
"Abang tau aku marah?" tanya Alisha.
"Tentu saja, kamu pasti marah sama aku,"
"Pede banget,"
"Cha, maafkan ketidak-pekaanku, mungkin ... sampai sekarang aku bisa saja tidak tahu apa yang terjadi dan apa yang salah kalau Naira masih juga tutup mulut,"
"Jadi sekarang Abang sudah tau karena Naira yang menceritakannya?"
"Ya, maafkan aku, coba aku lihat foto yang dikirim Rose?"
Alisha pun segera menunjukkan foto yang dikirim oleh Rose di ponselnya. Ada dua buah foto yang menunjukkan kebersamaan Aliando dengan Rose.
Foto pertama, ketika Rose menggandeng tangan Aliando kemudian menyandarkan kepalanya di pundak Aliando saat posisi mereka sedang berdiri setelah upacara pembukaan, sementara wajah Aliando menatap terkejut ke arah Rose di sampingnya.
Foto yang kedua menunjukkan saat Rose mendekap Aliando dari belakang.
"Aku bisa jelaskan kedua foto ini dan semua yang ada di foto ini ... tidak seperti yang ada di dalam pikiran kamu,"
"Emang apa yang Abang tahu tentang pikiran aku?"
"Kamu mungkin berpikir kalau disana aku bermesraan dengan Rose,"
"Abang salah, aku bahkan sama sekali tidak percaya dengan kedua foto itu, kalau memang itu benar terjadi pun, aku yakin dia melakukannya dengan sengaja,"
"Benarkah?"
"Iya, terlihat lah dari ekspresi Abang, Abang terkejut dan tidak menyangka kalo Rose seberani itu pada Abang,"
"Lalu, apa yang bikin kamu marah?"
"Kebohongan, Bang, aku nggak suka Abang yang bohong,"
"Maksudnya?"
"Abang inget gak waktu Abang pulang abis nganterin olimpiade?"
Aliando menatap penuh tanya.
"Aku tanya apa yang terjadi disana, apa Rose berbuat yang tidak-tidak, secara dulu aja dia berani nyium pipi Abang, padahal gak kenal, apalagi sekarang, kalian udah sangat akrab, dan ... Abang inget jawaban Abang? Abang bilang, tidak terjadi apa-apa, semua aman terkendali, bukankah itu Abang bohong?"
"Maaf, kalau masalahnya jadi seperti ini, aku tidak bermaksud membohongi kamu, aku merasa ... ini bukan sesuatu yang penting yang harus diceritakan pada kamu, dan nggak taunya, hal yang gak penting menurut aku ini, justru malah menjadi bumerang buat aku dan itu menjadikan masalah di antara kita,"
"Ya, andai kata Abang menceritakannya, aku nggak mungkin marah seperti ini,"
"Maaf,"
"Sebenarnya, gak masalah kan, kalau Abang menceritakannya pada aku,"
Aliando mengangguk beberapa kali.
"Harusnya Abang jujur, cerita aja kalau disana dia berani meluk-meluk Abang, aku juga nggak akan marah kok, malah justru, aku sangat menghargai kejujuran Abang," jelas Alisha.
"Maaf, aku yang salah, sebenarnya aku memang ingin menceritakannya," kata Aliando.
"Terus, kenapa tidak jadi cerita? Takut aku sakit hati? Seharusnya Abang tidak membuat kesimpulan gitu aja, segala sesuatu kan belum pasti terjadi,"
__ADS_1
"Tidak, bukan seperti itu,"
"Lalu?"
"Itu semua karena tidak ada sesuatu yang penting maka aku lupa begitu saja,"
"Apa? Abang lupa? Lupa dengan orang yang sengaja memeluk Abang? difoto lagi! Alasan gak mutu!" ketus Alisha.
Aliando salah tingkah. Ia membenarkan semua yang dikatakan Alisha.
"Kamu bener, Cha, aku memang gak bisa bohong dari kamu, aku memang menganggap itu gak penting dan aku terlalu menjaga perasaan kamu, aku takut kamu sakit hati, maafkan aku ya," kata Aliando sambil menggenggam tangan Alisha.
Kini tatapan keduanya beradu.
"Ah sudahlah Bang, aku juga minta maaf, aku...," Alisha menjeda kalimatnya, ia menatap kedua mata Aliando dengan sangat hati-hati.
"Karena aku bukan istri yang baik," ucap Alisha.
"Maksudnya?" Aliando tak mengerti.
"Aku tidak mengenal suamiku secara keseluruhan,"
"Maksudnya?" Aliando masih juga tak mengerti.
"Ternyata Abang pemilik kantin Alifia ya, Abang juga pemilik warung bakso pak Aman dan Abang juga pemilik toko HP yang dikelola Opun, apa ini yang dimaksud dengan pekerjaan Abang selama ini?"
Aliando terdiam sesaat. Kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku cuma mengeluarkan modal, yang lain mengelola, tepatnya, merekalah yang bekerja, usaha jadi maju karena mereka, kadang-kadang aku ikut ngebantu, tapi karena sekolah, aku hanya bisa memonitor saja," jelas Aliando.
"Kamu nggak pernah nanya kan?"
"Eh tunggu, bukannya kita pernah berjanji kalau pada waktunya aku memberitahu apa pekerjaan aku, Abang juga akan menceritakan pekerjaan Abang kan?" kata Alisha mengingat.
"Iya, emang seperti itu, tapi kan, ketika aku tau kalo kerjaan kamu itu sebagai seorang detektif, kamu pergi gitu aja kan, bersamaan dengan taunya status ibu kamu sebagai ibu tiri aku,"
Alisha terdiam, saat mengingat peristiwa tersebut.
"Dan, saat kita bertemu kembali, aku juga lupa untuk menjelaskan apa pekerjaan aku," terang Aliando.
Keduanya kembali terdiam.
"Wah, kenapa hidupku seberuntung ini ya?" gumam Alisha sambil menatap langit. Sementara Aliando meliriknya serius.
"Bukankah Tuhan Maha Baik, Bang? Ini wajib aku syukuri," kata Alisha sambil memandang wajah Aliando yang sedang menoleh ke arahnya.
"Apa maksud kamu?" tanya Aliando belum memahami maksud dari ucapan Alisha.
"Aku mendapatkan pasangan hidup, seorang yang sholeh, pinter, jenius, kaya, baik hati, tampan lagi," kata Alisha sambil melingkarkan kedua tangannya ke leher Aliando.
Aliando terkejut dengan ucapan dan sikap Alisha. Tapi ia sangat menyukainya. hatinya bahagia, dan ia pun memberikan senyuman apiknya.
"Aku yang mendapatkan jackpot, Cha, segala kecantikan lahir bathin ada padamu!" kata Aliando sambil mengecup sekilas bibir Alisha kemudian memeluknya erat.
π΅
"Ada apa Tante meminta saya ke sini?" tanya Alisha pada Soraya, ibunya Michelle. Saat ini Alisha memang sedang berada di sebuah rumah makan karena undangan dari orang tua Michelle.
__ADS_1
"Maafkan kami sebelumnya, tapi kami ingin meminta sesuatu sama kamu," kata pak Giva, ayahnya Michelle.
"Apa itu Om?"
"Berpisahlah dengan Aliando, berapapun kamu minta akan kami berikan," kata Soraya penuh ketegasan.
"Kenapa kalian ingin saya berpisah dengan Aliando? Jangan katakan, agar Aliando bisa menikah dengan Michelle?" tanya Alisha menebak.
"Memang benar, dan sebagai kompensasinya kami akan memberikan apapun yang kamu minta, apapun berapapun," tegas pak Giva lagi.
"Oh maaf, Om, tapi pernikahanku bukan karena uang,"
"Okelah kalian saling cinta, makanya Aliando pun kemarin tidak ingin menikahi Michelle karena tidak mau menceraikan kamu,"
"Tentu saja Om, kita menikah beneran, bukan main-main,"
"Kami tahu, tapi tolong banget, kamu kan juga sama-sama perempuan, pasti kamu bisa merasakan hal yang sama,"
"Gini aja deh, Om, sekarang kita balikin, gimana kalau misalnya kejadian itu menimpa aku, apa Om mau melakukan seperti apa yang Om minta ke aku? Pasti nggak kan,"
"Sombong banget!" Soraya mulai mengeluarkan emosinya yang sudah dia tahan dari tadi.
"Maaf, Tante, Om, hal ini menyangkut perasaan dan pernikahan lho, apa kalian nggak merasa bersalah memisahkan pernikahan aku dan kak Ando?"
"Kami cuma minta tolong sama kamu, apa susahnya sih, lagian kita gak minta gitu aja, kami akan memberikan apapun," kata Soraya dengan nada tinggi.
"Kenapa mesti kak Ando? Bukankah ada orang lain?"
"Karena Aliando masih saudara, dia keluarga kita, dan dia mengetahui masalah yang terjadi pada Michelle,"
"Bukankah masalah ini memang sudah diketahui keluarga besar ya? jadi, masih banyak kan saudara yang lain, yang masih single, yang bisa dimintai pertolongan untuk menikahi Michelle, kenapa mesti kak Ando?" tanya Alisha.
"Karena Michelle hanya ingin Aliando, dan juga, kayaknya kamu harus bertanggung jawab, soalnya apa yang menimpa Michelle adalah perbuatan Vanya, dia ibu kamu kan," jelas Soraya.
"Dia memang orang yang mengandung dan melahirkan aku, tapi apa yang dia perbuat, tidak harus menjadi tanggung jawab aku, kan? Mintalah pertanggungjawaban pada dia, aku tidak pernah ada hubungan apapun dengan masalah yang menimpa Michelle,"
"Egh, dasar! Kamu emang sama kurang ajarnya dengan ...." kalimat Soraya terpotong karena Giva menghentikannya, mencoba meredakan emosi Soraya.
"Saya mengerti, maafkan istri saya ya, sekarang gini aja ... kami gak akan memisahkan kalian, tapi tolong ijinkan Aliando untuk menikahi Michelle," kata Giva.
"Apa?" Alisha terkejut. Bukankah permintaan orang tua Michelle terlalu unik, terlalu menghasut dan memancing emosi.
"Iya, kami mohon," pinta Giva serius.
"Itu berarti, saya mengijinkan Aliando poligami gitu?"
"Kami tau, permintaan kami ini terlalu berlebihan, awalnya kami memang merayu Aliando agar bisa menikahi Michelle dengan menceraikan kamu tapi ternyata Aliando juga sama sekali tidak mau, maka satu-satunya jalan adalah menjadikan Michelle istri keduanya Aliando," kata Giva.
"Maaf Om, saya tidak akan pernah memberi izin dan tidak akan pernah merayu Aliando untuk berpoligami," kata Alisha cukup tenang menahan segala emosi di hatinya.
"Saya rasa, pembicaraan kita sampai di sini aja, Makasih Om, Tante, tas waktunya," imbuh Alisha berpamitan.
"Tunggu! Kamu kira Aliando mencintai kamu?" Soraya mencegah kepergian Alisha.
"Maksudnya?" Alisha menghentikan langkah kakinya, ia berbalik menatap Soraya.
π»π»π»π»π»
__ADS_1