
"Ada apa, Bang? Siapa yang nelpon jam segini?" tanya Alisha setengah sadar ketika Aliando telah mengakhiri panggilan di ponselnya. Sebelumnya mereka memang tengah terlelap saling mendekap, setelah menyelesaikan permainan romantis dan nakal mereka.
"Michelle," jawab Aliando singkat.
"Apa? Michelle? Tumben dia nelpon jam segini ... Ada apa?" tanya Alisha. Kini kesadarannya mulai penuh. Ia duduk bersandar di kepala tempat tidur, sambil mengusap rambut Aliando dan memandang wajahnya yang sedikit sembunyi di pahanya.
"Dia minta tolong,"
"Minta tolong kenapa? Ada keadaan darurat apa, Bang?"
"Entahlah, tapi dia menangis dan dia ada di hotel ini,"
"Apa? Ayo, Bang cepetan tolong dia, kasihan,"
"Cha, ngapain kamu perhatian ma dia?"
"Bang, walau bagaimana pun, dia saudara Abang, dia juga perempuan, dan kalo bukan karena ada sesuatu yang urgen, dia juga gak mungkin tiba-tiba nelpon Abang jam segini,"
"Ya sudah, sudah, aku tau, tapi biarkan aku tidur lagi sepuluh menit aja, eh nggak, lima menit aja,"
"Gak bisa, gimana kalo Michelle lagi dalam bahaya, Bang?"
Aliando menengadahkan wajahnya menatap Alisha yang tengah memandangnya serius.
"Okke, okke, asal kamu ikut ya, meskipun saudara, tapi dia perempuan, dan bertemu di hotel pada jam segini rasanya gak nyaman,"
"Iya, okke,"
"Ya udah, kita mandi dan bersih-bersih dulu," kata Aliando.
π΅
Aliando, Alisha masuk ke kamar yang dikatakan Michelle. Mereka datang bersama seorang pelayan hotel laki-laki yang dipercaya membawa kunci kamar.
"Ya Ampun, Michelle," Alisha terkejut, saat melihat Michelle duduk di sudut kamar menangis, bergetar, tubuhnya tertutup selimut, wajahnya terlihat kacau.
"Kamu kenapa, Sel?" tanya Aliando berjongkok di depan Michelle.
"Aku takut, Al, aku takut!" kata Michelle sambil memeluk Aliando sangat erat.
"Bawa ke kasur, Bang," saran Alisha.
Aliando menurut, ia menggendong Michelle ke tempat tidur.
"Kamu tenanglah, pelan-pelan ceritakan apa yang terjadi!" ujar Aliando sambil membenarkan leta selimut hingga menutup tubuh Michelle.
"Aku melakukannya, Al, aku rusak," kata Michelle histeris.
"Kenapa?"
"Aku diperkosa secara tidak sadar dan sukarela," kata Michelle masih menangis.
Alisha dan Aliando terdiam, mereka bingung, apa maksudnya diperkosa secara tidak sadar dan sukarela.
"Sudah, kamu tenang ya, kita pulang!" kata Aliando.
"Jangan tinggalin aku, Al!" kata Michelle sambil mencengkram lengan Aliando.
"Kita pulang, kamu harus bersih dulu, biar Alisha yang membantumu!"
"Aku ga mau dia! Kenapa kamu bawa dia kesini?" tanya Michelle sambil memandang Alisha dengan tatapan tidak suka.
"Kamu nyuruh aku datang ke hotel jam segini? Bagaimana mungkin aku bisa sendirian kesini?" ujar Aliando. "Ya sudah, panggilkan pelayanan hotel perempuan," perintah Aliando pada pelayan hotel.
"Gak usah, biar aku sendiri! Yang lain boleh pergi dan Al tunggu disini!" kata Michelle mulai tenang dan bisa berpikir jernih.
__ADS_1
Akhirnya, pelayan hotel pun keluar, sementara Alisha dan Aliando menunggunya di kamar.
π΅
Dengan penuh drama penolakan dari Michelle yang tidak ingin bersama satu taksi dengan Alisha, akhirnya mereka pun tiba di rumah Michelle. Terpaksa Aliando ikut serta naik taksi menuju rumah Michelle, sementara motornya ia tinggal di halaman parkir bioskop dari semalam.
"Al apa yang harus aku lakukan, papah pasti marah besar," kata Michelle yang sudah nyaman duduk di tempat tidur kamarnya.
"Biar aku yang jelaskan!" kata Aliando menenangkan perasaan Michelle.
"Semua ini gara-gara tante Vanya!" kata Michelle geram.
Aliando hanya diam. Ia ingat Michelle bercerita dengan ingatannya yang samar-samar, bahwa dirinya dijebak oleh Vanya, diberi obat perangsang sehingga mabuk, tak sadarkan diri menyerahkan tubuhnya begitu saja kepada seorang lelaki berumur.
"Bang, sebaiknya aku tunggu di luar ya," pamit Alisha pada Aliando.
"Tunggu, Cha!" kata Aliando yang bermaksud agar Alisha tidak meninggalkannya berdua dengan Michelle. Namun sayang, Alisha langsung keluar tanpa persetujuan Aliando. Sementara tangan Aliando ditahan oleh Michelle.
"Biarkan dia pergi, Al!" kata Michelle.
"Apa hak kamu menyuruhku membiarkannya pergi?" tanya Aliando.
"Aku butuh kamu, Al, aku saudara kamu!"
"Kamu gak butuh aku, aku akan menelpon orang tuamu!" kata Aliando.
"Jangan Al, mamah papah jangan sampai tau!"
"Mereka harus tau! Walau bagaimanapun kamu ga bisa menyelesaikannya sendiri, apalagi kalo kamu mau melaporkan tante Vanya ke polisi,"
Michelle terdiam. Ia membenarkan apa yang dikatakan oleh Aliando.
"Tapi saat ini aku butuh kamu! Temani aku ya!" kata Michelle
"Aku ga bisa, aku harus pergi, Alisha sudah menunggu aku!"
"Tapi aku membutuhkan Alisha!" tegas Aliando.
"Gak bisakah aku ada di hati kamu?"
"Hubungan kita tidak sampai sana, kita hanya saudara sepupu, tidak lebih!"
"Jawab aku Al, apakah kamu gak pernah sedikit pun menghadirkan aku di hati kamu?"
"Tidak pernah sama sekali,"
"Kita teman sepermainan sejak kecil Al,"
"Kamu hanya ku anggap sebagai saudara, sama seperti saudara sepupu lainnya, dulu, sekarang, sampai nanti,"
"Apa kamu gak pernah nyadar kalo aku selalu memperhatikan kamu berbeda dari sepupu lainnya?"
"Pernah!"
"Lalu kenapa kamu tidak pernah membalasnya? Aku bahkan selalu berusaha menjadi yang terbaik agar pantas bersama kamu!"
"Seharusnya kamu melakukan yang terbaik untuk dirimu sendiri bukan untukku!"
"Aku sengaja melakukannya hanya untuk kamu, demi kamu, agar aku bisa menjadi sesuatu di hati kamu, tapi justru kamu malah memilih seorang gadis yang baru kamu kenal bahkan menjadikannya istri kamu,"
"Karena feel aku, dan bagiku, dia sangat istimewa,"
"Kamu keterlaluan, Al, kamu gak pernah ngehargai usahaku, bahkan aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu sejak kita masih kecil, sementara dia melakukan usaha apa Al?"
"Gak usah kamu bandingkan Alisha denganmu! Dia itu ... tanpa mengusahakan apapun yang terbaik untukku, dia sudah membuat aku mencintainya tanpa syarat apapun, sejak pertama kali aku melihatnya, hati aku sudah untuknya!" jelas Aliando tegas.
__ADS_1
Michelle terdiam. Matanya memerah menahan emosi. Hatinya geram. Ia semakin terpuruk, belum selesai kasus dia dijebak oleh Vanya, justru ia dengan sangat jelas ditolak oleh Aliando.
π΅
"Maaf nunggu lama ya," kata Aliando pada Alisha yang tengah menunggunya di ruang tamu rumah Michelle.
"Nggak kok, Bang," kata Alisha sambil tersenyum. "Emang Michelle mau ditinggal? Bukannya dia minta ditemenin Abang ya?" tanya Alisha sambil melirik Aliando yang sudah duduk di sampingnya.
"Aku yang gak mau, Cha, lagian, kamu rela kalo aku nemenin cewek lain?"
"Michelle lagi butuh support, Bang!"
"Ingat gak waktu kamu nyuruh aku nemuin Nayna,"
Alisha terdiam mengernyitkan keningnya, ia mengingat sesuatu.
"Aku bilang, kalo kamu nyuruh aku bertemu dengan cewek lain lagi maka aku akan menghukum kamu,"
"Wah, seneng banget ngehukum, sekarang aku kan udah jadi istri Abang, jangan macem-macem deh, lagian ... aku juga gak takut, soalnya aku juga udah di macem-macemin ma Abang!"
"Hahaha, Cha, kamu emang bener-bener istimewa, apapun kamu selalu saja membuat aku semakin cinta kamu, cinta kamu yang sederhana dan cinta yang apa adanya, aku cinta kamu, Cha!" kata Aliando sambil memeluk erat Alisha yang kebingungan dengan perkataan Aliando.
π΅
Selang beberapa hari setelah kejadian Michelle, akhirnya Vanya ditangkap oleh polisi, karena ternyata dia memang seorang muncikari prostitusi online yang cukup lama diawasi dan diselidiki oleh pihak kepolisian.
Kasus ini semakin heboh karena melibatkan beberapa petinggi negara, CEO perusahaan ternama dan juga para artis.
Beritanya sudah seminggu berseliweran di televisi maupun di berita online. Nama Vanya sebagai muncikari pun semakin terkenal.
Alisha memegang remote televisi dengan sangat kuat sambil menonton berita tentang Vanya. Hatinya geram dan menahan amarah.
"Eh, Bang! Kenapa dimatiin?" tanya Alisha. Ia protes karena Aliando mematikan televisinya.
"Jangan ditonton lagi, nanti kamu sakit!" kata Aliando menghampiri Alisha kemudian mengambil remote dari tangannya.
"Apa maksud Abang sakit?"
"Yaaa, sakit hati, sakit pikiran!"
"Tapi Bang, dia ibu aku Bang!"
"Yang bilang bukan ibu kamu siapa?" tanya Aliando.
"Apa aku boleh membencinya?" tanya Alisha membalas pertanyaan Aliando.
"Untuk sikapnya boleh, tapi kalo ... kamu membenci karena dia ibu kamu, ya gak boleh, karena walau bagaimanapun, dia ibu yang udah melahirkan kamu meskipun tidak pernah membesarkanmu!"
Alisha terdiam. Ia mengerti dengan semua yang dikatakan oleh Aliando.
"Kamu do'akan dia, ya! Sebagai baktimu pada orang tua, udah, itu aja yang harus kamu lakukan sebagai seorang anak, kalo memang kamu gak sanggup berbuat yang lain, asalkan jangan membenci," kata Aliando memberi saran.
Alisha mengangguk lemah.
"Besok-besok kalo kamu siap, papah ngajakin kita nemuin tante Vanya di penjara,"
"Apa? Papah mau nemuin mamah Vanya?" tanya Alisha.
"Iya, kamu mau?" tanya Aliando memastikan.
Alisha mengangguk kembali.
Sementara itu, di sebuah kota di luar negeri.
"Ini dia! Ini ibumu yang menjual kamu pada kami!"
__ADS_1
π»π»π»π»π»