Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
56. bukan 'aku' atau 'kamu' tapi "kita"


__ADS_3

Aliando akhirnya ke kampus, sementara Alisha diperintahkan untuk beristirahat dan tidak boleh kemanapun.


Setelah menyelesaikan urusannya di kampus, Aliando bergegas ke sekolah menemui pak Idris dan menceritakan kondisi Alisha.


Pak Idris adalah salah satu saksi pernikahan Alisha dan Aliando, ia masih merahasiakan pernikahan mereka. Awalnya, dia merasa kecewa pada Aliando dan Alisha, karena bergaul kelewat batas, bahkan dia sudah mempersiapkan skenario sekolah yang harus dilakukan, jika kehamilan Alisha semakin membesar. Bersyukurnya, karena ternyata saat ini Alisha tidak hamil.


"Jaga Alisha, bapak percaya sama kamu, jangan pernah mengecewakan, ya!"


"Iya, Pak,"


"Apalagi kalian sekarang sudah menikah, bapak lebih tenang, tapi pikirkan dulu masa depan kalian dalam belajar dan berkarya ya,"


"Iya, Pak, saya mengerti," Aliando memahami apa yang dimaksudkan oleh pak Idris, ia berharap agar Aliando dan Alisha tetap meraih cita-cita. Karena usia mereka yang masih muda, sebaiknya, mereka menunda untuk memiliki anak.


"Alisha gadis sendirian, ayahnya sudah meninggal, sejak kecil ditinggal oleh ibunya," pak Idris mulai bercerita.


"Bapak tau tentang Alisha?"


"Tentu, Reynaldi adalah murid bapak ... Dulu, bapak lah yang menjodohkannya dengan ibumu! Kakek dan nenekmu sangat senang dengan pilihan bapak, bapak kira ibumu setuju, ternyata di saat hari pernikahan, ibumu malah menikah dengan ayahmu!"


"Maafkan mamah, Pak!"


"Oh, gak masalah, karena yang menjalankan rumah tangga kan ibumu, mungkin ini udah jalan-Nya, agar, kalianlah yang berjodoh,"


Aliando mengangguk. Memang benar, jika ayahnya Alisha dan ibunya bersatu mungkin saat ini tidak akan ada Alisha maupun Aliando.


"Bapak tidak terlalu tau kehidupan Reynaldi setelah hari pernikahan itu, tapi yang bapak inget, setahun kemudian dia menikah dengan seorang wanita yang tidak disetujui keluarganya, makanya, mereka menikah tanpa persetujuan orang tua Rey," pak Idris seakan mengingat kejadian beberapa tahun silam.


"Maaf, maksudnya kawin lari, Pak?"


"Ya, seperti itulah!"


"Jadi sebenarnya, Alisha memiliki kehidupan yang berkecukupan, kan?"


"Iya dan itulah faktor kenapa Alisha harus dilindungi,"


"Memangnya kenapa, Pak?"


"Don mengincar kehidupan Reynaldi dan Alisha, keselamatan mereka terancam,"


"Siapa Don?"


"Sepupu Reynaldi yang sudah dirawat sejak kecil oleh kakek nenek Alisha,"


"Kenapa bisa? bukannya mereka bersaudara?"

__ADS_1


"Don menginginkan harta utuh untuknya, dia merasa sudah banyak berjasa untuk keluarga dan perusahaan, sementara Rey malah gak jelas keberadaannya,"


Aliando mengangguk.


"Padahal Don tidak berhak memilikinya, hanya Rey dan turunannya yang berhak, dan kini, nenek Alisha hanya merawat kakeknya yang udah stroke,"


"Tidak dilaporkan?"


"Tak ada bukti, karena nenek dan kakek Alisha hidup dengan baik-baik saja,"


"Apa kakek nenek Alisha tau kalo papah Rey udah meninggal,"


"Sepertinya belum ... Ceritanya dulu siapapun turunannya Rey yang lahir dari dari wanita itu tidak akan diakui, karena kakeknya sangat marah saat Rey kabur dengan wanita itu, dan ternyata hal tersebut direalisasikan oleh Don,"


"Maksudnya, Alisha akan dibunuh?"


"Iya, Rey sudah tau itu, makanya dia berpindah-pindah tempat terus, menghilangkan jejak hingga kematiannya,"


"Tunggu, jangan-jangan kecelakaan papah Rey disengaja?" tanya Aliando.


"Bisa jadi, kami curiga begitu, tapi sayang, kami ga bisa mendapatkan bukti apa-apa,"


"Ya Tuhan, kenapa kayak di sinetron gini sih, Pak,"


"Hmm, syukurnya, saat-saat kepindahannya yang terakhir, dia bertemu Haikal, sahabatnya ... Kemarin, saat masuk semester genap, Haikal datang ke rumah, meminta bantuan bapak, karena menurutnya, hanya bapak bisa menolong Reynaldi dan Alisha, disaat yang sama, kakekmu Haidar berkunjung ke tempat bapak, akhirnya dia yang meminta untuk menjaga Alisha, sebagai penebus kesalahan atas sikap mamahmu,"


"Iya, begitulah Al ceritanya,"


"Hm, makanya Alisha tinggal di komplek perumahan milik kakek?" tanya Aliando memastikan.


"Iya, di sana banyak anak buah kakekmu, tadinya Alisha mau tinggal di tempat bapak, di panti asuhan, namun sayang, sedang di renovasi,"


Aliando teringat jika pak Idris memiliki sebuah panti asuhan. Ia pun menganggukkan kepalanya.


"Bapaklah yang memasukkan Alisha ke sekolah Garuda, agar mudah di awasi saat di sekolah," kata pak Idris.


"Dan saya yang disuruh menjaganya oleh kakek nenek," kata Aliando.


"Iya, tapi malah kamu nikahin dia," ledek pak Idris.


"Menjaga dengan cara yang halal, Pak, bukankah itu lebih baik?"


"Ya ya ya, tapi kamu udah bikin kita percaya kalo Alisha hamil, itu keterlaluan,"


"Maaf, Pak, mungkin kalo tidak seperti itu, saya gak dapat restu kakek dan nenek,"

__ADS_1


"Ya sudah, luruskan lagi niatnya ya, harus karena Alloh,"


"Iya, Pak, kalo gitu saya pamit dulu,"


"Iya, salam buat Alisha, jaga dia ya,"


☘️


Semenjak pertemuannya dengan pak Idris, Aliando semakin ekstra menjaga Alisha. Semua perhatian yang dia berikan terasa berlebihan, menurut Alisha, hingga membuat Alisha merasa aneh. Namun, dia menyukainya, mungkin seperti inilah perhatian seorang suami terhadap istrinya.


Alisha benar-benar dimanja, di hargai dan ia merasa sangat diistimewakan. Hingga saat Alisha akan berangkat sekolah pun, Aliando lah yang menyiapkan keperluannya. Namun hal itu justru membuat Alisha merasa tidak enak hati, mulai dari menyiapkan pakaian, sepatu dan sarapan.


"Nanti, biar aku yang bersihin rumah, ya, kamu ke sekolah aja dan gak usah ingat soal rumah," kata Aliando saat melihat Alisha keluar dari kamar. Saat ini mereka sudah berada di rumah Aliando karena semalam setelah makan malam di luar, Alisha meminta untuk kembali ke rumah Aliando. Ia sangat ingin memasakkan sesuatu untuk Aliando. Tapi nyatanya, justru semua berbalik.


"Bang, kok malah Abang yang menyiapkan segala keperluan ku? harusnya ini tugas seorang istri kan?" tanya Alisha saat tiba di tempat makan. Ia sudah rapi dengan seragamnya.


"Emang kalo suami gak boleh menyiapkan keperluan istrinya?" tanya Aliando sambil menyiapkan sarapan di meja makan.


"Hmm, boleh sih," jawab Alisha ragu-ragu.


"Apa cuma suami yang harus disiapkan keperluan oleh istrinya?"


Alisha menggeleng kan kepalanya.


"Tapi, biasanya istri lah yang bertugas seperti itu," sanggah Alisha.


"Jangan biasanya, biarkan orang lain, ini kita, Cha, kehidupan kita," kata Aliando masih menata piring.


"Maksudnya?"


"Kita sama-sama ya, Cha, gak ada 'kamu' ataupun "aku' tapi 'kita', siapa yang bisa, siapa yang sempat, pokoknya kita lakukan untuk kebersamaan kita, kamu mau kan? kamu gak keberatan kan?"


Alisha tersenyum dengan sangat manisnya. Ia benar-benar terharu, ia merasa beruntung mendapatkan suami seperti Aliando.


"Mmuach, i love you, Abang tampan," kata Alisha sambil mengecup sekilas pipi Aliando kemudian mendekapnya dari samping.


"Thanks, Cantik, i love you too," kata Aliando sambil memberikan kecupan di kening, pipi dan bibir Alisha.


"Udah, sekarang dimakan ya,"


Alisha pun mengangguk.


🌡


Aliando mengantar Alisha hingga di tempat parkir. Sekarang ada ritual baru yang dilakukan keduanya, setelah turun dari motor kemudian melepas helmnya, maka Alisha akan mencium punggung tangan Aliando, kemudian cowok tampan itu akan mengusap lembut pucuk kepala Alisha, terakhir, ia akan mendaratkan kecupan di kening gadis yang sudah resmi berstatus sebagai istrinya itu.

__ADS_1


...🌻🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2