
Beberapa hari setelah judul skripsi Bulan disetujui oleh dosen pembimbing nya, Hari-hari Bulan diwarnai dengan buku, buku dan buku. Dia tengah membuat skripsi, dengan mengembangkan judul yang sudah diberikan oleh suaminya. Bulan juga mendapat arahan dari suaminya, agar apa yang dikerjakan oleh Bukan tidak melenceng jauh dari judul.
Bulan sungguh ingin segera menyelesaikan skripsi nya ini. Jika beruntung maka dia bisa diwisuda bersama dengan teman-temannya bulan depan. Karena itu Bulan begitu semangat untuk bisa segera menyelesaikan skripsinya.
" Yomesan... " teriak Bintang dari kamar mereka.
" Ya.. " Bulan segera menghampiri suaminya.
" Ada apa sayang? " tanya Bulan. Kedua tangannya terangkat membantu suaminya mengancingkan kemeja suaminya.
" Aku harus ke luar kota selama lima hari. Apa kau tidak masalah aku tinggal? " tanya Bintang, nampak dari raut wajahnya dia sangat mengkhawatirkan istrinya.
" Kamu nggak usah khawatir sayang, nanti aku suruh pengasuhnya triplet buat nginep. Lagian kan ada mbok Warni dan Tutik, kamu tenang aja fokus sama kerjaan kamu ya. "
" Beneran? " tanya Bintang memastikan.
" Ehm... "
Keduanya keluar dari kamar pribadi mereka menuju ke bawah. Malam ini Bintang akan langsung berangkat ke luar kota karena meeting besok di jam pagi. Agar tak terlambat dia memilih pergi malam ini.
Sesampainya di depan pintu rumah mereka, nampak Ryo berdiri lalu membungkukkan badannya memberi hormat. Malam ini Bintang akan ditemani Ryo selama perjalanan bisnisnya.
" Selamat malam tuan dan nyonya. " sapa Ryo.
" Malam Ryo. Aku minta tolong ya, perhatikan makan suamiku. Jangan sampai telat dan pastikan bahwa dia tidak akan jelalatan melihat cewek lain. " Bulan berpesan pada asisten pribadi suaminya itu.
" Jangan khawatir nyonya. " ujar Ryo.
" Jangan khawatir ya, nanti aku pakai kata-kata kuda biar nggak jelalatan. " ujar Bintang lalu berpamitan. Mencium kening istrinya lalu, mengecup sebentar bibir merah cherry milik sangat istri.
Bulan melambaikan tangannya sampai mobil yang dikendarai oleh Ryo dengan suaminya tak terlihat lagi. Bulan kemudian masuk ke rumah untuk melihat ketiga putranya sebelum dirinya tidur. Rencananya dia akan tidur di kamar anaknya agar ketika triplet terbangun dan menangis Bulan langsung mendengarnya.
__ADS_1
Keesokan harinya Bulan tengah menyibukkan dirinya bersama mbok Warni membuat sarapan untuk mereka dan juga triplet. Menu sarapan triplet pagi ini adalah pure kentang dengan buah apel sebagai pendampingnya.
" Pagi nyonya, maaf kami bertiga terlambat. Tadi kami bersiap dulu untuk menginap di sini selama lima hati ke depan nyonya. " ujar Susi.
" Nggak apa- apa Sus. Itu triplet lagi sama Tutik di ruang keluarga. " Bulan tersenyum.
Ketiga pengasuh triplet selalu merasa beruntung karena mendapatkan majikan yang baik seperti Bulan dan Bintang. Setiap bulan mereka selalu mendapatkan bonus, belum lagi majikan mereka selalu menjatah mereka bertiga sembako untuk keluarga di kampung satu bulan sekali.
Bulan dan Bintang juga tidak pernah memarahi mereka bertiga jika ada kesalahan saat merawat triplet. Bagi Susi, Ella dan juga Lia bisa menjadi pengasuh triplet adalah sebuah keberuntungan.
" Padi aden ganteng-ganteng. " sapa Susi langsung duduk di depan Ryuzaki anak asuhnya. Triplet tersenyum.
" Mbak Tutik kalau mau berangkat kerja tripletnya ditinggal aja biar sama saya. Sebentar lagi itu Ella sama Lia juga selesai beberes di kamar. " ujar Sisi.
" Makasih ya Sus. Kalau gitu saya kerja dulu, takut nanti telat. "
Tutik pun berjalan ke dapur untuk mengambil bekalnya lalu segera berangkat kerja. Dia menggunakan motor bebek sebagai alat transportasinya. Tutik kerja sebagai pelayan di cafe coffee dekat dengan kampusnya dulu.
Sudah selesai dengan makan paginya, Bulan kembali masuk ke ruang belajarnya untuk melanjutkan skripsi miliknya. Bintang sudah memberinya catatan kerangka skripsi Bulan. Bintang juga sudah menghubungi bagian humas untuk bisa Bulan wawancara untuk skripsi nya.
Bukankah punya suami CEO sekaligus pemilik perusahaan harus bisa dimanfaatkan kalau kebetulan tugas Bulan berhubungan dengan mekanisme perusahaan.
" Musti semangat, cepat selesai cepat balik ke Kyoto. " ujar Bulan menyemangati dirinya sendiri.
Hari-hari lentik Bulan mulai menari di atas keyboard laptopnya. Kata demi kata mulai dia ketikan agar bisa merangkai sebuah kalimat yang sesuai dengan pengembangan judulnya.
Baru tiga puluh menit Bulan mengerjakan skripsinya, ponsel miliknya berbunyi. Ternyata itu adalah pesan dari So Hyang. So Hyang mengabari bahwa dia minggu lagi pernikahannya dengan Lee Ryeon akan digelar di Seoul. Dan sepupu suaminya itu ingin bulan dan Bintang hadir di pesta pernikahannya.
* Bulan
Jangan khawatir, kami akan datang ke sana. Apakah ada yang kamu butuhkan? Aku akan menyediakannya.
__ADS_1
* So Hyang
Tidak perlu eonni, semuanya sudah disiapkan tinggal menunggu hari H.
* Bulan
Pengantin harus dipingit jadi jangan bertemu dulu ya, biar malam pertama nanti sukses. Jangan seperti aku dan So Hee malam pertama tidak seru. 😂😂😂😂
* So Hyang
Jangan khawatir, semuanya sudah diatur.
Setelah berbalas pesan dengan So Hyang, Bulan kembali disibukkan dengan skripsinya. Dia harus menyelesaikan untuk hari ini agar segera bisa bermain dengan anak-anak nya.
Tok... tok... tok...
" Nyonya, di bawah ada tamu. Katanya ada perlu dengan nyonya. " teriak Susi dari luar ruangan.
" Iya Sus, saya turun. " Bulan segera menutup laptopnya lalu bergegas turun.
Melihat di ruangan tamu tapi tamunya tidak ada, Bulan lalu berjalan ke dapur untuk bertanya pada mbok Warni. Tamu itu rupanya berada di teras, dia menolak untuk masuk dan memilih untuk menunggu di luar saja.
Seorang pria duduk di teras rumah seseorang yang entah mengapa membuatnya ingin bertemu. Satu minggu tidak bertemu membuat pria itu rindu ingin mengusili dan hanya sekedar untuk berdebat.
Menyesal teh hangat yang tadi dihidangkan oleh pekerja rumah tangga di rumah seseorang yang ingin ditemuinya itu sambil menunggu orang itu untuk keluar. Langit yang cerah seakan menambah kesan indah untuk pria itu.
Dia tak pernah merasakan hal ini sebelumnya, hanya belajar dan belajar yang selalu menemaninya. Tidak pernah dia jatuh cinta pada wanita atau sekedar dekat dengan wanita. Tapi saat pertama bertemu gadis itu, seluruh dunianya seakan berbalik dan hanya memusat pada gadis itu. Seorang gadis sederhana dengan sejuta saya tarik yang berhasil menarik hatinya untuk berlabuh pada gadisnya itu.
Pintu rumah itu nampak dibuka dari dalam. Munculah gadis yang dia kagumi itu, dengan pakaian santai rumahan justru membuat gadis itu beribu ribu kali lebih cantik.
" Kamu ngapain ada di rumah aku? "
__ADS_1