BULAN UNTUK BINTANG

BULAN UNTUK BINTANG
bab 105


__ADS_3

Suasana di ruangan operasi Bulan, masih dipenuhi dengan tangisan dan keheningan. Tidak ada satupun yang berkata semua memanjatkan doa mereka dalam hati. Lidah mereka terlalu kelu hanya untuk sekedar mengucapkan satu kata. Bunda Dessy masih dalam pelukan ayah Febri menangis dalam diamnya, begitu pula dengan Fuyami. Tidak pernah dia bayangkan bahwa putranya akan berada dalam situasi seperti ini.


Bintang keluar dari ruangan itu setelah lima belas menit berada di dalam. Bulan sudah tidak drop lagi, dan operasi pun kembali dilanjutkan. Tubuh Bintang merosot di dinding tak jauh dari pintu ruangan operasi. Tangisannya pecah, bahkan isakannya sampai terdengar dari ujung koridor. Ketika matanya melihat bagaimana kondisi dari wanita yang dia cintai, hatinya serasa dihujam ribuan pisau yang tak terlihat. Sakit, sangat amat sakit malah, tapi dia tidak bisa melakukan apapun untuk meringankan rasa sakit itu.


Satu jam berlalu, dua jam, tiga jam, dan tepat empat jam, pintu ruangan operasi itu terbuka. Muncul dari sana tiga orang dokter yang bersiap menemui keluarga pasien untuk menyampaikan kabar terkini dari pasien. Bintang dibantu oleh Deril, berdiri mendekati dokter yang menangani Bulan.


" Bagaimana dok keadaan pasien? " Derik yang bertanya mewakili adik sepupunya itu.


" Operasi berjalan dengan lancar, pasien juga sudah melewati masa krisis nya, hanya perlu dilakukan observasi selama 24 jam untuk melihat kondisi pasien pasca operasi. " ujar dokter tersebut menjelaskan mengenai kondisi pasien.


" Maaf, bisakah suami pasien ikut saya ke ruangan saya. Ada beberapa hal mengenai pasien yang harus saya sampaikan. " pinta dokter yang menangani Bulan, dan langsung diikuti Bintang dari belakang, masih dibantu oleh Deril untuk berjalan.


Sesampainya di ruangan dokter, Deril meninggalkan Bintang di sana sendirian. Dia lebih memilih menunggu di depan ruangan. Mungkin ada satu atau dua kondisi pasien yang tidak bisa dokter jelaskan di depan ruang operasi tadi, sehingga penjelasan harus dilakukan di ruangan dokter tersebut.


Bintang duduk dalam diam, hanya kedua matanya saja yang terus menatap setiap gerak gerik dokter di hadapannya. Dokter yang bernama Budi itu memperlihatkan hasil X-Ray pada tulang belakang Bulan dan beberapa tulang lainnya. Bintang sudah tahu pasti akan seperti ini karena dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kerasnya Bulan membentur jalanan aspal saat kejadian.


" Tuan..... "


" Hoshi, dok. " jawab Bintang memperkenalkan namanya.

__ADS_1


" Baik tuan Hoshi, sebelum saya ingin mengatakan beberapa kondisi terkini dari pasien. Saya harap. anda bisa menerima ini dengan baik. " ujar dokter itu. Jantung Bintang berdetak sangat kencang mendengar ucapan dokter Budi. Dalam ucapannya itu tersirat bahwa Bulan sepertinya tengah memiliki masalah yang serius dengan kondisinya saat ini.


" Saya akan jelaskan pada anda mengenai tulang lengan sebelah kanan dari pasien, terdapat retakan yang cukup parah sehingga kami harus memasang gips di bagian lengan kanan. Dan untuk lengan kiri di bagian tulang pergelangan tangan, saya bisa katakan tulang tersebut patah, karena dipakai sebagai tumpuan oleh pasien saat terjatuh. " dokter Budi menjeda sejenak penjelasannya.


" Apa tulang pergelangan kirinya bisa sembuh total dok? " tanya Bintang.


" Bisa tuan, namun proses penyembuhan nya cukup panjang dan harus sering kontrol. Dan ini adalah kondisi yang sangat serius di derita oleh pasien. " dokter tadi memperlihatkan foto tulang belakang Bulan.


" Tuan, pasien mengalami apa yang disebut dengan spinal cord injury atau anda dapat menyebutnya cidera pada sumsum tulang belakang. Dan bagian yang mengalami cedera pada sumsum tulang belakang pasien adalah pada bagian bawah sumsum tulang belakang sehingga mengakibatkan kelumpuhan permanen pada kedua kaki pasien. "


Duarrrrrrr


Bintang keluar dari ruangan dokter Budi dengan segala kekalutan yang dia rasa. Bagaimana harus mengatakan kepada keluarga terlebih pada Bulan tentang kondisinya. Hancur sudah hati Bintang hari ini, melihat istrinya mengalami semua ini, kehilangan calon anaknya, dan sekarang sang istri divonis lumpuh permanen. Dosa apa yang dia perbuat selama ini hingga istrinya lah yang harus menanggung semuanya. Bintang tak habis pikir dengan hidupnya saat ini.


Sesampainya di depan ruang ICU yang di dalamnya ada Bulan terbaring lemah dengan wajah yang masih sangat pucat. Bintang menatap nanar kondisi sang istri saat ini. Kembali ingatannya berputar pada setiap kata yang diucapkan dokter Budi tadi.


" Pasien harus menjalani rehabilitasi dan serangkaian pengobatan untuk mencegah kondisi pasien saat ini semakin parah. Berharap tidak akan ada komplikasi baru yang diderita oleh pasien, karena itu kami menyarankan perawatan pada pasien secara intensif jangka panjang. "


" Apa istri saya bisa kembali berjalan seperti sedia kala dok? "

__ADS_1


" Akan sangat sulit tuan pasien dengan cedera sumsum tulang belakang yang bisa sembuh total. Presentase nya sangat kecil pengobatan dilakukan hanya untuk mencegah semakin parah nya kondisi cedera itu hingga mengakibatkan banyaknya kondisi baru salah satunya kehilangan kendali kandung kemih dan usus serta banyak lagi tuan. "


Air mata Bintang kembali mengucur sangat deras, seperti hujan badai yang akan lama untuk terangnya. Kesedihannya semakin bertambah-tambah, seperti tidak ingin berkurang hari ini. Helaan nafas frustasi terus dia keluarkan, dan hal itu cukup menarik perhatian keluarga yang lain.


Fuyami dan Takumi mendekati putra tunggal mereka, putra yang mereka tahu pasti akan hancur saat ini karena belahan hatinya, penguasa hidup dan jiwanya telah mengalami segala kesakitan hari ini. Takumi dan Fuyami memeluk tubuh putra mereka yang sudah lemah tidak memiliki daya. Bintang langsung menangis, meraung dalam pelukan kedua orang tuanya. Ingin dia melepaskan segala sesak di dadanya, namun hasilnya masih sama, dadanya sesak karena begitu banyak penyesalan dan kesedihan bercampur menjadi satu.


" Hoshi, gimana keadaan cucu menantu? " tanya ojiichan.


" Ojiichan...... Ojiichan....... Hoshi nggak kuat lagi. Sakit.... Sakit sekali di sini.. " ujar Bintang memukuli dadanya dengan sangat kuat.


" Jangan seperti ini nak, okaasan tidak bisa melihat kamu seperti ini. " ujar Fuyami menangis memeluk tubuh putranya.


Melihat interaksi Bintang dan keluarganya, kedua orang tua Bulan langsung lemah. Bahkan bunda Dessy hampir kehilangan kesadarannya. Beruntung ayah Febri selalu berada di sampingnya menguatkan. Keduanya mendekat ke arah menanti mereka.


" Nak, katakan bagaimana kondisi Bulan saat ini dengan jujur. Bunda mohon yang nak. " pinta Bunda Dessy langsung mengusap lengan menantunya itu.


" Bulan..... Bulan.... Bulan lumpuh bunda.... Dokter tadi bilang, Bulan lumpuh permanen Bunda, aku harus bagaimana..... " Bintang meraung sekali lagi.... Dadanya begitu sesak saat uji. Ingin dia saja yang menggantikan namun tidak bisa.


Semua anggota keluarga menangis bersamaan mendengar kondisi dari anggota keluarga mereka. Lumpuh permanen, adalah kondisi yang menjatuhkan mental penderitanya. Jika tidak sanggup, tidak sedikit yang akhirnya memilih untuk bunuh diri. Bagaimana Bulan akan menyikapi takdirnya?

__ADS_1


__ADS_2