
Bintang masih dengan sabar menunggu Dewin sampai kakak sepupunya itu puas melepaskan semua beban yang ditahannya selama beberapa bulan ini. Jangan kan menatap wajah Derik, melihat wajahnya di cermin saja dia begitu benci. Dia merasa wajahnya yang mirip dengan Derik itu adalah bukti bahwa dia adalah manusia sama seperti saudaranya itu.
Derik yang mendengar semua yang dikatakan oleh Dewin, memukuli dadanya yang entah tiba-tiba terasa sangat sesak. Derik merasa sangat berdosa karena telah membuat semuanya menjadi berantakan, hidupnya, hidup saudara kembarnya dan juga hidup mendiang istrinya hancur karena keegoisan nya.
Andai dia bisa mengulang waktu, dia tak akan meminta Dewin untuk memperbolehkannya memakai namanya kemudian menikah gadis yang dia dan saudara itu cintai sebagai Dewin. Sungguh, Derik ingin sekali menenggelamkan tubuhnya ke dalam laut dan mati di sana.
" Kau sudah puas menangis, jika ya aku ingin bertanya pada mi tentang sesuatu? " tanya Bintang. Namun hanya diangguki oleh Dewin.
Bintang menghela nafasnya sebentar sebelum mulai bertanya pada kakak sepupunya. Jujur, dia sekarang ini berada di posisi yang serba sulit dan serba salah. Ingin tak ikut campur tapi juga tak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut.
" Derik bagimu itu siapa? Apa hanya sekedar dendam dan sakit hati yang kau rasakan untuknya? Kau tahu betul kan siapa dia bagimu dan siapa dirimu baginya? " tanya Bintang. Sebenarnya itu seperti pertanyaan yang selama ini dilontarkan Dewin pada saudara kembarnya.
" Aku tidak tahu. " jawab Dewin malas.
" Huft.... Sabar... sabar... " gumam Bintang.
" Jika aku jadi kau, aku tidak akan membenci dia sedalam ini. Kau tahu dia juga hidup dalam penyesalan sama sepertimu. Seandainya dari awal gadis itu tahu mungkin dia tidak akan terjebak dengan kalian. But, it's her destiny, dia harus mengalami ini karena itu takdirnya." terang Bintang.
" Mudah kau mengatakan begitu, itu takdirnya kau bilang? Kalau saja dia tidak bertemu dengan Derik dan berakhir salah paham hingga aku harus merelakan dia bersamanya, maka dia tidak akan bunuh diri. " sentak Dewin. Emosinya sudah menguasai akal sehatnya.
" Jika kau bicara seandainya, seharusnya kau mengatakan jati diri mu padanya. Tentang kau, saudara kembar mu, dan juga keluarga mu. Salah mu kau diam saja. Kau meragukannya hingga dia berakhir bersama dengan Derik. Kalau ditanya siapa yang paling salah itu KAU. " Bintang ikut menyentak Dewin.
__ADS_1
Sebenarnya keinginan dia bertanya atau mengingat kembali siapa Derik bagi Dewin hanya untuk membuat keduanya baikan. Mereka sama-sama salah, mereka sama-sama ikut andil dalam kematian gadis itu, lalu kenapa mereka saling bermusuhan. Bukankah seharusnya mereka saling memaafkan deni gadis yang rela bunuh diri agar tak ada perpecahan di antara kedua saudara kembar itu..
" Sudah lah kau tidak perlu sampai pusing memikirkan nasib kami. Asal tidak sampai saling membunuh aku rasa itu sudah cukup. " ujar Dewin pada akhirnya, dia malas melanjutkan perbincangan ini. Bintang tak pernah ada di posisinya, jadi Bintang tak akan tahu rasanya menjadi Dewin.
" Cih, sok penting sekali kalian. Jika bukan opa dan oma, terutama oma aku juga tidak akan ikut campur urusan kalian. Kalian berdua sudah dewasa, hanya saja otak kalian yang mirip anak kecil. Sudahlah terserah kau dan dia saja. Jika suatu hari nanti oma mengatakan kecewa pada kalian jangan pernah mencari ku. " Bintang langsung berdiri meninggalkan Dewin yang masih enggan untuk meninggalkan tempat itu.
Saat Bintang memasuki mansion, dia melihat siluet yang mirip dengan Derik pergi meninggalkan tempat yang sekarang ini Bintang pijaki. Bintang tersenyum smirk, sepertinya dia sudah tahu rencana apa yang akan bisa membuat duo bal itu tak sampai tercerai berai lagi seperti saat ini.
" Di bilang otak seperti anak kecil tidak Terima, nyatanya benar juga. " sarkas Bintang.
Bintang sama sekali tak memperlihatkan batang hidungnya. Padahal saat ini dua Bal ada di ruang keluarga meski pun dengan sangat terpaksa mereka mau satu ruangan. Siapa lagi yang memaksa mereka jika bukan oma dan juga opa. Kalau kedua orang tuanya yang meminta, keduanya tak akan mendengarkan.
Bintang bukannya tidak mau berkumpul dengan keluarganya di bawah. Dia sedang melakukan ritual bersama Bulan, ritual untuk membuatkan adik untuk triplets, meski niat mereka tak akan menambah anak lagi
" Terima kasih yomesan. Kau selalu lezat setiap kali aku menikmatinya. " ujar Bintang sedikit vulgar.
" Hish... Kau itu tidak lihat-lihat tempat dan sikon saat sudah berhubungan dengan masalah beginian. Ini di mansion opa sama oma lho, mereka itu nunggu kamu untuk menyatukan kembali kakak sepupunya. " protes Bulan. Dia kesal sekali disergap sang suami hingga harus terjadi pergulatan panas di ranjang. Bulan kan tak enak dengan keluarga jika disaat seperti ini masih saja semangat melakukan hubungan suami istri
" Alah nggak usah gitu dech, buktinya kamu juga menikmatinya. " bisik Bintang di telinga Bulan. Langsung saja wajah Bulan sudah merah semerah apel karena malu
Bulan langsung berlari ke kamar mandi, daripada nanti disergap kembali oleh suaminya. Bisa sampai besok pagi mereka tak akan keluar kamar. Bulan segera bebersih karena sebentar lagi jam makan malam akan tiba. Mereka akan makan bersama, meski dengan suasana tidak menyenangkan karena duo bal yang masih mode saling mendiamkan.
__ADS_1
Bintang sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi karena malas makan bersama dengan duo bal. Bisa hilang selera makannya jika harus makan dalam suasana yang tidak menyenangkan seperti saat ini.
" Sayang kenapa lama sekali? " teriak Bulan dari luar pintu kamar mandi. Dia nampak mengetuk pintu itu.
" Masih lama sayang, aku mules. " jawab Bintang yang juga berteriak agar sang istri dapat mendengar nya.
" Aku turun dulu aja ya. Nggak enak sama lainnya. " ujar Bulan.
" Oke. " sahut Bintang. Di dalam kamar mandi dia terkekeh saat bisa mengerjai istrinya. Biarlah istrinya makan bersama dua gunung es yang pastinya tidak akan menyenangkan.
Seluruh keluarga Hillar tanpa Bintang mulai menikmati makan malam mereka. Benar saja, suasana di meja makan ini tidak mengenakan sama sekali. Berulang kali Bulan menelan ludahnya sendiri karena merasa tak nyaman. Seharusnya tadi dia tunggu saja suaminya, agar tak perlu mengalami ini semua.
Jika Bulan sedang menikmati nasib apesnya di ruang makan, lain dengan Bintang yang baru saja keluar dari kamar mandi dalam keadaan yang sudah sangat segar. Dia bersiul kecil seperti sedang menikmati waktu miliknya sendiri saat ini. Bintang tahu, bahwa pasti di bawah sana, semua anggota keluarga tidak bisa makan dengan tenang.
" Silahkan menikmati makan malam mencekam... Hahahahahaha..... " uhuk.. uhuk... Bintang tersedak lidahnya sendiri.
" Mari kita tunggu kejutan dari ku. " Bintang tersenyum smirk.
...************...
Hai semuanya..... Seneng sudah kalian semua masih setia untuk mengikuti kisah Bulan dan Bintang.
__ADS_1
Author di sini mau meminta pendapat kalian, apakah kalian mau jika author membuat cerita tentang duo bal setelah Bulan untuk Bintang tamat?
Author tunggu pendapat kalian ya... Terima kasih.... 😍😍😍😍