
Sepuluh tahun telah berlalu. keluarga kecil Bulan dan Bintang masih terus dan selalu dipenuhi kebahagiaan. Triplet sendiri kini sudah berusia sebelas tahun, dan sudah duduk di sekolah dasar terbaik di Kyoto.Ketiganya memiliki pretasi yang gemilang, tidak hanya dalam pelajaran tapi juga ektra yang diadakan di sekolahan mereka. Mereka bertiga sungguh membuat orang tua mereka bangga dengan prestasi yang mereka raih.
Bulan dan Bintang serta ketiga putranya, kini tinggal di rumah mereka sendiri. Masih di dalam kawasan lahan kediaman Narita. Tapi tidak agi di kediaman utama. Di kediaman itu ditempati ayah dan ibu Bintang, sedangkan Daisuke meninggal lima tahun yang lalu karena faktor usia.
Siang ini, dengan dibantu oleh suster dan juga maid di rumah itu, Bulan membuat makan siang untuk putra dan suaminya. Mereka telah membuat janji akan makan siang di rumah, dengan Bulan yang memasak hidangannya. Belum juga masakannya masak, dari ruang tamu terdengar suara seorang anak laki-laki menangis. Bulan segera mendorong kursi rodanya sendiri untuk melihat suara tangisan siapa yang terdengar dari ruang tamu.
Mulut Bulan langsung terbuka karena terkejut melihat penampilan ketiga putranya. " Kalian ini kenapa? Dan kenapa Ryu menangis? Apa kalian bertiga bertengkar? " Bulan mendekat dan mencerca ketiga anaknya dengan banyak pertanyaan.
" Mereka bertengkar dengan kakak kelas mereka sayang. Aku juga ingin dengar apa alasan mereka sampai bertengkar? " Bintang yang menjawab. Saat sedang sibuk-sibuknya di kantor, Tiba-tiba saja dia mendapatkan telepon dari pihak sekolah Triplets. Menurut kepala sekolahnya tadi, triplet bertengkar dengan saling adu tonjok dengan kakak kelas mereka..
" Apa kalian ingin menjadi preman? Kenapa harus bertengkar? " Bulan bertanya dengan nada tinggi.
"Mom, hiks.. Jangan marah pada Dai. Hiks....tadi.. kakak kelas kami menghina....hiks kami memiliki mommy cacat...hiks....hiks..." Bulan dan Bintang tersentak mendengar penuturan Ryuzaki. Meski tidak terlalu jelas karena putra mereka itu bercerita sambil menangis, tapi secara garis besar Bulan dan Bintang paham dengan ucapan putra bungsu mereka.
Bulan langsung murung, selama sepuluh tahun dengan kondisinya saat ini, berkali-kali orang menghina anaknya karena kondisinya ini. Sedih dan marah jelas selalu dirasakan oleh Bulan. Dia menjadi seperti ini bukan karena sejak lahir, tapi demi menjaga martabatnya dan suami karena itu dia sampai lumpuh. Namun apa bisa dikata, dia tidak muncul ke permukaan saja sudah dihina orang apalagi jika dia tampil di masyarakat sebagai nyonya muda narita, akan seperti apa keluarga suaminya itu dihujat, Bulan tidak bisa membayangkannya.
Bintang seolah tahu dengan apa yang sedang istrinya itu pikirkan, dia mendekat dan berlutut di depan Bulan yang terduduk di kursi roda. Mengusap pipi dari istrinya yang sekarang ini sudah tembam lagi, tidak seperti tahun-tahun awal istrinya memiliki kondisi seperti ini. Bintang mengecup sekilas bibir Bulan sebelum dia berucap.
__ADS_1
" Yomesan, orang boleh menghina ku dan keluarga ku tapi tidak dengan menghina mu. Apakah kau mau untuk tampil di publik dan menjelaskan siapa diri mu dengan segala kondisi mu? Kita haus menjelaskan sayang, agar tidak ada yang menghina mu dan ketiga putra kita." Bintang meminta sekali lagi utuk Bulan mau mengungkap identitasnya.
" Tapi ....."
" Mom, apa yang daddy katakan itu benar. Kami tidak malu memiliki mommy dalam hidup kami, tapi kami tidak suka orang menghina mommy tanpa tahu perjuangan dan pengorbanan mommy sehingga seperti ini. Jadi mari bersama kami bertiga, kita menghadapi publik bersama!" ajak Dai. Sungguh si sulung ini sangat dewasa sekali.
" Dai.... Mommy..."
" Mom, kami menyayangi dan mencintai mommy. Seperti daddy yang akan terluka jika mommy terluka, begitu pun kami. Mom, kau adalah cinta pertama kami, jadi mari berjuang bersama mom." ganti Kai yang berucap.
Bulan terlihat diam memikirkan mana yang terbaik untuk mereka. Sudah sepuluh tahun lamanya Bulan menghindar saat Bintang akan mengungkapkan siapa nyonya muda Narita yang sebenarnya. Bintang tidak pernah menyerah membujuk Bulan, kedua orang tua Bintang juga membantu membujuk, namun keputusan Bulan tidak pernah berubah. Alasannya adalah nama baik keluarga akan menjadi buruk karenanya.
Bulan kembali merenungkan ucapan dari suami dan putranya. Sungguhkah dia siap menghadapi masyarakat dengan segala respon mereka tentang kondisinya. Bulan pun meminta waktu untuk memikirkan semuanya, dan Bintang memberikan waktu yang banyak agar istrinya bisa memikirkan sarannya dengan matang.
Malamnya Bulan termenung di balkon kamarnya, dia terus memikirkan saran dari suaminya tentang kondisinya. Bulan sendiri bingung harus bagaimana, sepuluh tahun dengan kaki yang lumpuh, masih belum membuatnya berani menghadapi orang. Bulan terlalu takut dihina maupun dikucilkan.
Bintang yang baru masuk ke kamar setelah berada di ruang kerjanya sejak makan malam berakhir, menatap iba pada sang istri. Rasa bersalah dan penyesalan tidak pernah hilang meski sudah bertahun-tahun lamanya. Bulan jadi minder dengan kondisinya, dan menutup diri dari dunia luar. Hal ini sungguh menjadi rasa sakit tersendiri untuknya.
__ADS_1
" Yomesan... " Bintang langsung memeluk tubuh Bulan dari belakang. Kursi roda yang memisahkan tubuh keduanya, tidak menjadi halangan untuk Bintang memeluk tubuh istrinya.
" Hm... " sahut Bulan.
" Sedang melamun kan saran ku tadi? " tanya Bintang. Dan Bulan hanya mengangguk sebagai jawaban.
" Jika kau belum siap aku tidak akan memaksa, Anak-anak juga pasti bisa mengerti. Hanya saja, kejadian tadi siang di sekolah masih bisa terulang. Daigo memang pemberani, begitu juga Kaien, tapi si bungsu benar-benar penakut. Sehingga kerjaannya hanya menangis saja. " ujar Bintang diselingi candaan.
" Kau benar, Ryuzaki memiliki hati yang lembut. Pernah kah kau berpikir, saat besar nanti seperti apa mereka? Apalagi Ryuzaki? " tanya Bulan.
" Jelas kalau Daigo, akan menajdi seorang pemimpin. Tapi sifat kerasnya akan semakin menjadi saat dewasa nanti. " Bintang berkomentar.
" Kalau Kaien, dia itu suka sekali mencari perhatian orang lain. Mungkinkah ketika besar nanti dia akan menjadi seorang artis? "
" Kau benar juga, tapi semoga jangan ya. Aku tidak ingin dia menjadi aktor atau pekerjaan yang berhubungan dengan itu. Kasian dia nanti, bebannya pasti akan lebih besar dibanding berbisnis. "
" Jika Ryuzaki, ketika besar pasti akan memiliki hati yang baik. Dia bisa menjadi peredam emosi dari Daigo nantinya. " ujar Bintang berangan.
__ADS_1
Pembicaraan mengenai putra-putra mereka, sukses membuat Bulan sedikit melupakan masalahnya. Meski hal ini tidak akan merubah apapun dan terkesan sia-sia karena justru membuat waktu mengambil keputusan semakin lama. Tapi Bintang juga tidak ingin karena masalah ini istrinya jadi stres. Sebisa mungkin Bintang menciptakan kenyamanan untuk Bulan dalam hal apapun, karena itu adalah penebusan dosanya karena menempatkan Bulan pada takdir yang seperti ini.