
"Apa? Kenapa natap aku seperti itu?" Alisha merasakan jika Aliando merasa heran.
"Kamu gak tau ibumu?"
"Nggak, dan aku gak tau apa dia masih hidup atau nggak! Aku gak peduli!"
"Maaf!" Aliando meminta maaf. Ia menyesal telah menanyakan tentang keberadaan ibunya Alisha.
"Gak masalah, aku udah biasa," kata Alisha mencoba cuek.
"Eh, kamu tau ga, pernah waktu kelas tiga SD, saat itu peringatan hari ibu, dimana semua ibu dari temen sekelasku datang, aku hanya bisa diem sambil megang setangkai bunga, karna aku gak tau, mau aku kasihin siapa, ayah lagi kerja, dan akhirnya bu guru lah yang menghampiriku, mengambil bunga dari tanganku!" cerita Alisha dengan pandangan datar, lurus ke arah danau.
"Waktu kelas empat, aku dan ayahku pernah kedatangan seorang wanita cantik. Aku mengenalnya, tapi dia sama sekali tidak menyapaku, melihatku saja tidak. Dia turun dari sebuah mobil yang sangat bagus! Aku ragu untuk menyapanya, takut salah, gak mungkin kan kalo dia ibuku?" mata Alisha mulai berkaca-kaca. Bukan sedih, tapi lebih pada menahan rasa kecewa, marah dan benci.
"Aku gatau tujuan kedatangannya, mungkin mau nunjukin kalo dia sudah kaya, sampai pada satu hal, akhirnya aku mengerti, jika aku tidak diharapkan,"
"Kenapa kamu punya kesimpulan seperti itu?"
"Ada percakapan yang sempat aku dengar ... ayah memohon pada dia, ' tinggallah, lihatlah Icha, dia butuh kamu," kata Alisha menirukan kata-kata yang tidak akan mungkin pernah bisa dilupakan olehnya.
"Icha anakmu, bukan anakku, itu jawabannya! Menurutmu, apakah dia ibuku?" imbuhnya.
Aliando menarik nafas panjang, tangannya terulur menepuk lembut punggung Alisha.
"Setelah kejadian itu, aku dapat cerita dari tetangga, kalo ibuku ninggalin aku karna ayah miskin, dia milih orang lain yang lebih kaya. Sejak saat itu aku selalu dapat ejekan kalau aku adalah anak wanita simpanan,"
Aliando kini memilih mengusap pundak Alisha. Ia mencoba untuk menenangkan gadis cantiknya itu. Kini, ia tahu, kenapa Alisha tidak menyukai panggilan Icha, karena panggilan ini mengingatkan dia pada ibunya.
"Aku memang anak durhaka, karna membenci ibuku, tapi, kurasa ibuku juga durhaka pada anaknya,"
Aliando mengangguk, menguatkan Alisha, menunjukkan bahwa dia sangat mengerti perasaan gadis itu.
"Ya, Allah, bagaimana sebenarnya kehidupan gadis ini? Berikan aku petunjuk agar aku bisa menjaganya lebih baik lagi, ijinkan aku ya Allah,"
"Setelah kelas empat, ayah mengajakku pindah, mungkin kasihan karena aku selalu diejek, dan gak punya temen," Alisha masih bercerita.
"Apa aku seburuk itu ya? Hingga gada yang mau berteman denganku? Jujur, aku gak pernah punya sahabat, karena ayah selalu mengajakku pindah tempat! Setelah kelas empat, aku pindah ke kota R sampai kelas enam, saat SMP, aku pindah lagi, bahkan saat SMP tiap tahun kami pindah tempat tinggal,"
"Kenapa bisa pindah-pindah?"
"Aku gak tau, hingga akhirnya, waktu aku kelas sepuluh kami di kota S, satu semester disana ... lalu pindah lagi ke kota T, setahun di sana, aku kira aku akan lama di kota T... ternyata setelah ayah meninggal aku malah pindah ke kota ini,"
"Kenapa kamu tidak tinggal di sana? Bukannya makam ayahmu di sana?"
"Karena amanat ayah sebelum meninggal, aku harus pergi dari kota T, lalu ... atas rekomendasi pak Haikal, guruku dan juga sahabat ayah, aku disuruh ke kota ini!"
Aliando menghirup udara dalam-dalam lalu membuangnya. Ia merasa ada sesuatu yang membuat Alisha dan ayahnya selalu berpindah tempat tinggal seakan menghindari sesuatu.
"Aku pernah protes sama ayah, kenapa kita harus pindah terus? aku capek, sampai aku gak punya temen, tau jawabannya ayah? Biar aku aman,"
Fix, pasti ada sesuatu yang membuat Alisha harus pindah tempat tinggal. Itu yang ada dalam benak Aliando.
"Eh, kenapa aku bisa cerita sebanyak ini ya?" Alisha menyadari sesuatu. Karena tidak biasanya, dia menceritakan masa lalunya.
"Ayo, ah, aku udah puas lihat bebeknya," ajak Alisha pada Aliando, ia berdiri sambil menarik tangan cowok tampan itu.
"Hei, itu angsa, sejak kapan bebek jadi angsa?" protes Aliando.
__ADS_1
"Ah, sama aja, kamu tau lagunya kan? potong bebek angsa, iya kan, kan?" kata Alisha sambil terus menarik Aliando menuju motor. Cowok tampan itu hanya tersenyum sambil membiarkan tangannya ditarik oleh Alisha.
โ๏ธ
Saat ini Alisha ada di perpustakaan. Ia sedang asik membaca sebuah buku. Sendiri. Aliando tidak bisa menemani, karena hari ini dia ijin tidak masuk sekolah. Melly, masih belum masuk sekolah.
"Kamu hati-hati ya di sekolah, jangan lupa, rindukan aku!" isi chat terakhir dari Aliando yang sempat membuat hati Alisha berbunga. Dia sempet tersenyum sendiri. Ah, benar saja, tanpa kehadiran Aliando, dia merasa ada yang kurang. Apa iya, dia benar-benar merindukan Aliando?
"Elo, Alisha, kan?" tanya Benni, teman sekelas Aliando, dia bersama Robby yang juga sahabatnya.
"Lo jauhi Aliando!" kata Robby, dia langsung duduk di hadapan Alisha, disusul kemudian Benni yang duduk di sampingnya. Keduanya sengaja menghampiri Alisha, karena tahu jika Aliando tidak ada di samping Alisha.
"Kalian siapa?" tanya Alisha. Ia tidak terlalu kenal dengan kedua orang yang ada di hadapannya.
"Kami sahabatnya dia!" ucap Robby.
"Oh, ternyata dia punya sahabat ya?" gumam Alisha.
"Sebelum ada elo, kita ma Aliando sering bareng!" kata Benni kali ini.
"Oh, trus?" tanya Alisha.
"Iya, dia sekarang gada waktu lagi buat kita," lanjutnya.
"Mungkin dia memang membatasi diri dari kalian,"
"Dia gak kayak gitu!" ujar Robby.
"Mungkin ... kalian aja yang belum tau tentang dia," kata Alisha.
"Kami tau dia, dan semua tentang dia, termasuk kalian pacarannya hanya sandiwara, kan?" tebak Robby.
"Kenapa dengan Rafael?"
"Nah, lihat kan, bahkan elo gak tau tentang kita, itu berarti elo memang bukan pacarnya!" kata Robby lagi.
"Maksudnya?"
"Kalo emang kalian pacaran, paling tidak, lo tau tentang dia, kehidupannya dan sahabat-sahabatnya," jelas Robby.
"Oh, aku tau kalian temannya, tapi bukan berarti aku harus tau tentang masalah kalian, karna aku gak suka dipusingkan dengan urusan remeh temeh soal persahabatan,"
"Wah, songong juga ni cewek," kata Robby tidak terima jika pertemanannya hanya dianggap hal sepele oleh Alisha.
"Iyalah, bagi aku yang terpenting dia cinta ma aku, udah," tegas Alisha enteng.
"Eh, udah dibilangin, kalo elo cuma diperalat oleh Aliando agar pertemanannya dengan Rafael tidak sampai rusak," kata Benni lagi.
"Eh, aku juga udah bilang kan, kalo aku ga peduli urusan kalian ma Aliando,"
"Wah, pacar boongan aja belagu!" Robby mulai emosi.
Sebenarnya ucapan Robby 'pacar boongan', sedikit mempengaruhi hati Alisha. Ada nyeri yang dia rasakan. Namun, dia juga setuju, jika hubungannya dengan Aliando mungkin memang hanya main-main saja.
"Gini aja deh ya, kalian urus pertemanan kalian, kalo memang dia udah gak mau bareng ma kalian, coba kalian introspeksi diri deh, jangan-jangan ada hal yang membuat Aliando malas atau membatasi diri dari kalian," saran Alisha.
Robby dan Benni saling pandang.
__ADS_1
"Gak usah sok tau lo!" Robby masih emosi.
"Yaah, kalian ... dikasih tau malah ngeyel! Mungkin aja ... sikap kalian inilah yang membuat Aliando malas dengan kalian atau ... mungkin, kalian cuma jadi benalu buat dia, dan kalian orangnya hanya bisa memanfaatkan keberadaannya!"
"Jaga ucapan lo ya!" Robby tidak terima. Meskipun tidak berteriak, tapi terlihat jika Robby sedang menahan marah.
Alisha menarik nafas panjang.
"Kalo emang kalian mengaku sebagai sahabatnya, maka kalian pasti tau karakternya, iya kan?" tegas Alisha.
Sebenarnya Robby dan Benni membenarkan apa yang diucapkan Alisha. Memang benar, jika mereka hanya jadi benalu buat Aliando. Selama ini, mereka memang memanfaatkan keberadaan Aliando dengan segala kepintarannya, prestasinya, dan keterkenalannya, ikut menggiring mereka menjadi terkenal.
Ah, tapi mereka tidak peduli dengan apa yang dikatakan Alisha. Mereka masih ingin tetap bersama dengan Aliando. Karena kehilangan kebersamaan dengan Aliando, mereka merasa tidak beruntung, tidak ada lagi yang mentraktir mereka. Tidak peduli bagaimana keadaan Aliando, yang mereka tau, Aliando baik, suka royal mengeluarkan uang untuk mereka.
"Pokoknya, lo jauhi dia!" perintah Robby tegas.
"Kalo aku gak mau?"
"Lo akan tau akibatnya!" ancam Robby.
"Ancaman kamu gak mempan buat aku, lagian percuma kamu ngancem aku, karna Aliando akan tetap milih bersamaku,"
Robby dan Benni saling pandang kembali.
"Kalian udah lama bareng dia, sekarang giliran dia bareng aku, okke!" tegas Alisha. Ia bangkit dari duduknya hendak meninggalkan perpustakaan.
"Eh tunggu, Sha!" cegah Benni.
"Duduk dulu," perintahnya kemudian.
"Apa lagi?"
"Okke deh, lo bener, dia akan tetap milih lo, tapi gue mohon, dekatkan kembali dia dan Rafael! Kami benar-benar kehilangan mereka berdua!" kata Benni lagi.
"Dasar plinplan, sebelumnya nyuruh jauhi Aliando, sekarang malah minta tolong," gumam hati Alisha.
"Itu urusan Aliando, dan aku gamau ikut campur!" kata Alisha tegas.
"Plis, Sha, mungkin elo sebagai pacarnya, bisa ngasih tau dia, biar pertemanan kita bisa kembali baik," lanjut Benni.
"Kata kalian, aku cuma pacar boongan,"
"Nggak, kami yang salah, awalnya kami nganggap seperti itu, karna ga mungkin Aliando tiba-tiba punya pacar! ya kan, By?" Benni meminta persetujuan pada Robby, yang kemudian mendapatkan anggukan darinya.
"Tapi, ngelihat ketegasan elo, mungkin benar juga yang selama ini Aliando katakan jika dia udah punya pacar bahkan calon istri yang udah dijodohin sejak bayi," jelas Benni.
"Apa?" Alisha terkejut.
...๐ป๐ป๐ป๐ป๐ป...
Waaah siapa sebenarnya Alisha dan Aliando ya?
Pokoknya makasih ya kak readers....
mksh udah baca dan udah dukung
mksh uda ksih like komment n votenya.
__ADS_1
lopyuol๐๐๐