Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
58. Bukan gosip


__ADS_3

"Alisha, denger-denger kamu uda nikah?" tanya Naira saat di kelas.


Pagi itu, setelah berpamitan dengan Aliando di tempat parkir, Alisha memang ke kelas, tidak langsung ke lapangan, karena pertandingan basket kelasnya masih belum di mulai, dan saat ini Alisha sedang bersama empat teman sekelasnya yaitu Naira, Raisa, Tio, dan Jimmy.


"Itu gosip darimana?" tanya Alisha masih menutupi.


"Masa iya gosip?" selidik Naira.


"Iya, gak mungkin gosip, tante aku dapet syukurannya kok, tante aku kan rumahnya deket warung bakso Pak Aman," sanggah Raisa.


"Tuh kan, masa sih gosip?" Naira masih mencoba mencari tahu.


Alisha hanya diam. Ia bingung untuk berkomentar, karena pada kenyataannya, Aliando memang memberikan tasyakuran kepada para tetangga.


"Jadi beneran kan, kamu udah nikah?" tanya Naira sekali lagi.


"Ssst, jangan keras-keras!" kata Raisa pada Naira.


"Ups, maap maap, abisnya aku penasaran aja," Naira sempat menutup mulutnya seakan tak sengaja mempertanyakan hal itu pada Alisha.


"Tapi emang bener kan, ya?" tanya Raisa memastikan.


Alisha mengangguk.


"Wah keren, dinikahi sang idola," kata Raisa.


"Gimana ceritanya?" tanya Naira lagi, rasa ingin tahunya sangat tinggi.


"Lo nabung dulu apa gimana?" celetuk Jimmy.


"Ish, tu mulut kudu di disekolahin nih," Naira menepuk lengan Jimmy.


"Eh, gue kan nanya doang, lagian neh, mana ada anak SMA kayak kita nikah muda, cepet-cepet, kalo bukan karna dung dulu," Jimmy membela diri.


"Aku gak hamil, bahkan nyampe sekarang juga aku belum pernah melakukan hubungan layaknya suami istri pada umumnya, kak Aliando nikah karna murni cinta dan pengen ngejaga aku dengan cara yang halal, dia juga gak mau kalo kita harus jadi orang tua muda, belum punya mental," jelas Alisha.


"Kok aneh, emangnya sekolah ma orangtua ngebolehin gitu? secara kalian kan masih usia sekolah, bukan usia untuk berumahtangga," Kali ini Tio yang bersuara.


"Eh iya ya, bener juga," Naira dan Raisa mengangguk bersamaan.


"Mmm," Alisha diam seperti memikirkan sesuatu. Apa yang dikatakan oleh Tio memang benar. Tapi, kenapa pernikahan itu bisa terjadi? Itu yang menjadi pikirannya saat ini, kalau bukan karena keadaan darurat rasanya tidak mungkin mereka diijinkan menikah.


"Ya jelaslah bisa, alasan Aliando menikah, kan, karena dia menyangka Alisha hamil," jelas Jimmy.

__ADS_1


Kompak keempatnya memandang Jimmy serius, meminta penjelasan.


"Maksudnya apa ya?" Alisha menjadi penasaran.


"Lo ingat nggak, waktu lo makan bakso di Warung Pak aman saat kelulusan mas Al dan teman-temannya?" tanya Jimmy yang kemudian mendapatkan anggukkan dari Alisha.


"Nah, saat itu, lo kan muntah-muntah tuh, terus salah satu teman mas Al bilang jangan-jangan lo lagi hamil, soalnya, kalau cewek lagi hamil, yang biasanya suka sama makanan favoritnya maka akan jadi nggak suka bahkan kalo lihat makanan itu jadi ngerasa enek dan mual," cerita Jimmy.


"Lho, kok kamu bisa tahu?" tanya Raisa penuh selidik.


"Jelas lah, gue kan ada di warung itu, cuma Alisha aja yang gak perhatian kalau gue ada ... dan gue ngedengerin semua pembicaraan mereka saat Alisha lagi ke kamar mandi," jelas Jimmy.


"Kamu jangan ngarang deh," kata Naira tidak percaya.


"Ngapain sih gue ngarang? Gak penting juga kan buat gue," ucap Jimmy sangat meyakinkan.


"Lho, tapi kan mas Al tau, kalau Alisha nggak hamil ... mereka kan, gak pernah melakukan begituan," jelas Naira.


"Iya tuh, bener, nyampe sekarang udah nikah aja, mereka belum melakukannya, iya kan, Sha?" ujar Raisa sambil meminta pembenaran dari Alisha.


Alisha hanya mengangguk pelan. Perasaannya mulai tak karuan, ia merasa kecewa dan marah karena perasaannya dipermainkan oleh Aliando.


"Iya memang, tapi kan, lo inget gak, Sha, kasus lo di medsos sekolah soal cabe-cabean?" tanya Jimmy.


"Nah, temennya mas Al bilang, lo hamil gara-gara ga pake pengaman atau pencegah kehamilan saat maen ma orang," jelas Jimmy sangat meyakinkan, membuat keempatnya yang mendengarkan melongo. Terlebih Alisha, hatinya merasakan sakit.


"Ya Tuhan, tega banget sih itu tuduhan," komentar Raisa.


"Ya itu yang gue tau," kata Jimmy.


"Jadi, maksud kamu, mas Al percaya dengan tuduhan itu?" tanya Raisa memastikan.


Jimmy mengangguk.


"Kalo gitu, niat mas Al menikahi Alisha hanya untuk menutupi aib Alisha yang sedang hamil gitu?" tanya Naira masih belum mengerti.


"Kayaknya sih gitu, gak tau pastinya seperti apa, tapi yang jelas mas Al saat itu kelihatan cemas banget," jelas Jimmy lagi.


"Eh, ya udah udah kita ke lapangan yuk," ajak Tio, ia merasakan perubahan wajah Alisha yang menyimpan amarah. Ia mencoba menetralkan suasana.


"Ah, iya, bener, ayo kita kesana!" seru Naira yang akhirnya teringat jika kelasnya akan mengikuti pertandingan basket.


☘️

__ADS_1


Aliando bergegas menuju rumahnya, ketika ia tahu ponsel Alisha telah aktif, apalagi ia telah dihubungi oleh mak Leha dan mengabarkan jika Alisha telah pulang.


Begitu tiba di rumahnya, ia segera membuka masuk ke kamar, bertepatan dengan Alish yang hendak keluar.


"Alhamdulillah, Cha, akhirnya aku ketemu kamu!" ucap Aliando bahagia. Ia langsung mendekap erat Alisha. Namun gadis itu hanya diam, tak membalas dekapan itu, bahkan dia justru berusaha melepasnya.


Aliando menyadari hal itu. Ia pun segera melepaskan dekapannya dan memperhatikan Alisha.


Wajah datar dengan mata yang sembab seperti telah menangis dalam waktu yang lama, menyiratkan sebuah kekecewaan dan sakit hati yang mendalam. Aliando tahu akan hal itu, ia bisa merasakan jika hati istrinya itu sedang terluka.


"Ada apa? Apa yang terjadi, hm? Dan kamu mau kemana?" tanya Aliando hati-hati, pandangannya ke arah tas ransel yang sedang dijinjing oleh Alisha.


Alisha hanya diam tanpa memandang Aliando,"


"Jawab, Cantik, ada apa, kenapa, dan kamu mau kemana?"


"Aku mau pergi," kata Alisha tegas.


"Kemana? Biar aku antar,"


"Nggak, biarkan aku sendiri,"


"Baiklah, tapi tolong jelaskan ada apa? kenapa kamu menghilang dari kemarin? Kamu semalam tidur dimana, hm?"


"Aku di rumah Naira," jawab Alisha. Kemarin, setelah seharian dia menyendiri, akhirnya ia memutuskan untuk menginap di rumah Naira.


Aliando mengerti, menurutnya, Naira adalah teman Alisha, jadi ia tidak ingin menanyakan siapa Naira.


"Kenapa hp kamu nonaktif?" Aliando bertanya lagi.


"Karena aku ga ingin dihubungi oleh siapapun!"


"Termasuk aku?"


"Ya!" jawab Alisha singkat.


"Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?"


Alisha menarik nafas panjang, matanya kembali berkaca-kaca. Nyatanya, Aliando memang sangat lembut dan perhatian, ia penuh ketulusan. Namun sayang, perasaan sakit di hati Alisha tidak tertahankan, ia pun berusaha untuk tetap pada keputusannya untuk pergi dari Aliando.


"Aku ingin pergi, dan kamu gak perlu tau, biarkan aku sendiri, karena memang sebaiknya kita gak bersama," jelas Alisha, bahkan ia kembali memanggil Aliando dengan 'kamu'.


"Apa maksudmu? kamu ingin pergi ninggalin aku?"

__ADS_1


...🌻🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2