
Pernikahan adalah sebuah komitmen antara dua manusia berbeda jenis yang harus disertai ketulusan dan cinta. Janji pernikahan adalah sakral dimana pasangan yang mengucapkannya harus lah menetapkan janji itu saat sudah mengarungi mahligai cinta.
Lee Ryeon seorang pria yang berusia 30 tahun, dia menikah dengan seorang model cantik yang usianya 3 tahun lebih muda darinya. Hyun Na nama istri dari Lee Ryeon seorang pebisnis yang menggeluti pertambangan. Jika kekayaan sudah tak perlu diragukan karena Lee Ryeon adalah pengusaha pertambangan nomer 1 se Asia.
Menikah dengan Hyun Na, saat itu Lee Ryeon berusia 23 tahun sedangkan Hyun Na berusia 2p tahun. Cinta pada pandangan pertama dan karena kekayaan yang dimiliki Ryeon membuat Hyun Na rela menikah di usia muda dan saat karirnya sedang naik daun.
Dari pernikahan mereka berdua dikarunia seorang putra bernama Lee Shin yang sekarang sudah berusia 6 tahun. Namun apa lah daya takdir berkata lain pernikahan Ryeon dan Hyun Na mulai diterjang badai, kesibukan adalah alasan utama keduanya sering cek cok bahkan terkadang di depan Shin.
" Kau itu tidak bisa di rumah saja dan merawat putra mu. Setiap harinya kau selalu saja pergi pagi hari dan kembali malam hari. Apa kau sekarang sudah pinjam pekerjaan menjadi pe*****" sentak Ryeon. Doa langsung emosi saat pulang kerja istrinya tak ada di rumah dan putranya menangis histeris mencari mamanya.
" Kamu kenapa sekarang jadi ngatur aku? Bukankah dulu kau berjanji setelah aku melahirkan keturunan untuk keluarga mu maka aku bebas terjun ke dunia model lagi. Kenapa sekarang protes? " Hyun Ma meninggikan suaranya. Tak Terima dia diperlakukan seperti oleh suaminya.
" Kau itu seorang ibu, jadi jalanilah kodrat mu dengan baik dan jangan mengabaikan begitu saja kewajiban mu. " bentak Ryeon yang sudah tak bisa menahan lagi emosinya.
" Alah sok kamu bilang kewajiban ku lalu bagaikan denganmu sendiri sudahkah kau melaksanakan kewajibanmu. Bukan kah sekarang ini kau sedang asyik dengan wanita barumu itu. "
Plak
" Kau.... Kau.... sekarang kau berani main tangan denganku. Kau yang berselingkuh di luar sana tapi kau bicara kewajiban padaku. " bentak Hyun Na sambil tangan kirinya memegang pipi kirinya yang baru saja ditampar oleh Ryeon.
" Hiks.... Hiks.... Hiks.... Kenapa orang tua Shin jadi seperti ini? Kemana keluarga bahagia kami dulu? Tuhan aku mohon jangan buat kedua orang tuaku bertengkar lagi. " Shin meringkuk menangis di balik pintu kamarnya. Rasanya sangat sakit hampir setiap hari mendengar orang tuanya bertengkar.
Keesokan harinya, seperti biasa Shin akan berangkat ke sekolah dengan di antar oleh appa nya. Ryeon selalu berusaha memberi sedikit perhatian dan waktu untuk anaknya agar Shin tak minder dengan kondisi orang tuanya yang sudah tak sehat lagi pernikahannya.
__ADS_1
" Boy, semangat belajar ya. Dengarkan guru yang dan jangan nakal. " Ryeon memberi nasehat sembari mencium kening putra semata wayangnya.
" Appa jangan khawatir, Shin akan menjadi juara satu di kelas. " ujar Shin mencium tangan Ryeon lalu berlalu masuk ke sekolahannya.
" joh-eun achim seonsaengnim. " seru Shin mnyeapa gurunya.
( selamat pagi bu guru)
" Hai Shin, joh-eun achim. " sapa balik wali kelas Shi di kelas 1.
Lee Shin bersekolah di sekolah elite di Seoul. Di sekolah ini hanya ada siswa yang berasal dari keluarga kaya raya atau yang biasa di sebut chaebol. Siswa yang bersekolah di sini ada yang anak pengusaha, anak dari pejabat pemerintahan ada yang dari keluarga bangsawan.
" Hai Shin, bagaimana akhir pekan mu? " tanya Jae Min.
" Anjohda. " jawab Shin malas
" Aish orang tuamu pasti bertengkar lagi? " Jae Min prihatin.
Jae Min adalah teman Shin sejak mereka berada si sekolah dasar. Keduanya cocok karena memiliki hobi dan selera yang sama. Yang Shin suka Jae Min orangnya sangat humoris. Bersama Jae Min, Shin selalu tertawa tanpa beban.
" Sabar ya Shin. " ujar Jae Min.
" Hem... "
__ADS_1
Bel berbunyi tanda jam pelajaran akan dimulai. Siswa yang masih berada di luar kelas langsung berlarian masuk ke kelas mereka. Bila terlambat pasti akan mendapat pengurangan poin. Sistem poin digunakan untuk menilai setiap siswa. Nantinya setiap bulan akan diundi siapa yang memiliki poin terbanyak akan mendapat hadiah dari pihak sekolah. Bulan lalu Lee Shin mendapatkan poin tertinggi di sekolahan dan mendapat tiket ke taman bermain. Sayang sekali dia hanya pergi dengan pengasuhnya karena kedua orang tuanya sibuk.
" Selamat pagi anak-anak semua. Pasti semangat karena kalian baru saja selesai berakhir pekan. " sapa Han So Hyang. Wali kelas kelas 1 A.
Han So Hyang yang biasa dipanggil So Hyang adalah guru seni di sekolahan elite ini. So Hyang juga merupakan wali kelas Shin.
" Baik silahkan kumpulkan tugas kalian ya. Ibu akan menilainya. " titah So Hyang.
Secara bergantian murid di kelas 1 A mulai maju mengumpulkan tugas mereka. Sambil menunggu So Hyang menilai tugas mereka, So Hyang memberi tugas agar siswanya membuat puisi bertemakan teman.
Saat menilai tugas siswanya, So Hyang berhenti saat melihat tugas milik Lee Shin. So Hyang tahu orang tua Lee Shin sedang tidak baik-baik saja karena dengan mata kepalanya sendiri So Hyang pernah melihat pertengkaran orang tua Shin.
Tugas yang diberikan So Hyang minggu lalu adalah menggambar kegiatan akhir pekan mereka. Hampir semua siswanya menggambar tentang bermain dengan keluarga tapi apa yang digambar Shin. Sebuah rumah besar yang nampak mewah tapi jika diamati hanya akan ada kesan suram. So Hyang tak tahu harus bagaimana lagi, memanggil orang tua Shin juga hanya akan memperkeruh suasana.
" Shin, bisa katakan pada ayahmu untuk datang ke sekolah besok siang. " pinta So Hyang saat jam pelajarannya sudah selesai.
" Ye seonsaengnim. " Shin menganggukkan kepalanya.
Keesokan harinya di siang hari sebelum pulang sekolah, Lee Ryeon memenuhi panggilan dari wali kelas putranya. Ryeon saat ini sedang berada di ruangan milik So Hyang yang ada di ruang guru. Keduanya masih diam tanpa mengucap sepatah kata pun. So Hyang tersenyum lalu memperlihatkan gambar yang dibuat oleh Shin.
" Joesonghabnida Shin Abeoji. Saya minggu lalu memberikan tugas untuk menggambar kegiatan selama akhir pekan dengan keluarga dan ini adalah apa yang digambar oleh Lee Shin. " ujar So Hyang membuka pembicaraan.
DEGH.. DEGH..
__ADS_1
Hati Ryeon sakit saat melihat apa yang digambar putranya. Ryeon tahu arti gambar itu karena akhir pekan ini dia sedang berada di Jeju Island dan istri ya entah kemana tak pulang ke rumah. Tak pernah Ryeon sangka bahwa putranya yang terlihat baik-baik saja nyatanya adalah tidak.
" Shin Abeoji, saya ingin mengatakan pada anda bahwa selama jam sekolah Shin selalu melamun tak mau bermain dengan teman lainnya. Saya tahu hubungan orang tua Shin sedang tak baik-baik saja tapi saya mohon tolong perhatikan perasaan putra anda. Luka bukan hanya apa yang bisa dilihat mata karena sejatinya luka yang tak bisa dilihat mata adalah luka yang tak akan pernah sembuh.