
Pagi ini Bulan sudah bisa menikmati matahari pagi dan juga udara yang begitu segar yang menjadi ciri khas dari kediaman Narita di Kyoto. Kediaman dengan luas lebih dari 4 hektar itu, memiliki banyak taman dengan pepohonan yang rindang, terdapat juga sebuah danau buatan juga terdapat beberapa kebun sayur dan buah-buahan. Kediaman yang begitu indah mirip dengan definisi surga.
Bulan disambut meriah oleh Daisuke dan kedua orang tua Bintang saat tiba kemarin. Mereka langsung mengadakan pesta kecil-kecilan, hanya untuk keluarga saja demi untuk menyambut Bulan. Mereka berusaha sebisa mungkin untuk membuat suasana Bulan damai dan tentram di rumah ini. Demi kesehatan Bulan dan juga terapi yang kini akan segera dijalaninya.
Bulan terduduk di taman yang ditumbuhi berbagai jenis bunga. Sangat cantik sekali karena banyak bunga yang bermekaran dengan berbagai macam warna dan bentuk. Mata Bulan termanjakan dengan keindahan yang selalu bisa disajikan oleh kediaman Narita. Dengan ditemani secangkir teh hangat, Bulan menikmati paginya dengan baik.
Bulan hanya bersama dengan Daisuke di rumah itu, karena Bintang mulai aktif di perusahaan bersama dengan Takumi. Sedangkan Fuyami memiliki kegiatan di yayasan milik keluarga Narita yang dia kelola. Fuyami sudah mengajak Bulan untuk ikut dengannya, namun dengan halus Bulan menolak ajakan dari mertuanya itu. Bukan apa, dia masih belum berani berhadapan dengan banyak orang dengan kondisinya yang sekarang ini.
" Apa kau suka, nak? " tanya Daisuke. Dia berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia, karena tahu cucu menantunya ini belum fasih berbahasa Jepang.
" Iya, ini sangat indah. Ojiichan mau menemani ku untuk menikmati pagi yang indah ini? " tawar Bulan. Dan Daisuke mengangguk sebagai bentuk kesediaannya menikmati pagi ini bersama dengan cucu menantunya.
" Apa yang biasa anda lakukan di pagi hari seperti saat ini? "Bulan bertanya untuk mencairkan suasana yang sedikit canggung diantara mereka berdua.
" Banyak yang biasanya aku kerjakan di pagi hari, Salah satunya merawat kebun peninggalan me siang istri ku. Kau sudah pernah melihatnya kan? " jawab Daisuke. Dia memang lebih banyak mengurus taman di bandingkan kegiatan lainnya di pagi hari. Baginya waktu yang tepat untuk merawat tamannya adalah ketika pagi hari.
" Apa anda hanya sendirian merawat kebun itu? " tanya Bulan sedikit terkejut. Kakek dari suaminya ini sudah memiliki usia hampir kepala tujuh. Bukankah begitu melelahkan jika sendirian merawat kebun sebesar itu.
__ADS_1
" Tentu saja tidak nak, bisa kelelahan aku merawat kebun itu semuanya. Aku sudah tua. " Daisuke tertawa renyah kalau mengucapkan beberapa kata di akhir kalimat.
" Tapi anda terlihat masih sangat sehat, ojiichan. " puji Bulan.
" Kau bisa saja. " Daisuke tersenyum.
Menjadi tugasnya saat ini untuk bisa menaikan mood dari Bulan. Karena dengan mood yang bagus maka terapi yang menjadi rutinitas Bulan di sini nantinya bisa berjalan lancar. Ada yang mengatakan bahwa kesembuhan pasien bisa bergantung dari suasana hatinya. Karena itu, Bintang meminta pada Daisuke, yang dia ketahui dulu sekali pernah mengalami apa yang dialami Bintang.
Melihat bagaimana Bulan menanggapi apa yang berusaha dia bicarakan, membuat Daisuke senang karena cucu menantunya ini bisa menerima dirinya. Keduanya hanya pernah beberapa kali bertemu, jadi hubungan keduanya juga masih ada canggung nya juga kesulitan mencari topik pembicaraan.
" Nak, jujur aku ini sangat terkejut tapi juga dipenuhi syukur saat melihat mu mampu menerima takdir yang memang terasa tidak adil ini pada mu. Luka yang ada di bagian fisik adalah luka yang nampak dan tentu mudah dalam pengobatannya, namun luka yang ada di hati tidak akan ada yang tahu sedalam apa dan sesakit apa sampai orang tersebut mengalaminya. " ujar Daisuke.
Meski Bulan belum tahu kemana arahnya pembicaraan ini, namun Bulan begitu yakin akan kesedihan yang saat ini sedang ditampilkan oleh Daisuke. Kesedihan yang benar-benar murni kesedihan, tiada senyuman meski itu miris, dan dihiasi air mata.
Daisuke sejenak meminum teh hangat yang ada di meja di samping tempat duduknya. Matanya masih menatap ke depan, seakan dia sedang melihat sebuah drama tentang kehidupannya di masa yang lalu.
" Apa cucuku pernah bercerita pada mu tentang neneknya dari pihak ayahnya? " tanya Daisuke. Tatapan nya masih tertuju ke depan.
__ADS_1
" Saya hanya tahu bahwa beliau sudah meninggalkan dunia. Untuk detailnya, saya kurang tahu. " jawab Bulan jujur.
" Istri ku dulunya adalah seorang model, dia begitu cantik dengan tubuh yang sangat sempurna. Semua mata pria yang memandangnya, tidak ada satu pun yang bisa tidak menatapnya, semuanya pasti menatap wanita cantik banget anggun itu. " jeda Daisuke.
" Kesalahan terbesar dalam hidup ku, kesalahan yang menghancurkan kehidupan dari wanita yang aku cintai terjadi ketika kami sudah memiliki Takumi putra Kami. Aku mendadak harus pergi ke luar kota dan menyerahkan urusan perusahaan di sini pada nya. Hingga dia harus bertemu kawan baik ku, hingga terjadilah peristiwa awal yang menghancurkan semua yang ada pada istri ku. " Daisuke terdiam, tenggorokannya terasa tercekat untuk melanjutkan ceritanya. Cerita yang bahkan putranya sendiri tidak tahu. Hanya dia dan juga istrinya saja yang tahu.
" Apa yang terjadi, ojiichan? Apa anda baik-baik saja? Jika tidak kuat, anda tidak perlu melanjutkannya.. " Bulan sedikit cemas, pasalnya Daisuke terus terdiam dengan linangan air mata yang terus berjatuhan.
" Tidak apa-apa Nak, ini bisa kau jadikan gambaran hidup untuk mu ke depannya. "
" Istri ku dilecehkan dan diperkosa berkali-kali oleh sahabat baik ku saat itu. Ketika aku tiba di tempat kejadian, aku menemukan istri ku dalam kondisi sangat memprihatinkan. Tubuhnya tidak mengenakan sehelai benang pun, dia meringkuk di lantai dengan banyaknya bekas cairan dari pria bre***** itu. Aku langsung membawa istri ku ke rumah sakit, dan vonis dokter pada istri ku adalah, gangguan kejiwaan karena trauma berat hingga istri ku harus masuk rumah sakit jiwa. "
degh... degh... degh....
Jantung Bulan berdegup kencang, sungguh dia tidak menyangka bahwa ada cerita sepilu ini di keluarga dari suaminya. Keluarga yang nampak terhormat dan begitu saling menyayangi dan juga terlihat sangat bahagia. Namun dibalik itu semuanya, ada peristiwa yang begitu menghancurkan hati mereka semuanya.
" Istri ku di rawat selama satu tahun di rumah sakit jiwa, hingga dia membaik dan aku membawanya ke kediaman ini. Kediaman yang khusus aku buat untuk menjadi tempat penghiburan untuknya yang sedang dalam duka yang mendalam. "
__ADS_1
" Aku pikir, semuanya sudah membaik. Istriku sembuh dan kami bisa menjadi keluarga bahagia lagi, hingga enam bulan kemudian, istri ku bunuh diri dengan menggantung dirinya di paviliun utama. Tempat yang sekarang aku pergunakan sebagai makan untuknya. "