, aku tinggal dulu ya. " pamit Bintang lalu mengikuti So Hee ke ruang keluarga.


Bulan yang ditinggal suaminya ke dalam memilih untuk mengantarkan minuman kepada para bapak-bapak yang sudah berjuang mati-matian untuk bisa menahan sapinya agar tak marah atau memberontak saat akan disembelih. Kasian juga pasti mereka semua pada kelelahan.


Es sirup dengan bermacam rasa Bulan dan So Hee antarkan ke tempat para bapak-bapak itu berkumpul. Kedatangan kedua bidadari keluarga Narendra itu disambut baik oleh bapak-bapak, tapi bukan mereka yang dinantikan, melainkan minuman segar yang kedua bidadari itu bawakan.


" Makasih ya sayang. " Yanuar menerima gelas berisi es sirup yang So Hee berikan padanya. So Hee tersenyum manis sekali senyum yang telah mengubah hati Yanuar yang tadinya beku menjadi mencair.


Yanuar dulunya pernah mengalami rasa sakit yang begitu mendalam karena gadis yang dicintainya justru meninggalkannya dan memilih bersama sahabat baiknya. Hidup Yanuar hancur karena itu, sampai dia menodai So Hee hingga gadis yang merupakan sepupu adik iparnya itu sampai hamil.


Awal hanya menikah karena tanggung jawab, pada akhirnya berujung menjadi cinta.


So Hee yang lembut dengan tutur kata yang sopan. So Hee yang selalu melayaninya dengan tulus dan So Hee yang tidak pernah sedikitpun menuntut Yanuar untuk bisa mencintainya, pada akhirnya justru membuat kakak Bulan itu bertekuk lutut di hadapan So Hee.


Cintu datang tanpa pernah di sadari oleh orang tersebut. Sebelum menyesal, mulailah belajar menghargai orang yang mencintaimu.

__ADS_1


__ADS_2