BULAN UNTUK BINTANG

BULAN UNTUK BINTANG
Bazar Kampus


__ADS_3

Hari yang ditunggu tunggu mahasiswa dan para dosen pun akhirnya tiba juga. Selama satu minggu mereka akan merayakan ulang tahun kampus dengan berbagai macam kegiatan. Dari lomba kesenian, lomba kreatif dan masih banyak lainnya.


Masing-masing kelas di setiap jurusan sudah sedari hari minggu kemarin mulai mempersiapkan semuanya. Meletakkan barang-barang yang menunjang perlengkapan yang diperlukan stan mereka.


Dalam kelas Bulan sudah terbagi jadwal jaga, karena ini hari senin maka tim pertama yang berjaga. Sedangkan yang lainnya hanya membantu ala kadarnya.


Bulan, Septi dan July berjalan berkeliling ke stan milik kelas lainnya. Mereka ingin melihat-lihat siapa tahu ada yang memang mereka suka.


Mereka bertiga berhenti sebentar di stan yang menjual bermacam aksesoris. Bulan, Septi dan July membeli beberapa ikat rambut, bros dan aksesoris lainnya.


" Eh itu senior Bintang. " July menunjuk ke tempat tak jauh dari mereka setelah meninggalkan stan aksesoris


Bulan dan Septi melihat ke arah yang ditunjuk oleh July. Dan benar saja Bintang dan beberapa panitia bazar sedang berkeliling.


Bintang tanpa sengaja melihat ke arah istrinya berada yang juga sedang memandangnya. Keduanya mengulas senyum sebelum pergi ke tujuan mereka masing-masing.




Bulan dan kedua temannya kembali berjalan menuju stan yang menjual makanan. Rasanya enak jika berjalan-jalan ditemani minuman dan cemilan.


Pilihan mereka berhenti di kedai yang menjual bermacam pilihan makanan. Bulan memilih nasi kuning sedang kedua temannya memilih nasi uduk. Ketiganya berjalan sebentar dan sampai di stan yang menjual es booba. Ketiganya memilih strawberry milk booba, sebagai minuman yang menemani hidangan yang sudah mereka beli tadi.


" Lan, elo sering ya main ke rumah senior yang kemarin kita ke sana pas lagi diskusi masalah stan.? " tanya Septi.


" Heem. " Bulan menjawab dengan deheman saja.


" Elo nggak takut dimarahi bokap lo atau keluarganya Bintang? " ganti July yang bertanya.


" Enggak kenapa musti marah, keluarga kita juga udah ketemu dan memang ini hubungan niatnya serius kok. " jawab Bulan setengah berbohong.


Septi dan July hanya mengangguk, keduanya juga yakin hubungan sahabatnya dan kekasihnya itu sudah serius, buktinya pergi pulang kampus selalu satu mobil.


Bulan memang tidak pernah berpacaran selama kuliah, dirinya fokus ingin cepat menyelesaikan kuliahnya dan bisa cepet kerja. Pengen punya uang hasil jerih payah sendiri tidak mengandalkan orang tua.


Tapi kejadian yang menimpa dia dan Bintang menjadikan rencananya itu sedikit berubah. Dia harus menikah walau kuliahnya belum selesai. Biarlah toh sekarang Bulan merasa sangat nyaman dalam hubungannya dengan Bintang.


" Tang, lo kenapa milih jadi panitia lapangan? Kan kerjaan kita jadi banyak. " protes salah satu anggota SEMA.

__ADS_1


" Gantian lah, lagian bentar lagi gue dah lengser dari posisi ketua SEMA, jadi pengen aja santai. " kelakar Bintang.


" Bohong, ngomong aja lo pengen punya waktu buat kencan sama cewek lo itu. " Seloroh Hydra. Hydra tahu alasan Bintang memilih jadi panitia lapangan dan menyerahkan semua urusannya pada Orion.


" Hahahahahaha... Tau aja lo. " seru Bintang sambil ngakak. Bintang memang pengennya seperti yang Hydra bilang, pengen punya banyak waktu sama istri cantiknya.


Hubungan mereka sudah banyak sekali kemajuan, mulai dari sangat nyambung bila ngobrol ditambah mereka berdua sudah mulai sering melakukan hubungan suami istri.


Bulan sudah menerima Bintang sebagai suami dan bagian dari hidupnya. Memang terbilang cepat keduanya saling bisa menerima. Tapi perhatian Bintang dan sikap sang suami yang lemah lembut dan ramah, membuat Bulan dengan cepat menerima Bintang.


Kembali ke trio wek-wek, Noura, Septi dan July. Ketiganya masih mengobrol sesekali membeli makanan dan minuman di stan yang dekat dengan mereka.


Ketiganya sedang asyik membicarakan gaun yang akan mereka pakai saat pesta dansa di akhir pekan nanti. Bulan juga penasaran kedua temannya itu berpasangan dengan siapa.


" Kalian malah mikirin baju, memangnga sudah ada pasangan? " tanya Bulan


" Sudah lah, emang lo doang yang boleh ada pasangan. " jawab Septi.


" Siapa? " Bulan semakin dibuat penasaran.


" Ada deh, ntar pas hari H lo juga bakal tahu. " ujar July yang sukses membuat Bulan mencebikkan bibirnya.


" Ngapain lo beli dress banyak-banyak kalau nggak ke pakai. " ujar July.


" Gue nggak beli, tapi dikasih. " sahut Bulan.


" Nggak papa kita pakai, ntar takut yang ngasih komplain lagi " goda Septi menaik turunkan alisnya. Septi tahu pasti Bintang yang membelikan Bulan dress. Karena tidak ada yang biasanya sampai membelikan baju banyak.


" Nggak papa dia paling juga udah lupa, soalnya banyak banget tahu. " kekeh Bulan.


Akan mubajir jika tidak dipakai, karena Bintang selalu membelikannya setiap ada pakaian limited edition yang ditawarkan.


Walk on closet khusus deretan bajunya pun sudah penuh tapi hanya sepersepuluh saja yang sudah dipakainya.


" Oke kita ke rumah elo nanti. " cetus July.


" Jangan nanti, gue ada janji sama Bintang. Gue bawain aja bajunya ke kalian setelah gue fotoin tuh baju gimana. " tawar Bulan. Meski sedikit mereka ada yang aneh tapi Septi dan July tetap mengiyakan.


Ketiganya pun kembali mengobrol membahas mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mereka jiga terkadang mengomentari orang yang lewat di depan mereka. Kurang kerjaan emang, tapi ketiganya nggak tahu musti ngapain.

__ADS_1


Pukul dua belas siang, matahari nampak semakin terik. Bulan dan keduanya temannya memilih untuk ke kelas saja. Pasalnya ke stan pun tetap saja kepanasan. Jadi kelas adalah pilihan terbaik.


Ketiganya berjalan di lorong menuju gedung B, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Bintang di tengah jalan.


" Sudah makan? " tanya Bintang.


" Udah. Daritadi makan terus akunya. " jawab Bulan. Bintang terkekeh mendengar jawaban istrinya.


Sudah seminggu ini nafsu makan Bulan lebih banyak dari biasanya. Saat biasanya dia makan satu mangkuk bakso saja sudah kenyang sekarang minimal dua mangkok baru kenyang.


" Nggak lapar lagi? Aku mau ke kantin beli rujak buah. " ajak Bintang.


" Emang ada di kantin yang jual rujak buah. Pengen" rengek Bulan.


" Ada tadi aku lihat stan dosen jual rujak buah. Yuk deh. " Bintang langsung menarik tangan Bulan.


Bulan sebelumnya sempat pamit ke kedua temannya, niat mau ngajak tapi ditolak. Nggak mau jadi obat nyamuk alasannya.


Bulan dan Bintang kini sudah berada di depan stan milik para dosen. Sudah terlihat beberapa buah yang masih segar dan sambal yang ditaruh di wadah.


Bintang menelan ludahnya, entah mengapa rasanya pengen banget makan rujak buah. Bulan pun juga sama, dari jauh dia memandang orang yang menyantap rujak buah sambil menelan ludahnya.


" Buk pesen rujak buah dua, pedes level maksimal ya. " tutur Bintang.


" Eh Bintang... Jangan pedes - pedes nanti sakit perut low. " ujar salah seorang dosen wanita.


" Nggak papa Buk, pengen yang seger dan pedes. " pinta Bintang.


" Kamu kayak orang lagi ngidam aja Bintang... Bintang... " goda dosen wanita itu.


" Ngidam, kan aku cowok Buk, masak bisa ngidam. " elak Bintang.


" Bisa Bintang, itu namanya kehamilan simpatik. Jadi istri yang hamil suami yang ngidam. " terang dosen itu


" Istri. " beo Bintang.


" Udah nggak usah pake dirahasiain. Semua dosen juga udah tahu hubungan kamu dengan Bulan. " sahut dosen tadi.


" Dosen aja semua udah tahu, sampai gue sama Bulan lulus masih bisa dirahasiain nggak ya.

__ADS_1


__ADS_2