
"Wah jahat banget! Masa cuma bentar banget, kasihan kan Nayna,"
Tanpa membalas komentar Alisha, Aliando langsung menarik pinggang gadis itu, sehingga tubuhnya tidak ada jarak dengan Aliando, hanya tertahan kedua tangan Alisha di antara dada mereka. Jantung gadis itu berdegup tak karuan. Ia menelan salivanya yang tertahan di tenggorokan.
"Kalau kamu berani meminta aku untuk bersama cewek lain lagi, aku akan memberimu hukuman,"
"Eh, aku kan, bukan nyuruh kamu sama dia! Aku cuma minta kamu nemuin dia,"
"Besok-besok jangan lagi!"
"Aku hanya ingin membantunya saja untuk mendapatkan keinginan terakhirnya!"
"Kamu yakin, dia akan mati, hm?"
"Eh, gak gitu, tapi dia sendiri yang bilang!"
"Apapun alasannya jangan pernah! Aku mau bertemu dengan dia, itu karena kamu, aku tidak ingin kamu terbebani dengan janji itu, jadi ke depannya jangan pernah menyanggupi apapun agar aku bersama cewek lain, berjanjilah!"
"Gak mau!"
"Kamu kalo gak mau, aku cium loh!"
"Eh,enak aja!" protes Alisha sambil memukul dan mendorong dada Aliando, hingga pelukannya di pinggang terlepas.
"Takut, hm?"
"Gak usah aneh, ayo pergi!" ajak Alisha sambil menarik tangan Aliando.
☘️
"Tunggu!" Alisha meminta Aliando menghentikan laju motornya.
"Ada apa?"
"Itu bukannya Salsa ya?" kata Alisha sambil menunjuk seorang gadis yang duduk di pinggir jalan sambil memegang lututnya seperti kesakitan.
Aliando pun menghentikan motornya, kemudian mereka menghampiri Salsa, namun sebelum sampai ke tempat Salsa, ada seorang laki-laki yang menghampirinya, sehingga mereka hanya diam berdiri di dekat Salsa.
"Kamu gak papa?" tanya lelaki itu.
"Maafkan aku. Aku gak sengaja!"
Rupanya, lelaki ini baru saja menyerempet Salsa.
Alisha segera mendekat kemudian memegang pundak Salsa.
"Kamu keserempet, Sa?" tanya Alisha.
"Iya,"
"Maaf, saya yang salah," kata lelaki itu.
"Nggak! aku yang salah, karena ...." Salsa menghentikan ucapannya.
"Kamu ngelamun lagi?" tebak Alisha.
Salsa hanya menatap Alisha, dan tatapan itu membenarkan apa yang dikatakan olehnya.
"Ya udah kita ke rumah sakit ya," usul lelaki yang menyerempet Salsa tadi.
"Gak usah, aku hanya luka kecil di lutut, dan lecet di siku!" ujar Salsa.
"Atau kamu mau pulang?" tanya Alisha memastikan.
"Aku juga gak mau pulang!"
"Lalu?"
Salsa hanya menggelengkan kepala, ia seperti tidak tahu harus kemana, tidak ada tujuan.
Alisha menatap Aliando, seakan bertanya 'bagaimana ini?'
"Sudah, ayo, aku antar dulu ke klinik, agar bisa diobati," kata lelaki itu sambil menggendong Salsa menuju mobilnya.
Alisha dan Aliando hanya diam saling pandang, kemudian mengarahkan pandangan mereka pada lelaki yang membawa pergi Salsa.
"Eh, kok malah diem, ayo ikutin dia, barangkali kenapa-kenapa!" cemas Alisha.
"Kenapa kamu peduli ma Salsa? Bukannya dia pernah ngebully kamu?"
__ADS_1
"Orang bisa berubah, Bang!" ucap Salsa sambil menarik tangan Aliando agar menuju motor.
"Tunggu!" kata Aliando sebelum menaiki motornya.
"Kenapa?"
"Kamu jangan natap-natap tu cowok!"
"Lho kenapa, ngobrol kan harus natap orangnya!"
"Tapi aku gak suka dengan cara dia natap kamu!"
"Kenapa memangnya?"
"Udah, ga usah banyak tanya ya, nurut aja!" kata Aliando sambil mengusap lembut pipi Alisha. Sengaja, karena ia tahu, jika Alisha dibantah, maka yang terjadi Alisha akan terus bertanya dan protes.
Gadis itu menurut, ia suka diperlakukan lembut oleh Aliando.
☘️
"Ayo! sekarang aku antar pulang!" kata lelaki itu pada Salsa setelah diperiksa di klinik.
"Aku gak mau pulang," ucap Salsa lirih.
"Trus kamu mau kemana?" tanya Alisha.
"Aku ikut kamu ya, Sha, semalam aja!" pinta Salsa.
"Gak bisa! Kalo kamu punya masalah itu diselesaikan, jangan malah pergi menghindar!" tegas Aliando, ia sangat keberatan jika Salsa menginap di rumah Alisha.
"Itu benar, biar nanti sekalian aku minta maaf ke keluargamu!" kata lelaki itu menyetujui usul Aliando.
Salsa memandang Alisha penuh permohonan. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak jika Aliando sudah memberikan perintah.
"Ya udah, kamu bawa dia pulang," kata Aliando pada lelaki itu.
Pada akhirnya, Salsa pun diantar pulang oleh lelaki itu. Begitu pun dengan Alisha.
☘️
Alisha bergelut dengan laptopnya. Sangat serius.
"Yes!" teriaknya bahagia.
"ATM ku akan terisi,"
Tadi sebelum pulang ke rumah, ia meminta Aliando untuk mengantarnya ke Anjungan Tunai Mandiri, sempat merasa lesu melihat isi ATM-nya. Tiga bulan hidup di kota itu, hanya mengandalkan uang tabungan, beruntung jika soal makan dia masih ditraktir oleh Aliando, karena cowok tampan itu sangat tidak suka jika gadisnya membayar makanan atau belanjaan apapun saat bersamanya.
"Jangan pernah mengeluarkan uang jika kamu bersamaku!" itu ultimatum dari Aliando yang harus ditaati oleh Alisha.
Bahkan, untuk hal-hal camilan, perlengkapan mandi, dan perlengkapan wanita, sudah dua bulan ini Aliando selalu menyiapkannya.
*flashback on*
"Ngapain bawa-bawa kayak gini lagi sih?" Alisha protes karena lagi-lagi Aliando membawakan camilan dan perlengkapan wanitanya.
"Kamu tanggung jawabku, Cha, kamu gak boleh kekurangan apapun,"
"Iya, tapi ga harus seminggu sekali juga kan? Yang kemarin aja masih ada,"
"Bukannya kalau wanita itu cepet habis ya, kalo pakai yang kayak gini?"
"Iya cepet abis, kalo dipakenya bareng-bareng temen sekelas! Nih ya, lotion, sabun mandi, pelembab, bedak, semua ini mau abis kapan kalo kamu bawain terus?" gerutu Alisha sambil menunjukkan lotion dengan ukuran besar begitupun dengan sabun cairnya.
"Heheh, kalo gitu aku numpang mandi di sini aja, biar cepet abis,"
"Enak aja! Gak usah modus!"
Aliando tergelak.
"Ya udah, gini aja, aku akan bilang kalo uda pada abis ya," kata Alisha meyakinkan.
"Janji?"
"Iya, bang Dodooo! Jadi sekarang gak perlu bawa gini-gini lagi tiap minggu!"ucap Alisha gemas.
Aliando pun mengangguk patuh.
*flashback off*
__ADS_1
Alisha tersenyum sendiri. Ruangan kamarnya menjadi saksi betapa bahagianya dia bisa bersama Aliando. Ia benar-benar bersyukur.
"Papah, Aliando baik dan perhatian, Chaca suka dia, papah juga kan?"
Alisha berbicara sendiri sambil menatap langit-langit kamar. Entahlah, dirinya benar-benar tidak mengerti akan perasaannya saat ini. Yang dia tahu, dia baru pertama kali merasakan kebahagiaan yang unik dan indah, yang berhubungan dengan lawan jenis.
Ya, ternyata, Aliando yang mampu membuat Alisha selalu bahagia, hatinya selalu berdebar jika bersamanya, dan merasakan kerinduan bila sebaliknya. Inikah cinta?
☘️
Alisha tersenyum melihat seorang pria dewasa yang tengah duduk di sudut kafe. Pria itu membalas senyuman Alisha sambil melambaikan tangannya.
"Sudah lama, Pak?" tanya Alisha sambil menarik kursi yang ada di hadapan pria itu, kemudian duduk.
"Lumayan, gimana kabarmu?" tanya pria itu.
"Alhamdulillah baik, Pak,"
"Hm, syukurlah, nih makanlah, saya sudah pesankan untuk kamu!"
"Wah, makasih ya, Pak,"
Dari luar kafe, ada Aliando memandang interaksi keduanya. Ada yang kecemburuan di hatinya, karena sudah beberapa hari ini, setiap pulang sekolah, Alisha susah dihubungi, bahkan ketika di sekolah hanya bisa bertemu saat istirahat.
Sementara saat pulang sekolah, dia hanya bisa mengantarnya ke rumah. Sudah itu saja. Tidak ada lagi pergi bersama, alasan Alisha, dia harus bekerja. Meskipun Aliando meminta tidak usah bekerja, tapi Alisha mengabaikannya.
"Sudah ku bilang kamu adalah tanggung jawabku," kata Aliando tadi setelah mengantarnya pulang, kali ini, dia tidak ingin kehilangan momen sehari pun untuk bersama Alisha.
"Aku bukan istrimu,"
"Kalo gitu kita menikah,"
"Dasar gila, anak SMA nikah! Gak ada! itu menyalahi aturan," protes Alisha.
"Dan satu lagi aku gak perlu minta ijin untuk bekerja kan, ingat, kamu bukan suamiku, dan ga usah mengekang! biarkan aku cari penghidupan ku! Aku juga harus bayar uang sewa rumah, air, listrik, dan lainnya,"imbuhnya kemudian.
"Biar aku yang bayar semuanya!"
"Jangan melewati batas, Bang! kamu hanya pacarku,"
"Tapi kamu calon istriku! Biarkan aku belajar bertanggungjawab untuk hidupmu, jadi kamu gak perlu bekerja!"
"Aku gak tau kamu dapat uang dari mana untuk menghidupi ku, oh iya, aku tidak tahu tentang kamu, mungkin kamu anak orang kaya, walaupun kamu kabur dari rumah, kamu tetap di transfer dari ayahmu, jadi, aku juga gak mau uang orang tuamu!"
"Aku bekerja, Cha!"
"Aku gak pernah lihat kamu bekerja?"
"Lewat hape lah, Cha, kerja online!"
"Berarti kita sama!" kata Alisha.
"Kalo gitu kamu kerja denganku aja!"
"Gak, aku udah lama bekerja kayak gini, aku menyukainya! Dan kamu harus selalu ingat syarat dari ku, untuk tidak ikut campur urusan ku!"
"Tapi, Cha!"
"Gak ada tapi, dan gak usah ngikutin aku, kalo kamu bekerja, maka bekerjalah, urus urusan kamu, stop dulu ngurusin aku!" kata Alisha kemudian masuk ke taksi yang sudah ada di depan rumah, yang telah dipesan sebelumnya.
Itu akhir dari percakapan Aliando dan Alisha tadi sepulang sekolah. Hingga akhirnya Alisha meninggalkan Aliando sendiri di teras rumah.
Aliando memang tidak mengikuti kemana Alisha pergi, karena ia tidak ingin dianggap mengikutinya.
Ia datang ke dekat area kafe itu beberapa menit setelah GPS milik Alisha berhenti di lokasi itu. Ia memang pernah sengaja mengaktifkan GPS di ponsel Alisha.
Selain itu ia juga pernah meletakkan alat pelacak di motor Alisha. Ia lakukan saat mengambil motor itu dari bengkel tempo hari. Tujuannya agar dia bisa mengetahui kemana Alisha pergi tanpanya.
Entahlah, apakah itu over protective atau memang sebuah bentuk perhatian Aliando pada gadis cantiknya itu. Yang jelas, ia benar-benar tidak ingin Alisha kenapa-kenapa.
"Apa pekerjaanmu, Cha? hingga kamu menyukainya? Kenapa bertemu dengan bapak-bapak?" gumam Aliando sambil menepis pikiran buruknya terhadap Alisha, karena apapun yang ada dalam pikiran kacaunya saat ini, hatinya sangat berat untuk menerima, terlebih ketika melihat dan mengikuti Alisha dan pria dewasa itu berlalu dari kafe menaiki sebuah mobil menuju sebuah hotel.
...🌻🌻🌻🌻🌻...
halo kak. maaf kemarin ga sempet Up. nu banyak kesibukan. maaf ya. sehat selalu
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
Nah sambil nungguin UP lagi mampir juga ya ke novel sahabatku kak Oktiyan judulnya PEKA pokoknya ini kereeeen bgt. jgn lupa dukungan buat author nya ya.... happy reading yaaaa😘😘😘😘
__ADS_1
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...